Menyusuri Delta Sungai Mekong, Vietnam

Hari kedua di HCMC saya mengikuti tur ke Delta Sungai Mekong, yang juga merupakan kegiatan wajib jika berada di wilayah Indochina. Mengambil paket tur tampaknya adalah satu-satunya cara ke sana karena tempatnya lumayan jauh, ke luar kota dan butuh waktu seharian. Dari hasil keliling Distrik 1 kemarin sorenya dan tawar-menawar, dapatlah saya paket one-day-tour seharga $8.

Petugasnya bilang bahwa tur dimulai jam 08.00 tapi ketika datang, hanya saya saja yang ada. Petugasnya meminta saya menunggu, nanti ada yang akan menjemput. Tidak lama, datanglah seorang perempuan yang saya pikir adalah pemandunya. Dia mengajak saya berjalan menuju bus, tapi mampir sebentar di sebuah agen travel. Di sini rupanya ada peserta lain yang juga sedang menunggu jemputan. Dari sini kami sama-sama berjalan ke arah mobil, dan di dalamnya sudah ada peserta lain lagi. Di sini baru saya bertemu tour guide yang sebenarnya, seorang pria. Tidak lama berjalan, mobil yang berupa van berukuran sedang itu berhenti di persimpangan, dan terlihat banyak turis lain menunggu. Tempat ini sepertinya meeting point mereka yang mendaftar pada agen yang sama dengan saya walaupun membeli tiket di tempat yang berbeda-beda. Di sini terjadi pertukaran dan penambahan penumpang karena ada yang ke Mekong dan ada yang ke Cu Chi Tunnels. Yang ke Mekong pun ada yang mengambil tur satu hari dan ada yang dua hari. Di tempat ini semuanya mulai terbagi.

Setelah semua penumpang dianggap lengkap, pemandu membagikan sebotol kecil minuman. Lalu dia DSC_4052 (640x428)mulai memperkenalkan diri dan menjelaskan rute perjalanan kami hari itu. Untuk sampai ke delta sungai Mekong, perjalanan ditempuh sekitar satu jam setengah dari pusat kota, ditambah dengan dua kali pemberhentian. Pertama, di tempat kerajinan tempurung kelapa, dan sebuah kuil. Kuilnya lumayan indah dengan empat patung raksasanya: dua yang berdiri, satu duduk bersila, dan satu Budha tidur.

Dari kuil ini perjalanan dilanjutkan ke semacam pelabuhan karena banyak perahu dan kapal kecil bersandar. Di bagian ruang tunggu ada banyak pedagang makanan dan suvenir khas Vietnam, termasuk caping atau topi petani. Sambil menunggu tour guide menggiring kami naik perahu, saya mencoba mencari-cari keistimewaan sungai ini. Sungainya memang sangat luas, dan walaupun airnya berwarna coklat, tidak terlihat sampah yang mengapung. Kesimpulannya, yang istimewa dari tempat ini menurut saya adalah pengelolaannya.

DSC_4058Tidak terlalu lama menunggu, kami disuruh naik perahu yang ukurannya cukup besar dengan banyak barisan kursi rotan dan kayu di bagian belakang. Sayang, karena bunyi mesinnya berisik, penjelasan si pemandu tidak terdengar dari belakang.

Selama menyusuri delta sungai Mekong ini kami singgah di tiga tempat. Lokasi pertama adalah tempat pembuatan dan pengemasan permen kelapa yang ketika datang semua pengunjung diberi cicipannya. Selain itu ada juga peternakan lebah, penjualan makanan ringan lainnya, dan lagi-lagi, suvenir yang terbuat dari tempurung kelapa. Setelah melihat-lihat, kami diajak ke bagian belakang dan disuguhi makanan semacam keripik pisang yang manis dan kacang beserta minuman berupa campuran mDSC_4076adu, perasan jeruk nipis dan ada semacam butiran yang saya lupa namanya apa. Sambil beristirahat, kami juga melihat seekor ular pyton berwarna putih kekuningan yang bisa diajak berfoto. Dan sebelumnya, oleh si tour guide yang ramah ini, saya diberi segelas mungil minuman yang katanya mengandung bisa ular dan bagus buat kesehatan. Entahlah.

Lokasi kedua yang kami hampiri adalah restoran, tempat makan siang. Kalau ada pantangan, pengunjung bisa segera memberitahu pemandu, sehingga makanannya akan dibedakan. Waktu itu saya disatukan dengan sepasang vegetarian dari Amerika karena dia tahu saya tidak makan daging babi. Jadi, menu yang dihidangkan untuk kami adalah nasi, buncis, tahu dan sup.

Selesai makan kami disediakan waktu untuk melihat-lihat sekeliling. Ada taman dan kolam berisi buaya yang bisa pengunjung beri makan sendiri dengan membeli umpannya. Cara memberikannya dengan mengikat umpan dengan tali yang ada kayu pegangannya, persis seperti pancing. Umpan berupa daging tersebut dijulurkan ke kolam dan tunggu sampai dicaplok oleh salah satu buaya. Walaupun aman, tetap saja kaget begitu si buaya merenggut umpan tersebut. Di areal ini juga tersedia bangku-bangku taman dan hammock yang bisa digunakan untuk bersantai sambil menikmati pemandangan sungai.

DSC_4124Dari sini perahu kami menuju ke tempat terakhir, yaitu tempat kami menikmati buah-buahan serta teh tawar hangat sambil menikmati nyanyian daerah yang dibawakan oleh beberapa penduduk setempat. Selain suvenir, di sini dijual juga durian. Waktu itu ada turis Korea Selatan yang mengaku baru tahu tentang durian dan baru kali itu mencobanya karena ada salah seorang peserta yang membeli dan menawarinya untuk mencicip. Sebelumnya, untuk mencapai tempat makan buah ini, kami diharuskan naik perahu kecil melewati anak sungai yang kelilingi barisan tanaman sungai yang bentuknya seperti daun kelapa. Perahu kayu tersebut di dayung oleh dua orang warga lokal, pria maupun wanita yang duduk di depan dan di belakang. Mungkin, agar terasa suasana tempo dulunya, mereka semua mengenakan pakaian tradisional. Di perahu ini juga disediakan caping untuk pengunjung, jadi yang lupa bawa topi tidak usahlah panik takut kepanasan. Momen inilah yang saya tunggu-tunggu dari tadi sehingga sengaja memilih duduk di depan. Yeah!

ySaya pikir untuk kembali ke perahu yang besar kami harus menggunakan perahu kecil lagi. Rupanya, dari lokas terakhir ini kami cukup berjalan kaki menuju tempat ditambatkannya perahu tersebut. Setelah semua naik, perahu pun langsung tancap gas ke pelabuhan tempat kami datang tadi, lalu kembali menuju jalan di kawasan Distrik 1.

9 comments Add yours
  1. Gimana reaksi turis Korea makan Durian hihihihihi. Banyak orang asing yang ngga suka loh, padahal di Indonesia orang tergila – gila. Seru ya jalan – jalannya mba :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *