Blogger Bengkulu Tak hanya Ngeblog

Tidak seperti biasanya, memasuki usianya yang pertama, Blogger Bengkulu (Bobe) mengadakan kegiatan berbagi makanan berbuka puasa pada kopdar di bulan Juni, yang bertepatan dengan bulan puasa. Ini, juga merupakan pengalaman perdana saya berbagi takjil. Biasanya, buka puasa bareng teman-teman dekat. Bayar makanannya patungan atau masing-masing. Sekarang, bersama anggota Bobe, kami mengumpulkan donasi untuk orang lain yang membutuhkan.

Rencana awal, hanya sekadar berbagi penganan ringan sebagai bekal berbuka puasa. Lokasinya di daerah Simpang Lima yang merupakan jantungnya Kota Bengkulu. Semua anggota Bobe yang berminat, bisa menyumbangkan uang atau makanan. Dana yang disepakati adalah Rp5000 untuk satu paket takjil. Murah banget, menurut saya, sampai-sampai bertanya, makanan seperti apa yang satu setnya harga segitu.

Ternyata, barangkali karena semua mengejar berkah Ramadan, ketika mendekati hari H, para Bobers sangat antusias. Tidak hanya 5000an yang disumbangkan, tapi juga puluhan dan ratusan ribu. Dari target makanan hanya 50 bungkus, berubah menjadi 75 nasi kotak. Alhamdulillah.

(Sumber: Bobe)

Pada sore yang telah ditentukan, para personil Bobe yang bisa hadir berkumpul di halaman Kantor Telkom di Jalan Soeprapto, Simpang Lima. Setelah makanan datang dan foto-foto, kami segera bergerak.

Sehari sebelumnya, saya melewati Jalan Soeprapto, dan melihat ada yang sedang membagikan takjil di lokasi yang sama dengan kami sekarang. Menurut saya kurang efektif karena posisinya persis di tepi kawasan lampu lalu lintas, dan bukan area lalu lalang manusia. Sebagai pemberi, kita menunggu. Kurang pas kalau sasarannya adalah mereka yang dianggap kekurangan.

Melihat itu, saya mengusulkan untuk ‘jemput bola’. Saya ajak rekan blogger, Zefy, naik motor ke ujung lain jalan, di sekitar Masjid Jamik, karena kemarin saya melihat banyak ibu-ibu tukang sapu di sana. Zefy pun setuju.

Benar adanya, baru setengah jalan, kami sudah melihat satu tukang sapu dan tukang sampah. Tapi karena posisinya di seberang jalan, sementara jalanan ramai dengan kendaraan, kami putuskan nanti saja memberi mereka.

Begitu di dekat masjid, terlihat sekelompok ibu-ibu berseragam oranye yang biasa menyapu jalan. Langsung Zefy menghentikan motornya, dan saya memberikan nasi kotak sesuai jumlah mereka. Ada juga ibu penyapu jalan di sebelah sana, lalu di sebelah sananya lagi. Nasi kotak kami ludes seketika.

“Lebih happy gini, mbak.” kata Zeffy, “Langsung sampai ke sasaran.” lanjutnya.

“Iya.” balas saya, dan mengajaknya kembali mengambil nasi lagi, untuk diberikan kepada mereka yang tadi kami lihat. tapi belum kebagian.

Waktu kami kembali ke titik kumpul di Simpang Lima, masih banyak nasi tersisa, sementara kami berniat selesai sekitar jam 17.00, agar bisa buka puasa bareng keluarga. Melihat kami kembali dengan plastik kosong, rekan Bobe pria jadi terinspirasi untuk bergerilya mencari orang-orang yang sekiranya pantas diberi. Segera mereka membawa satu kantong plastik berisi tumpukan makanan ke seberang jalan. Saya dan Zefy hanya mengambil nasi yang kami perlukan.

Sayang, bapak tukang sampahnya sudah pergi tanpa jejak. Cepat sekali geraknya. Kami rada kecewa karena tidak sempat memberinya makan.

Ah, sharing is caring. Memang, memberi bisa bikin happy. Daripada seluruh THR dihabiskan untuk membeli baju dan kue lebaran, ada baiknya juga disisihkan untuk saudara-saudara seiman yang hidupnya kurang beruntung. Apalagi di bulan Ramadan, pahala semua kebaikan dilipatkgandakan oleh Allah swt.

Super senang rasanya melihat senyum di wajah orang-orang yang menerima pemberian kami. Ada yang mendoakan, malah, sampai saya minta diaminkan waktu bilang minta jodoh.

Asyik, ya, Blogger Bengkulu. Kegiatannya nggak melulu soal ngeblog. Kami juga peduli dengan sesama.

Tulisan ini dibuat untuk menjawab tantangan dari Blogger Bengkulu untuk #nulisserempak tentang #AkuBloggerBengkulu.

One comment Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *