Ne’ Pakku Manja Family House, Sensasi Menginap di Rumah Keluarga Asli Toraja

Kepalangan jauh ke Tana Toraja, kenapa nggak tinggal bareng warga lokal, pikir saya, menjelang keberangkatan ke Tana Toraja untuk pertama kalinya. Saya bisa langsung merasakan suasana dan budaya mereka yang unik. Kalau bisa, di rumah tongkonannya.

Cari punya cari, sampailah saya pada Ne’ Pakku Manja Family House di laman situs Airbnb. Dari foto-fotonya, saya langsung jatuh hati dan mantap bermalam di sana. Saya membayangkan tinggal di rumah tradisional Toraja, dan langsung berinteraksi dengan penghuninya.

Tongkonan khas Toraja di halaman rumah

Lokasi

Setelah berkomunikasi dengan Meyske, pemilik Ne’ Pakku Manja Family House, dan memastikan saya bakal tinggal semalam di tempatnya, dia pun memberikan koordinat rumahnya.

Gampang sebetulnya menemukan tempatnya, tapi karena agak linglung membaca peta, saya terlewat agak jauh. Untung ketemu warung. Awalnya ibu pemilik warung tidak tahu di mana Ne’ Pakku, lalu dia bertanya kepada tetangganya yang kebetulan sedang jalan mendekat ke arah kami. Rezeki anak soleha, si ibu tetangga tahu dan bilang bahwa Ne’ Pakku masih keluarganya.

Tanpa mikir, ibu pemilik warung bergegas mengantarkan saya dengan mengendarai motornya sendiri. Agak nggak enak, sebenarnya, tapi hari mulai gelap dan saya nggak yakin bisa langsung menemukan lokasinya. Si ibu tidak hanya menunjukkan tempatnya, tapi ikut mengantarkan saya sampai ke teras rumah.

Kalau dari jalan, kita bakal sering melihat pekarangan yang penuh dengan barisan tongkonan, karena memang rumah-rumah yang ada tongkonannya pasti memiliki halaman yang luas. Jadi, jalan masuknya juga lebar. Jangan terkecoh, itu bukan gang, itu jalan masuk rumah orang.

Ne’ Pakku berada di daerah La’bo, tidak jauh dari Gereja Karerang, dan di seberang Toko Bamba. Saya sudah lihat tadi jalan masuknya, tapi ya itu tadi. Saya pikir gang.

Kalau dari jalan raya utama, atau orang sana menyebutnya jalan poros, patokannya adalah pertigaan yang ada patung kerbau bule. Bagi yang mengandalkan kendaraan umum, ada banyak ojek di pertigaan. Seandainya naik bus dari Makassar, bisa langsung minta berhenti di simpang tiga ini. Saran saya, mending sewa motor dulu di Rantepao. Lebih praktis.

Sepanjang jalan menuju Ne’Pakku, saya melewati barisan perumahan warga dan bentangan sawah. Masih banyak yang hijau-hijau. Pas banget buat menetap selama liburan. Udaranya sejuk.

Tarif

Harga yang dipatok untuk menginap di sini adalah Rp180.000 per orang, sudah termasuk makan pagi.

Kalau kamu datang berdua, biayanya bakal didiskon untuk orang kedua.

Mungkin karena sadar lokasinya agak jauh dari keramaian, tamu bisa minta disiapkan makan malam, tinggal ngomong sama pemiliknya. Terus kalau muslim, pastikan menunya muslim friendly.

Kemarin saya nggak tahu, jadi pas ditanya apakah mau ikut makan malam, dengan sedikit kecewa, saya mengaku masih kenyang lantaran sore tadi, sebelum check-in, saya makan dulu. Padahal asyik bisa dinner bareng tamu lain serta Meyske dan suaminya.

Fasilitas

Seperti rumah pada umumnya, tempat ini dihuni Meyske bersama suami dan ibunya, serta seekor anjing jinak. Barisan tongkonan di pekarangan mencirikan bahwa mereka asli keturunan Toraja. Rumah tersebut merupakan warisan keluarga yang telah berusia ratusan tahun.

Deretan tongkonan itu berfungsi sebagai tempat menyimpan padi. Awalnya, saya pikir bakal tidur di salah satu tongkonan itu. Ternyata kecele. Lagian ukurannya juga relatif kecil sebagai hunian.

Tapi, ketika siangnya ke Kambira, di sana ada tongkonan besar yang dihuni sebuah keluarga. Sayangnya saya nggak masuk karena sudah sore. Untunglah sempat masuk di Kete Kesu walaupun tidak terlalu besar juga.

Ne’ Pakku Manja adalah rumah berlantai dua dengan atap berornamen tongkonan terbuat dari seng, bukan bambu, seperti yang seharusnya. Lantai satu khusus untuk pemiliknya, sementara semua tamu berada di lantai atas.

Ne’ Pakku Manja Family House tampak depan

Bedanya, areal bawah dibangun permanen dengan lantai dan tembok semen, lantai dua didominasi kayu. Jendelanya cuma berhias gorden tanpa penutup apapun. Tenang… kalau kamu khawatir digigit nyamuk karena rumah ini dikelilingi banyak pohon, tersedia kelambu. Bahkan, selama di sana, anjingnya nggak pernah ke atas.

Setiap kamar dilengkapi dengan kasur, bantal, selimut, handuk, lemari, serta rak kecil, dan colokan. Meskipun biaya kamarnya dihitung per orang, kasurnya lebar, bisa untuk berdua. Di tengah-tengah ruangan ada sofa untuk bersantai dan meja makan kayu.

Kopi dan teh tersedia, lengkap dengan pemanas air yang bebas untuk diseduh sendiri. Sarapannya istimewa, tidak seperti penginapan murah yang cuma menyediakan roti dan selai. Pagi itu kami disajikan pancake pisang, buah anggur, dan es krim.

Porsinya lumayan banget. Saya mesti pelan-pelan mengunyah agar mampu menghabiskannya. Untung makan bareng tamu lain, jadi bisa santai sambil ngobrol.

Satu yang unik dari tempat ini adalah kamar mandinya. Luas, dengan konsep outdoor. Dindingnya sebagian bata, sebagiannya lagi kayu dan bambu. Ada bagian atap yang sengaja dibuka agar hujan bisa langsung menyirami tanaman yang ditempatkan di sana. Mandinya pakai gayung, tapi toiletnya duduk, kok. Tersedia sabun kalau kamu nggak bawa.

Meskipun di kamar mandi utama itu sudah ada toilet, di sebelahnya tetap ada ruang khusus wc. Ini buat yang kebelet, tapi belum mau mandi.

Suasana di Ne’ Pakku Manja Family House

WiFi? Belum ada, lantaran belum ada sambungannya. Walaupun begitu, sinyal lumayan kencang. Listrik, tentunya ada.

Kegiatan favorit saya, meskipun cuma menginap semalam disana, adalah nongkrong pagi di balkon sambil memandang deretan tongkonan di halaman depan. Sambil menyesap kopi toraja dan ngobrol tentang budaya lokal, lebih asyik lagi.

Oiya, kalau datang membawa mobil, lahan parkirnya luas banget. Motor, apalagi. Taruh saja di bawah rumah panggung yang ada di sana. Kata Meyske, itu masih rumah keluarga mereka.

Destinasi Terdekat

Homestay Ne’ Pakku Manja ini terletak di daerah selatan Tator. Semua destinasi wisata wajib Toraja sangat mudah dicapai dari sini. Yang paling dekat adalah Kete Kesu.

Dari penginapan, tinggal belok kiri di pertigaan kerbau bule kalau mau ke kuburan batu Londa dan Lemo. Setelah itu lanjut ke pohon kuburan bayi, Kambira. Terus lanjut ke patung Yesus, Buntu Burake. Besok pagi, sebelum sarapan, melipir dulu ke Lolai, Negeri di atas Awan.

Pusat kota Rantepao cuma beberapa menit naik kendaraan. Ada juga angkot kalau tidak yakin naik motor sendiri. Tinggal tunggu di depan halaman rumah, tapi cuma sampai sore.

Pengalaman unik saya, sebelum pulang saya sengaja pinjam kain ke Meyske untuk foto-foto di halaman rumahnya. Pagi itu saya akan ke Kete Kesu, dan jaga-jaga kalau di sanaΒ  ramai dan nggak bisa berfoto tanpa ada orang di sekeliling. Kain nggak ada, tapi saya dipinjamin baju ibunya. Untung muat.

Benar saja, seperti yang saya khawatirkan, Kete Kesu lagi ramai persiapan pesta kawinan esok harinya. Bukan lagi banyak orang, tenda dan ornamen pesta memenuhi Kete Kesu. Untung sudah punya foto di Ne’ Pakku.

Kontak

Lumayan seru, lho, menginap di rumah asli orang Toraja. Sayang, saya cuma semalam. Fyi, Mesyske ini juga seorang guide, dan banyak tahu tentang spot dan kegiatan menarik di kampung halamannya. Kamu bahkan bisa diajak melihat mayat yang belum dikubur, kalau kebetulan waktunya pas.

Silahkan hubungi kontaknya apabila berencana ke Tana Toraja dan ingin merasakan sensasi menginap di rumah penduduk lokal:

Ne' Pakku Manja Family House
Airbnb: https://www.airbnb.com/rooms/15286965?guests=1&adults=1
Telepon/ WA: +62 813-4115-8500
Instagram: @nepakkumanjabnbtoraja

30 Replies to “Ne’ Pakku Manja Family House, Sensasi Menginap di Rumah Keluarga Asli Toraja”

  1. Jadi perhitungan harga per orang ya. Kalau berdua baru dapat diskon. Kalau aku pasti mikir buat nyari makanan halal. Untungnya bisa pesan. Jadi mudah.

  2. Menarik ya mbak menginap di rumah tradisional begini. Jadi maksimal menikmati daerah Toraja jadinya ya
    Tapi kamar mandinya gk bakal diintip kan ya? Hihi

    1. Paling monyet yang ngintip. Ketutup. Aku juga ngecek-ngecek sebelum mulai buka-bukaan. πŸ™‚

  3. Wah, bagus banget. Aku tahu nih kalau patokannya patung kerbau Bule.

    Pertama kali ke Toraja, nginepnya di pusat kota Rantepao. Kayaknya, kalau berkunjung lagi ke Toraja, harus menginap di sini deh.

    Terima kasih ya untuk infonya πŸ™‚

  4. Menarik juga ya kalau ke Toraja nginep di rumah penduduk. Ketimbang nginep di hotel, pasti nggak ada cerita yang bisa ditulis. Beda kalau nginep di rumah penduduk, apalagi bila rumahnya berbentuk tongkonan seperti ini. Pinter yang punya homestaynya, semoga semakin banyak traveler yang tertolong dengan tempat menginap seperti ini di Toraja

  5. Kalau menginap di rumah tongkonan gitu memang sensasinya lain ya. Saya pikir rumah tradisional masih kaya di Wae Rebo gitu. Ternyata ini sudah lebih modern ya.
    Semoga saya kesampaian ke Toraja suatu saat nanti. Amin

  6. Aku kalau ke tator nginapnya di saudara mba yang di Rantepao, kangen banget suasana tator yang beda, pengalaman berharga banget bisa menginap dirumah warga ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *