Optimis Menyambut 2018 Bersama Destinasi Impian

Sebagai yang punya tahi lalat di telapak kaki, jalan-jalan ke semua penjuru bumi, bukan lagi keinginan, tapi sebuah keharusan. Gatal kaki dan pusing kepala kalau dalam sebulan tidak kemana-mana.

Nggak usah jauh-jauh. Di kota sendiri yang tempatnya belum pernah didatangi saja sudah cukup puas. Yang penting punya pengalaman baru.

Tahun 2017 ini, alhamdulillah, lumayan banyak destinasi anyar yang saya injak untuk pertama kalinya. Saya mencoret beberapa bucket list, yaitu melihat orangutan di Kalimantan, menyentuh ka’bah, menatap makam Nabi Muhammad dari dekat, dan melihat Patung Yesus tertinggi kedua di dunia yang berada di Dili, Timor Leste.

Kalau dibilang belum puas, namanya juga manusia. Ditambah saya punya impian keliling dunia. Semakin banyak bepergian, semakin besar keinginan untuk mewujudkan impian tersebut. Inilah yang selalu menjadi doa saya.

Mimpi itu saya dekap erat. Tidak ada yang tidak mungkin kalau saya berusaha. Tapi mungkin caranya tidak instan. Saya punya pertimbangan, orang tua yang harus diberi pemahaman tentang impian ini, serta pekerjaan yang tidak mudah menerima alasan saya untuk cuti dalam waktu lama.

Saya mungkin tidak bisa seperti Trinity yang bisa dengan sengaja mengambil waktu satu tahun untuk keliling dunia. Barangkali Tidak Alan pernah seperti para digital nomad yang bebas kemanapun mereka mau tanpa meninggalkan pekerjaannya. Namun satu yang pasti, saya tetap bergerak. Slow but sure.

Saya percaya Tuhan punya cara untuk membawa saya terbang ke tempat-tempat yang saya mau, bahkan mungkin ke sudut dunia yang sebelumnya tidak saya pikirkan. Itu sebabnya saya tidak pernah pesimis. Saya fokus melangkah di jalur yang mengarah ke cita-cita saya.

Meskipun hanya sesekali dan sebentar, saya selalu meluangkan waktu untuk bepergian. Sebagai blogger bergenre travel, saya juga berusaha mencari peruntungan dengan mengikuti lomba blog yang hadiahnya jalan-jalan atau voucher tiket. Saya pernah menerima job tulisan yang bayarannya voucher pesawat terbang. Saya pun rajin mencari informasi tentang workshop atau kursus di luar kota yang biayanya ditanggung penyelenggara. Intinya, saya tak patah arang mencari jalan supaya bisa keluar sejenak dari domisili saya.

Nyatanya, seperti yang saya bilang, jalan saya pelan. Tuhan mungkin tidak memudahkan saya pergi dengan cara memenangkan lomba berhadiah pelesiran, atau meloloskan aplikasi pendaftaran saya. Dia tahu saya mampu tanpa itu semua.

Saya hanya diberi kemenangan kecil dalam beberapa lomba blog berhadiah uang tunai. Kan, ini bisa menambah isi tabungan saya. Izin lumayan mudah saya dapatkan saat mau menghilang dari kantor, ini membuat perjalanan saya menjadi tenang. Tiket dengan harga promo sudah beberapa kali saya dapatkan, ini menghemat pengeluaran saya

Itu yang saya sadari, belum rezeki yang datangnya tidak saya sadari. Kondisi badan yang fit selama di jalan serta kebaikan-kebaikan kecil yang saya terima saat dalam perjalanan hingga membuahkan beragam bahan tulisan, adalah tanda sayang Tuhan kepada saya.

Kepekaan hati untuk selalu bersyukur inilah yang ingin selalu saya tanamkan dalam diri. Keinginan dan kebutuhan saya, hanya Tuhan yang tahu kapan harus terpenuhi.

Selaras dengan impian saya, setiap tahunnya saya selalu membuat resolusi yang ada hubungannya dengan sebuah tempat. Dulu, memasuki 2017, saya membuat resolusi ke Flores, tapi tidak kesampaian. Saya malah ke Pulau Timor yang sama-sama termasuk dalam Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mumpung ke sana, saya nekad lanjut ke Timor Leste.

Siapa sangka saya bisa sampai juga ke Timor Leste. Dulu cuma ngomong doang pingin ke sana.

Cerita lain, tiba-tiba orang tua mengajak saya umrah bareng akhir April lalu. Siapa yang bisa nolak. Ini impian semua umat Islam di dunia. Prosesnya dimudahkan dari awal pendaftaran, hingga kembali pulang ke rumah.

Tahun depan, entah kemana angin akan membawa saya. Kalau ditantang harus membuat resolusi 2018, jawabannya pasti tidak jauh dari dunia traveling.

Resolusi Jarak Jauh

Setelah tercapai impian salat di dua masjid agung impian semua muslim di dunia, ada satu masjid lagi di dunia yang ingin saya rasakan bagaimana beribadah di dalamnya. Rumah Tuhan ini punya cerita penting dalam sejarah islam, khususnya dalam kisah kerasulan Nabi Muhammad.

Iya, saya mau ke Masjidil Aqsa.

Setelah mendengar ceramah ustad selama umrah tentang anjuran nabi agar mengunjungi tiga masjid besar bagi umat islam, naluri pejalan saya bergetar. Saya ingin melaksanakan pesan tersebut.

Pulang-pulang, saya langsung mencari tahu bagaimana cara mengunjungi Yerusalem, tempat Masjidil Aqsa berdiri. Saya bahkan sudah menghubungi pihak travel yang menawarkan perjalanan ke sana.

Prosedurnya gampang, ternyata. Hanya perlu menabung karena biaya melancong ke sana lumayan mahal. Tidak bisa perorangan, harus dalam rombongannya, jadi butuh agen travel.

Saya berucap dalam hati ingin berangkat tahun depan. Sekarang saya sedang memilih perusahaan travel yang sesuai dengan budget, dan tentunya yang terpercaya. Mudah-mudahan terlaksana dan saya diberi kelancaran sepanjang perjalanan.

Lepas dari konflik berkepanjangan di sana, saya hanya ingin melihat keindahan kotanya, seperti yang pernah saya tonton di tayangannya Amazing Race dan videonya Nas Daily tentang Palestina dan Israel.

Bagaimana rasanaya berbaur dengan warga di sana dan melihat kehidupan mereka dari dekat.  tidak sabar rasanya punya pengalaman berada di kota yang dianggap suci bagi penganut islam, nasrani, dan yahudi ini.

Pengalaman di sana bakal menjadi pelengkap yang indah dalam catatan hidup saya.

Resolusi Jarak Dekat

Tahun depan saya bertekad menuntaskan rasa penasaran dengan makhluk purba bernama komodo. Beberapa kali mengikuti kompetisi berhadiah ke sana, saya selalu gagal. Ditambah ongkos ke sana lumayan mahal buat saya yang berdomisili di Sumatra.

Saat saya di Kupang September lalu, saya bertemu beberapa kenalan baru. Semuanya menyarankan saya ke Flores.

Harus ke Flores! Bagus banget! itu kata-kata teman-teman Kupang yang selalu saya ingat sampai hari ini. Nanti masuknya dari Labuan Bajo, terus lanjut ke Pulau Komodo. Balik lagi ke Bajo biar bisa ke daerah-daerah lain. Ke Ende, Maumere, Larantuka. Semua indah kalau di Flores. Harus ke sana!

Dikasih angin begitu, makin kuat keinginan saya terbang ke pulau yang sekarang menjadi primadona pariwisata Indonesia. Tidak bisa sebentar, pastinya. Saya juga tidak berniat di akhir pekan saja kalau nanti berhasil ke sana. Setidaknya seminggu, karena saya berencana menjelajah Flores melalui jalur darat.

Ke Kupang kemarin, saya sudah terkesima dengan senja di Pantai Lasiana, terus naik minibus full music ke Dili. Apalagi di Flores nanti, keindahan dan keseruan seperti apa yang bakal terjadi.

Persiapan Mewujudkan Resolusi 2018

Karena tahun depan resolusinya didominasi traveling dan traveling, persiapan fisik adalah yang utama. Mulai sekarang saya harus mempersiapkan mental dan tenaga. Tabungan juga penting, tapi uang nggak berarti kalau terserang penyakit.

Nggak enak banget badan ngedrop saat jalan-jalan. Pernah saya nggak enak badan saat traveling, rasanya uuu… jauh dari nyaman. Bawaannya pingin tiduran terus. Sayang waktu dan sayang uang. Jadi, saat traveling, kalau sakit jangan lama-lama.

Untunglah, belum pernah sampai sakit parah saat jauh dari rumah. Paling sakit kepala karena masuk angin. Seandainya sampai jatuh sakit, saya sudah punya solusinya.

Sejak tahun kemarin, saya berkenalan dengan benda kecil berkhasiat besar, bernama Theragran-M yang dipercaya sebagai vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan.

Theragran-M sudah diresepkan oleh para dokter sejak tahun 1976. Tidak ada keraguan lagi untuk menjadikannya sebagai teman jalan. Makanya, suplemen yang juga berfungsi sebagai vitamin untuk mengembalikan daya tahan tubuh setelah sakit ini, selalu ada dalam daftar bawaan saya.

Iya, kalau jalan-jalannya ikut  agen travel, bisa pilih-pilih fasilitas. Kalau jalannya selebor dan berprinsip pokoknya sampai tujuan walau biaya minim, terserah mau naik apa atau tidur di mana, gimana nggak berisiko terserang jamur, bakteri, atau virus. Ujung-ujungnya kondisi tubuh melemah. Bubar semua itinerary yang dirancang.

Namanya manusia, pasti ada saatnya badan minta perhatian. Berbagai penelitian menemukan adanya korelasi kekurangan Magnesium dan Zinc dalam tubuh dalam bentuk alergi, infeksi, serta penyakit yang disebabkan oleh jamur, bakteri dan virus. Bila kebutuhan nutrisi, vitamin, serta mineral harian tidak dapat dicukupi melalui makanan yang dikonsumsi setiap hari, badan butuh asupan dari sumber lain, yakni suplemen.

Itu sebabnya saya agak pilih-pilih makanan saat traveling. Jangan pelit demi irit budget, tapi akhirnya jatuh sakit. Asupan vitamin dan mineral harus cukup. Kekurangan keduanya dapat menyebabkan penurunan stamina hingga menimbulkan berbagai penyakit. Supaya terhindar dari gangguan ini, Theragran-M telah menjadi benda wajb dalam ransel saya.

Suplemen pedukung ini diketahui mengandung vitamin yang baik untuk mengembalikan kondisi tubuh setelah sakit. Seandainya sakit, lemasnya nggak akan lama-lama. Kira-kira begitu efek positifnya.

Kombinasi Multivitamin (Vitamin A, B, C, D, E) dan Mineral Esensial (seperti Magnesium dan Zinc) di dalam Theragran-M terbukti dapat meningkatkan, mengembalikan dan menjaga daya tahan tubuh, serta mempercepat proses penyembuhan. Cocok untuk masa penyembuhan berbagai jenis sakit yang membutuhkan dukungan kekuatan fisik yang maksimal.

Sepertinya pas buat traveler yang sering berada di tempat dan cuaca ekstrim. Biar tetap fit dan semangat menjelajah dunia.

Saat dibutuhkan, cukuplah dikonsumsi satu kaplet sehari, sewaktu atau sesudah makan, atau sesuai dengan anjuran dokter. Nggak baik juga kalau berlebihan.

Semoga semesta mendukung, bersama Theragran-M yang kaya vitamin dan mineral, saya optimis akan mampu mewujudkan destinasi impian di tahun 2018.

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network

dan Theragran-M.

40 comments Add yours
  1. smoga resoulusinya terwujud mba. kesehatan itu memang penting yaa…jgn sampe udah capek2 ngumpulin uang u travelling trus sakit…ntar malah uangnya kepake u berobat mala

  2. Aku merasa terteror dengan tulisan resolusi di beberapa blog yang aku baca. Hahaha. Aku belum menyiapkan apa-apa di dalam otak ini untuk menghadapi 2018. Semangat ya Kak, biar resolusi keren ke Aqsa bisa tercapai tahun depan. Aamiin.

  3. Kadang suka ngerasa ajaib sendiri ya kak kalo impian yang didekap erat itu beneran ke wujud dengan caranya sendiri, cara yang bahkan gak kita duga sebelumnya. :)) Aku juga merasa hal yg sama, suka pengin jalan selamaaa mungkin tapi ya itu kebentur kewajiban, tapi bener juga, gak apa berjalan pelan yang penting terus bergerak 😀 Memotivasi sekali, Makasii kak!
    And yes! Kesehatan paling utama. Setujuuuu
    Semoga resolusinya tahun depan bisa terwujud semua yaa kak

  4. Amin amin untuk semua resolusinya. Wah, impian ke Masjidil Aqsa pun saya juga pengen mbakkk, tapi ke makkah dan Medinah aja belum 😀 Tak ada yg salah dgn impian ya, krn itu bagian dari doa, hehe

  5. Aamiin. Masjid Al Aqsa? Saya belum pernah berminat ke sana, takut dengar berita -berita pertempuran di sana, tetapi setelah membaca artikel ini kok saya jadi tertantang ya.

    Semoga semuanya tercapai ya mbak.

  6. Suami saya suka banget traveling.. tpi saya kurang terlalu suka traveling.. kalau lihat dr postingan kakak, sebenerenya traveling seru y kak… pengin banget suka..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *