Bahagia Bersama AirAsia, Selangkah Menuju Khatam Asia Tenggara

Tinggal satu negara lagi.

Lantaran ada 10 negara anggota ASEAN, haruskah 10 tahun pula saya menyelesaikan misi mengunjungi semua negara di wilayah Asia Tenggara ini?

Slow but sure, misi ini hampir selesai. Tadinya tidak terpikir untuk mengunjungi semua negara ASEAN. Pokoknya cuma mau mewujudkan mimpi keluar negeri. Sebagai permulaan, pilihannya yang dekat-dekat dulu.

Siapa sangka, setelah sekali jalan dan bergaul dengan para pencinta traveling di dunia nyata serta dunia maya, saya terkena racun Asia Tenggara. Ditambah ada AirAsia, maskapai yang sering menabur tiket promo.

Menunggu penerbangan bersama AirAsia

Malaysia – Singapura, 2011

Saya ingat betul masa-masa pencarian tiket murah kala itu. Akhir 2010 saya membuat paspor. Setelah itu setiap hari di kantor kerjaannya cuma mantangin laman situs AirAsia sampai akhirnya memutuskan tanggal berangkat pada awal tahun berikutnya.

Trip ulang ke Malaysia dan Singapura beberapa tahun kemudian

Pamor AirAsia lagi tenar-tenarnya di kalangan backpacker Indonesia saat itu. Tanpa mikir panjang, saya dan Bembi, teman satu ruangan, langsung memilih AirAsia sebagai armada yang akan membawa kami keluar negeri.

Pilihannya Malaysia atau Singapura. Tapi tanggung kalau hanya ke satu negara, kami sepakat mengunjungi keduanya. Pergi pulang naik pesawat, tapi dari Malaysia ke Singapura menggunakan bus.

Harga tiket AirAsia relatif murah, dan yang termurah saat itu. Proses pembelian di website berjalan lancar berkat pinjaman kartu kredit dari kenalan di media sosial. Demi pengiritan, kami nekad hanya memesan tiket, tanpa asuransi, apalagi memilih kursi.

Ketika check-in di Bandara Soekarno Hatta, saya sempat bingung karena harus lewat mesin. Biasanya kan, antre di konter. Untunglah ada mbak-mbak berseragam merah cerah khas AirAsia yang sigap membantu. Dia menukarkan kertas bukti pembelian tiket kami dengan lembaran boarding pass.

Saya super senang kebagian duduk di tepi jendela, posisi favorit di kendaraan apapun. Karena ini penerbangan internasional pertama, saya perhatikan betul pramugari yang memperagakan cara mengenakan pelampung dan kantung udara. Sepanjang penerbangan saya sering senyum-senyum sendiri seraya menatap keluar jendela. Tahu-tahu pesawat sudah mendarat mulus.

Saya masih teringat kelakuan konyol kami sedetik menginjak tanah Malaysia. Keluar negeri bukan lagi mimpi. Waktu itu masih di LCCT (Low Cost Carrier Terminal), bukan KLIA 2 seperti sekarang.

Pecah telur keluar negeri ini membuat saya tersengat travel bug parah. Sampai hari ini.

Vietnam – Kamboja – Thailand, 2015

Jika pada pengalaman pertama keluar negeri dilakukan berdua kawan, kali ini saya benar-benar sendirian. Berminggu-minggu mencari tiket murah. Bolak-balik website AirAsia dan laman situs penyedia tiket elektronik yang mulai menjamur di tahun ini.

Solo trip ke Vietnam – Kamboja – Thailand bersama AirAsia

Ternyata, setelah pilih-pilih harga dan jadwal penerbangan, AirAsia adalah yang paling memungkinkan untuk semua jalur penerbangan saya. Tiket saya beli melalui OTA terpercaya, dan melakukan pembayaran di ATM terdekat.

Solo trip ini makan waktu sekitar dua minggu. Destinasi pertama adalah Malaysia karena harus transit untuk terbang ke Ho Chi Min City, Vietnam. Dari HCMC, saya menggunakan bus malam ke Kamboja. Kemudian dari Kamboja naik minivan meluncur ke Bangkok, Thailand.

Beberapa hari di Thailand saya naik kereta kembali ke Malaysia. Dua hari dua malam di kereta tanpa mandi, akhirnya terpuaskan di KL Sentral, Malaysia. Sembari menunggu penerbangan pulang ke Bandung dengan AirAsia nanti malam, saya main dulu ke pusat keramaiannya Kuala Lumpur.

Solo backpacking ini memberi pelajaran bahwa saya mampu mengambil keputusan dalam waktu cepat. Intuisi dilatih merasakan gelagat baik dan buruk. Ada banyak cerita yang saya dapatkan.

Salah satunya bersama AirAsia di KLIA 2, Malaysia. Di sana, penumpang tanpa bagasi sebaiknya melakukan self check-in di mesin yang tersedia. Ini pengalaman pertama saya, jadi agak linglung karena ketika berangkat dari Bandung, check-in masih di konter.

Saya perhatikan orang-orang, lalu coba sendiri. Untung mesinnya banyak, jadi bisa milih yang nggak ada antreannya.

Gampang ternyata. Yang penting tahu kode booking, dan siapkan paspor, karena mesti dipindai untuk verifikasi. Prosesnya nggak sampai 5 menit.

Kalau misalnya gagal, boarding pass tidak keluar lantaran sudah web check-in atau sebab lain yang tidak diketahui, bergegaslah ke konter petugas. Pasti dibantu, seperti pengalaman saya.

Timor Leste, 2017

Timor Leste memang belum menjadi anggota ASEAN, tapi sebagai ‘mantan’ provinsi di Indonesia, negara ini termasuk dalam kawasan Asia Tenggara. Saya datang dan pulang melalui jalur darat, langsung dari dan ke Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Kalau nanti Timor Leste resmi bergabung sebagai anggota ASEAN ke-11, PR saya sudah selesai. Tinggal dikumpul.

Myanmar – Brunei Darussalam, 2018

Satu minggu di Myanmar saya mendatangi empat kota, yaitu Yangon, Bagan, Mandalay, dan Inle Lake. Semuanya ditempuh jalur darat, kecuali masuk dan keluar negaranya.

Beberapa bulan kemudian saya ke Brunei Darussalam pada hari kedua idulfitri supaya bisa berlebaran bersama Sultan Hassanal Bolkiah dan keluarganya. Ini momen spesial sekali setahun di Brunei.

Momen istimewa di Myanmar dan Brunei Darussalam

Seperti yang sudah-sudah, jadwal penerbangan yang cocok adalah alasan utama saya memilih AirAsia. Rute bahagia bersama AirAsia saat ke Myanmar adalah Jakarta – Kuala Lumpur – Yangon – Kuala Lumpur – Jakarta. Sementara ketika ke Brunei, rutenya Jakarta – Kuala Lumpur – Bandar Seri Begawan – Kuala Lumpur – Jakarta. Semuanya melaju dan mendarat tepat waktu, serta mulus sesuai prediksi.

Kerap bepergian dengan AirAsia dan transit di Kuala Lumpur membuat saya familiar dengan proses check-in sampai boarding-nya, termasuk dengan keadaan di KLIA 2, terminalnya AirAsia. Saya sudah tandai spot nyaman buat duduk-duduk, makan, dan tiduran sambil ngecas ketika menunggu penerbangan pagi. Saya pun hapal lokasi kios AirAsia, dan tempat menimbang barang.

Kios AirAsia di KLIA 2, Malaysia

Pembelian tiket di tahun ini sangatlah mudah. Ini pertama kalinya saya booking tiket melalui aplikasi AirAsia. Sebagian dibeli sesuai harga yang tertera, sebagian lagi mendapatkan diskon karena redeem poin sebagai anggota AirAsia BIG Loyalty. Lumayan, meskipun sedikit.

Inilah keuntungannya menjadi bagian dari AirAsia BIG Loyalty. Semakin sering terbang bersama AirAsia, semakin banyak poin yang terkumpul untuk mendapatkan potongan harga, bahkan dapat ditukar tiket. Seandainya ada promo BIG Loyalty, member akan pertama kali diberitahu via email.

Filipina, 2019

Saya tidak terbang bersama AirAsia kali ini. Namun dalam perjalanan ke Manila itu saya teringat pengalaman #BahagiaBersamaAirAsia medio Juli lalu.

Bahagia bersama AirAsia bisa duduk di barisan paling depan

Waktu itu saya dalam penerbangan malam dari Kuala Lumpur ke Jakarta. Dalam perjalanan itu saya kebagian kursi paling depan.

Receh banget, ya. Tapi saya belum pernah duduk paling depan di dalam pesawat. Harap maklum.

Dasar rezeki, iseng-iseng nyobain check-in online sehari sebelum berangkat, saat masih di hotel. Begitu boarding pass muncul, lihat Seat, tulisan di sebelahnya 1F. Nggak percaya, karena biasanya dapat nomor 20-30an.

Sesampai di bandara, langsung ke mesin buat cetak boarding pass. Tidak berubah, Seat tetap 1F.

Masih belum yakin, saya sengaja belakangan masuk pesawat. Pas bertukar sapa dengan flight attendant di pintu pesawat, saya mencuri pandang ke kursi paling depan. Ada satu yang kosong.

Pramugari memberi saya jalan. Saya lirik sekilas angka di atas tempat duduk. Benar, tempat saya di barisan paling depan. Dengan santai saya melepas tas dan menaruhnya di dekat kaki yang tak sabar minta diluruskan.

Antara ingin menikmati situasi ini atau melawan kantuk, saya pilih memejamkan mata. Lagian di luar gelap. Bahagia banget bisa tidur sambil sandaran ke jendela. Bangun-bangun, pilot sedang kasih pengumuman bahwa pesawat segera mendarat.

Laos, ?

Meskipun belum tahu pasti kapan berangkat, saya sedang menyusun itinerary Laos. Targetnya awal tahun depan. Kini sedang banyak-banyak berdoa supaya ketiban rezeki hadiah tiket PP AirAsia ke Laos, terserah mau masuk lewat Vientiane atau Luang Prabang. Hehehe…

Ungkapan Rasa Bahagia Bersama AirAsia

Jika nanti terkabul ke Laos bersama AirAsia, saya berencana syukuran di udara dengan cara menikmati salah satu menu Combo Meal Santan, flavours of ASEAN. Ini sebagai ungkapan rasa bahagia bersama AirAsia yang telah membantu saya menjelajah Asia Tenggara.

Incaran menunya adalah Nasi Lemak Pak Nasser atau Ayam Panggang dengan Saus Lada Hitam. Foto kedua menu Santan ini sungguh menggugah selera. Aroma gurihnya serasa menyeruak di sekitar saya kini.

Beberapa pilihan menu makanan SANTAN di penerbangan AirAsia

Selama ini cuma menelan ludah setiap ada penumpang membuka tutup wadah aluminium foil makanan yang dibeli di penerbangan AirAsia. Nanti saya bakal pesan online bareng tiket, karena harganya justru lebih hemat daripada pesan dadakan di pesawat.

Keunggulan menu Santan yang saya ketahui adalah selain sedap, juga halal. Ini penting buat pejalan muslim. Lalu, semua pre-book meal akan disertai segelas air mineral. Jadi akan terhindar dari keselek seandainya lupa mengisi tumbler sebelum boarding.

See, hampir semua petualangan lintas Asia Tenggara ini saya lalui bersama AirAsia. Traveling selalu membuat saya senang. Maskapai ini seolah menjadi saksi proses penciptaan bahagia versi saya.

Saya pernah duduk di kursi tepi jendela, di tengah, di lorong, di belakang, bahkan di barisan depan. Saya juga pernah naik AirAsia yang sebagian kursinya kosong sehingga boleh pindah duduk biar bisa rebahan. Yang penting tiba di tujuan dengan selamat.

AirAsia membawa saya melihat dunia. Tinggal satu negara lagi di Asia Tenggara. Laos, I’m coming!

14 Replies to “Bahagia Bersama AirAsia, Selangkah Menuju Khatam Asia Tenggara”

  1. Mantulll mbak Inda kapan ya aku bisa liburan ke luar negeri. Blm ada keberanian untuk solo traveling ke luar, jelajah dalam negeri juga masing mikir 2x kl harus solo traveling . Tapi ini keren bgt mbak, thanks sharing nya

  2. Waah senangnya hampir khatam Asia Tenggara dengan Air Asia. Air Asia emang bikin happy ya mbak. Pertama kali aku dapat free seat AirAsia beli tahun 2009 buat terbang tahun 2010. Backpacker ke KL pertama kali bersama anak anak yang masih umur 3 dan 4 tahun saat itu. Sejak itu keranjingan tiket free seat AirAsia.

    Jaman dulu belum banyak yang hunting jaman 2010-2011 kayak sekarang. Good luck mbak Inda lombanya.

  3. Happy hunting tickets ya Kak! One more to go. Saya juga belum pernah ke Laos, tapi mungkin untuk ke sana masih agak lama… Nunggu kesempatan dulu.

  4. Santan bahkan sekarang sudah ada restonya di Kuala Lumpur Mba, memang Air Asia dengan hebat bisa mengembangkan brand-nya. BTW keren banget Mba udah khatam Asia Tenggara, aku belum niih.

  5. Air asia maskapai low budget favorit saya mbak. Dulu saya prnh naik pesawat ngak ada nomor kursi ya pakai air asia. Merasakan hot seat ya di air asia. Pokoknya buat low budget flight masih juara sih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *