Perjalanan, Caraku Bersyukur dan Bergembira

“Bikin apa, cuy? Sibuk banget.”

Begitu biasanya teman di kantor menegur saya yang sedang berkerut dahi di depan komputer. Pikirnya saya mendapat disposisi dari atasan untuk menyelesaikan sebuah tugas.

“Nghm… cuma cari tiket…” Timpal saya sambil menoleh sejenak.

“Mau kemana lagi, Relin…?” Sambar rekan kerja yang mejanya persis di depan saya.

Hehehe

Bukan hal yang aneh bagi teman-teman di tempat kerja kehilangan saya satu dua hari, atau seminggu. Mereka tahu saya bukan pergi untuk urusan kantor. Itu karena mereka tahu saya nggak betah diam. Hobi banget traveling.

Begitulah… Saya tidak bisa menahan dorongan hati untuk selalu beranjak dari tempat saya menetap. Setiap pulang jalan-jalan, bukannya leyeh-leyeh istirahat, malah mikir mau kemana lagi. Isi ransel juga belum kelar di keluarkan. Empuknya kasur di kamar sendiri rela ditukar dengan leher pegal karena tidur sambil duduk di bus malam.

Entahlah, saya begitu menyukai bepergian, apalagi ke tempat yang belum pernah diinjak. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan hanya berpikir bagaimana caranya bertahan hingga besok, seolah memberi saya tujuan hidup.

Begitu berencana akan mengunjungi sebuah destinasi baru, saya akan bangun pagi dengan semangat. Bergegas mandi dan ke kantor untuk terhubung dengan Internet. Saya tak sabar melakukan riset tentang tempat tersebut sambil mencari cara paling hemat ke sana.

Dalam pandangan orang dalam satu ruangan, saya sangat produktif. Betah di depan monitor sambil sesekali mencatat dan mengambil sesuatu dari printer hingga jam pulang. Memang, saya sibuk dengan urusan pribadi, tapi saya tak lantas lupa akan kewajiban. Sebelum izin tidak masuk kantor, saya selalu menyelesaikan semua tugas. Alhasil, tidak ada yang menghubungi saya untuk menanyakan soal kerjaaan selama saya tidak di tempat.

Bagi saya, pekerjaan saat ini hanya memberi uang. Alat untuk saya melakukan sesuatu yang dibisikkan hati. Itu sebabnya, saya selalu merasa terbebaskan saat jauh dari kantor. Jangankan pergi keluar kota untuk liburan, diajak makan di luar kantor saja saya sudah senang.

Traveling adalah cara saya merasakan bahagia. Membuat saya bersyukur masih bisa bernapas. Riang hati ini saat menyusuri jalan yang belum pernah ditapaki, menelan makanan yang belum pernah dicicip, dan berbincang dengan orang lain dalam bahasa berbeda. Ini cara saya merayakan kehidupan yang diberi tuhan.

Biaya tiketnya terkadang mahal. Pengalamannya pun tidak jarang menyebalkan. Tapi saya tetap tersenyum lebar karena mampu keluar dari rutinitas, dan bertemu dengan hal-hal baru. Meskipun tak kaya harta, kaya pengalaman, batin saya.

Perjalanan juga mengajarkan tentang potensi diri yang tidak saya sadari. Pernah, saya yang tidak terbiasa mengendari motor matic, terpaksa menyewa motor matic. Tidak ada pilihan, kecuali saya mau jalan kaki belasan kilometer dari satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya. Awalnya memang sulit, motor saya melaju pelan dan sering oleng. Lama-lama, saya mulai berani menggerakkan gas lebih kencang, memotong pengendara lain, lalu kembali dalam keadaan selamat. Dada saya berdegup kencang saking girangnya. Sekarang, tidak ada kekhawatiran lagi apabila diminta pakai motor matic.

Asal tahu, saya bukan tipe traveler manja yang tidur di hotel mahal dan pergi dengan agen travel terkemuka. Saya solo traveling dengan bawaan ringan dan budget ketat. Moto saya, sebisa mungkin mendapatkan kenikmatan maksimal dengan biaya minimal.

Bawaan disesuaikan dengan durasi perjalanan. Lebih seringnya cuma bawa satu ransel, karena lebih praktis. Kalau naik pesawat atau bus, tidak perlu bagasi.

Lain halnya kalau pergi urusan kantor, apalagi cuma berjarak dua tiga jam dari kota. Biasanya saya akan pergi bersama beberapa orang teman dan naik mobil pribadi. Perjalanannya juga santai, jadi nggak masalah kalau bawa tas cantik.

Meskipun tas cewek, muatannya bisa banyak. Paling sering saya bawa tas selempang. Selain bisa untuk keperluan pribadi, laptop 13 inci juga masuk. Mau bawa berkas juga tidak akan terlipat-lipat, serta masih pantas dibawa ke acara formal.

Bicara soal tas untuk segala situasi, saya sedang mengincar Phillipe Jourdan Sling Bag yang ada di iLOTTE. Modelnya simple, tidak banyak ornamen, warnanya cantik, serta terkesan kuat untuk diisi banyak barang. Tampilannya yang klasik membuat tas ini bisa dibawa ke berbagai acara, kasual dan formal.

Kalau kamu perempuan, dan punya hobi seperti saya, boleh, tuh, melipir ke istyle.com yang menyediakan berbagai inspirasi hobi wanita aktif. Tidak hanya traveling, ada juga fashion, kecantikan, kuliner, dan gaya hidup. Eits, inspirasi hobi pria juga ada di laman situs ini.

Well… begitulah cara saya merayakan hidup. Cara kamu?

 

3 comments Add yours
  1. Aku pengen travelling kaya mbk. Pengen kemana-mana untuk bisa nyecap banyak pengalaman. Tapi aku takut solo travelling gtu. Tlisan ini lg2 bkin smngt pngn travelling. Makasih mbk sharingnya. Salam, muthihauradotcom

  2. sha juga lebih suka pake tas2 macem gini. Di tambah body yang mungil, suka diledekin tasnya kaya orangnya. Tapi ya enjoy aja sih 😀 lebih enak di bawa travelling dan ga ribet krn semua ada di situ, gak susah ngawasinnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *