Sabtu Seru Bersama ID Corners Menuju Puncak Monas

Jakarta Night Journey. Tiga puluh blogger berkesempatan naik ke puncak Monumen Nasional pada malam hari. GRATIS.

Siapa yang tidak tergoda dengan ajakan Indonesia Corners tersebut. Orang Jakarta sendiri belum tentu pernah naik sampai ke atas Monas.

Melihat tanggalnya, 22 Oktober, segera saya mengisi form pendaftaran. Tidak mau kehilangan kesempatan, saya juga mengirim email ke admin ID Corners agar dijadikan waiting list seadainya kuota sudah penuh.

Singkat cerita, datanglah email yang meminta konfirmasi kehadiran pada JNJ. Yeay! Langsung saya balas sambil membayangkan serunya perjalanan nanti. Alat perang juga sudah siap: kamera digital dan handphone yang fully charged.

Sesuai informasi, semua yang ikut diminta berkumpul di Balaikota Jakarta sekitar jam 11 siang. Di sini, kami di-briefing oleh adminnya Indonesia Corners, Mbak Donna dan Mas Salman, mengenai rute dan rule selama perjalanan nanti.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jakarta Smart City Lounge di lantai 3. Begitu keluar lift, kesan modern tapi simple langsung terasa. Ada layar vertikal yang menyerupai smartphone dan menampilkan fitur-fitur Jakarta Smart City (JSC) yang menyambut pengunjung. Belok kanan, kami langsung masuk ke ruangan adem yang dipenuhi sekat kaca transparan.

Sedang banyak stafnya hari itu, muda-muda dan terlihat smart. Mereka bukan PNS, tapi disebut Staf Ahli Profesional, makanya tampilannya casual dan khas anak muda zaman sekarang. Ada Mas Daniel hari itu yang bertugas memberikan penjelasan tentang cerdasnya sistem komputerisasi di JSC. Kami dibawa ke ruangan yang ada monitor besar yang memenuhi salah satu dinding. Monitor ini bisa menampilkan segala yang terjadi di wilayah Jakarta, termasuk juga data dalam angka yang bisa diakses publik. Bahkan, siapa saja bisa datang ke tempat ini secara bebas.

Seru kayaknya kerja di sini. Walaupun komputer di mana-mana, suasananya terlihat asyik. Mereka memantau semua yang terjadi di Jakarta dalam arti positif. Sebuah objek akan makin disorot seandainya ada laporan warga yang masuk melalui aplikasi QLUE, lalu diteruskan ke tingkat kelurahan dengan aplikasi CORP yang terintegrasi dengan JSC. Setelah itu, keluhan akan langsung disampaikan kepada dinas terkait untuk direspon. Tapi, kalau CCTV menangkap hal yang dicurigai, tanpa menunggu laporan, ya, akan segera ditindak. Pokoknya, tidak ada kesan lelet dalam menghadapi persoalan di Jakarta. So, jangan macam-macam di Jakarta!

Meskipun masih terpesona dengan kecanggihan Jakarta Smart City, kami harus beranjak ke spot selanjutnya, yaitu Gedung Balaikota Jakarta, tempat manusia paling populer di Jakarta selama kurang lebih lima tahun ini berkantor. Yup, kami diizinkan berkeliaran di tempat Pak Ahok kerja yang hanya berjarak tiga lantai dari Jakarta Smart City Lounge. Sayang, ruang kerjanya tertutup untuk umum, tapi saya cukup puas bisa masuk dan duduk di jok yang biasa beliau tempati saat mengadakan jumpa pers.

Klasik dan simple adalah kesan saya tentang bangunan lama bercat putih ini. Bagus buat foto-foto bertema tempo doeloe, bahkan katanya banyak juga yang bikin foto prewedding di sini. Iya, tempat ini terbuka untuk umum. Datang aja!

Lagi-lagi, belum puas menyusuri tiap sudut Balaikota, kami harus ke destinasi selanjutnya, yaitu Kawasan Kota Tua. Kali ini kami akan menaiki Bus City Tour Jakarta, busnya dua tingkat yang bisa dinaiki oleh semua orang tanpa harus membeli tiket. Khusus untuk event ini, tersedia bus warna kuning yang sore itu hanya diisi oleh rombongan kami. Berasa istimewa, nggak, sih, bisa keliling Jakarta dengan bus pribadi. Nggak perlu rebutan duduk di lantai atas.

Bus yang juga disebut Mpok Siti ini bersih, nyaman dan ada pemandunya. Harusnya, si mpok pemandu bercerita tentang tempat-tempat yang ada hubungannya dengan sejarah Jakarta di sepanjang jalan yang kami lalui. Tapi, karena mpoknya mungkin terlalu komunikatif dan antusias bertemu kami, yang ada banyak bercandanya, apalagi saat dia mulai bertanya apakah di antara kami ada yang ingin menyumbangkan lagu. Sontak, berbagai nama penyanyi terkenal keluar dari beberapa teman untuk menunjuk rekan yang dianggap bisa bernyanyi, seperti Raisa, Cita Citata, Tulus, dan Rhoma Irama. Tak ayal, membuat perjalanan menjadi penuh tawa dan riuh.

Sayang, perjalanan kami agak terhambat. Bukan Jakarta, kan, namanya, kalau nggak macet, khususnya saat masuk daerah Harmoni dan Glodok, yang lancar cuma lajurnya TransJakarta. Hal ini mengakibatkan kami tidak bisa berlama-lama menikmati Kawasan Kota Tua, yang banyak ditempati oleh bangunan-bangunan tua peninggalan zaman Belanda.

Ketika bus mendekati Kawasan Kota Tua, terlihat keramaian yang memenuhi areal tersebut. Turis dan warga tumplek jadi satu di depan pelataran yang dikhususkan untuk orang, di depan gedung putih besar bertuliskan GOUVERNEURSKANTOOR. Dari sini, terlihat banyak bangunan kuno yang terlihat masih kokoh berdiri di sekelilingnya, dan sekarang banyak difungsikan sebagai kantor pemerintah, museum, dan tempat usaha.

Seandainya ide merevitalisasi kawasan ini benar-benar terwujud, termasuk juga kanal-kanal di sekitarnya, pasti suasana Old Batavia, sebutan Kawasan Kota Tua pada zaman dulu, akan benar-benar terasa. Namun, menurut Mas Ari Sulistyo dari Dinas Pariwisata DKI, yang sore itu bertugas membagi cerita tentang Kawasan Kota Tua kepada kami, rencana tersebut terganjal isu klasik, yaitu pedagang kaki lima dan kemacetan. Mhm

Saya suka banget memandangi arsitektur art deco seperti di tempat ini. Sayang, kami hanya turun bus untuk berfoto grup. Kami sedang berpacu dengan waktu untuk sampai ke Monas sebelum magrib. Harus ke sini lagi, batin saya sambil berjalan menuju bus.

Beruntung, kami tiba sesuai jadwal di kawasan Monas, sehingga punya banyak waktu untuk beristirahat sebelum menggapai puncak Monumen Nasional. Sambil menunggu aba-aba selanjutnya, kami foto-foto dan menikmati nasi kotak yang telah disiapkan. Makan sambil menatap emas di atas monumen, dan juga seliweran manusia yang memenuhi kawasan Monas.

Foto-foto sudah, makan nasi kotak juga sudah, sekarang saatnya kami menutup rangkaian perjalanan sabtu sore ini dengan memandang Jakarta dari ketinggian. Let’s go!

Saya dan beberapa teman, bermaksud berjalan kaki ke pintu masuknya Monas, karena malas ngantre untuk naik odong-odong yang disediakan gratis bagi pengunjung. Baru beberapa langkah dari haltenya, terdengar pengumuman bahwa kereta wisata dikhususkan untuk pengunjung yang ingin masuk ke dalam Monas. Langsung kami berbalik dan bergabung dengan antrean, tepat saat keretanya sudah datang.

Mhm, sepertinya belum ada yang pernah naik ini, gumam saya. Tidak terlalu jauh, sih, kalau mau jalan kaki, tapi karena takut salah, dan gagal masuk, mending naik kereta wisata aja. Dijamin sampai ke pintu masuk.

Begitu anggota lengkap, kami segera turun menuju pintu masuk Monas yang ada di bawah tanah. Hehehe, saat yang lain pada antre tiket, rombongan kami bebas melenggang masuk, ditemani bapak petugas yang tidak sempat kami tanyai namanya. Dia hanya berpesan agar kami tenang agar membuat nyaman pengunjung lain. Jangan sampai ketahuan bahwa kami tamu istimewa sore itu.

Oiya, tiketnya murah, kok: Rp4000 untuk pelajar, Rp8000 untuk mahasiswa, dan Rp15.000 untuk umum. Kalau nggak mau naik ke atas, bisa sampai cawannya aja, dan bayar lebih murah.

Saking antusiasnya ingin segera mencapai puncak, kami melewati lantai pertama yang berisi diorama tentang Jakarta dan Monas. Penasaran sebenarnya saya, tapi mau gimana lagi, daripada ditinggal naik.

Kami yang berjumlah sekitar 35 orang ini langsung diarahkan ke lift yang langsung membawa kami ke ketinggian 115m, tapi bergantian setiap 10 orang. Nghm, bukannya tinggi Monas 132m? Iya, kalau ditambah emas di atasnya. Jadi, yang namanya puncak itu, adalah ruang pandang yang tepat berada di bawah tumpukan emas berbentuk api di atas monumen. Tinggi emas tersebut 17m.

Wooowww… begitu lift terbuka, kami langsung berseru dan berhamburan keluar, ke ruang terbuka yang terang benderang. Setengah dindingnya terbuat dari beton setinggi dada orang dewasa, berlapis marmer, dan setengahnya lagi berupa jeruji besi, yang memungkinkan pengunjung melihat langsung cahaya malam yang berasal dari gedung-gedung pencakar langit yang memenuhi Jakarta.

Saya masih belum percaya bahwa sedang di Monas, di dalamnya, dan dipuncaknya pula. Nggak penting lagi melihat gambar yang menerangkan gedung apa saja yang bisa terlihat dari setiap sisi ruangan. Semua langsung sibuk dengan mata dan lensa kameranya masing-masing. Foto diambil dari semua sudut, seolah tak ingin kehilangan keindahan malam Jakarta dari atas sini. Tak lupa berpose, tentunya. I am on top of Monas, and Jakarta is right down there.

Lupakan kamera sejenak, lihat langsung dengan mata telanjang! Cantik, loh, Jakarta dilihat dari ketinggian. Anginnya juga sepoi-sepoi, bikin betah. Lupa kalau di bawah sana jalanan macet dan ada yang sedang rebutan kursi jadi DKI 1.

Sekali lagi, kami terbatas waktu. Saatnya beranjak turun ke lantai dua, yaitu bagian mekar yang disebut cawan. Arealnya sangat luas tapi gelap, dan tampak ada pengunjung lain yang sedang duduk-duduk. Dari sini, terlihat jelas cahaya biru yang menjadi warna monumen malam itu. Kembali berbagai foto dari berbagai sudut diambil dari sini, tapi memang tidak seseru di atas tadi. Lagian, sudah lelah tampaknya. Kami semua lebih banyak duduk sembari bersantai dan ngobrol.

Di sini jugalah kami menutup keseruan Sabtu, 22 Oktober ini. Saling pamit untuk bertemu di lain kesempatan sempat terucap di mulut beberapa orang. See you, guys! See you, Jakarta!

16 comments Add yours
  1. Boleh kali ya kalau di Monas lama-lama, hehe. Iya, kunjungan ke Monas dan Kota Tua kayaknya bakal jadi agenda rutin nih Mbak. Kalau sedang tak mau antri panjang, datangnya pas hari kerja saja, pasti relatif lebih sepi, hehe. Kemarin saya sempat salah paham dengan si bapak yang menyambut kita di bawah tanah Monas itu lho, saya pikir kita dimarahi karena terlalu ramai, haha.

  2. Jakarta dr puncak Monas seru banget yaaak! Hihi beruntung banget saya orang Bandung bisa ada di sana sama Indonesia Corners, secara kalo sengaja ikut antrian mah gak tau kapan nyampenya ke puncak hohohoho.

  3. Aku udah beberapa kali liat Monas di malam hari, biasanya kalo mau ke atau habis dari stasiun. Tapi masuk ke area Monas dan apalagi naik ke atasnya malam-malam belum pernah. Jadi pengen nih. Kayanya seru banget deh acaranya ya? Btw, Inda datang langsung dari Bengkulu ya? Keren banget sih, niat banget πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *