Menghadirkan Konektivitas Tanpa Batas Demi Kemajuan Indonesia

Saya agak terkaget ketika naik bus Jurusan Makassar – Toraja. Tidak menyangka kelas paling murah yang saya ambil, kursinya selebar itu. Terus dapat bantal dan selimut. Kebayang kelas paling mahal, fasilitasnya seperti apa.

Busnya besar, tempat duduk dua-dua, bisa dimiringkan ke belakang, dan ada sandaran kaki. Segitu aja sebenarnya sudah nyaman buat saya. Ini ditambah bantal dan selimut, perjalanan selama delapan jam pada malam hari benar-benar meninabobokan saya.

Biasanya, demi kenyamanan dan keamanan, saya agak pilih-pilih moda transportasi untuk perjalanan darat yang waktu tempuhnya lebih dari tiga jam. Takut mabuk dan diganggu orang iseng.

Namun, saat perjalanan ke Toraja, rasa khawatir terhadap kenyamanan, keamanan, dan keselamatan di jalan, tidak terlalu besar. Hal ini dikarenakan sebelum berangkat, saya sempatkan mencari informasi mengenai angkutan publik ke Toraja.

Sungguh, keberadaan Internet membantu kebutuhan perjalanan saya. Ulasan tentang apa saja di mana saja sangat mudah didapatkan.

Reputasi perusahaan bus rute Makassar – Toraja saya peroleh dari tulisan di dunia maya. Lebih-lebih kalau perusahaan busnya punya laman situs sendiri, lengkap dengan media sosial, aplikasi, dan nomor kontak yang dapat dihubungi.

Zaman kuliah dulu, saya ingat banget, setiap membeli tiket bus buat mudik ke Bengkulu dari Bandung, harus langsung datang ke loketnya. Mau pesan lewat telepon, takut nggak kecatat.

Hari gini, jauh banget perbedaannya. Pesan tiket kendaraan bisa dilakukan secara online dan pembayaran bisa ditransfer melalui ATM atau e-banking. Tiket dan bukti pembayaran langsung bisa diterima dalam bentuk barcode atau QR code.

Senangnya kalau semua fasilitas minimal bus jarak jauh di Indonesia seperti rute Makassar – Toraja. Masyarakat mungkin nggak akan pilih-pilih lagi naik kendaraan umum setiap akan keluar kota. Mau yang paling mahal sampai yang paling murah, semuanya terasa nyaman. Yang jadi pertimbangan, barangkali, hanyalah jadwal keberangkatannya.

Balik ke soal bus ke Toraja, hal sepele lain yang membuat saya senang, adalah lantainya yang berkarpet. Meskipun cuma fasilitas biasa, itu membuat saya tak ragu menaruh ransel di lantai.

Sebagai traveler yang kerap menggendong satu ransel setiap bepergian, saya terbiasa menaruh tas di dekat kaki saat naik transportasi umum, termasuk pesawat terbang. Alasannya, supaya gampang mengambil keperluan, seperti kamera atau  makanan saat kendaraan bergerak.

Kekurangan yang perlu ditambah di bus jurusan Toraja itu, bagi saya, hanyalah WiFi gratis. Mungkin ada di kelas yang lebih mahal, tapi semoga bukan cuma logo.

Jujur, pengalaman  naik  bus di Indonesia yang ada logo Free WiFi di kacanya, belum pernah saya mendapatkan sinyal internet yang dijanjikan, kecuali di dalam pesawat terbang. Supirnya juga tidak memberikan jawaban yang memuaskan setiap ditanya soal WiFi dan kata sandinya.

Konekvitas tanpa batas di seluruh Indonesia (Sumber: Facebook Kementerian Perhubungan RI)

Kalau zaman handphone dan Internet masih tergolong barang mahal seperti zaman kuliah dulu, saya nggak akan termakan dengan janji WiFi gratis ini. Tapi kini, saat semua serba digital menuju industri 4,0, ditambah fenomena FOMO (fear of missing out) para netizen, terkoneksi Internet di manapun berada adalah kunci. Siapa tahu ada yang masih harus kerja saat sedang dalam perjalanan, atau yang butuh hiburan. Iming-iming tersedianya jaringan Internet gratis di dalam armada, sungguhlah penggoda maut.

Yang mau belanja atau jualan online, bisa tetap melakukannya. Yang mau kirim laporan atau materi rapat, tetap bisa lanjut ketika sedang di dalam kendaraan antar kota antar provinsi.

Dengan tersedianya fasilitas Internet di dalam kendaraan pengangkut massal jarak jauh, maka jarak antar konsumen dan produsen atau atasan dan bawahan, tetap terhubung. Dengan begitu, produktivitas dan kinerja tetap terjaga, karena pelakunya terus produktif.

Jujur nih, bosan juga kalau di perjalanan panjang kerjaannya cuma tidur-ngemil-browsingrepeat. Sesekali bolehlah.

Terkadang, maunya agak mikir, apalagi kalau pas bengong ketemu ide. Gatal pingin langsung bikin konten, entah artikel, edit foto/ video, atau sekadar membuat rencana kerja. Terus dibahas dengan tim.

Letihnya terukur, bisa langsung lelap kalau ngantuk. Daripada capai akibat kelamaan duduk, badan jadi sakit. Lebih-lebih kalau jalanan mulus dan laju kendaraannya santai tak terasa. Enak buat dipakai kerja.

Sebagai generasi milenial, keluhan saya sama transportasi di negeri ini cuma soal ketersediaan WiFi aja. Fasilitas lainnya udah oke banget. Terpampang nyata ada pembenahan di sana-sini, khususnya dalam kurun lima tahun ini.

Kereta api tuh, yang paling kerasa. Bersih, aman, dan nyaman banget, apalagi toiletnya, baik di dalam kereta maupun di stasiun.

Tak bisa dipungkiri, ada daerah yang membutuhkan alat transportasi. Tapi di sisi lain yang diperlukan adalah peningkatan kualitas sarana dan prasarana moda transportasi, serta pelayanannya. Pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, paham banget soal ini.

Saya percaya, pemerintah selalu berusaha memenuhi kebutuhan dasar masyarakat akan alat transportasi. Tapi… Indonesia ini luas banget. Jadi, ya, pembangunannya pasti bertahap sesuai prioritas.

Contoh, waktu di Flores. Saya bangga banget bisa cerita ke teman kantor bahwa saya berhasil menyusuri Pulau eksotis itu dari Ende ke Labuan Bajo menggunakan kendaraan umum. Padahal, sebelumnya saya khawatir bakalan susah menemukan transportasi untuk berpindah kota.

Ternyata… gampang dan murah. Mau yang kelas ekonomi tanpa pendingin atau yang nyaman dengan AC, ada. Jalanannya pun mulus walaupun landai dan berliku-liku.

Tapi di sanalah pengalaman serunya. Apalagi pas naik bus ekonomi dari Bajawa ke Ruteng. Untung yang ada cuma seekor ayam di antara lantai yang penuh dengan karung berisi bawaan penumpang. Biasanya ada hewan berkaki empat, seperti babi.

Bus rute Bajawa – Ruteng yang lumayan nyaman meskipun penuh dengan barang bawaan berkarung-karung.

Saya memang belum banyak berkunjung ke daerah-daerah di Indonesia. Namun beberapa pengalaman pelesiran di beberapa kota telah membuka mata saya tentang keseriusan negara ini memajukan rakyatnya melalui berbagai kebijakan dan peningkatan mutu fasilitas penunjang transportasi darat, laut, dan udara.

Yaa, gimana mau punya kendaraan bermesin canggih kalau jalan, pelabuhan, bandara, terminal, atau stasiunnya belum ada. Itu sebabnya pengadaan infrastruktur transportasi yang bertujuan membuka akses ke seluruh pelosok negeri menjadi prioritas pembangunan saat ini.

Semogaaa… pada saatnya sarana dan prasarana transportasi di Indonesia tersedia rata dan mampu menghubungkan setiap jengkal tanah nusantara, liburan keliling Indonesia bakal makin mudah dan biayanya terjangkau. Surga-surga dunia yang diciptakan Tuhan di Indonesia bisa dinikmati oleh semua kalangan.

Kalau semua akses offline dan online terkoneksi stabil, saya yakin bakal banyak peluang ekonomi tercipta. Pergerakan manusia dan barang menjadi makin fleksibel. Roda ekonomi bergerak lancar. Indonesia pun benar-benar terhubung dengan aman dan nyaman dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Let’s connect offline and online with Kemenhub RI:

Instagram: @kemenhub151

Twitter: @kemenhub151

Facebook: @kemenhub151

2 Replies to “Menghadirkan Konektivitas Tanpa Batas Demi Kemajuan Indonesia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *