Mencari Tempat Duduk di Kereta Menuju the Great Wall

Banyak peringatan tentang scamming atau penipu yang pura-pura baik, ketika saya mencari informasi mengenai Tiongkok. Dari hasil baca-baca tersebut, membuat saya sangat berhati-hati saat mendekati atau didekati orang ketika akhirnya berada di Beijing. Jangankan yang berpenampilan kusam, yang bergaya rapi pun, saya waspadai.

Suatu hari, dalam perjalanan menuju Tembok Cina dari Beijing North Railway Station ke Stasiun Badaling, saya sempat kaget karena bagitu penumpang dipersilahkan naik ke kereta, semua orang yang tadinya mengantri tenang, langsung berlarian. Tidak ada nomor tempat duduk, memang, tapi saya tidak menyangka bahwa masyarakat di sana begitu brutalnya untuk tidak mau berdiri.

Kereta menuju Badaling ini, berada di tengah rel yang agak jauh dari ruang tunggu stasiun. Tadinya saya juga sempat berlari, tapi karena berdesakkan, akhirnya pasrah saja kalau tidak kebagian duduk. Lagian, saya mau memastikan lagi kepada petugas, apakah kereta ini memang benar menuju Badaling.

Kursi di kereta yang tampilan luarnya lumayan bagus itu bukanlah tempat duduk memanjang, melainkan jok busa dua-dua yang menghadap ke satu arah. Pokoknya lumayan nyaman untuk perjalanan sekitar satu jam, ditambah ber-AC dan juga bersih.

Benar saja, sampai saya berjalan ke gerbong paling belakang, tidak ada satu pun tempat duduk yang kosong. Kalaupun ada, itu sudah di-tag untuk teman atau keluarganya yang belum muncul. Ya sudah, saya pun berdiri di bagian kursi yang saling bertolak belakang karena ada celah lumayan lebar untuk berdiri, bahkan kalau mau duduk di lantainya, juga bisa. Untungnya, posisi ini membuat saya bisa langsung menikmati pemandangan di luar jendela.

Berganti posisi, di seberang saya ada seorang ibu-ibu berpakaian biasa, celana panjang dan luaran cardigan. Badannya kecil, dan membawa kontainer plastik ukuran sedang, seperti makanan, entah untuk jualan, atau dimakan sendiri. Bawaannya itu diletakkan di dekat kaki. Kondisi kami persis sama, menyandar di jendela. Dia berucap sesuatu ketika kami saling berpandangan, namun karena waspada, saya diamkan saja tanpa tanggapan. Tidak lama, dia kembali mengajak saya berkomunikasi sambil menunjuk-nunjuk tempat duduk di barisan depan. Kali ini saya memberikan sedikit senyuman dan mengangguk, lalu melirik sekilas ke arah yang dia maksud.

Saya perhatikan ibu-ibu itu berjalan ke barisan depan, berdiri di dekat sambungan gerbong yang ramai dengan penumpang yang sedang berdiri. Setelah ngobrol dengan petugas kereta di sana, ibu itu kembali ke seberang saya. Dari bahasa tubuhnya, dia memberitahu bahwa orang di kursi bagian depan itu akan turun sebentar lagi, dan dia mengajak saya pindah ke sana. Saya hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Pikiran saya mengingatkan untuk tidak tergoda. Setelah membantu saya mendapatkan tempat duduk, dia akan meminta uang.

Dengan pikiran negatif itu, saya biarkan dia sendiri berjalan mendekati kursi bagian depan. Dia melambaikan tangan memanggil saya, dan terpaksa, dengan sedikit enggan, saya mendekat juga. Anggap saja pindah posisi berdiri kalau nanti dia bohong, batin saya.

Dia menunjuk barisan kursi nomor dua dari depan sambil komat-kamit, yang kira-kira artinya, menurut saya, sebentar lagi orangnya turun… kita bisa duduk di sini. Saya hanya membalas dengan mengangguk dan tersenyum tipis. Sie… Sie… timpal saya pelan. Ekor mata saya menangkap beberapa orang yang sedang menatap ke arah kami.

Ketika kedua penumpang di kursi yang kami tunggui itu berdiri karena keretanya mulai berjalan lambat, ibu tadi bergegas mengambil tempat duduk di dekat jendela, dan langsung mengajak saya duduk di sebelahnya. Sie… Sie… jawab saya ragu sambil duduk dan menganggukan kepala. Dia pun tersenyum dan balas mengangguk. Lumayan, masih sekitar setengah jam lagi untuk sampai ke Badaling, ucap saya dalam hati sambil melirik waktu dan memeluk erat tas di pangkuan.

Selama perjalanan, saya sengaja cuek karena masih berpikir ini jebakan dan bagaimana nanti cara menghindarinya. Lalu dia bersuara. Walaupun tidak tahu artinya apa, saya jawab saDSC_1611ja Badaling. Dia pun menggerakkan kedua tangannya seolah menggambarkan bentangan Tembok Cina. Yes… Yes… balas saya cengengesan, lalu kami tertawa bersama.

Ketika the Great Wall mulai kelihatan di balik bukit-bukit yang terbentang tinggi di samping jendela, dia menegur saya untuk melihat ke sana. Menunjukkan bahwa itu temboknya. Kembali, saya tersenyum sambil mengangguk-angguk.

Lagi, saat kereta mulai berjalan pelan mendekati Stasiun Badaling, dia berbicara dan menunjuk lantai, yang saya artikan bahwa kami turun di sini. Saya mencoba bertanya dengan cara mengulurkan tangan ke arah dadanya, bertanya, apakah dia juga turun di sini? dan dibalas dengan gelengan kepala. Sekali lagi, saya mengucapkan Sie… Sie, yang diresponnya dengan lambaian tangan seolah berkata, tidak masalah. Sontak, saya melihat ketulusan di wajahnya.

Bersiap turun, saya berdiri dan sengaja menoleh ke arahnya yang masih duduk menatap saya. Bye… Bye… ibu itu melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Perasaan gembira bukan kepalang karena selangkah lagi menginjakkan kaki di salah satu bucket list saya, bercampur dengan rasa bersalah karena telah su’udzon kepada orang lain. Tidak semua orang di Tiogkok yang berpenampilan biasa, seperti pedagang keliling, adalah orang jahat, ternyata.

She’s one of my travel angels.

“Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s Giveaway : Spread The Good Story

SpreadtheGoodStory

 

10 comments Add yours
  1. Iya.. kadang2 su’udzon sm org yang berniat baik 🙁

    Makasih banyak ya mba sudah ikutan. Mohon maaf baru sempat online blog dan berkunjung 🙁

    Salam kenal ya mba Inda

  2. Pure judgement and simply disgusting. Dikiranya semua Chinese itu penipu dan tukang scam. Waspada boleh tapi tetap gunakan akal sehat. Diluar scam China masih lebih aman dari amerika. Lain kali teliti lagi bacaan apa yang anda baca, jangan jangan itu cuma opini dan stereotype tak berdasar yang berbau sinophobia? Sucker…

  3. Juga bukti kalau kepercayaan anda useless. Ga boleh “suudzon” katanya, maksudnya ga boleh sedikit sedikit… Harus menyeluruh iyakan? Kalau begitu untuk apa nungging 5 kali sehari?

    1. What this point mean? Kehati2 an di tmpat yg sering kita berada aj penting apa lg tempat yg sama sekali baru. Blm lg ada bbrp sumber yg dibaca yg menyampaikN begitu, mgkn kamu bs buat artikel/buku sndiri yg meyakinkan traveler lain bahwa disana tidak begitu. Ini bukan soal ras chinese ato bukan. Di india pun ada peringatan utk traveler wanita utk lebih hati2, so ga ad salahny utk tidak mudah percaya dgn org yg tidak dikenal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *