Sailing Trip 3H2M ke Kepulauan Komodo, Ngapain Aja?

Sailing trip demi bisa menemui hewan purba bernama Komodo atau orang asing biasa menyebutnya Komodo dragon, di habitat aslinya, adalah impian lama yang akhirnya menjadi nyata. Tak hanya komodo, saya juga bersua dengan keindahan Laut Flores yang benar-benar mampu membuat lupa akan rutinitas harian.

Sebagian backpacker, demi menekan budget, biasanya hanya bergabung dengan trip harian. Tujuan utamanya hanya melihat komodo, dan singgah di satu atau dua pulau lain. Ada juga yang memilih paket 2H1M hanya untuk merasakan sensasi menginap di atas kapal. Tapi idealnya, dan yang banyak ditawarkan agen perjalanan, adalah live on board 3H2M.

Supaya tidak ribet, memang lebih baik booking trip jauh-jauh hari. Tapi kalau ragu dan malas japri-an dengan operatornya, bisa minta tolong saya langsung cari-cari saat di Labuan Bajo. Di sekitar pelabuhan, berderet travel agen yang menawarkan sailing trip. Atau bisa langsung pesan di penginapan.

Tapi… karena perjalanan kali ini hasil memenangkan sebuah kompetisi, bersama tujuh peserta lain yang semuanya hobi plesiran: Kokoh Maynard, Mas Suwardi, Dicky, Syahban, Lily, Ina, dan Teh Ira, kami berkesempatan mengitari Taman Nasional Komodo selama tiga hari dua malam dengan berkendara KM. Indu Komodo milik Be Borneo Tour.

Hari 1

Labuan Bajo – Pulau Kanawa – Pulau Rinca (Loh Buaya)

Peserta berkumpul di Pelabuhan Labuan Bajo, langsung di atas kapal kayu yang akan menjadi rumah kami selama di lautan. Sambil kapal bergerak pelan, ada briefing singkat yang disampaikan oleh Mas Indra, empunya kapal, mengenai rute pelayaran.

Pemberhentian pertama adalah Pulau Kanawa. Daratan berpasir putih dengan latar bukit di belakangnya ini menyediakan beberapa spot foto yang bisa dimanfaatkan.

Di sini kami menghabiskan waktu dengan snorkeling. Sayang, snorkel saya kurang mantap, ditambah masih kagok akibat lama tak menyentuh air asin, jadi agak ngeri main ke tengah, padahal di bawahnya terhampar taman laut yang sangat memesona. Jadilah cuma berenang-renang di tepian, dekat-dekat dengan pelampung. Kecipak-kecipuk nggak jelas, yang penting ngambang.

Meskipun warna lautnya toska bening, serta tampak ikan yang saling berkejar-kejaran, kondisi koralnya banyak yang rusak dan mati di bagian yang dekat daratan. Ini mungkin karena dangkal, sehingga banyak pengunjung yang tanpa sadar merusak karang dengan kaki kataknya.

Puas berjemur sambil basah-basahan, kami kembali ke kapal untuk menyantap makan siang. Kapal tetap melaju menuju tempat kedua, Pulau Rinca.

Komodo, I’m coming!

Saya sedang haid hari ketiga saat itu. Sudah deg-degan tidak bisa menatap komodo secara langsung. Ternyata, jangankan melarang, menyebut-nyebut soal pantangan saja, tidak, ranger-nya.

Ketika saya tanyakan soal itu, dia hanya menjawab: “Bisa jadi kalau memang lagi deras-derasnya, seperti hari pertama.” Gitu doang.

Kesimpulannya, nggak mesti makan pil penunda mens kalau cuma pingin lihat komodo!

Kami hanya mampir di Pulau Rinca atau disebut juga Loh Buaya untuk melihat habitat komodo. Menurut ranger yang menemani kami, ada sekitar 1200 ekor komodo di sini. Sementara di Pulau Komodo, populasinya sekitar 1500 ekor. Kenapa nggak kesana juga? Karena wilayahnya sangat luas. Kecil kemungkinan untuk menjumpai gerombolan komodo seperti yang kami temui di  pulau ini.

Di tempat ini semua bangunannya berbentuk panggung. Ada satu yang di dalamnya terdapat dapur. Aroma masakan dari sini mampu memancing komodo mendekat. Itu sebabnya pengunjung bisa sangat mudah menjumpai reptil buas itu di kolong bangunannya. Kami melihat sekitar lima ekor komodo yang sedang berdiam diri seperti pemalas di sana. Jangan dianggap mereka sedang bersantai, ya. Itu memang protapnya dalam mengintai mangsa.

Indescribable feeling that I finally was eye on eye with the Komodo dragons!

Untuk berfoto, ada batas yang diberi tanda dan dijaga oleh petugas. Pemandu kami sudah fasih benar mengarahkan gaya yang diinginkan pengunjung, misalnya pose seolah sedang mengelus punggung komodo. Aslinya, ada jarak sekitar 2-3 meter dari makhluk yang sepintas mirip buaya itu.

Rute yang kami ambil adalah jarak pendek (short trek). Medannya datar, tanpa perlu keliling bukit. Setelah melihat gerombolan komodo, kami digiring ke sarang telurnya yang dijaga oleh seekor induk dalam jarak beberapa meter. Warnanya yang nyaru dengan tanah dan rerumputan kering bisa mengecoh mata. Untung diberitahu oleh petugas yang sedang menerangkan kehidupan komodo di taman nasional itu.

Karena masih ada waktu, kami diajak ke sebuah bukit untuk menikmati pemandangan sekitar. Entah apa nama bukit ini, tapi kata petugas yang menemani kami, namanya Bukit Tampan, lantaran yang kerja di sana laki-laki semua. Bisa jadi bisa jadi…

Kapal kami tidak melanjutkan perjalanan karena bakal bermalam di sini. Bersama dua kapal lain, kami bersandar di dermaga dan menghabiskan malam di tepi Pulau Rinca. Lautnya sangat tenang hingga membuat kami semua bisa tidur dengan pulas.

Hari 2

Pulau Padar – Long Beach (Pink Beach) – Taka Makassar (Pasir Timbul) – Manta Point – Pulau Kalong

Next destination adalah pulau idaman sejuta turis domestik. Sayangnya kami baru bergerak setelah fajar sehingga harus berpacu dengan si terik matahari saat di pulau.

Kami termasuk beruntung. Selama beberapa hari ini, gelombang di sini dianggap kurang baik. Kapal-kapal bahkan dilarang mendekati Pulau Padar. Giliran kami, semua berjalan lancar.

Dari kejauhan, pulau ini tampak sangat jinak meskipun curam, apalagi ada fasilitas tangga kayu di awal pendakian. Nyatanya…

Jangan cuma nyiapin kostum terang kalau ke Pulau Padar! Bawa juga topi, sunblock, dan air minum! Wajib.

Untuk sampai ke spot yang bisa melihat ketiga teluk yang banyak beredar di Internet, kamu mesti banjir peluh dan helaan napas. Begitu tiba, kamu mesti antre kalau ingin berfoto, kecuali nemu sudut lain yang lebih menarik untuk dikeker.

Entah apa setiap hari begini, atau hanya karena akhir pekan, pengunjung siang itu sangat ramai. Enggak bule, nggak lokal, sepertinya sedang berkumpul di Pulau Padar. Emang, ke sini mending pagi-pagi, kalau siang, sang surya ganas banget.

Fyi, salah satu teluk di sini, adalah yang tampak pada uang Rp50.000 baru.

Dari sini, kami lanjut snorkeling ke Long Beach yang pasir putihnya bercampur dengan pecahan koral berwarna merah. Karang inilah yang memberi efek merah mudah dari kejauhan, makanya dikenal sebagai pink beach.

Siang itu kami tidak mengunjungi pink beach yang biasanya. Menurut pemandu kami, pasir di sana kurang pink dibandingkan Long Beach. Yaaa, nurut saja, yang penting bisa melihat dan menginjak pasir berwarna kemerahan.

Selain mengagumi pantai berpasir pink ini, kami juga menikmatinya dengan snorkeling. Airnya biru bersih. Tapi lagi-lagi, mainnya cuma berani di tempat dangkal. Nggak puas jadinya.

Dirasa cukup, kami kembali ke kapal untuk makan siang sambil meneruskan pelayaran. Enak banget makan, emang, kalau habis berenang.

Tujuan ketiga kami adalah Taka Makassar (Pasir Timbul), sebuah hamparan pasir di tengah laut. Walaupun dari jauh terlihat seperti dataran putih, di sini juga ditemui beberapa pecahan kecil koral merah.

Kami cuma foto-foto cantik di sini, sebagai bukti pernah ke sini. Tapi memang, tidak ada yang bisa dilakukan. Paling berenang di air dangkalnya yang berkarang agak tajam.

Sebelum merapat ke tempat bermalam, kami diajak ke tempat manta biasa berkeliaran (Manta Point). Sayang, arusnya lumayan kuat sore itu, hingga membuat nyali ciut. Hanya Syahban yang nekad nyebur dengan ditemani seorang kru kapal. Begitu naik, meskipun puas banget bisa melihat dan mendokumentasikannya dalam jarak lumayan dekat, dia agak cemas juga melawan arus yang mengelilinginya.

Kami yang di atas kapal ikut deg-degan menyaksikan usaha mereka berdua kembali ke kapal. Entah apa jadinya kalau saya juga ikutan terjun. Biarlah, mungkin lain kali saja saya berenang bersama manta. Hari ini cukup puas bisa melihat sosok hitam pipihnya dari kejauhan.

Terakhir, kami mengejar senja ke Pulau Kalong. Seperti namanya, kami akan menyaksikan gerombolan kelelawar beterbangan meninggalkan peraduannya.

Wuih, baru kali itu saya melihat langit penuh dengan sosok hitam si kalong. Nggak habis-habis rasanya mereka keluar dari pulaunya. Kami melepas kepergian mereka dari dek atas kapal sambil bersantai di bean bag. Tadinya mau nungguin mereka balik, menjelang subuh, tapi keenakan tidur.

Setelahnya, kami menyantap makan malam, dan menghabiskan sisa hari di tengah laut yang berada tak jauh dari Kampung Rinca. Terasa banget, badan mulai letih di hari kedua ini.

Hari 3

Pulau Manjarite – Pulau Kelor – Labuan Bajo

Last day, kami puas-puasin di Pulau Manjarite. Tapi, kami langsung nyebur, tidak melipir ke daratanya yang banyak ditumbuhi pepohonan.

Pemanasan dua hari cukuplah membuat saya berani mempraktikkan teori freediving yang dulu pernah dipelajari. Puas banget bisa duckdive meski jauh dari sempurna. Yang penting bisa nyelam sejenak mendekati kumpulan terumbu karang.

Kalau kemarin-kemarin melihat air berwarna toska berpadu biru, kali ini cenderung biru tua. Mungkin karena memang lebih dalam. Kami bahkan sama sekali tidak menyentuh dasar laut. Untung ada rompi pelampung yang selalu dibawa.

Begitu kembali ke kapal, kapten menyuruh kami semua untuk loncat indah. Aah, andaikan saya yakin bakal muncul lagi setelah terjun dari kapal, karena nggak bisa berenang, mungkin saya sudah melompat dari tadi. Dasar  penakut.

Dari sini, kami menutup perjalanan dengan berlabuh di pulau kecil nan penuh tantangan, yaitu Pulau Kelor. Bentuknya yang melengkung hampir sempurna itu, memiliki medan yang terjal dan berdebu. Jangan sampai ketinggalan topi dan air minum saat ke sini!

Tapi kalau sudah di puncak, pemandangannya bikin mata adem. Warna hijau dan biru laut berpadu manis di dasar perbukitan khas tanah Flores.

Kalau masih ada waktu, bisa juga snorkeling di sini. Tapi kami lebih memilih kembali ke tempat teduh di kapal, menikmati hembusan angin dan makan siang terakhir.

Mungkin, kalau tidak ada yang mengejar pesawat sore itu, kami bisa mengunjungi satu atau dua tempat lagi. Maybe next time.

Begitulah kira-kira keasyikan yang didapat dari perjalanan 3 Hari 2 Malam di kepulauan Komodo.

Seru, tapi…

Fasilitas dan Pelayanan

Biaya paket yang ditawarkan oleh Be Borneo untuk sailing trip 3H2M di TNK ini adalah Rp2.250.000 per orang. Fasilitas dan pelayanan yang didapatkan adalah:

  • jemput-antar, terserah, bandara pp, hotel pp, dari bandara ke hotel, atau dari hotel ke bandara.
  • makan siang dan makan malam pada hari pertama; makan tiga kali plus snack sore pada hari kedua; serta sarapan dan makan siang pada hari terakhir. Semuanya enak dan banyak. Di sela-selanya tersedia air mineral, susu, kopi, dan teh, yang bebas bikin sendiri. Air panas tinggal minta kalau habis. Meskipun begitu, nggak ada salahnya bawa cemilan. siapa tahu nggak sabar nungguin jam makan.  Atau yang parno mabuk laut, bolehlah berbekal ramuan anti mabuk.
  • tiket masuk taman nasional, seperti di Pulau Rinca dan Pulau Padar.
  • tidur di kamar ber-AC yang dilengkapi kasur, bantal, dan selimut.
  • listrik dan colokannya.
  • toilet untuk bersih-bersih dengan air tawar.
  • dipasang tali di tiap tiang buat yang ingin menjemur pakaian basah.
  • alat snorkeling, pelampung, dan life jacket.
  • awak kapal asli Flores yang bersahabat dan bisa merangkap sebagai kapten, juru masak, guide ke setiap pemberhentian, serta fotografer/ videografer.

Berminat?

Be Borneo Tour:
Email: info@beborneotour.com
WhatsApp: 0852-5150-1009
Website: tourkomodo.co

Bilangin tahu dari blogger bernama Rel(inda) Puspita.

Tripnya ada hampir setiap minggu. Bisa sendiri, private, atau grup.

Have a nice trip!

21 comments Add yours
  1. Saya dulu ke Pulau Komodonya, nggak ke Pulau Rinca, makanya pulau yang dikunjungi nggak terlalu banyak. Pulau Komodo jaraknya kan lumayan jauh dibandingkan Rinca. Pengin juga mengunjungi Pulau Rinca.

      1. Dapet dua komodo lagi jalan-jalan di dekat pantai. Tapi malah serem, soalnya mereka jalannya cepat. Seru, sih. Guide kami memang bilang, kalau yang di Pulau Rinca lebih banyak yang terlihat, karena hutannya nggak selebat Pulau Komodo.

  2. Waktu ke sana sayangnya aku gak sempat ke goa kalelawar kak krn bener2 hrs pas waktunya u liat kalelawar pergi dan masuk goa. Pengen bgt sih k Sana lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *