Coworking Space, Tempat Terciptanya Kerjasama Bisnis di Era Teknologi

Meskipun baru kemarin malam sampai rumah setelah seminggu penuh eksplor Flores, saya begitu bersemangat bangun pagi ini. Seperti kebelet pipis, ide dan konsep di kepala sudah tak tertahan ingin keluar. Tak sabar juga untuk bertemu teman yang katanya akan memperkenalkan saya dengan seorang founder startup.

“Laptop plus charger, ada. Smartphone beserta charger, siap. Catatan kecil selama perjalanan kemarin, lengkap.” Saya berujar pada diri sendiri sembari mengenakan blus bergaya kasual dengan bawahan kulot asimetris.

Ambil sepatu teplek di rak sepatu, lalu mengeluarkan motor. Orang rumah sudah terbiasa, kalau motor tidak ada di garasi, artinya saya ada di dalam kota. Lain kalau keluar kota, saya pasti pamit dan meninggalkan STNK.

Seluruh keluarga tahunya saya kerja walaupun tidak tahu nama kantornya. Bila ditanya, jawabannya wiraswasta. Tidak perlu dijelaskan kalau saya adalah blogger yang juga content writer di sebuah media online, buzzer dan endorser beberapa produk dan event, investor skala kecil, sesekali menjadi pembicara soal traveling, dan sering menjadi tour guide ke beberapa destinasi wisata.

Biasanya, kalau tidak kemana-mana, saya betah di kamar, yang sekaligus ruang kerja saya. Ngadapin laptop, merancang peluang bisnis. Bebas, mau sambil selonjoran, tengkurap, atau duduk manis di meja, yang penting produktif.

Tapi, namanya kerja di rumah, ada saja yang bikin tidak optimal, misalnya kurang gairah lantaran tidak mandi pagi, atau dipanggil mama yang nyuruh ke warung. Belum kalau ada kerabat datang, harus nimbrung. Ada saja yang bikin kerjaan susah beres.

Kalau harus keluar rumah, paling ke tempat yang ada free Wi-Fi. Cafe, biasanya, tapi kurang pas untuk mengadakan meeting serius. Kurang konsentrasi juga kalau kerja di tengah obrolan pengunjung yang diselingi cekikikan centil atau seliweran kendaraan lewat.

Mau punya kantor permanen, kesibukan saya tidak membutuhkan bangunan yang disekat-sekat. Saya perlunya inspirasi, internet, sinyal telepon, dan asupan nutrisi. Kerjanya kadang sendirian, kadang dengan partner, kadang dengan satu dua klien, dan pernah dalam grup. Jam kerja juga tergantung mood dan kebutuhan, sejam, seharian, seminggu, atau sebulan penuh.

Nah, dengan pola kerja seperti ini, saya kerap berpindah-pindah lokasi. Kalau sedang sial, pernah harus mengungsi ke tiga cafe berbeda dalam satu hari, hanya untuk satu pekerjaan. Alasannya, makanannya tak sedaplah, harga menu relatif mahal, tempat berisik, atau sinyal internetnya seret.

Saya butuh tempat yang akomodatif. Tidak perlu suasana formal nan tenang, yang penting nyaman dan membuka ruang untuk berinteraksi dengan like-minded people.

https://images.pexels.com/photos/6524/person-woman-hotel-laptop.jpg?h=350&auto=compress&cs=tinysrgb

Gotcha!

Itu bukan saya, apalagi kisah di atas. Saya pribumi banget tampangnya, dan cuma orang kantoran yang jam kerjanya normal. Tapi, pekerjaan tetap saya ini memberi celah untuk menyambi sebagai pengusaha kecil-kecilan yang aktifitas dan transaksinya cukup dari laptop atau smartphone. Saya ngeblog, jadi buzzer, endorser, jualan pulsa, dan sesekali mengirim tulisan ke berbagai media. Hehehe… Lumayan mendekatilah, ya.

Ide menjadi seperti di atas itu timbul setelah membaca tentang EV Hive yang mengusung konsep Coworking Space. Saya, kan, cita-citanya memang pingin kerja mandiri tanpa terikat waktu, tempat, dan aturan, tapi memiliki networking yang luas.

EV Hive sepertinya adalah jawaban dari orang-orang yang punya mimpi seperti saya.

EV Hive adalah semacam komplek perkantoran yang berada dalam satu bangunan. Bingung, nggak, tuh. Singkatnya, EV Hive merupakan Coworking Space, tempat bertemunya para pekerja yang tidak terpisah kubikel, apalagi peraturan cuti. Di sini, yang “ngantor” bisa pekerja tunggal yang punya usaha sendiri, dan atau tim yang sedang membangun bisnis. Kalau diibaratkan satu orang atau satu tim itu adalah perusahaan, maka ada banyak kantor di dalam satu EH Hive.

Atmosfer kerja seperti ini sedang marak di kalangan jiwa muda masa kini, khususnya yang berada dalam ekosistem startup. Mereka sangat akrab dengan teknologi informasi yang bergerak cepat dan tanpa batas. Maka dari itu, ritme kerjanya diatur masing-masing. Mau kerja selama sejam, sehari, seminggu atau sebulan penuh, terserah.

Simple, persis seperti kerja di rumah sendiri. Iya, tapi mood-nya pasti beda. Seperti yang sudah saya bilang, ada saja hal yang bikin gagal fokus dan proyek tidak selesai, kalau di rumah. Ujung-ujungnya tetap butuh kantor yang memadai. Daripada kerja di rumah, mending ke Coworking Space.

Di sini, fasilitasnya mendukung 100%. Suasananya benar-benar beraroma bisnis dan teknologi, karena dipenuhi para entrepreneur muda yang akrab dengan dunia digital, dan enggan terkekang aturan birokrasi.

Desain ruangan di EV Hive sengaja dibuat nyaman dan menarik, hingga bisa bikin betah dan dijadikan pengalih perhatian saat sudah terlalu lama berkutat dengan kode dan gadget. Fasilitas lainnya: bebas bikin minum sendiri, jadi racikan kopinya sesuai selera; layanan jemput barang yang ketinggalan, jadi tidak perlu bolak-balik; serta loker untuk menyimpan barang pribadi. Mau apa lagi?

Coworking Space buka setiap hari, mulai pukul 09.00. Tidak gratis, loh, ya, ada sewanya seperti sewa gedung kantor sungguhan, tapi pasti jauh lebih terjangkau. Satu hal lagi, booking tempat dulu agar terjamin mendapatkan space, khususnya yang mau bekerja lebih dari satu hari. Berikut jenis paket yang bisa dipesan:

Daily Pass: Ideal untuk blogger, freelancer, dan self-employed.

Flexy Desk: Ideal untuk tim kecil yang sedang mengerjakan proyek jangka pendek, sehingga bebas menggunakan EV Hive di lokasi manapun.

Dedicated Desk: Ideal untuk tim kecil yang sedang mengerjakan satu proyek, dan membutuhkan fasilitas kantor, seperti perangkat komputer, printer, dan loker penyimpanan barang.

Private Office: Ideal untuk tim besar yang anggotanya lebih dari 10 orang, dan membutuhkan fasilitas kantor yang lengkap, seperti komputer, printer, dan loker penyimpanan barang.

Semua penyewa bulanan bebas menggunakan ruang rapat untuk rapat bulanan dan bebas masuk ke acara-acara gratis di EV Hive. Pengguna akan mendapatkan akses internet super cepat dan sarana pendukung yang memadai. Satu lagi keunggulannya, akan banyak bertemu orang yang sama-sama memiliki jiwa wirausaha. Bagaimana caranya?

Pengunjung EV Hive tidak dibiarkan sibuk sendiri hingga menjadi pribadi antisosial. Ada berbagai event terkait perkembangan bisnis teknologi, yaitu semacam networking session yang berisi sharing knowledge dan community building. Inilah saatnya untuk menimba ilmu dan mengenal pekerja lain. Asyik, kan, nggak cuma bekerja mengejar materi, tapi juga ada kesempatan belajar dan memperluas jejaring.

Beragam orang dengan beragam rencana bisnis berkumpul di satu tempat, pastinya terbuka kemungkinan akan terjalin kejasama yang menguntungkan, kan. Sama-sama muda, sama-sama penuh energi, satu visi, paham porsi masing-masing, dan profesional, selesai. Tidak perlu brainstorming berhari-hari, satu produk bisa cepat terwujud.

Saat ini EV Hive tersebar di tujuh lokasi strategis di Jakarta dan sekitarnya, yaitu:

  • The Maja, Kebayoran Baru
  • Tower IFC, Jl. Sudirman – Karet
  • D.Lab, Gondangdia – Menteng
  • Jakarta Smart City (JSC) Hive, Karet Kuningan
  • The Breeze, BSD City – Tanggerang
  • DIMO, Gondangdia – Menteng
  • Satellite, SCBD – Senayan

Meskipun semua desain kantornya terkesan modern santai, energi di dalamnya super positif. Kalau dikelilingi orang-orangnya produktif, pasti kita juga kebawa aktif, kan, ya. Inspirasi berkeliaran di langit-langit. Nggak akan sempat bosan di kantor kalau lingkungan kerjanya dinamis. Penat dan letih, silahkan rehat dulu sambil bikin kopi dan ngobrol dengan pengunjung lain. Siapa tahu, dari perbincangan ringan bisa terjalin kolaborasi apik berbasis teknologi untuk menciptakan inovasi ciamik. Atau… ketemu mantan, eh, jodoh bagi yang single.

28 comments Add yours
  1. Kerennn.. ada tempat kaya gini ya.. dulu pas lagi cuti, sembari nunggu anak sekolah, karena kalo pulang itu terlalu jauh dan nanggung.. suka bingung mau buka laptop dimana
    Semoga nantinya bisa sampai ke Lampung ya..

  2. Keren tempatnya, semoga cepat ada di sekitar daerah rumahku di daerah Cinere. Saya kerja online dari rumah sebagai virtual assistant dan social media manager. Kadang bosen kerja di rumah, kadang saya pergi ke starbucks untuk kerja cari dan ganti suasana. Biar nggak kerja sambil dasteran melulu di rumah. Tapi kadang ada waktu2 tertentu SB terlalu berisik. Semoga cepat ada co working space seperi ini dekat rumah, soalnya kalau harus ke tengah kota seperti sudirman dan kuningan sama aja kaya jaman ngantor dulu. Tua di jalan hehehehe.. Nice post.. salam kenal yaa..

  3. bener banget mbak, kalau di kerja di rumah malah lebih banyak gangguannya. Saya juga gitu pernah malah sehari udah mutarin 5 cafe berbeda cuman buat ketemu klien doang. Dan emang coworking space paling manteplah buat kerja, so bukan cuman duduk doang tapi malah bisa nambah teman juga

  4. Tempatnya keren mbak.
    Aku pengen lho nyobain coworking kyk EV Hive gini. Secara kalau ngerjain tulisan di rumah banyak iklannya. Tahu kan iklan yg kumaksud 😀

  5. Kantor-kantor anak milenial. Hehehe. Di Bandung juga udah banyak coworking space. Emang klo kerja kreatif mah enaknya ada di lingkungan yg kreatif juga. Biar ide2 bermunculan & semangat terus. Coworking salah satu tempat yg oke buat nyari ide, jaringan kerja, & jaga semangat kerja

  6. Fasilitasinya lengkap. Jenis paketnya juga variatif. Bener banget cocok buat blogger freelance dan siapa pun yg butuh tempat untuk ‘ngantor’. Ah aku berharap ada yg beginian di Pontianak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *