Menjajal Via Ferrata Gunung Parang di Purwakarta

Selepas subuh kami berkumpul di lobi utara Plaza Semanggi. Minibus biru telah menunggu untuk membawa peserta open trip ke Gunung Parang di Purwakarta.

Gunung berupa tebing batu itu dinaiki dengan cara merayap menggunakan tangga-tangga besi yang sengaja dipasang. Lalu turun dengan cara rappeling. Seru tapi tegang.

Setelah semua peserta duduk di bangkunya masing-masing, bus bergerak meninggalkan Jakarta. Dalam perjalanan, mobil berhenti di rest area. Kesempatan banget bagi yang mau ke toilet atau yang belum sarapan, karena makan selanjutnya tergantung jadwal kita turun gunung.

Dari sini kami berkendara lagi sekitar satu jam menuju base camp Skywalker Via Ferrata, operator yang saya pilih dengan alasan kepraktisan. Tarif yang ditawarkan sudah termasuk transport pergi-pulang dari Jakarta ke lokasi.

Begitu sampai di tujuan, tampak Tebing Parang menjulang angkuh di hadapan. Kami tidak langsung memanjat, tapi rehat sebentar sambil menunggu peralatan disiapkan.

Markas Skywalker sangat asri, lengkap dengan toilet dan musala. Colokan lumayan banyak bagi yang mau ngecas, meskipun sinyal terbatas.

Tersedia juga balai-balai, bangku kayu, dan hammock kalau mau tiduran. Asyik banget buat liburan. Udaranya sejuk, tapi namanya banyak pohon, nyamuknya lumayan iseng.

Barang-barang dititipkan di sini. Ada sepasang suami istri yang berjaga dan yang akan menyiapkan jatah makan siang.

Setelah helm dan harness terpasang di badan, kami berjalan kaki menuju Gunung Parang yang letaknya persis di belakang rumah.

Biar bisa foto-foto di atas, saya tetap membawa handphone. Saya sengaja mengenakan sport bra, jadi lumayan ketat untuk menyelipkannya di dada. Buat jaga-jaga siapa tahu hujan, disarankan juga membawa plastik pelindung.

Kalau nggak ribet, bisa bawa tas kecil untuk menaruh air minum atau cemilan. Ada peserta yang begitu, dan saya minta tolong nitip air ke salah satunya. Untung botolnya kecil. Kalau mau ringkas, sebenarnya, mengenakan celana berkantong, atau diselipkan di kaos kaki, asalkan lumayan panjang, tapi pasti mengganggu saat dipotret.

Sebelum menyentuh tebing, kami diberi petunjuk terlebih dulu oleh Kang Ajo tentang fungsi dan cara menggunakan alat. Dikasih tahu juga cara bergaya di ketinggian. Aje gile.

Pendakian dimulai setelah berdoa. Awal-awal, masih gampang. Pemandu lain, Kang Fadlan a.k.a Kirun sudah menanti dengan kameranya di pertengahan tebing. Siapapun yang lewat akan disuruh beraksi untuk dipotret.

Makin ke atas, jalurnya makin menantang. Ada yang vertikal dan zigzag. Terkadang, kalau lupa memindahkan pengaman, langkah akan tertahan. Tapi setimpal sama pemandangannya. Bisa foto-foto atau bikin video untuk Instastory.

Kemarin, kebanyakan kami mengambil paket 150 meter seharga Rp350.000. Kalau mendadak pingin upgrade ke 300 m atau 900 m, tinggal ngomong ke pemandunya, dan nambah Rp100.000. Tapi mereka jadi sibuk bolak-balik nengokin. Tenang… mereka gesit banget bisa hilir-mudik di tebing. Fyi, bisa bermalam juga, tapi nggak tiap minggu.

Cuaca hari itu mendung. Puncak gunungnya berkabut. Bahkan sempat gerimis sebentar. Tapi bikin adem. Hausnya nggak parah, dan nggak bikin tangan perih kepanasan memegang besi. Bahkan sarung tangan yang sengaja dibawa nggak sempat saya pakai.

Ketika sampai di titik 150 m, kami beristirahat di semacam gua, atau bagian tebing yang menjorok ke dalam. Di sini telah menunggu es teh manis. Segarrr...

Dari sini pula kami puas menikmati hamparan hijau dan panorama Waduk Jati Luhur kebanggaan warga Purwakarta. Bisa sekalian atur napas juga buat persiapan turun.

Sebelum mencapai gua, Kang Fadlan sudah menanti dengan kameranya. Dia menyuruh kami bergaya dengan melepas kedua tangan. Sumpah, meskipun diyakini berkali-kali, tetap saja takut jatuh, apalagi saat mendengar suara besinya beradu.

Dia enak aja ngomong “Santai aja… Bahunya di kebelakangin…” wong itu gawenya hari-hari. Nah gua, jangankan alat, ke diri sendiri aja nggak percaya.

Tapi… deg-degan lepas tangan ini belum apa-apa dibandingkan dengan proses turunnya. Kalau caranya tinggal turun di rute naik, nyali masih kuat. Tapi kalau digerek…

Saat membayangkan yang pernah dilihat di film dan tv, kesannya gampang banget. Tinggal jalan mundur doang. Begitu dicoba… Kapok!

Kang Ajo yang bertugas menurunkan kami sudah bersiap dengan peralatannya. Lagi-lagi, kami dikasih tahu bagaimana posisi bahu dan kaki. Oke. Paham.

Tapi teori ini masih santai dipraktikkan di sekitar 3 meteran. Muka si Akang juga masih kelihatan. Semua masih mampu nyengir, apalagi saat dia menghentikan uluran tali dan mengarahkan gopronya.

Tapi begitu lanjut, dan dia hanya berupa titik kecil di atas, adrenalin mulai memompa keras. Pijakan jadi tak menentu walaupun suaranya masih terdengar mengingatkan posisi badan.

Tanah berasa jauh banget. Meskipun alatnya dipastikan aman, tetap saja saya gemetaran karena tidak ada tempat berpegangan kecuali tali yang terkait di pinggang. Sampai bingung saat Kang Ajo berseru agar meletakkan tali ke besi bulat panjang di tengah-tengah tebing.

Ketika sedang fokus, tiba-tiba saya berseru kaget karena kaki menggantung. Rupanya ada cekungan. Badan saya berputar-putar sebentar hingga siku tergores akibat menyerempet tebing.

Saya melongok ke atas, dan hanya melihat besi tempat saya meletakkan tali. Rupanya itu membantu agar tali tetap terulur mulus. Sekuat mungkin saya mencoba tenang, dan menyentuhkan kaki ke tebing.

Getaran di dada tak jua hilang sampai akhirnya menginjak bumi. Jemari saya lemas saat harus membuka pengaman agar kembali ke atas. Teman-teman yang duluan turun sudah tidak ada.

Seorang diri saya berjalan pulang. Suara teman-teman di atas tebing sayup-sayup terdengar di telinga. Mereka juga tak kalah panik.

Apa dibilang, janji makan siang berubah menjadi makan sore, bahkan ada yang makan malam. Tanpa harus menunggu yang lain, kami yang sudah kelaparan langsung kegirangan ketika si ibu menyuruh makan.

Sambalnya nendang pisan. Tempe dan tahu gorengnya gurih. Semuanya memuaskan. Motivasi banget buat cepat turun kalau tahu masakannya sesedap itu.

Berminat?

Kontak Skywalker Via Ferrata:
Instagram: @skywalker_viaferrata
Facebook : @Via Ferrata
Twitter : @ViaSkywalker
email : skywalker.viaferrata.indonesia@gmail.com
Telepon: 0813-1540-4261

18 Replies to “Menjajal Via Ferrata Gunung Parang di Purwakarta”

  1. mbaaaaa ini sama ga ya providernya ama yg sky lodge? di purwakarta gn parang juga. aku planning mau nginep di sky lodge atas tebingnya itu pas ultah juni :D.

    tapiiii serem juga yaa bok turunnya wkwkwkwkk. omg moga aku sanggub dan bisaaa :D. demi bisa nyobain penginapan atas tebingnya itu 😀

    1. Beda lagi operatornya. Tapi kemaren sempat ngelihat tuh, lodge-nya. Nggak kebayang buang airnya gimana kalau nginap di sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *