Panas-Panasan Berburu Mural di Penang

Kesempatan ke Penang akhirnya datang pada akhir Februari 2015. Sebelum berangkat saya sudah mencari-cari informasi mengenai Penang atau orang Malaysia menyebutnya Pulau Pinang sehingga tahu bahwa mural-mural yang menjadi target kunjungan saya ini ada di daerah George Town yang merupakan UNESCO World Heritage Site. Dari peta-peta yang sudah saya ambil di bandara, saya dapat petunjuk bahwa mural di sana banyak tersebar di Jalan Armenia atau Lebuh Armenia. Kemudian, setelah ngobrol dengan host saya, dia menyarankan untuk mengambil peta yang khusus menunjukkan lokasi-lokasi mural yang ada.

Sebenarnya ketika berada kawasan Goerge Town saya sudah melihat banyak mural dan instalasi kawat dengan karakter-karakter komik yang dilengkapi beberapa tulisan, namun karena mereka bukan target utama saya, makanya hanya beberapa yang menurut saya menarik saja yang saya foto. Penempatannya sangat menarik dan alami, bukan di dinding khusus yang licin dan bersih, tapi pada dinding-dinding bangunan yang kondisnya sengaja dibiarkan apa adanya, misalnya yang plasteran batanya sudah rontok atau yang cat temboknya sudah pudar dan mengelupas, bahkan tempatnya pun tidak hanya di jalan-jalan besar, tapi juga di lorong-lorong jalan. Hal itu disengaja atau tidak, saya pun no idea.DSC_3560

Saya mendapatkan peta khusus mural di Tourist Information yang ada di Lebuh Pantai. Setelah sedikit bertanya tentang arah ke Lebuh Armenia kepada petugasnya, saya pun segera menuju ke sana. Ketika sedang berjalan sambil menikmati arsitektur gedung-gedung di kiri-kanan, saya melihat ada lukisan besar di sebuah gang dan di bawahnya ada sekelompok perempuan yang sedang cekikikan dan asyik mengarahkan telepon genggamnya ke tembok satunya. Ketika saya melihat, o o… target pertama ketemu! Mural seorang anak yang sedang mengendarai motor. Langsung saja saya mendekat dan menyiapkan kamera, menunggu mereka yang masih bergaya. Saya tidak yakin sedang berada di Lebuh Armenia karena menurut peta jalan itu ada di belokan satunya. Tapi yaa sudahlah…

Seperti biasa, karena solo traveling, saya minta tolong untuk difotokan, dan sebagai balasnya saya gantian memotokan mereka. Setelah semua pergi baru saya bisa puas memoto muralnya secara utuh sebelum keduluan dengan pengunjung lain yang pasti ingin punya foto yang sama dengan kami tadi.

Saya langsung berasumsi bahwa mural yang lain pasti ada di dekat-dekat sana. Segeralah saya berjalan menyusuri jalan sampai ujung dan sesekali belok ke gang-gang kecil, mengikuti beberapa orang yang dari gerak-geriknya sama seperti saya, sedang berburu mural. Di sebuah gang buntu, tidak jauh dari mural motor, saya menemukan lukisan Bruce Lee dan gajah yang belalainya berupa paralon saluran air. Dari sini saya melanjutkan pencarian dengan menduga-duga arah berdasarkan banyaknya orang yang berjalan ke sana, karena mungkin di sanalah ada mural-mural “most wanted” lainnya. Tidak berapa lama, saya melihat toko pakaian yang menjual kaos-kaos bergambar mural dan landmark kota Penang. Kepada pemiliknya saya sedikit bertanya tentang lokasi mural, dan hanya diberitahu lokasi mural anak kecil yang mengambil gelas. Kata pemiliknya, dia akan memberitahu lokasi mural lainnya kalau saya membeli dagangannya. Saya hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih sambil melipir pergi… Emangnya gue nggak bisa nyari sendiri.

Sesuai petunjuk si penjual kaos, saya berbelok ke kiri dan waspada dengan tembok dan gang. Kalau lengah, pasti mural anak yang sedang menggapai gelas ini kelewatan karena posisinya nyempil di dinding sebuah cafe mungil yang juga menjual kartu pos dan suvenir khas Penang. Banyak ornamen payung warna-warni di tempat yang juga menjual es krim berwadah kelapa muda kecil ini. Selanjutnya, ketika sedang asyik jalan, mata saya menangkap segerombolan orang yang rupanya sedang cepat-cepatan berfoto dengan mural sepeda. Segera saja saya berbelok, tapi harus sabar dan pilih-pilih orang yang kira-kira bersedia memotoi saya. Rupanya, inilah Lebuh Armenia, sesuai dengan plang yang ada di depan jalan.

DSC_3577Tinggal satu lagi mural yang harus saya temui, yaitu ayunan. Dengan mengikuti petunjuk peta, ke arah jalan Armenia di bagian seberang, saya merasa sudah berada di tempat yang benar, tapi kok, tidak menemukan apa-apa, bahkan tidak melihat gerombolan turis seperti yang sudah-sudah. Mulai saya kebingungan. Mau bertanya kepada pedagang yang ada di dekat sana nggak enak karena cuma nanya tapi tidak membeli minuman yang dijualnya. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke tempat semula dan mecoba pelan-pelan menyusuri jalan itu sekali lagi, dan tetap tidak melihat mural ayunan, malah saya ketemu mural bakul makanan yang dilukis di dinding sebuah warung makan. Sedikit kesal, saya akhirnya mencoba jalan lain dan bertanya kepada beberapa orang. Tetap saja responnya kurang memuaskan karena tidak ada yang tahu di mana tepatnya lokasi mural ayunan yang sudah saya perlihatkan gambarnya, walaupun mereka mengarahkan saya untuk mencari ke jalan yang dari tadi saya lalui. Nggak mungkin sudah tidak ada, batin saya. Tapi saya jadi paham bahwa orang setempat tidak begitu peduli atau mungkin tidak hapal dengan mural-mural yang ada di sana.

Dengan orang terakhir yang memberitahu bahwa yang saya cari mungkin berada di jalan yang dari tadi saya putar-putari, saya pun untuk kembali ke sana. Setelah berhenti untuk melihat-lihat sejenak, saya putuskan untuk bertanya kepada penjual minuman di persimpangan jalan yang dari tadi saya hindari. Dengan sok-sok menggunakan Bahasa Indonesia bernada Melayu saya bertanya di mana lokasi mural ayunan yang saya tunjukkan gambarnya. Dalam hati saya berkata bahwa mungkin bapak ini sudah dari tadi melihat saya bolak-balik ke jalan ini. Tahu apa yang terjadi? Dengan santainya dia menunjuk ke gang kecil yang berada di seberang jalan yang kebetulan ada orang yang sedang masuk ke sana. Yaa Allah... Pagi tadi saya sudah lewat depan gang itu, dan kenapa dari tadi tidak kepikiran melongok ke sana. Segera saya berterima kasih dan berlalu ke sana.

Benar saja, ada yang sedang foto-foto. Dan ketika mendekat dan mendapatkan apa yang mungkin lebih dari sejam yang lalu saya cari, tak terkatakan betapa senangnya hati ini. Mission accomplished. Tempatnya di dinding bangunan semacam gudang yang hanya ada gang selebar satu setengah mobil di sampingnya. Persis di depan bangunan yang ada tulisan PRESS. Begitu keluar dari Lebuh Armenia, jangan nyeberang ke gang yang di samping kuil, tapi ke gang yang di sebelahnya. Benar-benar nggak nyangka. Di sinilah pepatah malu bertanya sesat di jalan terbukti. Kalau dari tadi saya nanya ke pedagang itu, nggak perlulah saya kular-kilir sampai gosong.

Ada cerita seru di sini. Ketika saya datang ada cewek bule yang juga sedang difoto oleh bule lainnya. Mereka dua orang bule dan satu cowok oriental, saya pikir mereka berempat itu saling berteman. Mendekatlah saya sambil menyiapkan kamera, lalu ketika cewek bule yang tadi difoto beranjak dari ayunan, saya segera minta tolong ke cowok oriental yang sudah dari tadi melihat saya, dan sepertinya tahu apa maksud saya, minta tolong difotoin. Rupanya si cewek bule itu sendirian juga sebab dia tidak ikut pergi bersama tiga orang tadi. Lalu, karena kurang puas dengan hasil foto si oriental, saya pun minta tolong lagi difotoin sama si bule yang untung bersedia. Setelah menyerahkan kamera saya langsung berjalan ke dinding dan mengambil posisi yang sudah direncanakan. Berdiri di ayunan. “Oh, this is good!” seru si bule sambil tersenyum dan mengambil foto saya. Setelah itu gantian dia yang minta difotoin lagi. Coba tebak posenya? Yep, berdiri di ayunan. Ikut-ikutan aja nih, si bule, pikir saya. Tidak lama, muncullah seorang perempuan yang dari penampilannya saya yakin orang Indonesia. Setelah si bule turun, si mbak ini menegur minta tolong ke saya untuk difotoin. Dan tahu bagaimana gayanya? Sama, berdiri di ayunan.

“Mhm… every one wants the sama pose.” celetuk saya.

“Yeah, you’ve given the idea.” Timpal si bule sambil bersiap pergi.

Si mbak pun saya tegur, dan memang benar dia saudara setanah air.

P.S.

Kalau ingin bebas berfoto bersama mural-mural di Penang mesti malam-malam karena saya sudah membuktikannya. Ketika malamnya melewati Jalan Armenia lagi, saya melihat hanya sekitar dua atau tiga orang yang sedang berada di depan mural sepeda, jadi tidak perlu lama menunggu untuk berfoto.

IMG_1732

2 comments Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *