Persiapan Mudik Ceria dan Hemat ala Anak Masa Kini

 Yey, saatnya perbaikan gizi!

Dulu, sebagai anak rantau yang kuliah di Bandung, libur lebaran adalah saat yang dinanti karena masakan ibu yang sedap dan banyak sudah terbayang di pelupuk mata.

Sudah niat saya waktu itu untuk pulang hanya setahun sekali, yaitu pas momen lebaran. Liburan semester saya gunakan untuk jalan-jalan ke daerah lain. Begitu pulang, pelampiasan rindunya total.

Untunglah orang tua tidak keberatan. Alhasil, setiap mudik, persiapannya selalu maksimal.

1. Jadwal libur lebaran

Mau mahasiswa atau pekerja kantoran, pastikan betul tanggal berapa mulai bisa libur dan kapan masuk kembali. Tapi, jangan terlalu kaku. Kalau dikira sehari atau beberapa hari sebelumnya sudah bisa hilang tanpa menggaggu tugas dan absensi, ya, berangkat saja. Yang penting, tidak ada pekerjaan yang terhambat hanya karena kamu tidak ada di tempat.

Kebiasaan saya, kalau ada tugas yang harus diserahkan sebelum libur lebaran, akan segera saya tuntaskan secepat kilat. Saya mau fokus mudik, soalnya, beli tiket, beli titipan, dan membuat daftar acara selama berada di kampung halaman.

2. Tuslah

Bukan hal aneh kalau ada kenaikan tarif angkutan saat menjelang dan setelah lebaran yang ditetapkan pemerintah, seiring dengan melonjaknya jumlah penumpang. Inilah alasan utama kenapa saya harus tahu jadwal libur lebaran. Supaya bisa membeli tiket yang belum kena tuslah. Maklum, anak kost, uang dalam jumlah berapapun haruslah dihemat.

Tuslah biasa dikenakan dari H-7 sampai H+7 lebaran. Kenaikannya sekitar 20% dari ongkos normal. Lumayan, kan.

Sekarang, sih, enak, mau mudik pakai jalur udara, pesan tiket pesawat bisa online. Niat pulang sekarang, bisa langsung pesan sekarang, dan langsung bayar. Dulu, mesti datang langsung ke loket, kurang yakin kalau booking lewat telepon. Iya, kalau tempatnya dekat, bisa tinggal jalan, kalau jauh, keburu malas. Begitu datang, harga tiket sudah berubah.

Belasan tahun silam, saya selalu mudik naik bus dari Bandung ke Bengkulu, karena bisa langsung meskipun waktu tempuhnya sehari semalam. Kalau naik pesawat, harga tiketnya terbilang mahal, dan masih harus ke Cengkareng, walaupun terbangnya hanya sekitar satu jam.

Kini, sejak maskapai penerbangan mulai banyak dan harga tiket relatif terjangkau, orang-orang cenderung naik pesawat kemana-mana. Pertimbangannya adalah waktu, apalagi pas hari raya. Lebih cepat sampai, maka akan lebih lama waktu bersama keluarga, teman, dan kerabat. Bukankah itu esensinya idulfitri, silaturahmi.

Nah, yang masih bingung mau pesan tiket pesawat kemana, mending ke HIS, agen travel yang sudah dikenal sebagai pengelola perjalanan ke Jepang dan tujuan internasional lainnya. Sekarang, HIS memiliki program HISGO domestik yang juga melayani penerbangan ke berbagai kota di Indonesia. Ada pula Paket Wisata Domestik yang bisa dipilih andaikan kamu masih blank mau melakukan apa selama mudik nanti. Ayo pesan sekarang, sebelum tuslah diberlakukan!

3. Oleh-oleh

Untunglah, keluarga saya tidak banyak tuntutan setiap saya mudik. Saya pulang saja mereka sudah senang. Anggota keluarga intinya ngumpul semua. Kalau ada uang lebih, biasaya saya membelikan sesuatu untuk ayah dan ibu. Kalau tidak, cukuplah makanan yang tidak ada di kampung halaman saya, yang langsung bisa disantap saat buka puasa.

Kalau kamu memang tipe pemberi, ada baiknya membeli oleh-oleh jauh sebelum hari mudik. Dicicil sedikit demi sedikit. Saya lelah kalau harus belanja saat sedang puasa, apalagi kalau yang mau dibeli susah dicari. Belum lagi harus disusun di dalam tas. Lama.

4. Keperluan pribadi

Pernah dulu, ujian akan dilaksanakan setelah libur lebaran. Mengetahui itu, terpaksa saya mudik membawa beberapa buku kuliah. Harapannya, akan dibaca-baca saat ada waktu luang di rumah. Nyatanya, sampai kembali lagi, bacaan itu tidak tersentuh, hanya jadi pemberat tas.

Kalau sekarang, kejadian ini rasanya jarang terjadi. Bahan kuliah atau berkas kantor sudah tersimpan dalam bentuk digital, seperti dropbox, google drive, atau email, yang bisa diakses kapan dan di manapun. Bawaan pribadi yang paling dipikirkan, mungkin hanya pakaian dan asesoris untuk ngeceng di kampung halaman. Baju baru, sepatu, dan pernak-pernik yang dirasa tidak ada di sana.

Tapi, jangan terlalu banyak. Kalau baju sehari-hari, kan, masih banyak di lemari. Bukan apa-apa, kalau saya, paling tidak mau membawa barang banyak setiap bepergian. Ribet. Kalau bisa hanya gendong satu ransel. Saya merasa mudik lebih nyaman tanpa banyak bawaan.

Bagi yang mudik jauh dengan bus seperti saya dulu, cemilan wajib ada. Nasi bungkus, bahkan saya bekal supaya tidak makan di restoran yang harga makanannya mahal dan belum tentu enak. Meskipun sedang puasa dan bus akan berhenti di rumah makan, kamu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di jalan. Mungkin saja kendaraannya mogok di pinggir hutan saat waktu berbuka atau sahur, atau bus baru berhenti setelah waktu buka dan sebelum waktu sahur, sementara kamu belum lapar. Pun saat naik pesawat, kalau ternyata pesawatnya delay sampai jam buka puasa, gimana? Sebagai antisipasi dan penghematan, makanan dan minuman harus tetap dibekal.

5. Alat komunikasi

Ada empat hal yang tidak boleh ketinggalan saat mudik di zaman sekarang: smartphone, pulsa, paket data, dan power bank. Keempat hal ini bisa dianggap sebagai penyambung nyawa bagi para pejalan. Kapan dan di manapun, posisi sebagai pemudik harus update, agar keluarga yang menunggu bisa tahu dan bersiap menjemput.

Zaman masih naik bus dulu, telepon genggam hanya bisa untuk telepon dan sms. Kalau bosan menikmati pemandangan di luar jendela, saya akan berusaha tidur, ngemil, atau ngobrol dengan orang di dekat saya duduk. Itu pun kalau orangnya terlihat asyik. Sekarang, ponsel adalah alat efektif untuk membunuh waktu di perjalanan panjang. Mau texting dengan keluarga atau teman selagi ada sinyal dan kuota, mau baca, mau nge-game, atau mau nonton, bisa lewat smartphone.

Jadi, sebelum berangkat, pastikan baterai di ponsel dan di power bank penuh, serta ada pulsa dan kuota yang cukup untuk internetan. Jangan lupa charger, pastinya.

Begitulah kira-kira persiapan mudik menjelang lebaran yang ceria dan hemat ala saya, mantan anak rantau yang kekinian.

HIS GO Mudik - Blogger Competition

17 comments Add yours
  1. Ngerasain mudik naik pesawat ya pas waktu kerja di luar negeri saja.
    Kalau sekarang mudiknya naik motor hehehe
    Eh iya, dulu buat membunuh jenuh pas naik bis yang ampuh ya ngobrol sama penumpang sebelah hehehe

  2. mudik memang jadi hal yang selalu diimpi-impikan. apalagi kayak mbak yang pulang kampung setahun sekali :). biasanya kalau perjalanan ya paket data, power bank, tak boleh kelewat 😀

  3. Sekitar 4 tahun lalu aku pernah mudik dadakan, seminggu sblm lebaran baru beli tiket, ndilalah dapat tiket Garuda murah bingit buat dua org hehe. Emang pas rejeki sih, mungkin tiket cancel’an kali ya, jd dijual murah.

  4. Setuju semua. Ceki-ceki tanggal libur, tiket, oleh-oleh, dan gadget plus printilan nya. Oleh-oleh kayaknya sepele, tapi penting juga. Seneng kalau bisa ngasih sodara-sodara hehehe.

  5. Mudik pake pesawat memang pas kalo buat yg ngerantau jauh gitu
    Tapi ya tiketnya kalo pesen deket hari sering mahal
    Suami aja mw pulang dr yogya k bkl tiketnya dah 2x lipat dr biasa

  6. Sekarang kalau lebaran dan mudik kudu wajib bawa laptop, kamera, gawai, oleh-oleh, dan buku. Bisanya kalau lagi suntuk pengen santai di rumah enaknya baca buku sambil ngeteh/ngopi 😀

  7. Mudik memang menjadi hal yang menggembirakan dan harus ada kesiapan jauh2 hari, apalagi kalau mudik menggunakan pesawat mbak, kalau nggak pesan tiket jauh2 hari bisa kuras kantong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *