Bersama KMP. Pulo Tello, Samudera Tak Seganas Perkiraan

“Maaf, ferry dari sana hanya ada besok. Kalau tidak mau, harus tunggu seminggu lagi. Itu pun belum tentu.”

Kami semua hanya saling pandang saat mendengar ucapan petugas loket di Pelabuhan Pulau Baai. Rencana matang yang sudah disiapakan selama tiga hari di pulau, terpaksa berubah total.

Saat itu kami sedang dalam misi sebagai relawan yang akan menginspirasi adik-adik sekolah dasar di Pulau Enggano. Berminggu-minggu kami saling berkoordinasi tentang persiapannya, bahkan beberapa peserta ada yang mundur dengan berbagai alasan.

Kami sepakat, selama empat hari di sana, selain mengajar, juga akan bersenang-senang dengan menjelajahi pulau yang berada di tengah Samudera Hindia itu. Kebanyakan di antara kami baru pertama kali ke sana, termasuk saya. Tidak pernah terbayang, akhirnya akan ke pulau yang letaknya yang sangat jauh dari Kota Bengkulu itu.

Bayangkan, harus naik kapal ferry selama 12 jam mengarungi samudera luas. Perjalanan darat saja banyak yang teler, apalagi di laut. Ditambah cerita tentang hantaman gelombang kencang yang sering membuat kapal terombang-ambing entah kemana, menyebabkan penumpang harus berpegangan erat dan mabuk laut parah. Cerita ini lumayan bikin takut siapapun yang mau ke Enggano.

Sekarang, kami harus bolak-balik dalam satu hari. Ditotal, sekitar 24 jam kami akan berada di atas kapal. Sementara di darat, hanya sekitar 12 jam.

Show must go on. Beberapa rekan kami yang bertindak sebagai tim pendahulu telah menunggu di Pulau Enggano. Enam SD yang ada di pulau itu pun telah diberitahu tentang kegiatan ini. Kasihan adik-adik yang telah mengharapkan kedatangan kami.

Dengan kebulatan tekad dan niat baik, kami berangkat. Bisa saja pulangnya kami naik pesawat kecil, namun jadwalnya juga belum pasti, jumlah penumpangnya pun terbatas, tidak cukup untuk mengangkut motor yang kami sengaja bawa. Iya, sebagian kami membawa motor pribadi sebagai alat transportasi selama di pulau, karena di sana tidak ada kendaraan umum.

Setelah urusan tiket beres, kami bergegas naik ke kapal.

Seperti umumnya kapal ferry roro (roll on roll off) yang pernah saya naiki saat bolak-balik menyeberangi Selat Sunda, bagian bawah khusus untuk kendaraan atau barang-barang berat, termasuk kardus-kardus berisi buku bacaan yang akan kami sumbangkan. Motor-motor dijejer di bagian ujung, menghadap pintu keluar, lalu diikuti kendaraan roda empat.

Areal penumpang ada di lantai dua. Bagian ini dipenuhi oleh barisan kursi yang menghadap ke satu arah. Dinding kapal hanya ditutup terpal tebal yang mengeluarkan suara saat tertiup angin. Sebagian bangku berlapis busa itu sudah sobek-sobek hingga tinggal setengahnya, bahkan ada yang bolong sama sekali, tidak bisa diduduki. Di bagian tengah, di belakang beberapa barisan kursi hingga ke belakang, ada semacam balai-balai berlapis matras yang telah dikuasai penumpang lain. Kalau mau tidur sambil berbaring, memang di sinilah posisi enaknya.

Melihat mereka yang sudah merebahkan diri, saya berpikir bahwa orang-orang tersebut telah terbiasa menempuh rute ini. Tidak ada yang heboh seperti rombongan kami yang kebingungan mau duduk di mana. Belum yang kesenangan karena baru pertama kali naik kapal ferry, terus nggak sabar pingin foto-foto di buritan. Bahkan ada yang langsung minum antimo biar tidur sepanjang perjalanan untuk menghindari mabuk laut.

Andaikan senja sore itu tak seindah petang itu, mungkin tak ada istilah #AsyiknyaNaikFerry pada pelayaran setengah hari itu. Saat malam mendekat, langit mulai menampakkan semburat merahnya, menemani sang mentari kembali ke peraduannya. Sontak, kami tak henti mengabadikan momen magis itu, lalu bergantian minta difoto hingga gelap benar-benar menguasai malam.

Banyak yang sudah terlelap. Tapi masih ada juga yang terjaga sambil menikmati bekal yang dibawa. Beberapa ada yang membunuh waktu dengan berbincang, ada yang menikmati minuman hangat di konter yang ada di bagian depan kapal, dan ada yang ikur bergoyang bersama video dangdut yang tergantung di dindingnya. Semua tampak normal.

Waktu terasa lambat, karena tidak banyak yang bisa dilakukan, apalagi tidak ada posisi nyaman untuk memejamkan mata di bawah cahaya lampu yang terang. Pun gerah, hingga salah seorang penumpang membuka satu ikatan terpal agar ada angin yang masuk. Saya pun mulai mengantuk, dan mendekat ke balai-balai, mencoba mencari tempat kosong.

Sebagian di antara kami tidak kelihatan. Ternyata mereka sudah pindah ke ruangan yang lebih nyaman. Di balik konter, ada satu ruangan ber-AC yang dipenuhi dengan tempat tidur bertingkat. Saya mencoba masuk dan mendapati sudah banyak orang di sana, termasuk beberapa kawan yang sedang menikmati makan malamnya. Enak banget tidur di sini. Kasurnya empuk, meskipun ukurannya tidak selebar kasur single di rumah. Untuk bisa menikmati tempat ini, penumpang harus membayar lagi Rp50.000.

Dipikir-pikir, perjalanan ke Enggano ini tidaklah seseram yang dibicarakan orang-orang. Fasilitas KMP. Pulo Tello milik ASDP Indonesia Ferry ini pun lumayan memadai meskipun terbilang sederhana. Tapi, kebutuhan penumpang, seperti musala dan kamar mandi, tersedia. Air pun banyak. Saya malah sempat melihat ada pria yang cuma handukan keluar dari kamar mandi. Melihat tubuh lembab dan rambutnya yang basah, pastilah dia selesai mandi. Buat jaga-jaga, tadi saya sudah mengecek posisi sekoci dan jaket pelampung. Ada. Berarti aman dan sesuai prosedur keselamatan, batin saya.

Sumber: www.indonesiaferry.co.id

Tidak ada gelombang ganas yang sebelumnya terdengar begitu menakutkan di telinga kami. Entahlah, tapi kata yang biasa melewati jalur ini, malam tadi memang sangat tenang. Kalau memang seperti ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan kalau dalam 12 jam ke depan kami akan kembali menempuh perjalanan ini.

Akhirnya, lewat tengah malam, saya baru mendapatkan matras kosong di balai-balai. Entah kemana penumpang yang tadi berada di sana. Tapi sampai saya dan seorang teman terlelap, tidak ada yang membangunkan kami.

Tak terasa, ferry mulai melaju pelan. Lalu disertai pengumuman agar penumpang bersiap, dan memeriksa barang-barang jangan sampai tertinggal.

Begitu mendarat, kami sudah ditunggu oleh teman-teman. Bersama-sama kami menuju tempat beristirahat, sebelum memulai aktivitas yang telah kami rancang jauh-jauh hari.

Memasuki jam makan siang, kegiatan kami telah selesai. Sambil menunggu waktu pulang, sekitar jam 17.00 wib, kami menyempatkan diri bermain di pantai Pulau Enggano yang terkenal bersih dan masih sangat sepi.

Dari tempat kami bermain, terlihat ferry yang sedang bersandar, tapi itu bukan yang semalam kami naiki. Kalau subuh tadi kami berlabuh di Pelabukan Kahyapu, sore ini kami akan berlayar dari Pelabuhan Malakoni.

Aah, sungguh perjalanan yang penuh pengalaman. Biasanya orang ke Enggano butuh beberapa hari untuk pergi dan pulang, kami hanya dalam satu hari. Subuh tiba, sore pulang.

7 comments Add yours
  1. Wah keren banget udah pernah ke Enggano, naik ferry, ketemu anak anak disana.. sebagai relawan

    Pengalaman yang luar biasa ya 😀

    Kalau ketemu sunset di kapal, aku sepertinya bakalan masuk rombongan orang orang ribet yang minta gantian difotoin itu mba 😀

  2. Saat tinggal di Pulau Tagulandang, Sulawesi Utara, satu-satunya transportasi yang ada ya hanya kapal ferry… Naik kapal ferry menyenangkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *