Merindukan Kehangatan di Tanah Timur

Hai Kak Relinda, apa kabar? Sudah ada jadwal kemana aja di Kupang, Kak? Oh, ya, tiba di Kupang kapan, ya, Kak?

Pesan dari Santi muncul di inbox akun couchsurfing sehari sebelum saya mendarat di Pulau Timor. Rencana solo trip ke Kupang untuk pertama kalinya itu memang pernah saya lontarkan di Grup Nusa Tenggara Timur beberapa hari sebelum berangkat. Harapannya bisa bertemu travelmate atau warga lokal yang bisa menjadi teman keliling kota.

Jujur, saya tidak banyak berharap akan mendapat respon positif saat menuliskan rencana ke Kupang, karena seperti yang sudah-sudah, pesan seperti itu hanya bagai angin lalu, berhembus hening hingga akhirnya kunjungan selesai dilakukan.

Tanggal 10 September. Belum tahu, nih. Yuk, ajakin aku ke tempat-tempat asyik di Kupang. Pingin ke Crystal Cave, euy.

Saya langsung membalas pesan tersebut.

Besok malamnya, ada pesan baru dari Santi yang menanyakan lagi rencana saya ke gua. Saya bilang belum jadi karena menurut artikel di Internet, lokasinya lumayan jauh dari pusat kota dan tidak ada transportasi umum ke sana. Kebetulan, besok saya mau melipir beberapa hari ke Dili, mantan tanah negeri, yang sekarang sudah disebut luar negeri.

Saya berjanji akan menghubunginya kalau nanti kembali. Santi setuju, dan menuliskan nomor teleponnya.

Oke, Kak. Hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai tujuan.

Bunyi pesan penutupnya.

Sekembalinya ke Kupang, saya langsung mengontak Santi. Kami bersahut-sahutan di WA dan sepakat besok ketemuan di Taman Nostalgia, atau orang sana menyebutnya Tamnos.

Saya sengaja datang lebih awal ke Tamnos supaya bisa ada waktu menikmati taman sebentar. Setelah puas, saya menunggu Santi di tempat teduh yang ada di depan Gong Perdamaian Nusantara. Saya perhatikan setiap kendaraan yang lewat, khususnya motor, karena mikirnya kami akan pergi berdua saja. Tiba-tiba ada telepon masuk.

“Kakak di mana? Saya sudah di Tamnos.”

Terdengar suara Santi di ujung telepon, yang saya jawab sambil berdiri dan memanjangkan kepala, mencari motor yang parkir di pinggir taman.

“Di depan gong, Kak. Mobil hitam.”

Langsung saya menoleh dan melihat ada yang melambaikan tangan.

“Oh, itu.” Jawab saya sambil mendekat dan memutus pembicaraan.

Setelah saling menyapa dan bersalaman, saya tidak menyangka akan bertemu ibunya juga. Beliau sampai turun dari mobil agar kami bisa berjabat tangan.

Ada supir, ternyata. Kami akan mengantar ibunya dulu ke kantor. Selama ngobrol di jalan, saya sempat bertanya-tanya dalam hati, apakah kami akan berkeliling berdua saja, atau diantar supir?

Pergi bertiga, ternyata. Gaya banget perjalanan saya kali ini. Kata Santi, ibunya berpesan agar ada laki-laki kalau mau ke Gua Kristal, karena tempatnya sepi.

Kami semua belum pernah ke Gua Kristal. Informasi tentang tempat ini kami dapatkan dari media online, ditambah cerita dari adik Santi yang pernah ke sana. Untung ada papan petunjuk arah, jadi tidak begitu sulit menemukan lokasinya, walaupun tidak disebutkan berapa meter jauhnya dari jalan.

Baru beberapa langkah berjalan di areal luas yang seperti kebun milik orang itu, di belakang kami muncul seorang anak laki-laki. Dia mengangguk saat kami memastikan bahwa ini benar jalan menuju gua.

Pintu guanya tidak langsung terlihat seperti gua yang biasa saya lihat di film. Pintu gua ini hanya seperti lubang di tanah, berupa turunan. Ada banyak bongkahan batu besar yang melingkupi isi gua. Pengunjung harus melangkah perlahan karena medannya cukup licin.

Suasana awalnya gelap, tapi ada secuil sinar matahari yang menyusup di sela-sela batu. Tidak sabar saya ingin melihat air biru bening yang menjadi magnet gua ini. Saat kami bertiga masih mencari pijakan di jalan masuk, terdengar suara air di bawah sana. Anak laki-laki tadi pasti sudah nyebur.

Tidak lama, mata saya langsung menangkap warna biru di bawah sana. Bergegas saya meninggalkan Santi yang masih ragu-ragu mencari pijakan. Pemandangan aslinya sungguh mengagumkan. Bagai cahaya di ujung kegelapan. Biru airnya sungguh bening bak kristal. Sebaran batu di dasarnya bahkan bisa terlihat dengan mata telanjang.

Konon, air di kolam alami ini mengalir dari sela-sela bukit yang mengelilingi tempat ini, karena dibaliknya memang merupakan lautan luas. Kenapa biru, mungkin karena ada pengaruh sinar matahari yang menerobos tipis ke dalam gua, dan memantulkan cahaya biru ke air. Itu sebabnya, waktu terbaik ke sini adalah sebelum tengah hari.

Saking girangnya berhasil ke sini, saya asyik sendiri melangkah di atas batuan di tepi air agar bisa menyentuhnya. Untuk nyebur seperti anak tadi tidak mungkin, karena hari sudah siang. Kami lapar, dan masih ingin ke tempat lain.

Setelah merasa puas, kami melanjutkan makan siang di Bukit Intan Lestari. Dari sini, saya bisa menikmati pemandangan birunya laut Kupang yang menawan dan membentang luas.

Selesai makan, kami kembali menjemput ibunya Santi di kantor, lalu mengantarnya pulang. Saat di jalan, saya bercerita bahwa selama di Kupang saya tidur di rumah kenalan, tapi orangnya sedang pulang ke Yogyakarta, jadi saya sendirian. Mendengar itu, Santi langsung mengajak saya menginap di rumahnya.

Saya cuma nyengir, nggak tahu mesti menjawab apa. Kebetulan, kata saya dalam hati, pingin tahu bagaimana kehidupan keluarga di Kupang.

Begitu ketemu ibunya, Santi langsung cerita kalau dia mengundang saya tidur di rumah mereka. Ibunya tidak keberatan, malah senang, apalagi setelah tahu saya sendirian dan besok sudah harus balik. “Jadi lebih dekat ke bandara.” katanya.

Dalam perjalanan pulang, kami sempat singgah ke pengrajin tenun ikat khas NTT. Tadi saya bertanya kepada Santi tentang tempat untuk melihat-kain tenun lokal yang terkenal. Kalau harganya cocok, saya mau beli, sekadar buat kenang-kenangan.

Setelah melihat-lihat, pilihan saya jatuh pada dua syal kecil dengan motif berbeda. Lupa, itu corak dari daerah mana di NTT, secara ada beberapa daerah yang tadi disebutkan penjualnya. Saya hanya memilih berdasarkan warna dan motif yang saya suka. Jadi, kalau beli tenunan, tanya dulu itu motif khas mana, Sumba, Flores, atau daerah lain. Semuanya punya ciri khas masing-masing.

Harga syal yang saya pilih lumayan pas di kantong. Eh, begitu di depan kasir, belanjaan saya malah dibayarin. “Nggak apa-apa. Buat kenang-kenangan.” kata ibunya Santi. Saya cuma bisa nyengir nggak enak hati.

Di rumah, kami istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan, sekaligus nanti mengambil barang saya. Ibunya Santi, yang akhirnya saya ikut-ikutan memanggilnya mama, adalah pribadi yang ramah dan suka ngobrol. Dia bercerita soal kehidupan mereka yang minoritas sebagai muslim, dan bertanya tentang asal saya.

Sebelum beranjak, sempat mikir kalau kali ini bakal saya dan Santi saja yang pergi. Ternyata, mama menyuruh supirnya untuk ikut lagi. “Panas, sekalian ada yang motoin nanti.” katanya.

Sore itu kami isi dengan mengunjungi ekowisata hutan mangrove, dan Pantai Lasiana untuk menikmati matahari terbenam. Malamnya, Santi mengajak saya jajan penganan khas Kupang, yaitu salome. Semacam bakso yang digoreng dan direbus, lalu disantap dengan aneka saos.

Sesampainya di rumah, mama mengajak makan malam lagi. Kali ini saya bertemu dengan kedua adik Santi yang semuanya perempuan. Lalu, mama mengajak melihat-lihat tanaman yang ada di halaman depan. Dari beliau saya jadi tahu sama yang namanya sawo India, dan menyicipinya untuk pertama kali dalam hidup saya. Hampir sama dengan sawo biasa, tapi dagingnya berwarna putih dan kulitnya hijau.

Besok paginya, sebelum ke bandara, saya berkesempatan bertemu ayah yang baru sampai dari Jakarta. Sosoknya, persis seperti bayangan saya tentang bapak-bapak di negeri timur Indonesia: tinggi besar, kulit gelap, dan bersuara berat tapi kebapakan. Lagi-lagi, beliau ramah menyapa saya.

Sebelum ke bandara, Santi masih menyempatkan diri mengajak saya ke jalan utama di Kupang yang dijadikan areal car free day setiap minggunya. Di sana, kami menyempatkan diri berfoto di gedung kantor gubernur yang berbentuk seperti sasando, alat musik tradisional khas Kupang.

Puas banget rasanya ke Kupang. Santi seolah ingin memaksimalkan waktu saya selama di sana. Dia dan mama bahkan berpesan supaya saya kembali lagi ke NTT, tapi harus ke Flores, karena pemandangan alam di sana lebih indah dan lebih banyak yang bisa dilihat.

Aah, mama, Santi… sebenarnya saya memang mau ke sana.

Rencana ke Flores

Awal tahun kemarin saya berencana solo traveling ke Flores sebagai hadiah ulang tahun bagi diri sendiri. Saya sudah menghitung hari agar bisa ke Pulau Komodo, Wae Rebo, dan Danau Kelimutu. Masih ada tempat lain, tentunya, di pulau cantik nan eksotis itu yang ingin saya kunjungi, tapi ketiga destinasi itu adalah hadiah utamanya.

Faktanya, rencana berubah, saya tergoda ke Kupang karena pingin lanjut ke tanah mantan yang sekarang memerlukan paspor untuk memasukinya. Rencana itu pun berjalan mulus dan menyenangkan.

Tahun ini, semoga saya bisa menjajal Flores sebagai hadiah ulang tahun pada September nanti. Kebayang, kalau di Pulau Timor saja pengalaman saya begitu penuh kenangan, apalagi di Flores. Pasti lebih seru, karena saya berencana naik kapal dan bus umum menuju tempat-tempat yang saya inginkan. Nggak sabar bertemu warga lokalnya, berkeliaran di bukit gersangnya yang cantik, lalu bersentuhan dengan laut birunya, kemudian menutup hari dengan magisnya senja.

Belum pergi saja, saya sudah rindu ke sana.

Tapi… ke sana itu tidak murah bagi saya. Harus menyiapkan dana dan waktu yang lebih, karena saya tinggalnya di Bengkulu. Setidaknya seminggu, weekend ke weekend, kalau bisa ada tanggal merahnya, supaya nggak begitu banyak mengambil jatah cuti kantor.

Oleh sebab itu… lantaran jarak yang bakal ditempuh nanti lumayan panjang dan biayanya mahal, sekarang saya mulai rajin mengintip harga tiket pesawat di Skyscanner. Pinginnya sih, dapat tiket pesawat Garuda Indonesia. Saya rindu sama kenyamanan terbangnya. Meskipun terkenal dengan harganya yang lumayan tinggi, sepadanlah sama layanannya. Kalau belinya jauh-jauh hari, siapa tahu bisa dapat harga tiket pesawat Garuda promo yang angkanya bersahabat.

Soal tiket promo Garuda ini, ternyata, informasinya bisa didapatkan dengan mengecek laman situsnya Skyscanner setiap hari. Selain itu, bisa juga dengan mendaftarkan alamat email ke newsletter Skyscanner. Setiap ada update harga, infonya akan dikirim lewat email.

Cara lain, saya juga sudah mengunduh dan pasang aplikasi Skyscanner di ponsel. Lebih praktis kalau mau mengecek harga tikep pesawat kemanapun.

Btw, ini bukan situs penjual tiket, tapi situs penyedia informasi harga tiket pesawat termasuk maskapainya. Kalau ada harga yang cocok, silahkan klik, nanti diarahkan ke website maskapai dan website yang menjual tiket pesawat. Contohnya ini:

Oiya, sebelum lupa, selain sebagai sumber informasi tiket pesawat murah yang terpercaya di dunia, Skyscanner juga merupakan sahabat para pejalan untuk mendapatkan informasi soal penginapan/ hotel, serta rental mobil. Semuanya sesuai dengan kebutuhan para traveler.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner

12 comments Add yours
  1. Gilak sih kalo indonesia bagian timur sana. Kayaknya memang ga ada yg ga cakep pemandangannya ya mbaa 🙂 . Dan memang butuh wkt cuti lamaab sih supaya puaaasss… Aku jg msh blm sempet2 ke Timur Indonesia. Timor leste udh lama dimasukin ke bucket list tp blm juga sempet. Tiketnya slalu kalah ama destinasi luar lain yg lbh murah 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *