Sebelum Terlambat, Sempatkanlah ke Pulau Tikus!

Beberapa tahun lalu, ada ajakan ke Pulau Tikus yang diadakan oleh sebuah radio swasta di Bengkulu. Kendaraannya bukan perahu, tapi ferry berukuran sedang yang bersandar di Pelabuhan Pulau Baai. Tanpa pikir panjang, ikutlah saya dengan hanya membayar Rp15.000, kalau tidak salah.

Penumpangnya sangat ramai waktu itu. Ada yang membawa bekal dan ada juga yang membawa alat pancing. Saya, rasanya hanya membawa makanan dan pakaian ganti karena berharap akan basah.

Ternyata, kami hanya dibawa keliling pulau tanpa setetes pun menyentuh air laut. Terang saja saya kesal, bahkan sekilas saya sempat mendengar ada yang kecewa karena kami hanya diajak melihat Pulau Tikus, bukan ke Pulau Tikus. Itupun dari jauh, karena tidak memungkinkan bagi kapal bersandar di pulau kecil tanpa dermaga itu.

Pokoknya, saya harus ke Pulau Tikus, batin saya saat itu.

Itulah yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 2017 kemarin. Bersama teman-teman Blogger Bengkulu, saya akhirnya menginjakkan kaki di Pulau Tikus. Pulau yang ternyata sangat kecil, bahkan mungkin hanya seluas tanah tempat rumah kamu berdiri. Tidak akan habis sebatang rokok untuk mengelilinginya, paling hanya sekitar 5 menit berjalan santai.

Apa yang saya alami di pulau itu membuat saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki ke sana, karena:

  1. Pulau ini telah mengalami abrasi. Konon, luasnya dulu sekitar 2 hektar, sekarang tinggal sekitar 0,6 hektar. Lama-lama bisa tinggal nama. Untuk mencegah itu, ada kegiatan penanaman mangrove di sana.
  2. Warna lautnya gradasi bening, hijau dan biru yang sangat indah. Pasirnya berwarna putih bercampur dengan pecahan karang halus. Kalau hari cerah, kombinasi pasir dan laut ini sungguh menyegarkan mata.
  3. Lautnya jernih, dangkal, dan bersahabat. Pengunjung yang tidak bisa berenangpun masih bisa menikmati keindahan bawa lautnya, meskipun dalam keadaan arus yang agak nakal. Seperti kemarin, kami harus berjalan memutar agar bisa ke tengah, karena setiap melangkah, kami terdorong arus.
  4. Meskipun terumbu karangnya tidak banyak, kami masih bisa menikmati ikan-ikan kecil, seperti nemo dan dori. Waktu itu, kami dibawa ke bagian yang ada anemonnya untuk menyaksikan nemo menari-nari. Lalu di ajak ke sisi lain pulau yang banyak ikan dori, tapi harus dipancing dengan makanan supaya datangnya bergerombol. Kedua tempat ini kami capai hanya dengan berjalan kaki dari pantai, tidak harus naik perahu ke tengah laut.
  5. Pulau ini tanpa penghuni, kecuali penjaga Menara Mercu Suar. Pengunjung pun bisa menginap di sini dengan membawa tenda atau menyewa kamar milik penjaga di sana. Menara besinya bisa dinaiki dengan membayar Rp5000. Saya yang awalnya ngeri tapi pingin karena melihat tangganya, akhirnya nekad sampai ke puncak. Lagi-lagi, kekaguman yang terucap karena bisa memandang sekeliling pulau dari atas.

Jangan sampai pulau ini punah, karena ini adalah destinasi alternatif wisata bahari yang benar-benar asyik di Kota Bengkulu. Di mana lagi bisa main laut sambil melihat ikan hias berkejar-kejaran. Jaraknya pun hanya sekitar 5 mil atau 9 km atau  sekitar 1 jam dari pusat kota.

Kamu yang masih berpikir pergi atau nggak ke Pulau Tikus, segeralah pesan tiket ke sana! Kalau masih bingung bagaimana caranya, bisa menghubungi Koperasi Jasa Sapta Pesona Wisata. Lokasinya di Tapak Paderi, dekat Sandal Jodoh, atau kontak nomor What’s App: 081367794296.

Ada 6 pilihan paket: snorkeling, fun trip, full fasilitas, gathering, menginap, dan sewa kapal. Harganya, dari Rp150.000 s/d Rp1.500.000.

Sekali lagi, sempatkanlah main ke Pulau Tikus!

14 comments Add yours
  1. ternyata bagus ya, sayang banget dulu pas ke Bengkulu gak sempet nyeberang ke sana, soalnya anginnya legi kenceng banget, ombaknya gede 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *