Persiapan Umrah Bagi First Timer

Untunglah, ibadah umrah tidak seperti ibadah haji yang hanya setahun sekali dan butuh waktu sekitar 40 hari, kecuali haji plus. Umrah bisa dilakukan kapan saja dan hanya sembilan hari. Banyak yang sudah menjalankannya, bahkan mungkin ada yang bolak-balik setiap bulan. Saya sendiri tidak menyangka akhirnya bisa ke Mekkah tahun ini. Kalau soal niat, muslim mana di dunia yang tidak ingin ke tanah suci. Tinggal waktu yang akan menjawab.

Sebenarnya, rangkaian ibadah yang juga disebut haji kecil ini sepenuhnya dilaksanakan di Kota Mekkah. Tapi, kalau sudah ke Arab Saudi, tidak berziarah ke makam Rasulullah dan dua sahabatnya yang ada di dalam Masjid Nabawi, Madinah, sayang sekali. Tak heran, kedua kota ini dijadikan satu paket dalam ibadah umrah.

Nah, meskipun tujuan umrah adalah ibadah, sebagai yang hobi jalan, saya melihat ada unsur liburannya juga. Khususnya saat di Madinah, kebanyakan orang agak santai dalam mengisi waktunya dengan foto-foto dan belanja, lalu fokus ibadah saat di Mekkah.

Sebelum berangkat, secara ini bukan perjalanan biasa, saya cemas sekaligus riang gembira mempersiapkannya. Alih-alih menghapal doa-doa, pikiran saya didominasi soal pakaian. Hehehenamanya juga perempuan.

Saya browsing foto-foto orang yang ke baitullah. Alhasil, sampailah pada satu kesimpulan yang mendorong saya untuk berbagi tips tentang persiapan umrah, khususnya bagi para first timer macam saya (dulu):

1. Agen travel terpercaya

Jarak dari saya memutuskan setuju berangkat umrah dengan hari keberangkatan, mungkin hanya sekitar enam minggu. Biro perjalanan yang dipilih adalah yang saya anggap terpercaya dan memiliki jaringan di beberapa kota besar di Indonesia.

Pelayanan yang baik dan keterbukaan informasi juga menguatkan saya akan biro perjalanan ini. Jadwal keberangkatannya jelas dan bisa dipilih. Saat manasik, jamaah diberitahu itinerary dan nama hotel selama di Mekkah dan Madinah. Bahkan, komunikasi dengan stafnya juga terjalin lewat WhatsApp.

2. Nama yang terdiri dari tiga kata

Paspor wajib punya. Bagi yang belum, pembuatannya akan dibantu oleh pihak travel. Kalau yang sudah punya, asalkan namanya terdiri dari tiga kata, tinggal duduk manis menunggu visa yang juga diurus agen travel. Cukup serahkan pasfoto dengan latar putih, dan berjilbab bagi wanita.

Tapi, kalau nama hanya satu atau dua kata, harus melampirkan dokumen pendukung yang ada nama orang tua, misalnya ijazah atau akta kelahiran, nanti akan ditambahkan nama ayah di belakang namanya.

Fyi bagi yang sudah punya paspor tapi foto di paspor tidak berhijab, tenang. Foto berjilbab dan penambahan nama hanya tercantum pada visa. Tidak akan mengubah atau menghilangkan bagian depan paspor yang sudah ada identitas pemiliknya.

3. Tanggal menstruasi (khusus perempuan)

Perhatikan betul jadwal kedatangan ‘tamu bulanan’-nya. Jika berbarengan dengan rangkaian ibadah ini, sebaiknya mengkonsumsi pil penunda menstruasi yang takarannya harus dikonsultasikan kepada dokter kandungan atau bidan.

Waktu itu saya diberi norelut. Dimakannya dua kali sehari, dimulai dari dua minggu sebelum halangan pada bulan keberangkatan sampai dengan hari terakhir umrah. Oleh sebab itu, harus diingat betul tanggal berapa haid terakhir.

Andaikan… seperti saya. Sudah benar makan pilnya teratur, tiba-tiba obatnya hilang, entah tercecer atau terselip di mana, padahal ibadahnya tinggal dua hari lagi, JANGAN PANIK. Langsung tanya dokter yang biasanya menemani perjalanan grup umrah. Kalau dokter tidak punya obatnya, tinggal beli di apotik yang banyak di sana, atau minta teman. Hehehe…

Norelut dan primolut

Lain lagi cerita teman yang obatnya saya mintai. Sebelum berangkat dia sudah mengonsumsi obat penunda mens, tapi tiba-tiba keluar flek. Oleh kenalannya, dia dikasih semacam obat herbal, tapi flek tidak hilang. Konsultasilah dia ke dokter, dan disarankan membeli obat. Dapatlah primolut yang dimakannya setiap selesai makan, tiga kali sehari. Mujarab, fleknya langsung berhenti.

Obat lain yang saya pernah baca adalah nerotisteron dan prenatin. Khasiat dan kandungannya sama saja, hormon estrogen.

4. Suntik Meningitis

Vaksinasi meningitis adalah kewajiban bagi yang mau ke Arab Saudi, termasuk balita, karena negara ini merupakan endemik virus meningitis. Masa aktifnya selama dua tahun.

Bukti bahwa sudah divaksin adalah buku kuning yang diselipkan di paspor. Jangan sampai hilang, siapa tahu bakal balik ke sana lagi sebelum dua tahun.

Well, ada ketentuan khusus sebelum divaksin. Bagi perempuan yang masih dalam usia subur atau masih mengalami datang bulan, harus dites kehamilan sebelum disuntik. Jadi biayanya berbeda, sedikit lebih mahal dari para pria dan ibu-ibu yang tidak haid lagi.

5. Perlengkapan pribadi

Perlengkapan pribadi yang paling memberatkan koper, hanyalah pakaian. Dari biro perjalanan, saya dikasih bahan batik, mukena, dan bahan gamis, Untuk laki-laki hanya bahan batik dan dua helai kain ihram. Ditambah pakaian untuk sehari-hari, maka beratlah tas.

Tidak ada aturan khusus mengenai pakaian para wanita. Mau gamis atau tunik dengan celana panjang, tidak masalah, selama menyamarkan lekuk tubuh dan menutupi rambut. Hanya ketika umrah dan salat, aurat wajib ditutup. Kalau sehari-hari, sih, biasa saja. Tapi, saya selalu mengenakan kaus kaki setiap ke masjid. Hijab bebas, bisa segitiga, pasmina, yang model sorong, atau yang mesti disemat peniti. Kalau belum punya, mending belanja online dan temukan koleksi hijab modis buat persiapan ke tanah haram. Pakai mukena juga boleh banget, biar keciri orang Indonesianya.

Laki-laki, sih, super praktis. Tapi kain ihram jangan sampai ketinggalan, karena wajib dikenakan saat menjalankan ritual umrah: tawaf, sai, sampai tahalul. Sebelum dan setelahnya, bebas. Kemeja, baju koko, celana panjang, sarung, atau gamis ala-ala orang Arab, boleh, termasuk saat tawaf sunah dan tawaf wadak. Juga kepala, mau ditambahin sorban, topi haji, kopiah, atau tidak sama sekali, tidak masalah, kalau sedang tidak berihram. Yang cuma pakai kaos dan jins ada, malah.

Tapi… karena cuaca di sana dominan panas, bawalah pakaian berbahan ringan. Warna, terserah. Mau hitam biar berasa kayak wanita Arab atau warna cerah untuk kepentingan berfoto, no problemo.

Perlengkapan lain, seperti kosmetika dan obat-obatan pribadi, bawalah sesuai kebutuhan. Alat mandi, biasanya sudah tersedia di hotel. Pengalaman saya, jumlah handuknya disesuaikan dengan jumlah tamu yang menginap di satu kamar. Satu lagi, bawa sandal untuk bolak-balik hotel – masjid.

N.B. Di Masjidil Haram tidak ada rak penitipan sandal, seperti di Masjid Nabawi, jadi harus dibawa ke dalam.

6. Bacaan doa

Ada baiknya belajar sekilas tentang bacaan salat-salat sunah, seperti salat tasbih, salat hajat, salat mayit, dan salat tobat, agar bisa dipraktikkan di sana. Untuk doa-doa, coba hapalkan doa sebelum minum zam-zam dan doa saat melihat ka’bah.

Saat umrah, bacaan tawaf dan sai akan dituntun oleh muthawif (pemandu/ustad). Tapi jarang terdengar jelas karena suasana di sana ramai, dan orang-orang juga melafalkan bacaan-bacaannya. Solusinya adalah membaca doa sendiri, salawat dan zikir, misalnya.

7. Perintilan kecil

Percaya, setiap orang pasti punya kebutuhan atau barang remeh-temeh yang selalu dibawa kemanapun sebagai pelengkap dan penyelamat hidup.

  • Payung, topi, dan sun glasses, boleh banget dibawa. Juga krim pelembab bibir dan pelembab kaki.
  • Colokan listriknya kaki tiga pipih, tapi bisa, tuh, nyolokin charger yang kakinya bulat dua seperti di Indonesia. Bisa beli di sana, kalau mau.
  • Ponsel boleh dibawa ke dalam masjid. Kamera juga boleh, mungkin, asal lolos dari pemeriksaan penjaga. Fyi, kalau di Masjid Nabawi, penjaganya akan memeriksa tas jamaah di pintu masuk.
  • Kursi roda akan disiapkan oleh pihak travel asalkan memberitahu dari awal atau langsung menyewa di sana. Kalau mau tawafnya lebih asyik lagi, khusus untuk di lantai tiga Masjidil Haram, ada penyewaan motor-motoran, tapi jauh dari ka’bah.

  • Paket internet. Kalau memang butuh, bisa beli paket yang sudah bisa diaktifkan saat masih di tanah air, dan usahakan dipakai secara maksimal, karena berlakunya cuma selama di luar negeri. Kalau saya, cukuplah mengandalkan Free Wi-Fi hotel.
  • Uang riyal (SAR), katanya lebih murah ditukar di sana, dan tempat penukarannya banyak di sekitar hotel. Kalaupun tidak bawa cash, tinggal ambil di ATM, tapi ribet kalau tidak tahu di mana lokasinya.

Gimana, gampang, kan, umrah. Begitulah kira-kira persiapannya yang bisa saya bagi.

 

5 comments Add yours
  1. Kok saya jadi senang nama saya terdiri dari tidak kata ya. Hehehe. Wah, kadang jadi pengen minum pil penunda haid saat bulan puasa ini. heheh.. Sip2. Makasi infonya Mba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *