Merayakan Hari Raya Idulfitri di Istana Sultan Brunei Darussalam

Setelah merencanakan perjalanan ini dari beberapa tahun lalu, akhirnya tercapai pada tahun 2018. Kesampaian merayakan Idulfitri di Brunei Darussalam. Alasannya, karena hanya pada kesempatan itu Istana Nurul Iman dibuka untuk umum. Semua bisa bertatap muka dan menjabat tangan Sultan, kecuali yang perempuan, kali, yaaa.

Bersama ratusan, mungkin ribuan rakyat biasa lainnya, saya bangun pagi demi mengejar kesempatan bertemu pemimpin negara paling kaya di dunia. Jadwalnya jam 10, sebenarnya. Tapi karena di Brunei kendaraan umumnya cuma bus yang datangnya jarang-jarang, kita mesti pandai mengatur waktu.

Saat jam biasa, jalan raya di dekat penginapan saya ini pasti dilalui bus kota. Namun, namanya negara yang konon hampir semua penduduknya memiliki kendaraan pribadi, ada mungkin sejam saya berdiri di pinggir jalan.

Setelah lama menanti, sebuah sedan berhenti. “Bandar?” ucap saya sambil membungkukkan badan. Supir yang seorang bapak-bapak itu mengangguk. Segera saya duduk di sampingnya tanpa rasa curiga.

Bandar adalah nama terminal bus di Bandar Seri Begawan. Ini adalah pangkalan bus semua jurusan. Dari sini, baru nyambung bus lain ke tujuan masing-masing.

Baru kali itu saya kesenangan naik ke mobil orang yang sama sekali asing. Saking jarangnya angkutan umum, orang lokal pada tahu kalau yang sedang kular-kilir di pinggir jalan pasti pendatang. Kalau tidak dihentikan untuk menumpang ke jurusan searah, bisa saja ada yang berbaik hati menawarkan tumpangan. Tapi, ada juga yang meminta bayaran.

Hal ini lazim terjadi. Semacam taxi. Ongkosnya cuma 1 dolar Brunei (BND). Jauh-dekat. Begitu juga ongkos bus umumnya.

Saya pikir bapak ini adalah orang baik yang kebetulan akan ke arah Bandar. Tak lama, dia berhenti di depan sebuah halte. Di sana ada dua pria yang ternyata sedang menunggu bus ke Bandar. Mereka ikut naik setelah memastikan tujuan kami. Sampai sini saya masih berpikir supir mobil ini orang dermawan.

Begitu tiba di Bandar, dua pria tadi menyodorkan uang 2 BND pada pak supir, dan diterimanya. Saya pun jadi ikutan bayar. Moral of the story is… kalau ada yang kasih tumpangan di Brunei, jangan ge-er. Kali aja itu ‘angkot’.

Dari Bandar, bus yang sudah tahu bahwa lebaran ke-2, 3, dan 4, adalah harinya masyarakat umum sowan ke Sultan, armada pun bersiap. Tidak perlu bingung mencari, tulisan ‘ISTANA’ terpampang nyata di kaca depan bus.

Bus berhenti tak jauh dari gerbang istana. Terlihat barisan orang yang mengular. Saya pun ikut bergabung, menunggu giliran naik kendaraan yang disiapkan untuk mengantar tamu sampai ke bangunan istana. Mobilnya semacam minibus antar-jemput karyawan. Jumlahnya banyak dan gratis. Tidak perlu rebutan.

Waktu tempunya nggak sampai 5 menit, makanya ada juga yang berjalan kaki. Penjaganya tentu berkeliaran, tapi karena mereka mengenakan kostum melayu khas Brunei yang berwarna salem, kesannya biasa saja. Paling cuma yang di gerbang depan dan beberapa yang mengenakan seragam lengkap dengan atribut pengamanan.

Istana Nurul Iman yang dibuka untuk umum setiap Hari Raya Idulfitri.

Begitu sampai di teras, kerumunan manusia sudah berkumpul. Tiga hari setelah 1 Syawal, kediaman resmi Sultan dan keluarganya ini memang terbuka untuk umum, baik bagi turis maupun warga Brunei sendiri. Saya sempat melihat rombongan berseragam dan sekelompok perempuan yang di dada kirinya tertulis nama instansi tempat mereka bekerja.

Inilah daya tarik Brunei yang membuat saya ngebet berkunjung. Saya sengaja datang pas lebaran, karena setelah itu kawasan ini steril. Mereka yang ke sini paling cuma bisa berfoto di depan gerbang istana. Kalau idulfitri, selain bisa menginjak bagian dalamnya, juga bisa merasakan masakan koki istana.

Pengunjung dipersilahkan masuk dengan tertib. Pemeriksaannya longgar, cuma mesin pemindai untuk barang bawaan. Lalu lapor ke meja petugas untuk menuliskan biodata. Setelah itu diberi kupon untuk mengambil suvenir pas keluar nanti. Jangan sampai hilang!

Tampak juga penyandang difabel. Mereka melalui jalur khusus.

Kemudian kita berbaris untuk antre ke areal makan. Barisan wanita dan pria terpisah, tapi hanya sampai pengambilan nasi dan lauk-pauknya. Setelah masuk ke bagian yang berisi meja-kursi, tamu laki-laki dan perempuan bebas menyantap makanan di meja manapun.

Antrean memasuki Istana Nurul Iman

Hidangannya tidak hanya nasi dan teman makannya yang empuk dan banyak, meskipun disendokin petugas catering. Ada juga pondok-pondok berisi aneka kue, puding, dan minuman. Semua bebas diambil. Saya beberapa kali bolak-balik demi mencicipi semuanya. Bahkan, kalau mau, bisa dibekal. Banyak yang begitu.

Di ruangan ini ada sekat antara tamu biasa, dan tamu istimewa yang barangkali pejabat negara atau tamu kehormatan. Tapi batasnya cuma pagar besi setinggi pinggang, dan kita bisa saling melihat. Entah makanannya, sama atau berbeda.

Hidangan Hari Raya di Istana Nurul Iman

Setelah kenyang, tamu kembali berbaris untuk memasuki ruangan lain. Di aula yang tak kalah luas dengan tempat makan tadi, dinding-dindingnya didominasi ornamen keemasan. Pengunjung diminta mengisi barisan bangku yang telah disiapkan. Agak lama juga menanti di ruangan yang kembali memisahkan kaum pria dan wanita ini. AC-nya juga lumayan dingin.

Kemudian ada aba-aba bahwa Sultan dan keluarganya siap berhalal-bihalal dengan para tamu. Kembali kami digiring melewati teras semi-terbuka yang penuh tanaman. Udara cukup panas, tapi ada kipas angin di beberapa sudut.

Lagi-lagi, penjagaannya santai. Petugasnya berseragam resmi, termasuk yang wanita. Mereka menyarankan menitipkan tas kalau dianggap ribet. Bagi yang keberatan, diminta agar disandang di sebelah kiri. Mungkin agar tidak mengganggu saat berjabat tangan.

Deg-degan, saya masih belum percaya akhirnya sampai juga di momen ini. My bucket list. Sebentar lagi saya akan menjabat tangan Raja Putri. Fyi, cuma kaum pria yang bisa menyentuh tangan Sultan Hassanal Bolkiah. Tamu perempuan bertemu dengan istrinya.

Ruangan mewah itu tidak terlalu besar. Persis seperti ruang tamu, ada satu set meja dan kursi warna senada. Ratu dan kerabatnya berdiri dari tempat duduknya masing-masing. Kulitnya putih bersih. Satu di antaranya saya kenal sebagai istri putra sulungnya yang sering nongol di tv. Mereka mengenakan baju kurung warna lembut dan berjilbab sederhana.

Tampak jelas kegiatan ini semacam ritual rutin tahunan. Dalam proses yang berlangsung sangat cepat tersebut, hanya sekilas saya menangkap senyum di wajah ibu-ibu bangsawan itu. Mungkin, mereka juga tidak memperhatikan wajah-wajah kita yang mereka salami dengan tangan selembut beledunya.

Tak sempat saya berfoto. Pas keluar baru ngeh, kenapa tadi nggak nitip ponsel ke cameraman di sana, padahal tadi kami berbincang sambil makan di satu meja. Aaah!

Begitu keluar, kita langsung diarahkan ke tenda yang penuh dengan kotak-kotak suvenir. Semua tamu mendapatkan satu asalkan bisa menunjukkan kupon yang dikasih saat tadi datang. Plus kartu ucapan hari raya yang ditandatangani sultan. Khusus anak-anak, ada tambahan amplop berisi uang tunai.

Tak sabar, saya buka kotak karton tebal itu. Isinya kue. Rasanya enak.

Kartu Lebaran dari Sultan dan suvenirnya.

Dari sini, tamu berjalan kaki keluar gerbang. Tamu untuk sesi siang terlihat mulai berdatangan.

Jadi, selama tiga hari itu, sultan dan keluarganya berkenan menerima tamu pada sesi pagi dan siang. Jadwalnya, jam 10.00 dan 14.00. Saran saya, mending datang lebih awal agar bisa menikmati hidangan istana. Sayang banget kalau datang cuma untuk bersalaman.

Soal pakaian, bebas pantas. Banyak yang cuma pakai kemeja atau kaos. Tapi jangan lekbong dan yang mencetak bodi, ya.

Dalam perjalanan keluar, saya sempat foto-foto sendiri di sekitar halaman istana. Tapi nggak keliling banyak karena mataharinya terik banget, dan masih mau jalan-jalan ke tempat wisata di Bandar Seri Begawan.

Dari depan istana, ada banyak bus menuju Bandar. Tinggal naik dan bayar 1 BND.

Lebaran di mana kamu tahun ini?

36 Replies to “Merayakan Hari Raya Idulfitri di Istana Sultan Brunei Darussalam”

    1. Ya, tergantung harga tiket pesawat, Gan. Akomodasi tempat saya kemaren juga ada link-nya di artikel.

  1. aku akhir tahun lalu baru balik dari brunei juga, mbak.. dan setelah diceritain soal open house-nya sultan ini langsung pengen balik lagi kesana pas lebaran. pengen bawa ibu aku kesana juga sekalian, mungkin 2 taun lagi lah. hihi, doain yaa! πŸ˜€

  2. trakhir ke brunei 2014, tp pas december. jd ga mungkin nemuin momen ini :D. Yg paling berkesan dr Brunei sih, jalanannya yg super duper sepi itu hahahahaha… aku suka ama negaranya, mesjid2nya trutama. tp jujurnya ga kuaaaat ama panasnya :D. kapan2 mau jg ngerasain lebaran di sana

  3. Duh pas ke Brunei harap2 ketemu Sultan gak terwujud. Mesti Lebaran disono baru bisa yah. Tapi manis banget emang mereka open house dan makan bareng rakyat. Termasuk turis ya. Jadi kepikiran. Boleh juga Lebaran Hari ketiga kesono kan yaa

  4. Saya ngakak bacanya ttg taksi oprengan. Xixixi.. masing2 negara t7h punya ciri khas sendiri ya. Macam open house ini. Dah kayak temu fans. Itu sulta ga capek ya?

  5. Seru banget ihh bisa salaman dan masuk istana. Dulu saya ke Brunei pas sultan ultah. Kirain istananya akan dibuka, ternyata nggak . Untungnya ada parade di lapangan Taman Haji Sir Muda Omar Ali, lumayan deh bisa liat Sultan dan keluarganya dari deket walau ga bisa salaman.

  6. Keren bisa melihat dekat pemilik tahta negara terkaya di dunia. Btw padahal negara kecil, kita Indonesia bisa dong belajar dari Brunei ya? Aah jadi pengen ke sana coba hehehe

  7. Seru banget mbaaa… ternyata Sultan Brunei juga gelar open house ya… Pesta rakyat banget ini, sampai suguhan makanannya juga niat. Dibekelin oleh-oleh pun… Jadi pingin juga lebaranan di sana… πŸ˜€ Tapi memang bingung ya kalo ke sana masalah transportasinya…

    1. Kalau masih terang, sih, bus umum masih ada meskipun lama nunggunya. Kalau malam, ya, taxi, atau numpang orang.

  8. Waah kesempatan emas dan langka ya Mbak bisa masuk ke istana Brunei dsn bersalaman dengan Ratu. Tapi hanya bisa pas lebaran aja ya. Tapi keren deh disempet sempetin ke sana pas lebaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *