Hidup Lebih Hidup dengan Menyingkirkan Rasa Khawatir

Terpaksa, akhirnya saya memilih matic, daripada tidak bisa menikmati Dieng dengan cara hemat. Memang, bermotorlah cara paling asyik menyusuri Dieng. Bukannya tidak pernah menggunakan motor matic, tapi saya lupa kapan terakhir mengendarainya. Motor yang saya punya dan selalu saya kendarai adalah motor gigi biasa.

Saya sengaja bangun sebelum subuh demi mengejar golden sunrise di Bukit Sikunir. “Kecepatan, mbak, jam segini.” kata pemilik penginapan saat saya menyerahkan uang sewa motor dan KTP. Saya diam saja, tidak mau dia tahu bahwa saya grogi.

Takut ada apa-apa, saat kami keluar untuk mengambil motor, saya tanyakan lagi kondisi motornya. “Bagus semua.” katanya. Kemudian saya minta dia menunjukkan cara menyalakannya. Sempat saya menangkap lirikan bertanya di matanya, tapi saya cuek. Saya lupa cara menghidupkan motor matic, apakah di-starter sambil pegang rem atau tidak. Lalu saya matikan, dan mencoba menghidupkannya. Berhasil. Si pemilik penginapan pun kembali ke dalam, menghindar dari udara dingin khas Dieng.

Sekarang saya sendiri. Ragu-ragu, saya tarik gas pelan sambil kaki dinaikkan perlahan. Agak oleng di awal, saya turunkan satu kaki, dan berusaha tenang meskipun keringat dingin mulai terasa di sekitar leher. Aman, walaupun terkadang masih ngegas mendadak. Setelah merasa menemukan keseimbangan, saya coba-coba menambah kecepatan. Dalam hati berdoa agar mesin tidak mati tiba-tiba di jalan yang gelap ini.

Beberapa motor dan mobil bergantian mendahului saya yang melaju lambat. Saya tahu bakal begini, makanya bangun lebih awal. Biar pelan asal selamat, pikir saya. Lagi, saya coba mainkan gas dan rem saat jalanan turun, naik, dan berlobang.

Huuu! akhirnya tiba di parkiran Sikunir. Bukan main senangnya. Selamaaat…

Dari sana, saya merasa mulai sepaham dengan motor yang untungnya tidak menyusahkan ini. Bukan hanya jalur beraspal mulus yang saya jabani, tapi juga jalan berbatu besar dan tajam menuju Kawah Candradimuka. Yang pernah ke sana, pasti tahu medannya seperti apa.

Ini baru awal.

Saking senangnya bisa menguasai motor matic ini, saya sering berseru dan ketawa sendiri di jalan. Biar saja dilihat orang. Saya sedang kegirangan bisa menaklukkan rasa takut yang tidak perlu,  sambil menikmati hembusan semilir angin di tanah para dewa ini. Sekarang saya siap menyewa motor kalau traveling kemanapun, ujar saya pada diri sediri, membayangkan penyewaan motor yang kebanyakan hanya menyediakan motor matic.

Sejujurnya, saya yang hobinya solo traveling ini sering dilanda kekhawatiran saat bepergian seorang diri. Jangankan ketika di tujuan, rasa itu sudah ada saat sebelum berangkat. Khawatir uang tidak cukup, khawatir nyasar, khawatir kena tipu, pokoknya khawatir mendapatkan pengalaman buruk.

Begitulah, meskipun traveling itu kerap menguji mental, saya selalu penasaran mengulanginya. Inilah satu-satunya cara saya bersenang-senang secara maksimal. Saya lebih rela menghabiskan uang untuk beli tiket pesawat, bus, atau kereta, daripada membeli tiket bioskop atau membeli barang lainnya.

Sendirian di tempat asing itu justru sering membuat saya, tanpa terduga, mengeluarkan potensi diri yang sebelumnya tidak saya ketahui. Berhasil mengendarai motor matic tanpa helm di Dieng, contohnya, atau berhasil ngetrip sendirian ke Indochina dan beberapa kota besar di Pulau Jawa. Pengalaman yang didapatkan dalam perjalanan memberikan banyak pelajaran hidup yang membuat saya bangga pada diri sendiri.

Mengenyampingkan rasa khawatir menyadarkan saya bahwa semua yang terjadi memang berdasarkan apa yang dipikirkan. Kalau saya yakin akan baik-baik saja, maka baik-baiklah saya. Buktinya, setiap perjalanan yang pernah dilakukan selalu punya kesan sendiri, hingga ingin mengulanginya lagi dan lagi, meskipun belum tiba di rumah. Perasaan ini sanggup mengalirkan energi positif ke seluruh tubuh, lalu menghasilkan endorfin yang membuat badan rileks dan hati gembira. Seperti itulah live to the max versi saya.

Oleh karenanya, supaya kebahagiaan hidup maksimal, saya berusaha  untuk melakukan apa yang saya suka, yaitu mencari pengalaman baru dengan solo bacpacking, terutama ke tempat yang belum pernah saya datangi. Tidak mesti keluar negeri, mau di dalam kota atau sedapatnya tiket murah, tidak masalah, selama bisa ke tempat berbeda dari biasanya.

Saya jadikan kekhawatiran sebagai isyarat untuk melakukan antisipasi. Khawatir kena scam, ya, jangan terima tawaran apapun dari orang tak dikenal. Khawatir nyasar, ya, bawa peta atau catat alamat tujuan dan rute transportasinya. Takut diculik, ya, jalan di tempat ramai atau jangan keluar malam. Banyak cara untuk menghindari nasib sial, dan yang paling penting, percaya pada insting sendiri.

Sendirian itu hanya saat berangkat dari rumah. Dalam perjalanan saya kerap bertemu banyak orang, baik yang hanya sekadar menunjukkan arah, pelayan di restoran, atau sesama penumpang di kendaraan umum.

Solo traveling benar-benar mengasah kemampuan saya bersosialisasi, melatih naluri akan firasat buruk, dan meningkatkan kepercayaan diri, karena semua tantangan harus dihadapi sendiri. Pengalaman seperti inilah yang disebut guru terbaik, yang membentuk karakter seseorang.

Tapi… sesenang-senangnya traveling, tetap ada pahitnya. Demi penghematan, tidak jarang saya menyusuri suatu tempat dengan berjalan kaki, kadang tanpa bawaan, kadang dengan ransel seberat kurang lebih 25 kg; harus rela duduk di bus atau kereta berjam-jam dalam posisi tidak nyaman; terpaksa tidur di stasiun atau bandara karena kemalaman atau menunggu keberangkatan subuh; makan hanya sekadar perut terisi; berdebat dengan petugas; atau kedinginan tanpa penghangat yang memadai.

Maka dari itu, satu hal yang paling penting saat melakukan perjalanan adalah JANGAN SAKIT! Mana nikmat jalan-jalan bila terjangkit flu atau sakit kepala, apalagi sampai demam. Bisa-bisa hanya meringkuk di hotel. Belum kalau di luar negeri, biaya berobatnya super mahal bila tanpa asuransi. Usahakan jangan sampai sakit, deh, kalau sedang pelesiran. Rugi!

Untunglah, sampai sekarang hanya kepala pusing yang sering melanda saat saya sedang melanglang buana. Biasanya karena kecapaian, kepanasan, atau masuk angin. Dibawa makan dan tidur malam, keesokannya sudah kembali bugar. Itu sebabnya, topi, sunglasses, jaket, selalu saya usahakan bawa kemanapun pergi. Misalnya ke tempat panas, bisa saja kendaraan menuju ke sananya itu berpendingin maksimal. Kalau tidak tahan, badan meriang dibuatnya.

Tidak lupa, perlindungan dari dalam juga dilakukan. Kebutuhan akan vitamin dan mineral, khususnya Magnesium dan Zinc, harus terpenuhi agar daya tahan tubuh tetap terjaga, dan menghindari berbagai penyakit, seperti alergi, infeksi, dan berbagai penyakit yang disebabkan oleh jamur, bakteri, dan virus. Secara makan seringlah tidak sempurna selama traveling, saya pasti rentan terserang penyakit. Oleh karena itu, saya membutuhkan suplemen tambahan untuk melengkapi nutrisi, vitamin, dan mineral harian yang saya dapatkan dari makanan. Tidak cukup dengan nasi abon atau mie instan terus-terusan.

Bicara soal suplemen sebagai pelengkap gizi, saya mempercayakannya kepada Theragran-M yang sudah diresepkan oleh para dokter sejak tahun 1976. Dibandingkan produk sejenis, Theregran-M mengandung kombinasi multivitamin lengkap, yaitu vitamin A, B, C, D, dan E. Ditambah mineral esensial, Magnesium dan Zinc, suplemen ini terbukti mampu meningkatkan, mengembalikan, dan menjaga daya tahan tubuh, serta mempercepat proses penyembuhan di kala sakit. Cocok untuk para pejalan yang terkadang harus beradaptasi dengan perbedaan cuaca di daerah lain.

Tidak hanya sebagai pencegah penyakit, Theragran-M juga merupakan vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Jadi, kalau habis sakit tapi belum ada selera makan karena badan masih lemas, tidak perlu khawatir. Konsumsilah Theragran-M yang merupakan suplemen bernutrisi, karena ini juga berfungsi sebagai vitamin untuk mengembalikan kondisi tubuh setelah sakit. Dikonsumsinya cukup satu kaplet perhari, sewaku atau sesudah makan, atau sesuai anjuran dokter bagi yang memiliki penyakit tertentu, misalnya memiliki riwayat Diabetes, atau dalam kondisi hamil dan menyusui.

Dengan mengkonsumsi Theragran-M saya tidak perlu khawatir lagi dalam menyalurkan hobi berpetualang. Daya tahan tubuh akan tetap terjaga sehingga petualangan bisa dinikmati sepuasnya.

Kemasannya juga praktis. Tipis, tidak akan memberatkan tas.

Pun saat tidak kemana-mana, Theragran-M juga harus tersedia di lemari obat di rumah. Sakit, kan, bisa menimpa kapan dan di mana saja, bahkan saat hanya diam di rumah.

Well, worry no more with Theregran-M, ‘coz worry is getting you nowhere.

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

33 comments Add yours
  1. Wow, kece quote nya, worry is getting you nowhere! Salut sama yang suka solo traveling. Saya pernahnya berdua lah sama temen, pernah waktu itu ke Malang naik kereta ekonomi subuh2 demi tiket murah, terus ke selorejo naik bis berdiri coba karena ga kebagian tempat duduk. Padahal di kanan kiri jurang, bis udah miring karena penuh sesak, serem!

    Memang penting menjaga kesehatan agar selalu fit, apalagi habis traveling.kita nggak tahu makanan yang kita makan ada bakterinya ga, tempat kita berpegangan di kursi bis misalnya ada virusnya ga, dll:)

  2. Pakai motor matic kayaknya lebih mudah dr motor biasa ya mba. Saya pernah belajar motor biasa udah lancar tp begitu smpai jalan raya takut sekarang kepikiran pengen coba belajar naik motor matic

  3. klo solo travelling ke kota yang menurutku aman n ayem orangnya aku berani mba membolang sendirian kek ke Solo aku jalan2 sendiri berani tp pas ke Medan olala ngendon dihotwl ken takut hahahaha
    betul bgt travelling itu utamanya tubuh fit smg kita sehat sll y mb

  4. Serius aku selalu pengen jadi solo traveller. Keren lah ceritanya mbak. Btw setuju sama quotenya, kekawatiran tdk akan membawamu kemana-mana.

  5. Gak asik kalo Travelling terus sakit ya mba… untung ada theragran M yang juga siap sedia setiap saat buat ngembaliin daya tahan tubuh setelah sakit… btw, aku pernah sekali ke dieng sekitar 3 tahun yang llau pas DCF.. dan ituuw dingiiiinn bangeetts, kalo gak kuat badan bisa flu mungkin besoknya…

  6. wiiih udah lama enggak ke Dieng, secara tanteku tinggal di Banjarnegara.
    Aku juga cocok minum theragran M ini, badan jadi enteng. Dulu aku minum pas terkena gejala flu. Minum malam hari, paginya langsung ilang gejala flunya…

  7. Wah Dieng ya ? saya sudah pernah kesana, bagus banget pokonya. Malah saya sampai menginap 3 hari 2 malam, keren banget pokonya. Banyak banget sayuran dan buah buahan disana. Btw kunjungan baliknya ya, terimakasih

  8. Mbak seru banget sih solo traveling itu
    Duh aku yo pengen, tapi pasti gak bakal dapat ijin dari mas bojo
    Apalagi gak bakal tega ninggalin bocah
    Sehat2 terus yaaaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *