Edu Hostel, Yogyakarta – Hostel Ala Hotel

Walaupun telah melihat tampak luarnya di website, kekaguman saya tetap muncul ketika melihat langsung. Tidak seperti hostel-hostel yang pernah saya inapi, Edu Hostel benar-benar seperti hotel kebanyakan. Warna tembok luarnya yang oranye cerah dengan jendela-jendela yang memenuhi tembok sampinyanya, membuat saya ingin segera melihat langsung kamarnya seperti apa.

Memasuki lobi utama, saya langsung disambut oleh areal yang luas dan terang benderang karena cahaya matahari. Di bagian kiri dan kanan terpasang sofa panjang warna-warni tanpa sandaran yang bisa untuk tidur-tiduran. Di dekat sofa bagian kiri ada sederet perangkat komputer yang terhubung dengan internet dan bisa diakses bebas oleh pengunjung.

IMG_3834

Di atas areal komputer ini ada beberapa meja dan kursi full color yang bebas diduduki, sayangnya tidak ada colokan. Di sini tersedia dispenser yang airnya bisa diambil kapanpun. Lalu di bagian tengah sebelah kanan ada counter resepsionisnya yang ramah, dan di atasnya terdapat common room yang dipenuhi sofa dan bantal-bantal besar berbentuk dadu. Terpajang televisi layar lebar, gitar dan beberapa bacaan di sini. Saya lebih suka menghabiskan waktu di atas sini sambil istirahat karena nyaman dan banyak colokannya.

Area kamar ada di lantai dua hingga lima, yang bisa diakses dengan tangga dan lift. Lantai enam adalah ruang makan yang bagian luarnya ada kolam untuk menyelupkan kaki. Di sini masih ada satu lantai lagi jika pengunjung ingin menyaksikan pemandangan Jogja dari ketinggian. Saya sempat menikmati cahaya pagi dari tempat ini. Rooftop ini hanya bisa diakses ketika jam sarapan, dan baru dibuka lagi pada pukul 16:00 wib, kecuali ada event khusus yang menyediakaan makan siang.

IMG_3852

Di bagian ujung lobi ada aula yang bisa disewa. Di sayap kiri luarnya ada toilet, dan di sayap kanan ada mushola beserta mukenanya. Oya, free wi-fi hanya diakses di areal lobi ini, tidak sampai ke kamar, apalagi ke teras atas.

Saat itu saya mengambil kamar kapasitas enam orang, perempuan semua. Tempar tidurnya berupa bunk bed dua tingkat, kasurnya tebal dan empuk, dengan satu bantal. Selimut dan handuk diberikan ketika check in. Setiap orang memiliki lokernya masing-masing dengan satu colokan listrik di dalamnya. Tidak disediakan gembok, jadi harus disiapkan sendiri kalau khawatir dibuka oleh tangan jahil.

IMG_3829

Begitu membuka pintu kamar, ada dua pintu di sebelah kiri yang merupakan toilet dan shower. Kamar mandinya berisi dua ruang shower yang dilengkapi sabun dan shampo. Tersedia satu jemuran kecil untuk menjemur handuk. Ketika saya menginap, pendingin ruangannya berfungsi baik, begitu pun dengan lampu kamarnya, cukup terang, dan di siang hari, cahaya matahari bebas masuk dari arah jendela.

Setiap orang yang menginap di sini mendapatkan kunci kamarnya masing-masing berupa kartu yang penggunaannya hanya dengan menempelkannya ke card reader yang ada di tiap-tiap pintu. Saat itu saya datang sebelum waktunya check-in pada jam 12:00. Kalau begini, tamu bisa menitipkan bawaannya di ruang penyimpanan yang ada di sebelah resepsionis. Tentunya harus melapor dulu, supaya bisa masuk ke sana dan memberi tanda pada tas kita. Lumayan aman sih, walaupun ruang penyimpanannya hanya ruang sempit yang memanjang, tapi ada pintunya yang selalu terkunci. Ketika check-in, kita diwajibkan membayar uang jaminan sebesar Rp50.000 yang akan dikembalikan ketika check-out.

Lokasinya di Jl. Jend. Suprapto No. 17, Ngampilan, di depan terminal bus Ngabean. Akses paling mudah sih, dari Jl. KH. Ahmad Dahlan, Jl. KH. Wahid Hasyim, dan Jl. RE. Martadinata, karena Jalan ini terletak persis di depan terminal Ngabean. Dan kalau ingin ke Jl. Malioboro atau ke Sentra Bapia, bisa menggunakan becak sekitar lima menit. Untuk harga kamar, secara ini hostel, maka rate termurah yang bisa didapatkan adalah Rp80.000/bed. Lumayan, kan?

One comment Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *