Liburan Zaman Now, Semua dalam Genggaman

“Lima ratus ribu, cukup, nggak?”

“Mhm… cukup kayaknya. Nginapnya di losmen harga tiga puluh ribuan. Makan cari yang seribuan… tapi gua ngikut tur, kemaren. Cari yang paling murah.”

“Abis berapa kemaren?”

Begitulah kira-kira obrolan singkat dengan teman kost sekitar belasan tahun silam. Saat itu saya sedang kuliah di Bandung. Ketika liburan semester, nekad solo traveling ke Yogyakarta untuk pertama kalinya.

Kuliah di Bandung adalah pengalaman perdana jadi anak rantau, setelah lahir dan besar di Bengkulu. Setiap bepergian keluar kota pasti bersama orang tua dan adik-adik.

Saya tahu tentang Jogja hanya dari sepupu yang sedang menempuh pendidikan di sana. Ketika tinggal di Bandung, saya kembali mendengar tentang daerah kesultanan itu dari beberapa kawan. Kedengarannya sangat seru, apalagi ketika bercerita tentang kunjungan mereka ke Candi Borobudur dan Prambanan yang sangat terkenal di dunia.

Ke Borobudur lagi, setelah punya kamera dan handphone sendiri

Menjelang libur semester, saya bertekad dalam hati akan ke Jogja. Kata teman, cara yang paling murah adalah naik kereta. Nanti turun di Stasiun Tugu, dan tinggal jalan kaki nggak sampai lima menit ke Malioboro, daerah paling terkenal seantero Jogja. Penginapan murah ada banyak di Jalan Sosrowijayan yang berpotongan dengan Jalan Malioboro.

Berdasarkan informasi singkat yang didapat, berangkatlah saya ke Yogyakarta seorang diri. Tiket telah dibeli dua hari sebelumnya di stasiun.

Di dalam kereta saya duduk berdekatan dengan seorang mahasiswa di Kota Pelajar itu. Entah siapa yang mulai, di tengah perjalanan kami saling bertukar kisah.

Kembali, saya banyak bertanya mengenai Jogja. Tidak lupa kami saling memberikan nomor telepon. Katanya, silahkan SMS dia kalau nanti saya mengalami kesulitan. Bukan main senangnya bisa punya kenalan baru. Sayangnya, dia tidak punya motor kalau mau mengantarkan saya berkeliling. Kendaraan umum, ada, tapi tidak seramai di Bandung. Lumayan sulit pelesiran ke tempat-tempat wisatanya kalau mengandalkan angkutan umum.

Tak apalah, yang penting sampai dulu. Sebelum berangkat, saya juga sudah sedikit browsing dan mencatat nama-nama penginapan di Kota Gudeg itu, beserta nomor teleponnya. Nanti, pas sampai, pertama kali yang dilakuan adalah ke wartel atau telepon umum, pikir saya.

Dahulu…

Murah adalah menelepon dari telepon biasa daripada melalui telepon genggam. Itupun harus satu lokasi. Dibandingkan menelepon dari Bandung ke Yogyakarta dengan tarif interlokal, mending pas di Jogja, menelepon hotel-hotel dengan tarif lokal.

Kalau tidak punya telepon, bisa ke wartel (warung telekomunikasi). Bisa juga ke telepon umum (kalau nggak rusak).

Begitu keluar stasiun, bergegas saya mencari Jalan Sosrowijayan yang terkenal di kalangan backpacker, hingga hari ini. Pelan-pelan saya berjalan sambil menengok kiri dan kanan, memperhatikan penginapan yang kira-kira menyediakan kamar yang harganya pas dengan uang yang dibawa. Malu-malu saya menemui resepsionisnya dan bertanya tarif per malam. Ada yang sesuai, tapi tempatnya sangat sederhana, curiga jorok.

Lantaran masih penasaran, saya mencoba menelepon hotel-hotel yang nomornya sudah saya catat. Hanya sebagian yang dapat dihubungi, tapi harganya melebihi budget.

Akhirnya saya memilih akomodasi yang tadi saya curigai. Lokasinya sangat dekat ke Jalan Malioboro. Tempat makan mudah ditemukan, dan agen travel yang menawarkan jasa ke tempat-tempat wisata juga bertebaran, termasuk di losmen tempat saya tidur. Setelah melihat kamarnya, perkiraan saya salah. Kamarnya cukup bersih dan nyaman. Meskipun kasurnya kapuk, ada kamar mandi di dalam dan kipas angin. Lumayan banget.

Setelah istirahat sejenak, saya keluar menikmati Jalan Malioboro, sekalian mencari agen travel yang punya tawaran menarik untuk besok.

Begitulah. Saat itu, untuk terhubung dengan Internet, saya harus ke warnet (warung internet). Ongkosnya lumayan mahal, sekitar Rp6000-8000 per jam. Iya, kalau konsentrasi mencari apa yang dibutuhkan, kalau banyak isengnya, sambil chatting atau mengintip yang tak senonoh di dunia maya, bisa habis belasan sampai puluhan ribu.

Mau liburan ke tempat yang belum pernah didatangi? Mesti rajin bertanya, baca koran, majalah, atau buka Internet di warnet.  Free Wi-Fi atau paket data, mana ada. Mau booking hotel, mesti kontak nomor telepon hotelnya. Mau beli tiket kereta, bus atau pesawat, harus ke loketnya langsung. Mau info detail tentang destinasi wisata, lebih baik nanya sama orang hotel atau langsung ke agen travel setempat.

Saya sama sekali tidak membawa kamera saat itu. Sudah berusaha pinjam dengan teman kostan, tidak ada yang mengaku punya. Seandainya ada, pasti itu kamera saku yang mengandalkan baterai AA yang kalau habis harus beli baru. Alhasil, saya bela-belain membayar tukang foto keliling sewaktu di Borobudur. Pikir saya, ini kenang-kenangan pernah ke Borobudur. Setelah, ini, entah kapan lagi.

Sekarang…

Semua dalam genggaman. Sambil goleran, sudah bisa pesan tiket dan paket liburan lengkap dengan akomodasi dan makan. Tidak perlu repot-repot mendatangi agen travel, cukup kunjungi laman situs perusahaan atau aplikasinya. Semua sudah tertulis jelas. Nanti pihak travel yang akan menghubungi untuk mengatur jadwal dan lokasi meeting point. Begitupun penginapan, dari harga, lokasi, sampai interior kamar bisa dilihat terlebih dahulu sebelum berangkat. Mau harga berapa dan untuk berapa orang, bisa dipilih sendiri.

Situasi terkini soal destinasi wisata yang ingin dikunjungi juga bisa diketahui. Ulasan disertai tips dan trik ke sana banyak tersedia selama fokus meng-google-nya, atau terkadang banyak tersebar di media sosial. Dengan begini, rute bisa diatur sendiri dan budget bisa diperkirakan.

Termasuk peta. Kalau dulu orang berbekal lembaran kertas lebar berisi peta kota atau peta tempat wisata agar tidak salah jalan, sekarang tinggal unduh google map atau aplikasi peta lainya. Tidak heran, kini banyak yang liburan tanpa mengandalkan pemandu, bahkan ada yang solo traveling.

Cuma bermodal ponsel yang bisa internetan, segala informasi dan koneksi bisa diperoleh. Dari ketersediaan tiket, penginapan, dan tempat makan terkenal di berbagai daerah, semua bisa didapat dalam waktu singkat. Bahkan proses pembayaran juga bisa dilakukan lewat ponsel. Setiap bank sudah ada aplikasinya sekarang. Selain itu, handphone zaman now yang bahasa kerennya smartphone, selain sebagai media komunikasi dan informasi, juga berfungsi sebagai kamera yang sangat mudah dioperasikan. Hasilnya pun tidak kalah tajam dengan hasil jepretan kamera canggih. Pokoknya, selama smartphone di tangan, semua gampang. Liburan jadi mudah dan praktis.

Kenyataannya, masih banyak yang ogah ribet, atau mungkin kurang percaya diri mengatur perjalanan sendiri. Daripada menyusun itinerary dan menghitung anggaran yang tak pasti, sementara kerjaan menumpuk, belum mengurus keluarga dan bisnis, mending serahkan semuanya kepada agen travel terpercaya. Terkadang, paket harga yang ditawarkan bisa lebih murah dibandingkan pergi mandiri.

Benar juga.

Nah, salah satu penyedia jasa liburan yang anti ribet dan berpengalaman di bidangnya adalah Vizitrip. Ini merupakan online marketplace yang menyediakan paket tur lengkap ke destinasi domestik dan mancanegara, serta menjual tiket atraksi dan aktivitas seru untuk mengisi liburan. Proses pemesanan paket wisatanya tidaklah berbelat-belit, dan harganya pun terjangkau.

Ada tiga opsi trip bareng Vizitrip, yaitu Regular Trip, Open Trip, dan Group Tour. Itu semua sangat memudahkan siapapun yang mau bervakansi. Dari yang isi kantongnya tanpa batas hingga yang dananya ngepas. Bahkan, kalau kalian dan teman-teman atau keluarga maunya lebih fleksibel, bisa menyusun sendiri rencana perjalanan (customized trip) dengan langsung menghubungi adminnya yang selalu siap membantu via email dan live chat. Misalnya ingin berwisata gunung, laut, atau kuliner saja.

Satu lagi, khusus yang mau melancong ke Jepang, Vizitrip juga menjual tiket Japan Rail Pass (JR Pass). Tidak banyak perusahaan travel di Indonesia yang menjual tiket kereta untuk keliling Jepang ini.

Kurang apa lagi? Ayo genggam telepon pintarnya dan buka website Vizitrip! #LiburanJadiMudah selama menyerahkannya kepada Vizitrip.

4 comments Add yours
  1. duh bener banget, kayak nya semuanya bisa segampang itu dipesen pesen

    Lah dulu ya, kalau mau pesen tiket kereta atau pesawat harus ke kota dulu ke travel agen
    wkwkkw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *