Di Negeri ini, Kutemukan Inspirasi

Rindu

Adalah rasa yang sangat cepat menyusup ke relung hati setiap mendengar namanya disebut. Bayangan tentang betapa berharga dan indahnya pengalaman hidup yang didapatkan selama bersama, datang secara bergantian di pelupuk mata. Andaikan punya kemampuan teleportasi, pasti saya sering bolak-balik menemuinya.

Dalam waktu dua belas bulan, dibandingkan teman sejawat yang sama-sama kuliah di sana, mungkin cuma saya yang banyak menghabiskan tabungannya untuk bepergian. Mau gimana, saya nggak punya tanggungan yang harus dibiayai. Paling, belanja peralatan keperluan traveling, beberapa produk fashion yang sudah lama diidamkan, dan secuil oleh-oleh untuk keluarga. Makan sehari-hari, lebih banyak masak sendiri dibandingkan jajan di luar. Ya, sesekali ke resto atau icip-icip makanan khas sana, bolehlah…

Asyiknya kuliah di sana itu, jadwal perkuliahan jelas dan pasti dari awal semester. Jadi, sudah tahu hari apa saja ada kelas, kapan field trip, dan tanggal ujian. Semua skedul itu tidak berubah, kecuali darurat atas permintaan pengajar. Dengan begini, mahasiswa bisa mengatur waktu untuk keperluan pribadi.

Sebelum berangkat, saya memang bertekad akan mengunjungi sebanyak mungkin tempat-tempat terkenal di negara berjuluk Negeri Matahari Terbit itu. Tidak perlu menunggu musim libur, jika ada kesempatan, entah di dalam atau ke luar kota, pasti saya manfaatkan untuk jalan-jalan. Tidak perlu menunggu akhir pekan, saat tidak kuliah dan tidak ada keperluan lain di pertengahan minggu, saya sengaja mengisi waktu dengan mengunjungi tempat-tempat wisata terdekat. Pun saat teman pada sibuk dengan urusannya, saya mending pergi sendiri.

Pemandangan Kyoto dari Punjak Daimonji

Walaupun Jepang bukan perjalanan luar negeri pertama, tapi negara ini adalah yang memberi saya pengalaman solo traveling untuk pertama kalinya. Semua kota yang saya injak, didominasi oleh pelesiran seorang diri. Saya sengaja menantang diri untuk mewujudkan impian lama itu. Belum sempat keliling dunia dan keliling Indonesia, biarlah keliling Jepang dulu.

Akibatnya, you know what? Saya diserang travelbug! Saya kecanduan! Sampai sekarang.

Di sana, saya banyak bertemu backpacker asing, salah satunya seorang traveler asal Irlandia yang sedang menjalankan misinya: keliling dunia tanpa menggunakan pesawat terbang. Nggak kebayang sebelumnya, tapi nyata. Mahal dan capai, dia bilang. Tapi itulah caranya menikmati hidup dan menjemput bahagia.

Kebanyakan dari mereka bekerja secara online: programmer dan/atau blogger. Saya sudah banyak membaca tentang para pejalan dunia yang mengandalkan Internet untuk membiayai perjalanannya demi arti bahagia versi mereka.

Inspirasi

Saya merasa memiliki kesamaan dengan mereka. Saya begitu menyukai aktivitas traveling, khususnya hanya dengan menggendong ransel, karena ringkas dan efisien. Sewaktu kecil, saya pernah melihat seorang bule berjalan kaki dengan tas besar di punggungnya. Dulu, saya pikir dia hanya turis biasa. Setelah dewasa, saya terngiang sosok itu, dan berpikir bahwa bisa jadi dia adalah seseorang yang sedang entah keliling dunia atau hanya sekadar liburan. Saya ingin seperti dia.

Itu sebabnya selama di Jepang saya memuaskan rasa penasaran itu dengan banyak berjalan seorang diri ke tempat-tempat yang saya inginkan. Sayang, waktunya sangat singkat. Masih banyak kota yang ingin saya sambangi. Saya begitu menikmati menyusuri setiap sudut di negara itu. Setiap kali pulang dengan selamat, saya selalu ingin berkemas lagi. Saya bisa, ternyata.

Andaikan… Aah, sudah terlalu banyak andaikan yang keluar dari bibir ini setiap teringat kehidupan di sana. Biarlah saya tahan kerinduan ini hingga waktu yang tidak ditentukan.

Kesamaan yang lain, saya sudah lama memiliki blog meskipun isinya hanya curhat picisan tak bertema. Tapi setelah beberapa kali solo traveling dengan biaya seminim mungkin, saya merasa harus berbagi. Saya mantap memilih genre. Saya ingin berbagi hal yang paling saya cinta dan selalu ada dalam pikiran.

Traveling

Setelah pulang ke tanah air, saya belajar memperbaiki blog saya. Dari blog gratisan, sekarang saya sudah punya domain sendiri. Dari nggak PD menyebut diri sebagai blogger, sekarang lantang mengaku sebagai travel blogger. Dari merasa sendiri, sekarang sudah bergabung dengan banyak komunitas traveling dan blogging. Hari-hari di kantor pun, lebih banyak digunakan untuk ngeblog, apalagi setelah mulai mengenal istilah monetizing. Traveling, jangan ditanya. Bisa dibilang, lebih banyak saya bepergian sendiri daripada keluar kota urusan dinas.

Awalnya, saya ingin menulis kisah perjalanan di setiap kota di Jepang. Tapi mandeg, karena agak kecewa dengan beberapa hasil foto selama di sana yang nggak fokus dan buram. Maklum, diambilnya dengan kemampuan fotografi abal-abal. Ada beberapa foto selfie, tapi nggak suka kalau hanya wajah saya yang mendominasi layar. Begitupun yang berfoto menggunakan timer, nggak proporsional. Kalau ada yang cakep, baik hasil jepretan sendiri atau hasil minta tolong orang lain, saya anggap sebagai kebetulan.

Semua perjalanan di Jepang saya abadikan dengan kamera ponsel dan mirrorless. Setiap memotret, yang dipikirkan hanyalah bahwa ini akan menjadi kenang-kenangan. Bukti bahwa saya berhasil terbang ke negeri impian, dan entah kapan bisa kembali lagi. Nggak mikir teknik, yang penting jepret.

Memori ponsel penuh. Begitu juga dengan memory card kamera. Jumlahnya bisa ratusan, apalagi saat sedang jalan-jalan keluar kota. Setibanya di apato, semuanya segera ditransfer ke laptop.

Nah, seandainya rencana balik ke Jepang dalam waktu dekat ini kejadian, saya mau melengkapi diri dengan gawai baru yang direkomendasikan seorang teman. Menurutnya, perangkat satu ini adalah smatrphone idaman di tahun 2018, dan yang paling pas untuk  saya. “Kamu, kan, sering jalan sendiri, jadi bakal sering selfie. Huawei Nova 3i ini masternya selfie, dan hasil foto normalnya nggak kalah sama yang pro.” begitu kata teman saya.

Penasaran, saya langsung cari tahu tentang keunggulan smartphone ini. Di bagian mana, yang membuatnya cocok menjadi travel partner saya ke Jepang nanti.

1. Kamera

Dilengkapi teknologi Quad AI Camera, membuat Huawei Nova 3i menjadi ponsel yang paling diminati tahun ini, karena hasil fotonya sangat jernih dan setara kamera sungguhan. Bisa menghasilkan efek bokeh yang alami dan profesional. Telepon pintar ini memiliki empat kamera: dua belakang dan dua depan. Keempatnya beresolusi tinggi 24 MP + 2 MP dengan aperture f/2.0 untuk kamera depan, dan 16 MP + 2 MP aperture f/2.2 untuk kamera belakang.

Dengan alat ini, kemampuan fotografi saya yang cuma keker-jepret bisa tertutup secara sempurna. Kamera depannya sangat menggoda para solo traveler. Selfie jarak dekat atau jauh, bukan lagi masalah. Mau pakai tangan sendiri, tongsis, atau tripod, tinggal pilih.

(Sumber: www.nurulnoe.com)

Layarnya yang relatif lebar, 6,3 inci, bisa memberi kepuasan maksimal. Hasil foto bukan melulu wajah sendiri. Ketika sedang ke pantai atau gunung, pemandangan alam yang menawan bisa jadi latarnya, meskipun berswafoto. Cocok banget buat saya yang lebih senang motret landscape daripada moto orang, dan lebih riang difotoin daripada selfie.

2. Storage

Telepon pintar satu ini memiliki kapasitas penyimpanan sebesar 128 GB. Bisa dipasang memori tambahan kalau kurang, hingga 256 GB. Ratusan foto dan video akan muat disimpan di sini. Jadi, bisa sambil ngeblog dan akses foto dengan sangat mudah. Tidak perlu beralih ke laptop dulu.

Ponsel ini benar-benar praktis untuk mendukung kegiatan blogger. Bisa ngeblog langsung disertai foto, atau ambil banyak foto untuk langsung diunggah di medsos.

3. Desain

(Sumber: https://consumer.huawei.com)

Tipis, adalah yang saya inginkan dari wujud sebuah smartphone, karena saya menganggapnya ringan dan stylish. Jadi, nggak terlalu nonjol kalau disimpan di kantong pakaian. Huawei Nova 3i ini tebalnya cuma 7,6 mm. Cocok.

Pun warna, irish purple tampak keren dan eye catching, khususnya bagian kaca belakang yang ada gradasi ungu kebiruan dan bingkai metal di bagian tengahnya. Memberi kesan tangguh, dibalik body-nya yang tipis.

4. Performa

Dilengkapi dengan chipset Kirin 710 berteknologi 12 nm, gawai ini memiliki respon yang halus dalam memproduksi gambar, baik untuk hasil foto, maupun gaming.

Teknologi AI yang berpadu dengan GBU Turbo pada ponsel ini akan memberikan pengalaman yang seru bagi para gamer. Ada mode uninterrupted gaming yang bisa menahan munculnya notifikasi pada layar, bila dianggap akan mengganggu konsentrasi bermain.

Ada beberapa fitur tambahan yang membuat ponsel ini tangguh dan pemiliknya bisa tetap produktif, yaitu HUAWEI GEO yang dapat meningkatkan kinerja ponsel meskipun di dalam terowongan. Lalu AI Noise Removal yang bisa memperjelas panggilan dengan volume rendah, serta menyamarkan bising pada panggilan yang berisik. Terakhir Elevator Mode, yang membuat koneksi tetap terhubung secara dinamis karena kemampuannya menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sinyal 4G yang hilang timbul, bisa cepat dipulihkan dengan mengaktifkan fitur ini.

5. Harga

Digadang-gadang sebagai smartphone termurah di kelasnya dengan storage 128 GB, ponsel ini memang bukan hanya cocok buat para pencinta jalan-jalan, tapi juga para blogger yang kerap menambahkan grafis pada tulisan-tulisannya. Harganya tidak terlalu menguras kantong, di bawah 5 juta. Worth it untuk semua kelebihan yang dimilikinya.

Mhm… Jepang memang memberi saya banyak inspirasi. Impian masa remaja yang ingin berkelana seorang diri di negeri antah-berantah terwujud berkali-kali selama di sana. Pahit, manis, asam, dan asin, saya rasakan dalam perjalanan itu. Anehnya, tidak membuat kesal, justru saya riang, rindu, dan ingin melakukannya lagi dan lagi di tempat-tempat berbeda.

Sayang, semua itu tidak terabadikan dengan sempurna saat itu. Makanya saya ingin kembali ke sana berbekal Huawei Nova 3i.

Tulisan ini diikut sertakan dalam giveaway di blog nurulnoe.com

6 comments Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *