Kutbah Lebaran Tanpa Mimbar di Negeri Doraemon

Pasti nggak enak banget, ya, lebaran jauh dari keluarga. Terus, nggak libur. Habis salat, langsung kuliah atau kerja. Itu pun, kalau diizinkan. Pasti nggak ada ketupat, opor ayam, dan teman-temannya.

Pernah tercetus seperti itu? Atau mendengar ada yang ngomong seperti itu? Mhm… itu artinya pada kurang piknik.

Sepanjang umur, baru tahun 2013 – 2014 saya merayakan iduladha dan idulfitri jauh dari suasana Indonesia.

Terus, gimana, enak lebaran di sana?

Boleh dibilang, itu lebaran paling seru, asyik, dan berwarna dalam hidup saya.

Minal aidin wal faizin…

Iduladha 2013

Iduladha 2013 adalah hari raya pertama saya di luar negeri. Saat itu saya belum lama tiba di Jepang, tepatnya di Kyoto, jadi belum tahu bagaimana suasana lebaran di sana. Sampai malam takbiran, milis dan medsos Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kyoto-Shiga masih bersahut-sahutan menanyakan di mana dan jam berapa salat ied besok. Iyalah, di sana mana ada pengumuman resmi Menteri Agama perihal hilal. Yang ada, kita-kita mendapatkan email dari semacam asosiasi muslim di Jepang, yang diteruskan ke semua pengurus komunitas muslim di berbagai kota. Pokoknya, semua serba online.

Tahun ini, lokasi salat berbeda dari sebelumnya, yaitu di Shiran Kaikan, di seberang Kyoto University (Kampus Yoshida). Waktu salatnya 09.30. Oiya, waktu Jepang itu lebih cepat dua jam dari Indonesia. Waktu salat ied-nya jam 09:30, jadi agak barengan Indonesia yang salatnya sekitar jam 07:00 atau 07.30.

Bagi saya, ada asyiknya lebaran di sini. Tidak perlu bangun subuh. Apalagi saya yang tinggal sendiri, nggak ada, tuh, bangun tidur dilanjut sapu-sapu, seperti kebiasaan di rumah.

Selain itu, di Jepang tidak mengenal hari raya agama. Untuk muslim, jika hari raya jatuh bukan pada hari libur, ya, tetap beraktifitas seperti biasa. Nah, kebetulan hari itu saya ada perkuliahan yang dimulai jam 09.00. Dilema sebenarnya. Mau kuliah, kok, ya sayang. Kapan lagi merasakan salat ied di negerinya Doraemon. Tapi, bolos kuliah juga ogah. Maklum, anak baru, takut nilainya dikurang, apalagi di Jepang, yang menomorsatukan kedisiplinan.

Solusinya, saya kirim email ke dosen, bilang bahwa saya datang terlambat. Alhamdulillah diizinkan.

Pagi-pagi, saya bersepeda ke lokasi salat. Alasannya, supaya bisa lekas ke kampus, nggak mesti nunggu bus yang datangnya terjadwal. Pakaianpun sekadar yang tertutup, karena saat itu sudah masuk Musim Gugur yang anginnya semriwing. Hari juga mendung, saya khawatir kalau hujan deras, maka kemungkinan akan mengingkari janji kepada dosen.

Menunggu salat dimulai

Sesampainya di Shiran Kaikan yang gedungnya tidak terlalu besar, sudah terlihat banyak orang. Area salat di lantai dua, di semacam ruang pertemuan. Semua lantai tertutup karpet empuk. Bagian dalam terpisah kaca dengan bagian teras. Jamaah pria di bagian dalam, dan barisan perempuan di luar. Oleh panitia, jamaah disediakan plastik untuk menyimpan alas kaki agar tidak berserakan.

Sambil duduk menunggu seruan salat, saya perhatikan sekeliling. Teman-teman wanita Indonesia bisa dengan mudah dikenali dengan kebiasaannya mengenakan mukena. Saya bahkan bersebelahan dengan orang Indonesia yang sedang liburan. Begitu juga dengan beberapa teman asal Negeri Melayu. Yang berbeda adalah ukhti dari negara Timur Tengah. Mereka cenderung salat langsung dengan pakaian di badan, yang penting menutup aurat.

Di bagian pria yang saya perkirakan jumlahnya lebih banyak dari jamaah wanita, pakaiannya juga bisa menggambarkan asal negara mereka. Jamaah Indonesia umumnya mengenakan baju koko. Teman-teman asal Malaysia dan Brunei Darussalam biasanya tampak khas dengan setelannya: atasan dan bawahan sama, lalu sarung selutut. Ada juga yang hanya mengenakan t-shirt atau kemeja, mungkin mereka akan langsung kuliah atau bekerja setelah salat. Sama seperti saya. Imamnya mengenakan gamis dan tutup kepala putih, seperti orang Arab.

Kutbah nun jauh di dalam

Selesai salat, imam berdiri di depan stand-mic, menyampaikan kutbah lebaran dalam Bahasa Inggris. Saya kurang bisa menangkap ucapannya. Mungkin karena kejauhan, atau memang telinga saya yang agak budek. Entahlah.

Sesuai rencana, perlahan saya memberekan mukena, lalu beranjak. Di tengah hujan yang mereda, segera saya pacu sepeda menuju kampus. Saya tahu saya sudah minta izin, tapi saya tidak ingin terlalu terlambat. Alhasil, sepeda saya terpeleset di trotoar. Jatuh, sih, tapi hanya berakibat pegal ringan.

Kabarnya, setelah itu ada acara makan-makan di markas KMA (Kyoto Muslim Association) yang biasa digunakan untuk salat, termasuk jumatan dan tarawih. Makanan yang dihidangkan berasal dari teman-teman beda negara. Saya kurang tahu apakah ibu-ibu asal Indonesia juga menyajikan makanan, soalnya mereka paling senang ngumpul-ngumpul sambil berbagi hasil masakan. Kalau soal hewan kurban, nggak jelas, tuh, bagaimana pelaksanaannya.

***

Idulfitri 2014

Suasana menjelang idulfitri di Kyoto, serupa dengan iduladha. Tidak ada gema takbir, tidak ada iklan sirup, apalagi arus mudik. Kesibukan lebaran khas Indonesia tergantung individu masing-masing. Mau heboh bikin ketupat, asal ketemu daun kelapa, ya, silahkan; mau beli lontong instan, juga monggo; diam saja, nggak ngapa-ngapain, juga it’s O.K. wae. Semua seperti hari biasa.

Sebelum jam 09.00, saya dan tiga teman Indonesia yang tinggal berdekatan berjalan menuju halte. Kebetulan, minggu itu, saya dan teman-teman satu angkatan di kampus yang sama, sedang menunggu ujian oral. Tidak ada lagi mata kuliah, sehingga bisa total merayakan hari kemenangan.

Kali ini saya mengenakan baju yang sengaja saya bawa dari rumah. Bukan baju baru, sih, hanya yang biasa saya pakai saat idulfitri, tapi baru hari itu saya kenakan selama di Kyoto. Celana, syal, dan tasnya saya beli baru, biar agak berasa lebarannya.

Mhm, di sini juga menerima pembayaran zakat yang bisa dititip lewat KMA. Tapi ya itu, besarnya pasti lebih besar dari yang biasa dibayar di Indonesia. Oleh karenanya saya memilih menitip zakat kepada orang di rumah.

Kali ini lokasi salatnya di Miyako Messe, gedung yang biasa digunakan untuk mengadakan acara berkapasitas besar, seperti pameran. Ketika tiba, ruangan yang disewa untuk salat, belum dibuka. Namanya juga Jepang, semua sesuai waktu, dasar kami yang datangnya kecepatan. Dipikir bakal seperti di kampung halaman, menunggu waktu salat sambil takbiran berjamaah. Ternyata, seperti menunggu konser, sebelum pintu dibuka, ya, penonton bertebaran menunggu di luar.

Terlihat panitia sedang membagi-bagikan kantong plastik untuk menyimpan alas kaki. Ruangan yang digunakan sangat luas dan kosong melompong. Jamaah masuk berbondong-bondong, lalu mengambil posisi menghadap kiblat. Atur masing-masing karena tidak ada garis-garis pembatas seperti saat kita salat di lapangan dekat rumah.

Di bagian depan hanya ada stand-mic, tanpa mimbar. Ada mungkin sajadah buat imam, tapi saya tidak memperhatikan.

Sayup-sayup terdengar bagian pria bertakbir pelan. Entah, mungkin karena ada larangan untuk bersuara keras di sana, jadi tidak ada takbir yang terdengar lantang.

Jamaah kali ini tampak lebih banyak daripada salat iduladha. Yang berbeda adalah kostum imamnya. Beliau hanya mengenakan kemeja seperti orang kantoran. Barangkali, setelah salat dia harus ke kampus atau ke tempat kerja. Rambutnya gondrong setelinga. Dari tampangnya, sih, warga Timur Tengah. Kutbahnya dalam Bahasa Inggris. Tapi karena ruangannya besar, dan mungkin mikrofonnya kurang bagus, sekali lagi, saya tidak menangkap pesan apa yang disampaikan.

Usai kutbah dan berdoa, kami semua bersalam-salaman. Tetap, WNI paling banyak, jadi yang paling heboh. Apalagi pas sesi foto-foto, semua langsung berkumpul di satu titik. Sayang, karena tidak ada koordinasi, acara makan bareng seperti tahun sebelumnya tidak ada. Untunglah ada istri-istri saleha yang kreatif dan berinisiatif membawa penganan ringan yang bisa dinikmati bersama-sama. Itulah serunya ibu-ibu Indonesia, setiap ada acara kumpul-kumpul, meskipun tidak ada anjuran untuk membawa makanan, tetap ada yang berinisiatif berbagi bekal.

Tanpa diduga, keluarga dari Bengkulu menghubungi saya. Mereka mau skype-an, penasaran lebaran saya seperti apa. Setelah minta maaf dan ngobrol sebentar dengan mama, langsung saya arahkan kamera ponsel ke sekeliling ruangan, memastikan bahwa lebaran saya nggak kalah seru dengan mereka di rumah. Sekilas saya sempat terbayang pempek dan kuah lontong buatan mama.

Oiya, ketika meninggalkan ruangan, semua harus kembali seperti semula. Kosong dan bersih. Saking bersihnya, tadi banyak barisan pria yang tidak menggunakan sajadah. Tidak ada petugas yang akan memungut bekas makan kita. Kebiasaan ini sudah diketahui oleh semua kami. So, setelah foto-foto, ya, dilanjut bersih-bersih.

Iya, sih, nggak ada acara halal-bihalal khusus warga Indonesia, tapi kami yang bertetangga, karena satu kampus, akan bersilaturahmi di salah satu rumah rekan yang kami tuakan. Tetap, ya, belum afdal lebaran kalau belum anjang sana-anjang sini.

Jadi, setelah pulang, dan ganti pakaian, kami semua berkumpul di tempat yang telah di tentukan. Yang datang, sih, itu-itu aja orangnya, padahal udah diworo-woro di grup. Acaranya potluck. Yang memasak hidangan khusus lebaran, silahkan dibawa dan disajikan. Saya, sih, kebiasaan, bawa air minum doang. Si empunya apato ini memang terkenal hobi masak enak. Begitu sampai, lontong dan teman-temannya telah tertata rapi di meja, dan semakin lengkap karena ada teman yang membawa ayam lodho, sambal hati, buah-buahan, dan kue-kuean. Coba, nikmat mana lagi yang sanggup kami didustakan.

Tapiii…

Secara lebarannya hari kerja, dan itu adalah masa tenang sebelum kami ujian akhir, kelas riset saya mengadakan farewell dinner. Acaranya tidak bisa diundur karena kesepakatan kumpul bareng ini datangnya belakangan. Terpaksa, setelah kekenyangan menyantap lontong dan gerombolannya, saya dan tiga orang teman sekelas langsung bergegas ke restoran yang telah ditetapkan. Makan-makan lagi.

Profesor kami tahu bahwa semua mahasiswa Indonesia di kelasnya sedang berpuasa. Jadi, ketika salah seorang bertanya apakah sekarang sudah waktunya kami makan, satu profesor yang tahu bahwa hari itu adalah end of fasting, buka suara. Profesor yang lain pun berseru lega sambil memandang kami, mengangguk-angguk seakan memberi selamat atas keberhasilan kami menahan lapar dan dahaga pada siang hari selama sebulan di musim panas. Heheheitulah okenya kita, Prof., batin saya.

Saya lupa makan apa waktu itu, tapi yang pasti enak dan banyak. Dan yang penting gratis. Iya, karena itu perayaan berakhirnya kelas riset yang penuh ketegangan, kami yang bakal (di)lulus(kan) dibebaskan dari uang patungan.

Suka, deh, saya sama enam profesor di kelas ini. Meskipun semuanya senior dan dedengkot kampus, lalu di kelas mengerikan, pas di luar mereka super friendly. Nggak ada, tuh, mengungkit-ngungkit soal riset, malah menanyakan apakah kehidupan kami baik-baik saja selama di Jepang. Dan yang lebih asyik, mereka royal.

Terakhir, setelah mengucapkan selamat kepada kami yang akan ujian, dan berharap tetap saling berkomunikasi di masa yang akan datang, mahasiswanya berpamitan. Profesornya? Tetap di tempat, nerusin ngebir. HahahahItulah okenya mereka.

Sesekali, cobain, deh, lebaran di luar.

19 comments Add yours
  1. ‘Sesekali, cobain deh lebaran di luar’
    Lalu aku mewek pengen lebaran di Jepang juga Mba..huhu. Culik aku ke sana lah Mba.
    Ada beberapa temen yang tinggal di Jepang juga. MasyaAllah, semoga someday bisa ke negeri doraemon! Doakan aku ya Mba.
    Oiya, minal aidzin juga :*

  2. Waah, aku ngebacanya sambil ngira- ngira, “selanjutnya apalagi ya? terus gimana?”
    Seru, Mbak. Hihhii.. lucu ngebayangi wajah para Profs yang nanyain udah boleh makan apa belum. Btw, mbaknya kangen pempek? orang palembang sumsel kah? Haloo… salam kenal^^

  3. seru juga kali ya bisa lebaran di luar negeri, tapi tapi… gimana rasanya ya jauh berratus-ratus mil jauhnya dari tanah air *(terharu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *