Sensasi Menangkap Piring Terbang di Kota Solo

Sampai harinya, saya masih belum terbayang bagaimana di zaman sekarang, ada pesta yang makannya bukan dengan cara ambil sendiri. Kalau duduk di lantai, sih, di daerah saya di Sumatra juga masih banyak, tapi kalau duduk di kursi, menunggu makanan, mungkin cuma di restoran. Alhasil, acara yang paling keluarga besar saya nanti-nantikan selama prosesi pernikahan adik saya di Solo, apalagi kalau bukan acara santap siang.

Begitu tiba pada H-1 di hotel tempat acara, sekaligus tempat kami, keluarga besan, menginap, saya melihat beberapa persiapan untuk acara besok. Pelaminan yang belum dihias secara detail dan kursi-kursi yang telah disusun rapi. Ruangannya tidak terlalu besar, tapi sesuai dengan jumlah tamu yang diundang. Bagian kursi, ini, nih, yang menarik perhatian karena saya langsung membayangkan cerita tentang piring terbang.

Dari teras hingga ke depan panggung pelaminan, sudah terbentang karpet merah yang seakan membagi ruangan menjadi dua. Di masing-masing sisi berjejer kursi yang dibuat tiga baris, dengan masing-masing barisan ditata sedemikan rupa agar berjarak. Ada meja bertaplak batik di antar barisan kursi, yang ditempatkan agar terjangkau oleh mereka yang duduk nanti.

Keesokan paginya, pelaminan yang semalam masih berupa gebyok polos, sekarang telah tertata manis dengan hiasan bunga hidup yang didominasi melati yang menjulur. Di atas meja paling depan, di antara barisan kursi sebelah kiri yang dekat dengan pelaminan terdapat tanda kayu bertuliskan BESAN, dan yang di meja sayap kanan bertuliskan KELUARGA. Menariknya, ada meja di depan kursi pengantin dan di depan tempat duduk orang tua yang mengapit pengantin.

Saat tamu mulai berdatangan, meja-meja yang berada di antara kursi-kursi dipenuhi dengan gelas berisi teh manis yang ditutup dengan penutup gelas logam. Hanya meja di atas pelaminan yang tetap dibiarkan kosong. Saya kelilingi ruangan, dan benar-benar tidak menemukan meja atau pondok-pondok kecil yang lazim ada di pesta pernikahan, sebagai tempat hidangan aneka makanan dan minuman.

Tidak lama, ada pengumuman bahwa pengantin telah siap unjuk diri. Acara pun dimulai dengan Bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar. Walaupun tidak tahu kata-katanya, yang penting paham maksudnya. Saya sempat ingin berdiri, tetapi melihat tidak ada yang berdiri saat pengantin dan rombongan masuk ruangan, saya kembali duduk.

Singkat cerita, setelah pengantin duduk di pelaminan, lalu dilanjutkan dengan sambutan dan doa, acara yang dinanti-nantikan oleh keluarga saya dan mungkin para undangan, dimulai. Terdengar alunan musik berirama padang pasir dari arah luar. Lalu muncullah barisan pria berseragam pelayan berwarna biru membawa baki berisi piring-piring makanan. Di bagian depan ada dua pria dengan seragam berbeda. Salah satunya menggenggam seikat bunga.

Mereka berjalan ke arah pengantin. Begitu di depan pelaminan, mereka berhenti. Pria yang memegang bunga menyerahkan bunganya kepada rekannya, untuk kemudian diserahkan kepada mempelai pria. Kurang paham juga kenapa kedua pengantin harus memegang buket. Setelah bunga berpindah tangan, dia berbalik santai ke arah tamu sambil membentangkan kedua telapak tangannya, kode keras, tanda piring terbang harus segera diluncurkan.

Piring terbang pertama berukuran sedang berisi puding. Menurut aturan perkulinarian, ini pasti hidangan pembuka. Satu persatu piring meluncur dan ditangkap mantap oleh masing-masing tamu.

Dari arah belakang, saya mendengar ada yang memanggil “Mas!” Tampaknya ada anggota keluarga saya yang takut tidak kebagian makan. Si mas hanya menganggukkan kepala sambil menunjukkan sebelah telapak tangannya, seolah berkata “Iya, tunggu sebentar.”

Sambil menikmati sajian, beberapa kami sempat bercanda dengan beragam celetukan: “Seru juga, ya.”, “Abis ini, apa lagi, ya?”, atau “Mas-mas, abis ini masih ada, gak?” tanya Oom saya kepada yang mengantarkan makanan.

Setelah semua piring mendarat aman, tamu diberi waktu menikmati isi piringnya dengan iringan lagu dari wedding singer. Bagaimana dengan yang duduk di pelaminan? Sama. Mereka juga kebagian piring terbang yang isinya sama dengan kami.

Selama jeda sembari menikmati hidangan, pembawa acara mempersilahkan anggota keluarga untuk berfoto dengan pengantin. Saling bergantian, pasangan Oom dan tante saya maju ke pelaminan untuk difoto bersama pengantin. Baru sebagian maju, kode makanan akan datang terdengar di speaker. Acara foto-foto pun terhenti sejenak.

Kali ini bentuk piringnya cembung berisi sup kuah bening dengan potongan sosis, wortel, dan semacam rolade (kalau nggak salah lihat). Apes, akibat sabar menahan diri tidak memanggil-manggil si mas pilot, eh pelayan, barisan saya tidak kebagian.

Kembali, acara foto keluarga bersama pengantin dilanjutkan.

Tak lama, irama musik Jawa terdengar, dan saat melihat pelayan kembali muncul membawa piring dengan bentuk berbeda. Saya bertekad jangan sampai tidak kebagian. Kali ini piringnya lebar, berisi makanan utama, nasi yang dicetak kerucut, dan dikelilingi lauk pauk empat sehat lima sempurna, ada protein hewani dan nabati.

Setelah semua pasangan dari pihak besan selesai, kali ini giliran anggota keluarga dari pihak mempelai wanita yang berfoto bersama pengantin.

Setelah itu, datang cangkir kecil berisi sirup. Menurut kebiasaan, ini pasti pencuci mulut, alias hidangan terakhir. Lagian, sudah kenyang juga.

Benar saja, beberapa menit kemudian terdengar ucapan MC yang memberitahu tahu bahwa acara telah rampung. Pengantin akan dibawa keluar oleh Pakde dan Bude dari keluarga perempuan agar tamu bisa salaman dan berpamitan pulang.

Bagi saya dan keluarga, ini sebuah pengalaman pertama nan menarik. Rasa makanannya, sih, standar, tapi sensasi duduk manis di kursi, sabar menunggu hidangan diantar, adalah pelengkap cerita perjalanan keluarga saya ke Solo. Kami tidak hanya datang menghadiri pernikahan, lalu jalan-jalan dan belanja batik, tapi juga mengalami sentuhan budaya yang berbeda dari daerah asal kami.

Selain itu, saya juga melihat beberapa nilai positif yang tersirat dalam tradisi ini:

  • Kesederhanaan, karena pesta seperti ini cocok diadakan jika jumlah undangan kurang dari 500 orang. Kalau lebih, entah berapa bayak pelayan yang dibutuhkan, dan berapa lama tamu harus menunggu makanannya diantar.
  • Hidup secukupnya, karena jatah makan setiap tamu telah diatur, dan tidak bisa minta tambah;
  • Menghargai tuan rumah, karena tamu tidak boleh datang terlambat. Kalau telat, pasti tidak kebagian makan;
  • Sesuai anjuran Rasulullah, agar makan dan minum dalam posisi duduk;
  • Fokus menikmati jalannya acara, karena makan dan salamannya berbarengan;
  • kebersamaan, karena baik pengantin maupun tamu menikmati hidangan yang serupa, lalu menikmatinya bersama-sama.

Konon, tradisi piring terbang ini juga ada di daerah lain di Jawa Tengah, namun yang masih kerap mempraktikkannya adalah warga Solo, sehingga budaya ini identik dengan kota asal mulanya markobar delapan rasa. Jadi, bagi yang penasaran dengan sensasi piring terbang, datanglah ke pesta pernikahannnya wong Solo, Jawa Tengah. Dijamin seru.

23 comments Add yours
  1. Waah dulu ditempatku (cilacap jateng) juga begitu Mb kalau kondangan kita tinggal duduk manis trs mknnya dianterin sm pelayannya, kalau skrng kyknya hampir udh prasmanan semua deh.

  2. wah, tradisi piring terbangnya keren dan masih dilestarikan. di Aceh biasanya diletakkan dalam nampan besar dan isinya beragam lauk. tapi udah jarang juga, udah banyak yang beralih ke prasmanan

  3. hahahaa kirain piring terbang melayang-layang semacam perang piring xixixii, ternyata oh ternyata *manggut2

    Aku belom pernah liat posesi piring terbang ini, padahal orang jawa (mojoknya di bdg aja sih)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *