From Ende to Bengkulu with Love, Jejak Cinta Bung Karno dalam Cagar Budaya Indonesia

Di kota ini kutemukan lima butir mutiara.
Di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.

Dulu… saya pikir Sukarno cuma pernah diasingkan di tanah kelahiran saya, Kota Bengkulu. Ternyata… sebelum tertambat cinta di Bumi Rafflesia, beliau terlebih dahulu melabuhkan hatinya di sebuah kota kecil bernama Ende, Nusa Tenggara Timur.

Begitu punya kesempatan solo trip ke Flores, saya mantap memulainya dari Ende. Tujuan utamanya cuma ke Danau Kelimutu dan Rumah Pengasingan Bung Karno.

Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende (1934 – 1938)

Ende merupakan kabupaten di Flores yang cukup ramai. Rumah pengasingan Sukarno di Ende berada di antara perumahan warga, di Jalan Perwira yang paling muat dilintasi 2 – 3 mobil.

Bangunan putih berangka hijau dengan aksen jendela kayu berwarna kuning itu menyambut saya yang tengah memicingkan mata menahan garangnya matahari. Tanpa teras, pintu depan dan pintu belakang berada dalam satu garis lurus. Saya langsung bisa menakar luas rumah dan pekarangannya.

Cagar Budaya Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende

Ruang depan penuh dengan potret, beberapa barang rumah tangga, serta berbagai naskah yang disimpan dalam kotak kaca di atas meja. Ada satu set kursi tamu bulat terbuat dari kayu. Kamar tidurnya berisi ranjang besi berkelambu dan berseperai putih. Sayang, ada pembatas yang menghalangi pengunjung masuk ke ruang pribadi itu.

Melangkah ke belakang, saya melihat beberapa ruangan tertutup selain dapur, serta sebuah sumur timba. Konon, membasuh muka dengan air sumur ini dipercaya akan membuat awet muda.

Beberapa menit saja waktu yang diperlukan untuk mengitari rumah ini. Sebelum beranjak saya sempatkan sekali lagi menyisir koleksi di ruang depan.

Ada kotak terpisah berisi dokumen penting dalam kehidupan Sukarno sebagai pria. Satu naskah dengan penjelasan: Surat Keterangan Kawin (24 Maret 1923) Ir Soekarno dan Inggit Garnasih. Lalu naskah lain dengan keterangan: Surat Perjanjian Cerai (1942) Ir Soekarno dan Inggit Garnasih.

Sebuah pikiran melintas di kepala.

Akibat sepak terjang dan pemikirannya, Belanda kembali menciduk Sukarno yang belum lama keluar dari penjara Sukamiskin. Tidak tanggung-tanggung, kali ini ia diasingkan ke timur Indonesia dengan harapan tidak memiliki akses korespondensi dengan sesama pejuang. Butuh waktu delapan hari perjalanan dengan kapal laut menuju Ende dari Pulau Jawa.

Sukarno muda sempat frustrasi dengan keterbatasan dengan dunia luar. Ia selalu menyendiri dan hampir menyerah. Untunglah ada support system yang turut mendampingi: istri, anak angkat, dan ibu mertuanya. Bersama-sama mereka melewati hari di tanah pembuangan.

Inggit sebagai istri, terus menerus menyemangati Sukarno yang dipanggilnya Kusno agar teguh pada perjuangannya. Sampai akhirnya Sukarno kembali menemukan gairah hidup dan aktif berkegiatan seni.

Bung Karno kerap menyendiri merenungi nasib negeri ini di bawah sebuah pohon sukun, tidak jauh dari rumahnya. Konon, dari hasil perenungan di bawah pohon yang menghadap laut itu, butir-butir dasar negara Indonesia tercipta.

Untuk mengenang momen proses lahirnya Pancasila itu, pemerintah setempat membangun patung Sukarno sedang duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon sukun. Lokasinya sama persis dengan aslinya, yaitu di sebuah tanah lapang yang dikenal sebagai taman renungan atau Lapangan Pancasila oleh warga. Tapi pohon sukun aslinya sudah lama mati dan diganti dengan anakannya yang juga tumbuh subur.

Pohon sukun dan patung Bung Karno yang tengah merenungi nasib bangsanya

Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu (1938 – 1942)

Tidak ingin merasa bersalah, Sukarno yang tengah diserang malaria, dipindahkan dari Ende oleh Belanda. Tidak kalah terpencil, lokasi yang dipilih adalah Pulau Sumatera yang aksesnya sangat terbatas.

Bengkulu, Sukarno ternyata dibuang ke Bengkulu. Tapi di sini ia menemukan cinta lain yang mempengaruhi kehidupan pribadinya dan NKRI tercinta ini.

Meskipun telah beberapa kali mengunjungi rumah di Jalan Soekarno-Hatta itu, baru pada beberapa tahun lalu saya menyadari hal menarik tentang bapak bangsa itu. Selama ini saya menganggap istri pertama Sukarno adalah Fatmawati. Namun pada kunjungan yang mencerahkan hari itu, saya mendapati bahwa ketika berada di Bengkulu, Sukarno masih beristrikan Inggit Garnasih. Fatmawati adalah istri ketiganya.

Berbagai pikiran berkeliaran di kepala. Tapi balik-balik, itu bukan urusan kita. Dalam satu ruangan, ada bingkai yang memperlihatkan tulisan tangan surat cinta Sukarno kepada Fatmawati.

Kondisi rumah pengasingan Sukarno di Bengkulu tidak jauh berbeda dengan yang di Ende. Terpelihara dengan memajang beberapa barang peninggalan yang dipercaya sebagai asli milik penghuninya. Kamar-kamar tidurnya pun atas nama Sukarno dan Inggit, serta anak angkatnya Ratna Djuami. Tapi semua ruangan bebas dimasuki.

Perbedaan yang sangat kental adalah luas tanahnya. Jika di Ende, areal rumahnya berdempet dengan rumah warga walaupun masih menyisakan pekarangan, rumah di Bengkulu menempati lahan yang sangat luas, serta ada tempat parkir khusus pengunjung. Ini, barangkali, yang membuatnya ada tarif masuk, sementara di Ende, pengunjung bisa membayar seikhlasnya.

Cagar Budaya Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu

Di dalamnya berisi koleksi buku berbagai Bahasa, kostum pertunjukan seni, satu set kursi tamu bulat terbuat dari kayu, ranjang besi berseperai putih, dan sepeda ontel dalam kotak kaca. Bagian belakangnya ada satu bangunan berisi beberapa ruangan terkunci, serta sumur yang airnya yang juga dipercaya memiliki khasiat kecantikan.

Siapa menduga, pengasingan di Bengkulu membuat Sukarno bertemu dengan calon ibu negara pertama negeri ini. Fatmawati adalah putri Hasan Din, tokoh Muhammadiyah di Bengkulu, yang juga merupakan teman Bung Karno. Rumah mereka tidak jauh. Naik becak atau jalan kaki juga bisa karena letaknya di ujung jalan sebelah.

Jika berkunjung ke Bengkulu, lengkapilah penyusuran jejak Sukarno dengan mengunjungi rumah panggung milik keluarga Fatmawati. Di sana pengunjung bisa melihat dan menyentuh mesin jahit yang dulu digunakan Fatmawati untuk menyatukan dwi warna.

Mesin jahit yang digunakan Fatmawati untuk menyatuka dwi warna

From Ende to Bengkulu, mungkin cuma penggalan kecil dari kisah hidup Putra Sang Fajar. Namun para pencinta sejarah dan pengagumnya, pasti sadar betapa penting kedua kota ini dalam kehidupan Sukarno, bahkan mempengaruhi perjalanan bangsa ini. Di Ende beliau menemukan Pancasila, di Bengkulu Sukarno menemukan ibu negara yang melahirkan presiden perempuan pertama Indonesia, yang juga melahirkan Ketua DPR RI wanita pertama di Indonesia.

Sukarno dan Fatmawati di Bengkulu

Tidak bisa dipungkiri, di beberapa tempat, situs sejarah banyak yang terbengkalai. Entah karena ketidakpedulian masyarakatnya, atau memang meremehkan nilainya?

Meskipun bukan penggemar sejarah, ada kalanya ketika traveling saya mengunjungi tempat-tempat yang ditetapkan sebagai cagar budaya Indonesia. Alasannya cuma ingin menuntaskan penasaran lantaran kerap mendengarnya dari buku pelajaran semasa sekolah. Ada kebanggaan khusus ketika bisa melihat langsung bukti sejarah yang dulu cuma didengar dari mulut para bapak-ibu guru.

Belum tentu para guru yang bercerita itu pernah melihat langsung benda-benda atau tempat sejarah yang mereka jelaskan di depan kelas. Itu sebabnya, mungkin, sejarah menjadi pelajaran hapalan yang cenderung membosankan.

Kini, setelah dewasa dan pernah berkunjung ke beberapa objek yang menjadi saksi bisu perjuangan bangsa ini, rasanya pingin balik ke bangku sekolah. Merunut pelajaran sejarah lagi karena sudah punya bayangan tentang peristiwa yang diceritakan.

Sebuah pengalaman di Jepang mempertemukan saya dengan serombongan anak sekolah yang ditemani gurunya mengunjungi museum dan tempat bersejarah. Dengan memegang alat tulis, mereka dibiarkan berkeliaran di setiap ruangan.

Barangkali mereka disuruh membuat laporan, atau diminta bercerita tentang apa yang ditemukan di tempat tersebut. Saya hanya tersenyum melihat mereka berkeliling sambil celingak-celinguk, lalu sebagian ada yang bergerombol mencatat sesuatu. Saya membayangkan seandainya ada kegiatan seperti itu ketika sekolah dulu.

Menurut saya, mengunjungi museum atau cagar budaya adalah metode belajar efektif, serta salah satu upaya untuk melestarikan warisan bangsa. Generasi muda mengenal sejarah dari usia dini, dan mungkin akan membangkitkan rasa ingin tahunya, lalu terdorong untuk menggali informasi. Kemudian timbul ide untuk menjaga keberadaannya.

Bayangkan kalau semua peninggalan yang ada kaitannya dengan terbentuknya negara ini cuma dianggap rongsokan tiada guna, hingga dibiarkan musnah. Generasi mendatang cuma bisa mendengar cerita, atau paling banter, melihat gambar-gambar tentang tanah airnya di Internet.

Apabila pemerintah merasa terbebani dengan biaya perawatan benda cagar budaya Indonesia, ajaklah pihak swasta dan masyarakat setempat agar turut serta memeliharanya. Perusahaan bisa berkontribusi melalui program CSR, sementara masyarakat bisa diberdayakan dengan memberi mereka ruang untuk mencari nafkah.

Warga lokal bisa dilatih menjadi pemandu, pengrajin, pedagang, atau penyedia kebutuhan lain para wisatawan yang berkunjung. Jika mereka merasakan dampak dari keberadaan situs bersejarah di tempatnya, mereka pasti akan sadar akan nilainya, kemudian terpanggil untuk merawat dan melestarikannya. Apalagi bila dibuat event khusus yang mampu mengundang banyak pengunjung.

Event yang pernah diadakan di cagar budaya di Kota Bengkulu (Sumber: BPCB Jambi)

Percayalah, ada banyak jenis manusia di dunia ini. Salah satunya para penikmat sejarah yang berkeliling negeri demi melihat semua cagar budaya. Kamu, mungkin, salah satunya.

Jadi, pernah ke cagar budaya apa saja?

Yuk, biar cagar budaya Indonesia makin dikenal banyak orang dan dilestarikan, ikutan Kompetisi β€œBlog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!”

35 Replies to “From Ende to Bengkulu with Love, Jejak Cinta Bung Karno dalam Cagar Budaya Indonesia”

  1. Luar biasa Mbak sudah sampai ke Ende dan Bengkulu. Memang mengunjungi tempat-tempat bersejarah tersebut menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk belajar sejarah karena langsung nempel dan hafal.

  2. Selalu deh suka membaca tulisan yang mengulas kisah sejarah seperti ini
    Rasanya seperti memasuki lorong waktu dan terlempar ke masa lalu
    Kisah-kisah Soekarno memang selalu menarik untuk dibaca ya mbak
    Baik kisah pribadi maupun jasa-jasa besarnya pada negara tercinta ini

  3. Dulu waktu di sekolah saya suka mikir emang kayak apa tanah pengasingan. Sekarang udah tahu, walo dr foto aja πŸ˜€ bagus2 banget ya tempatnya, dulu mah nyusahin kali ya heuheu, sekarang jadi tempat wisata

  4. Saya setuju kalau anak-anak sekolah digiring ke museum dan cagar budaya untuk melihat langsung dan mempelajari sejarah serta budaya Indonesia. Saya waktu SD beberapa kali ke Borobudur, Prambanan, Jogja Kembali, dan beberapa museum lain – karena study tour sekolah. Kebetulan orang tua saya penikmat candi. Sampai sekarang saya selalu senang mengunjungi candi-candi dan tempat bersejarah. Sejarah dipelajari, bukan hanya masa jayanya, namun juga konflik dan krisisnya, supaya jangan terulang lagi.

  5. Aku baru ke Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, kalau Bengkulu belum. Hebat memang Bung Karno tersebut. Hebat pemikirannya, jauh ke depan, mendahului zamannya.
    Aku termasuk pemerhati cagar budaya sih. Ya masih sekitar kotaku dulu aja. Semoga berbagai cagar budaya tetap terjaga kelestariannya yah

  6. Saya pernah datang ke salah satu museum di Jakarta. Kebetulan berbarengan dengan rombongan anak sekolah. Sama lah kayak yang di Jepang itu. Gurunya membebaskan berkeliaran dan ditugaskan untuk mencatat.

    Tetapi, mungkin masalah mental dan etika juga kali, ya. Yang terjadi suasana museum jadi sangat bising. Kebanyakan dari mereka justru pada becanda dan welfie/selfie. Mungkin catatannya dianggap bisa diselesaikan nanti

  7. wah seru juga menelusuri jejak proklamator kita. Kalau dilihat dari sudut pandang lain, pembuangan Bung Karno ke Ende, Digoel, Bengkulu dan banyak tempat lainnya memberikan beliau kesempatan melihat dan merasakan kehidupan selain di Jawa.

  8. Wah baru tau ternyata Pak Sukarno menikah lama juga ya dengan Bu Inggit sebelum beliau menikah dengan ibu Fatmawati. Tapi sepertinya anak anak beliau dari Ibu Fatmawati. Makanya tidak banyak yang tau kalau istri pertama beliau adalah Bu Inggit .

  9. Awalnya, saya juga menyangka Fatmawati itu istri pertama Bung Karno, sedangkan Inggit itu istri kedua. Malah baru setelah dewasa saya baru paham bahwa justru Fatmawati itu istri ketiga.

    Saya juga ingin ke Ende lho, Mbak Relinda. Menjelajah Flores, lihat Danau Tiga Warna dan lihat tempat pengasingan Bung Karno. Dulu selama diasingkan itu Bung Karno ngapain aja ya? Apakah beliau bergaul dengan masyarakat lokal, misalnya?

  10. Mungkin dengan diasingkan ke Ende itulah cara Tuhan agar Soekarno tenggelam dalam kontemplasi dan merumuskan dasar-dasar negara kita. Baru kemarin aku diajakin ke Bengkulu, tapi setelah cek tiket pesawat kok masih mahal banget haha. Mudah-mudahan harga tiket ke Bengkulu bisa lebih murah. Kalo jadi ke sana, aku pasti akan berkunjung ke Rumah Pengasingan Soekarno itu.

  11. Eh sama,
    Setelah besar & mampu travelling, aki suka datang ke tempat-tempat yg dulu diceritakan guru saat pelajaran sejarah. Kalo datang langsung, menikmati cerita-ceritanya, rasanya lebih gampang masuk pelajaran sejarah yg dulu itu.
    Pas gede, pelajaran sejarah terasa lebih asik.

  12. wisata sejarah dan budaya Indonesia emang keren ya.. Aku pun di daerahku wisata sejarah dan budaya jadi destinasi favorit.. salah satunya museum keraton

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *