Secuil Keindahan Lampung yang Bikin Nagih

Lampung bukanlah daerah yang asing bagi saya. Saat masih kuliah di Bandung dan harus mudik ke Bengkulu dengan bus, saya pasti melewati wilayah ini walapun hanya pinggirannya. Aroma pelabuhan Bakauheni dan pemandangan anak-anak yang menunggu koin dilempar penumpang ferry ke laut, masih terngiang di ingatan. Namun, semua itu tidak membuat saya mengaku pernah ke Lampung. Pun ketika saya dan teman-teman komunitas Bandung Freediving (BFD) mengadakan open water di beberapa pulau di sekitar Anak Krakatau.

Baru pada akhir Juli 2016, saat ada acara kantor ke Lampung, saya berani menyebut diri pernah ke Lampung. Bukan tanpa alasan, karena saat itu saya benar-benar menginjakkan kaki di ibukotanya, Bandar Lampung. Saya juga berkeliling kota, dan menyantap bakso Haji Sony yang paling terkemuka di sana. Afdol ke sebuah kota buat saya, adalah ketika berada di pusat kotanya, hehehe…

Sejujurnya, belum banyak yang saya lihat di Lampung. Tapi dari kunjungan-kunjungan singkat tersebut, saya telah menyaksikan sekelumit keindahan, di antaranya:

1. Anak Krakatau

Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 27 Agustus 1883 telah terjadi letusan dahsyat Gunung Krakatau. Peristiwa ini digolongkan sebagai tragedi kemanusiaan karena telah menghancurkan ratusan desa di sekitar Selat Sunda, dan menewaskan puluhan ribu manusia. Erupsi tersebut membentuk lubang kaldera dan menyisakan tiga pulau kecil: Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang.

Bertahun-tahun kemudian, muncullah gunung api kecil di kaldera yang masih aktif. Gunung ini semakin tumbuh, dan sekarang telah mencapai ketinggian 450 m. Inilah yang sekarang dikenal sebagai Anak Krakatau. Namun, sejak ada letusan pada tahun 2011, pengunjung dilarang mendaki hingga ke puncak, cukup sampai di ketinggian 200 meterDari sini saja, pemandangan gunung dan pulau-pulau kecil yang memecah laut dalam yang tenang di sana, tampak sangat cantik, apa lagi dari puncaknya, ya.

Saat itu, rombongan BFD mengincar matahari terbit dari Anak Krakatau. Apa daya, lantaran pada gerak lelet, kami hanya menyaksikannya dari atas kapal. Ada positifnya juga kami kesiangan, tapi. Anak Krakatau yang berdiri bersebelahan dengan gunung lain itu terlihat sangat instagramable, apa lagi ditambah efek asap yang dikeluarkannya.

Konon, lantaran Anak Krakatau ini terus tumbuh, kedua gunung yang bersebelahan tersebut, rumornya lama-lama akan bersatu. Entahlah, saya hanya girang akhirnya kesampaian mendaki (puncak) gunung yang menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia ini.

Sudah diberitahu bahwa medan Krakatau sangat mudah. Tidak ada perlengkapan khusus saat kami mendaki, hanya pakaian yang semalam dipakai tidur. Boro-boro mandi, kan, setelahnya akan nyemplung ke air. Saya sendiri hanya mengenakan sandal jepit.

Meskipun begitu, jalurnya cukup membuat kaki lelah. Saat turun kapal, kami menginjak tanah padat, tapi begitu mulai menanjak, jalurnya berupa tanah kering yang membuat kaki terbenam, sehingga diperlukan tenaga setiap melangkah. Dampaknya, kami jadi sering istirahat dan foto ala-ala film 5 cm yang saat itu sedang booming.

2. Terumbu Karang di Perairan Teluk Lampung

Open water bersama anak-anak BFD adalah pengalaman pertama saya snorkeling tanpa pelampung, hanya mengandalkan kaki katak (fin) dan masker yang selangnya harus dilepas. Kami menyelam di tiga tempat: Sebuku, Umang-Umang, dan Lagoon Cabe, tempat kami menikmati sunset. Kondisi saya saat itu tidak bisa berenang dan baru sebentar bergabung dengan komunitas ini. Tapi saya percaya alat dan lumayan tenang karena banyak temannya. Never dive alone, kan, motonya.

Wow, saya senang sekali bisa ke bawah menyentuh karang walaupun kedalamannya hanya sekitar tiga sampai lima meter. Pengalaman pertama snorkeling, saya masih mengenakan pelampung dan snorkel lengkap. Itu pun hanya dari permukaan, tidak memegang apapun. Kali ini, hasil dari latihan beberapa kali, saya bisa lebih menikmati pemandangan bawah air. Saking antusiasnya, saya menyentuh makhluk berduri yang mengakibatkan telapak tangan saya kebas seharian. Ceritanya, mau difoto di dekat karang ungu yang bentuknya seperti bintang laut berduri. Saya penasaran ingin pegang, nggak tahu bahwa itu tajam dan ‘beracun’. Spontan, begitu kesakitan, langsung saya naik ke permukaan. Masih bisa nahan, untungnya, sebelum disiram cuka saat di atas kapal.

Saya pikir, perihnya cuma sebentar walaupun bagian yang tertusuk terlihat merah dan bengkak. Saya takut bakal lumpuh, soalnya sempat nggak bisa merasakan apa-apa. Terus saya pijat-pijat dan berharap akan hilang sakitnya saat dibawa tidur. Alhamdulillah, sakitnya reda keesokan hari. Kapok, saya nggak lagi-lagi menyentuh apapun di dalam air yang saya tidak tahu akibatnya.

Setelah 2014 itu, baru Juli 2016 saya menyelam lagi di perairan Lampung. Kali ini di Kelagian Kecil, Teluk Lampung. Euh, akibat nggak pernah latihan lagi, nafas saya soak, dan gaya duckdive saya payah parah. Freediving saya gagal total, dan bergantung pada pelampung yang selalu saya peluk.

Dari dua pengalaman tersebut, terumbu karang yang saya saksikan di perairan Lampung ini adalah jenis yang besar-besar. Kurang berwarna dan ikannya tidak terlalu banyak walaupun sesekali ada yang berseliweran memamerkan warna cerahnya. Tapi, itu mungkin karena saya menyelam di spot dangkal. Saya percaya, di bagian tengah, taman lautnya pasti sangat ramai dan menawan.

3. Batik dan Kain Tapis

Dalam acara kantor di Lampung, ada pameran kecil yang memerkan batik dan kain tapis  khas Lampung.  Saya suka sekali motif batiknya: coraknya beragam dan warnanya cerah-cerah. Sulaman emas tapisnya ramai dan mewah. Sayang, harganya melebihi yang ada di kocek saya. Cukuplah saya mengaguminya dengan menyentuh dan memuji.

Lama, saya bertahan untuk tidak membeli batik Lampung. Akhirnya luluh saat datang ke Griya Batik GABOVIRA. Dari motif sederhana hingga yang unik ada di sini, juga dari harga di bawah Rp100.000 hingga di atas itu, tersedia di sini. Saya sampai bingung pilih yang mana, dan akhirnya membeli satu.

4. Bakso Son Haji Sony

Seperti umumnya wilayah Sumatra bagian selatan, kuliner khas Lampung juga didominasi oleh kandungan ikan, seperti pempek, pindang patin, dan siomay. Karenanya, sasaran utama saya hanya bakso Sony yang selalu dibicarakan orang setiap ke Lampung.

Sore, sesaat setelah tiba dan menaruh barang di hotel, saya dan teman-teman menyewa mobil menuju pusatnya Bakso Sony di Jl. Wolter Monginsidi 42 A. Tidak terlalu ramai tempatnya, dan rupanya juga menjual daging. Itu mungkin yang menyebabkan baksonya lembut, enak, dan dagingnya sangat terasa. Pemiliknya tahu daging bagian mana yang paling sedap diolah menjadi bakso.

Ada mie ayam juga di sini. Dan bagi yang ingin membawa pentolnya sebagai oleh-oleh, bisa dipesan. Satu paketnya berisi 50 biji.

Bicara oleh-oleh, jangan lupa dengan keripik pisang. Tempo hari ke sana, saya dibawa ke Jl. PU yang banyak terdapat para pedagang rumahan yang menjual makanan khas Lampung. Daripada penasaran, saya beli aja semua rasa. Setengah kilo aja udah banyak.

5. Pemandangan Dalam Kota

Menjelang malam, saya sengaja membuka pintu balkon kamar hotel. Niatnya cuma ingin melihat-lihat sekeliling. Ternyata di depan saya tersaji panorama senja yang sangat memukau. Segera saya arahkan kamera ponsel, mengabadikan pemandangan sinar merah-oranyenya sangat memikat, memperindah latar dari atap dan gedung di sekitarnya.

Paginya, saat sedang jalan pagi menyusuri sekitar dan mengitari bundaran yang berada tidak jauh dari hotel kami, saya baru sadar bahwa gedung-gedung, bahkan halte di kota ini, berhiaskan siger, mahkota khas Lampung. Yang mengejutkan, saya menemukan restoran Padang paling terkenal di Lampung, yaitu Begadang II. Saya tahunya Begadang IV di daerah lintas Sumatra. Saat mudik zaman dulu, busnya selalu berhenti di rtoran ini.

Saya juga menemukan lukisan alam super cihuy saat bersantai di lobi Novotel Hotel, tempat acara kedinasan saya berlangsung. Dari balkon lobinya, saya seperti melihat kastil putih. Saya tahu itu pasti semacam bukit kapur, tapi bentuknya itu, loh, bagaikan istana pangeran berkuda. Di belakangnya terbentang perairan Teluk Lampung yang menunggu siapapun untuk datang dan bersantai.

Baru secuil aja, itu. Coba kalau lebih lama, pasti lebih banyak yang bisa saya kagumi. Lampung gitu, sih, spot  eksotis dan menantangnya kebanyakan jauh di pinggir kota, makanya nggak bisa sebentar kalau ke Lampung.

Ayolah, ajakin saya ke Lampung lagi!

6 comments Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *