Jalan-jalan ke Jembatan Barelang dan Kawasan Nagoya, Batam

Hanya punya waktu sehari dalam kunjungan pertama kali ke Batam, target utama saya hanya mengunjungi dua tempat terkenal: Jembatan Barelang dan kawasan Nagoya. Ini dikarenakan saya hanya transit. Sore ini sampai Batam, lalu besok sorenya kembali ke Bengkulu.

Saat itu saya menginap di rumah teman yang tidak bisa mengendarai motor. Saya bisa, tapi, kan, nanti mau langsung ke bandara. Setelah tanya-tanya dan googling, kami sepakat menggunakan angkutan umum. Perginya pagi setelah sarapan karena lokasi jembatan agak di pinggir kota. Teman saya yang sudah bercucu tapi masih lincah ini, sebenarnya sudah pernah ke Barelang, tapi bersama keluarganya naik kendaraan pribadi.

Baru keluar pagar rumah, sudah ada mobil tetangga yang lewat dan kami pun nebeng sampai ke gerbang depan. Dari sini, kami menyeberang ke halte untuk menunggu TransBatam jurusan Jodoh (unik ya, nama daerahnya). Harga tiketnya Rp4000, dan setelah bertanya kepada kondekturnya bagaimana menuju Jembatan Barelang, kami disarankan turun di halte sebelum pangkalan bus. Baiklah.

Kami tiba di halte sebelum jam 9 pagi, dan menurut tukang ojek yang biasa mangkal di sana, Damri ke Barelang atau yang jurusannya Sembulang, biasa datang jam 9-an. Dan benar saja, setelah sabar menanti hingga jam 9:10 wib, yang ditunggu akhirnya datang.

Berbeda dari TransBatam yang juga keluaran Damri, bus menuju Sembulang ini terkesan seperti bus kota biasa. Tempat duduknya busa berlapis kulit, ruang kakinya sempit, tanpa AC, dan suara musiknya berisik. Mungkin karena ke pinggir kota, ongkosnya Rp20.000, dan waktu tempuh hingga ke Jembatan I, kurang lebih satu jam.

Selama perjalanan, saya bisa menikmati sisi lain Batam. Kotanya lumayan besar dan banyak ruko di mana-mana. Tampak hamparan bukit di kejauhan, dan kami juga melewati kawasan industri. Orang-orang di sini, karena katanya kebanyakan pendatang dari daerah lain di Sumatra, bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia bernada Melayu.

Bus persis melewati Jembatan I Barelang, dan kami berhenti di sini. Walaupun katanya masih ada empat lagi jembatan yang bentuknya sama persis, di sini saja sudah cukup memuaskan rasa penasaran saya akan ikon Kota Batam ini.

Begitu turun, saya langsung mengagumi jembatan gantung beton tersebut, dan segera mengabadikannya dari berbagai sudut. Kalau tidak membawa kamera, di sana ada tukang foto keliling yang siap menawarkan jasanya. Entah berapa biayanya, saya tidak berminat untuk bertanya.

Siang itu sepi, jadi saya bisa puas menikmati pemandangan di sekitar jembatan dan foto-foto, tentunya. Kami berjalan sampai ke ujung, lalu kembali lagi menuju tempat yang ada tulisan BARELANG BRIDGE. Baru beberapa saat di sana, ada rombongan lain yang datang, dan langsung berhamburan untuk berfoto dengan latar belakang jembatan. Pemandangan di sekitar jembatan ini sangat indah, perairan biru dan beberapa pulau-pulau kecil.

Sialnya, dari sini tidak ada angkutan umum menuju pusat kota. Damri adanya dua jam sekali. Menurut mereka yang biasa mangkal di sana, bus baru akan lewat sekitar jam 12, sedangakan saat itu baru sekitar jam 11 siang. Untung tadi kebagian bus yang jam 9, kalau telat, entah jam berapa kami sampai di sini. Akhirnya, kami berencana menunggu truk atau orang sana biasa menyebutnya rolly. ide ini dicetuskan oleh bapak-bapak yang sedang duduk-duduk di dekat sana, ditambah teman saya juga cerita bahwa masyarakat di sini biasa dengan sistem numpang-menumpang ini. Ya sudah, saya nggak ada masalah.

Setelah lumayan menunggu sambil memilah-milah kendaraan mana yang bisa di tumpangi, di kejauhan saya melihat ada mobil bak terbuka. Sedikit ragu, saya coba-coba melambaikan tangan. Dan… mobilnya berhenti. Saya biarkan teman saya yang ngomong ke supirnya yang kebetulan sendirian.

“Inda, ayo!” seru teman saya.

“Yeay!”

Sesuai rute si supir, kami diturunkan di simpang lampu merah. Dia belok ke kiri, dan kami menyeberang untuk menunggu angkot ke arah berlawanan.

Karena ingin membeli sedikit oleh-oleh, teman saya mengajak turun di BCS Mall, yang katanya tersedia lebih banyak pilihan jenis coklat. Saya ikut saja, dan hanya membeli sedikit, karena tidak mau membuat ransel saya tidak bisa ditutup. Mau beli banyak, saya juga ogah nenteng-nenteng bawaan.

Dari sini kami naik angkot menuju Nagoya. By the way, yang disebut angkot di Batam ini bentuknya seperti minibus atau minivan, bukan mikrolet. Sebelumnya, saya pikir Nagoya itu seperti kawasan perbelanjaan yang besar dan modern, mirip kota terpadu. Ternyata, hanya kawasan perbelanjaan yang berisi deretan ruko biasa. Ruko-ruko ini ditempati oleh beragam usaha, seperti penginapan, pertokoan, dan tempat makan. Yang paling banyak adalah toko tas dan parfum. Menurut info, di sini memang pusatnya tas dan parfum, tempat para reseller berbelanja.

Sayangnya, karena teman saya yang keturunan Padang tapi lama di Medan, lalu hijrah ke Batam itu ngakunya kurang suka makanan Batam, makan siang kami pun hanya di warung Padang, padahal saya pengen banget makan gonggong. Mungkin saya harus balik lagi.

6 comments Add yours
  1. Keren bgt itu fotk di Jembatan. Btw, jd inget wktu saya ke Aceh, makannya makan padang juga. Haha.. Habis itu yg palimg bs diterima lidah, wkt itu lg hamil, makan apa2 perasaan gk enak. Hiks

  2. Besok2 kalo kr Batam lagi ngecek2 yo. Dak pa po sekali2 ngajak jalan2 orang bengkulu keliling Batam. ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *