Menikmati Ramadan Tanpa Wacana Bukber

Menjelang idulfitri tahun ini saya menanti sebuah pengumuman yang seandainya lolos, sekitar November nanti saya akan berangkat ke San Francisco, Amerika Serikat. Apa daya, aplikasi saya belum memenuhi apa yang diinginkan penyelenggara. Mhm, padahal sudah membayangkan bakal mengunjungi beberapa kota di Amerika Utara, lalu melipir sebentar ke Amerika Selatan.

Saya terdiam sambil menatap langit-langit kamar. Banyak hal yang saya pinta ke Allah. Sebagian menjadi nyata, sebagian lagi masih menunggu jawaban. Teringat apa yang telah dicapai sampai hari ini, saya percaya bahwa semua doa-doa yang dikabulkan itu memang datang di saat yang tepat.

Terkesan bijak banget gua. Apa karena pengaruh Ramadan, ya?

Tapi jujur, Ramadan tahun ini memang sangat berkesan. Saya seru sendiri memperbaiki kualitas diri. Ciyeee…

Salah satunya khatam alquran. Tapi… namanya cewek, ada ‘libur’ sekitar enam hari. Alhasil, tamat ngajinya lewat dikit dari target, yaitu pada lebaran ke-3. Ini jauh lebih baik dari sebelumnya.

Baru tahun ini saya konsisten membaca quran setiap selesai salat. Saya selalu semangat menegakkan salat, karena setelahnya langsung dilanjutkan dengan mengaji. Tidak hanya di rumah, tapi juga di kantor yang masjidnya luas dan nyaman.

Selain (hampir) khatam quran, Ramadan kali ini saya bertekad menerapkan gaya hidup sehat dengan tidak mengonsumsi nasi. Tapi mi dan roti, tetap. Hahaha…

Sementara ini, patokan sehatnya cuma nggak makan nasi, bukan meminimalisir karbohidrat. Yaaa, namanya juga niat, pelan-pelan aja dulu. Lagian cuma mau sehat, kok, bukan diet mau kurus. Bukankah puasa itu menyehatkan?

Berhasil?

Kalau lontong diabaikan, maka bisa dibilang saya sukses tidak makan nasi selama Ramadan 1440 H. Nasi yang saya makan selama sebulan itu hanyalah berupa lontong pada sate padang, bawaan mama dari masjid.

Emangnya nikmat, makan sate padang tanpa lontong?

Menu makan saya selama Ramadan tahun ini sungguh sangat simple. Asalkan stok buah, wortel, kentang, tahu, dan telur, tersedia di kulkas, amaaan. Tinggal direbus atau tumis. Terkadang saya kreasikan dengan tortilla atau mi. Pokoknya tanpa nasi, dengan porsi secukupnya.

Terbukti, perut tetap nyaman dan berat badan stabil. Apalagi tidak sampai kekenyangan dan bablas tidur setelah sahur.

Terus, yang lebih epik, Ramadan tahun ini bersih dari ajakan bukber. Padahal, sebelum puasa ada beberapa tawaran buka puasa bareng. Ternyata hanya wacana.

Iftar bareng kawan-kawan di luar rumah memang mengasyikan, tapi saya merasa sedikit ada kesia-siaannya. Misalnya, di rumah, pas beduk saya cuma minum beberapa teguk air putih hangat dan menelah sebutir kurma. Lalu disambung salat magrib. Setelah itu baru makan banyak. Nah, ketika bukber di luar, walaupun disediakan takjil atau snack, seringnya langsung menyantap makanan berat, hingga perut penuh.

Bawaan makan bareng teman-teman emang meningkatkan nafsu makan. Salat magribnya antre. Iya, kalau tempat makannya menyediakan musala, kalau nggak? PR banget puasa seharian tapi meninggalkan salat. Pulang-pulang badan capai, dan malas tarawih.

Namun… ada beberapa hari saya bukber dalam arti yang sesungguhnya. Ini kemauan sendiri tanpa diajak siapa-siapa. Saya buka puasa di masjid bareng banyak orang tak dikenal.

Begitu lebih mending daripada di restoran atau cafe. Di masjid, biasanya sengaja ada jedah agak lama antara azan dan seruan ikamah. Jamaah sadar diri agar tidak kekenyangan, karena mau salat berjamaah. Pun tidak diburu-buru waktu takut tidak kebagian makan, karena semua telah mendapatkan jatahnya.

Buka bareng di masjid selama sebulan penuh ini mungkin agenda rutin yang paling ditunggu-tunggu banyak orang. Di masjid dekat rumah saya, setiap tetangga mendapat giliran untuk memberikan makanan berbuka puasa di masjid. Setiap harinya ada 4 – 5 rumah yang menyediakaan penganan iftar. Menu dan porsinya bebas.

Siapapun bisa singgah dan datang untuk menyantap hidangan ini, tanpa ditanya agamanya apa. Paling asyik kalau ada donatur yang royal, atau di masjid-masjid besar. Menunya agak mewah, biasanya. Bukan hanya sebungkus kecil kurma, atau kue-kue ringan, dan air kemasan, tapi juga lengkap dengan nasi bungkus atau nasi kotak. Anak kost pasti rajin buka puasa di masjid ini.

Orang tua saya, nih, sebulan puasa, 30 malam juga mereka melakukannya di masjid. Mereka sengaja datang dari sebelum magrib dengan membawa bekal makan malam dari rumah. Antisipasi kalau-kalau hidangannya kurang cocok atau hanya kue-kue ringan. Di hari tertentu, kadang ketiban rezeki ada yang memberikan nasi, sate, mi goreng, atau bihun goreng. Makanan yang dibawa, ya, dibawa pulang lagi.

Pulangnya lepas tarawih. Itu nggak pernah tangan kosong, selalu membawa beberapa kue yang tidak habis disantap bersama, padahal sudah dibiarkan tetap di meja, dan bebas diambil oleh jamah yang mau ngemil. Makanan itu sengaja dibagi-bagi oleh pengurus di masjid, daripada dibuang.

Heran, Ramadan selalu identik dengan makanan yang berlimpah, padahal makan sedikit saja sudah mengenyangkan. Pedagang makanan sangat gampang ditemukan di pinggir-pinggir jalan, bahkan ada tempat tertentu yang ramai oleh pedagang makanan, khusus selama Ramadan, hingga dikenal sebagai pasar kaget.

Orang tua saya tidak sendirian, ada beberapa tetangga yang juga rutin ke masjid menjelang magrib, makanya mereka semangat datang setiap hari. Di sela-sela menunggu isya, mereka bisa tadarus dan itikaf. Coba kalau di rumah, keburu ngantuk karena kekenyangan.

Saya nggak ikutan ke masjid. Belum sanggup. Tapi demi mewujudkan kualitas diri yang lebih baik, selama puasa saya salat isya dan tarawih di rumah agar bisa santai dan fokus mengaji.

Dengan semua keseruan pribadi yang mudah-mudahan positif itu, saya jadi membayangkan bagaimana, ya, rasanya menjalankan ibadah puasa di negeri Paman Sam. Suasananya pasti beda banget walaupun negara itu sebenarnya mulai familiar dengan aktivitas muslim saat Ramadan.

Pasti nggak ada dispensasi potongan jam kerja atau jam kuliah seperti kita di Indonesia. Rutinitas kantor, kampus, dan sekolah, berjalan normal walaupun matahari bersinar lebih lama daripada di Indonesia. Jadi ingat ketika saya kuliah di Jepang. Teman-teman nonmuslim sempat heran melihat kita sengaja tidak makan dan minum pada siang hari.

Tapi, saya yakin teman-teman muslim di Amerika tidak sendirian. Setahu saya, setiap negara sering ada komunitas muslimnya, jadi ada sumber informasi untuk kegiatan-kegiatan keagamaan atau untuk memenuhi kebutuhan dasar sebagai umat Nabi Muhammad saw.

Warga Indonesia, biasanya ada komunitas sendiri. Terus, bagi yang muslim, ada komunitas khusus. Di Amerika ini namanya IMSA atau Indonesian Muslim Society in America.

IMSA merupakan organisasi nirlaba yang menaungi WNI muslim di Amerika Utara. IMSA memiliki beragam kegiatan agar umat muslim Indonesia di setiap sudut Amerika bisa bersilaturahmi, sekaligus mengakomodasi kebutuhan para muslim Indonesia di sana.

Pengalaman sebagai minoritas mengajarkan saya bahwa justru saat menjadi minoritas, kita termotivasi mengenal agama kita. Dulu, ketika di Jepang, saya rela bersepada belasan kilometer demi bisa bersua dengan sesama teman-teman muslim, entah untuk untuk buka puasa, pengajian, salat tarawih dan ied, atau membeli makanan dan bahan masakan halal. Letih, tapi seru, dan benar-benar menjadi pengalaman berharga dalam hidup.

Dari laman situsnya, tersedia banyak pilihan aktivitas di IMSA. Tidak semuanya urusan ritual agama. Urusan dunia, seperti pendidikan, penggalangan dana, promosi seni dan budaya, serta menjalin persahabatan dengan umat agama lain di Amerika, juga menjadi kegiatan rutin IMSA.

Kegiatan-kegiatan tersebut dikemas semenarik mungkin, terlihat dari nama-namanya: IMSIS, YOUTH, IMSA CARE, MUKTAMAR, Summer Training Camp, ISEW, IMSA TV, dan RADIO IMSA. Semua itu melibatkan segala kalangan, dan juga terbagi dalam beberapa divisi, misalnya khusus muslimah, anak-anak, remaja dan pemuda, keluarga, serta umum. Dengan begitu, muslim Indonesia tetap merasa ramai di perantauan karena memiliki wadah untuk saling bertatap muka dan berbagi banyak hal.

Akar sebagai muslim tetap kuat tertanam karena ada saudara-saudara yang selalu saling mengingatkan. Paling seru, emang, kalau ngariung sesama orang Indonesia di negeri orang. Selalu ada banyak makanan khas Indonesia-nya, jadi nggak galau-galau banget urusan lidah. Terus ngobrol sambil ketawa-ketawa karena saling cerita soal pengalaman hidup di Amerika. Kan, biasanya tinggalnya jauh-jauh, dan jarang ketemu, jadi pas ngumpul pasti banyak cerita, sampai-sampai malas pulang kalau nggak ingat jadwal kereta atau bus. Ceritanya lanjut di grup online aja, mungkin.

Selama bulan puasa tentulah IMSA punya banyak pilihan kegiatan untuk menyemarakan Ramadan di Amerika Serikat. Jadi penasaran, nih, bagaimana suka-dukanya puasa bareng IMSA di sana. Apakah ada pasar kaget juga setiap harinya?

Bayangan saya, nih, setiap divisi akan mengadakan buka puasa bareng, entah itu di sekretariat IMSA, atau di rumah salah satu anggotanya. Semacam potluck, siapapun yang datang membawa makanan untuk dinikmati bersama-sama. Lalu ada juga, mungkin, iftar bareng semua anggota IMSA. Kali ini di tempat yang lebih luas, dan bisa mengajak keluarga dan teman, bahkan teman-teman nonmuslim yang pingin tahu suasana iftar ala Indonesia.

Seru pasti.

Btw, selain bareng IMSA, kira-kira teman-teman muslim di Amerika punya wacana bukber juga, nggak, ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *