Seperti Gatotkaca, Saya pun Digembleng di Kawah Candradimuka

“Oh, Tuhan… susah banget, sih, mau ke sana… Emang nggak ada orang yang ke sini, apa. Jalannya, kok, begini amat… Katanya, tempat wisata…” Saya berujar pelan sambil melirik kedua punggung tangan yang mengencang, berusaha bertahan sekaligus memadukan gas dan rem. Tak sempat saya menikmati rimbunnya bukit di sekeliling lantaran begitu fokus mengendalikan motor agar selamat sampai ke puncak.

Di tengah kecemasan yang hinggap karena tidak ada orang selain saya, takut motor sewaan yang tiga jam lagi harus dikembalikan ini rusak, takut tergelincir kalau salah memilih jalan, dan penasaran akan tempat yang dituju, angan saya terbang ke sebuah kisah yang membawa saya ke sini.

Di suatu masa, di negeri para wayang, Bima, satu dari Pandawa Lima yang terkenal dengan sosoknya yang tinggi, besar, sangar, dan bersenjatakan gada, memiliki seorang putra bernama Jabang Tetuka, hasil pernikahannya dengan Arimbi, adik Raja Arimba, yang ditaklukkan Bima.

Mewarisi fisik kedua orangtuanya, apalagi ibunya adalah keturunan raksasa, putra mereka tak kalah istimewahnya. Dari lahir, bayi Tetuka telah mengalami banyak kejadian luar biasa.

Sampai usia satu tahun, tali pusarnya tidak bisa dipotong dengan alat apapun. Segala usaha telah dicoba, hingga akhirnya Sang Paman, Arjuna, harus bertapa ke negeri kahyangan dalam rangka mencari senjata pusaka, Panah Kontawijaya, milik Batara Guru yang konon mampu memotong tali pusar Tetuka.

Entah kena sihir apa, Batara Narada yang diutus Batara Guru merasa sudah bertemu Arjuna dan memberikan senjata yang dimaksud. Padahal, itu adalah Karna dari Kerajaan Hastina yang terkenal licik. Mengetahui ini, Arjuna segera mengejar Karna, namun Karna menolak memberikannya. Terjadilah pertarungan, dan Arjuna hanya mampu merebut sarung senjata.

Ajaibnya, sarung yang terbuat dari kayu mastabah tersebut sanggup memotong tali pusar Tetuka, namun musnah karena menyatu ke dalam perutnya. Benda inilah yang mempengaruhi kekuatan si bayi, tetapi juga menjadi kelemahannya. Tetuka diramalkan akan tewas oleh pemilik Kontawijaya.

Dalam tubuh bayinya, Tetuka memiliki kekuatan dahsyat yang tidak pernah terpikirkan oleh siapapun.  Hal ini terbukti saat Arjuna menepati janjinya kepada Batara Narada.

Sebagai imbalan jika tali pusar Tetuka lepas, Arjuna harus membawanya ke kahyangan guna membantu para dewa yang sedang diserbu Naga Percona. Makhluk ini memiliki kekuatan setara para Batara. Ia menyerang kahyangan dengan maksud memperistri salah seorang bidadari, yaitu Dewi Supraba.

Siapa yang bisa mempercayai hal ini, bahkan Bima pun sangat berang dan berat hati berpisah dengan anaknya. Tapi, atas jaminan Punakawan Semar, Bima ikhlas melepas putranya .

Tak dinyana, seperti hasil terawangan Batara Guru, Jabang Tetuka menunjukkan kekuatan terpendamnya. Tanpa didampingi Arjuna dan para dewa, Tetuka yang dianggap lawan remeh, berhasil melukai Naga Percona hingga membuatnya murka dan membanting tubuh mungil Tetuka ke tanah hingga tewas.

Melihat ini, para dewa tak tinggal diam. Atas bisikan Semar kepada Batara Guru, jasad Tetuka dibawa ke Kawah Candradimuka untuk direndam. Seluruh dewa diminta melemparkan semua senjata yang dimiliki ke dalam kawah agar bercampur dan membentuh tubuh Tetuka yang lebih kuat dan sakti.

Benar adanya, tidak lama menunggu, Tetuka bangkit dalam wujud berbeda. Tubuhnya tegap, gagah dan memiliki kekuatan super para dewa. Gatotkaca adalah nama yang dipilih untuk Tetuka baru ini. Dengan kekuatan anyarnya, Gatotkaca kembali Medan tempur dan berhasil mengalahkan Naga Percona.

Gambar: google.com

“Sendirian…?” Satu dari dua ibu yang sedang berdiri di areal kebun sayur menegur saya yang tampak jelas sedang berupaya menaklukkan jalanan berbatu besar dan tajam ini.

“Iyaaa.” balas saya sambil nyengir, lega melihat ada manusia lain. “Masih jauh, ya, bu, kawahnya?”

Si ibu tersenyum. “Bentar lagi, mbak.”

Lagi, saya berkutat dengan motor dan mencari-cari batuan yang agak rata agar rodanya berputar lancar tanpa kendala. Maklumlah, saya tidak terbiasa menggunakan motor matic, apalagi di jalur terjal seperti ini. Gini, ya, jalan ke kahyangan, batin saya.

Kalau saja saya tidak menemukan artikel tentang Kawah Candradimuka saat browsing tentang Dataran Tinggi Dieng yang akan didatangi, pastilah kawah ini akan tetap saya anggap sebagai bagian kecil dari cerita pewayangan. Tak disangka, Kawah Candradimuka nyata adanya.

Foto-foto di internet menunjukkan bahwa kawah ini tidak seangker yang dibayangkan, bahkan terletak di tempat yang sejuk. Awalnya saya enggan ke sini karena berbagai tulisan banyak mengulas tentang aksesnya yang tidak bersahabat, dan berada jauh dari pusat keramaian Dieng. Dipikir-pikir, entah kapan saya kembali ke sini.

Sekali lagi, sekadar memastikan jaraknya, saya bertanya kepada pemilik warung tempat saya menikmati makan siang. “Sekitar lima belas menitan…” katanya.

Saya lirik jam tangan, masih ada sekitar empat jam lagi waktu pengembalian motor, sementara saya sudah mengunjungi semua tempat ‘wajib datang’ di Dieng. Semuanya ada di daerah Wonosobo. Sekalian berpetualang, kenapa tidak nekad menjajal Dieng bagian Banjarnegara. Bergegas saya membayar, dan melaju mengikuti petunjuk arah ke Kawah Candradimuka.

Eits, tidak terlalu jauh dari gapura perbatasan antara Wonosobo dan Banjarnegara, rupanya. Jalan menuju ke sini pun mulus dan menyajikan pemandangan indah khas dataran tinggi yang dipenuhi kebun sayur bertingkat-tingkat. Saya berada di depan gerbang bertuliskan Kawah Candradimuka dan menatap jalan masuknya. Hotmix, khas jalan pedesaan, lalu ada rumah-rumah penduduk di kedua sisinya.

Langsung saya mengucap syukur atas keputusan saya ke sini. Sampai akhirnya…

Wajar ini dijadikan tempat penggemblengan.

Kalau jalannya seperti ini saya masih sanggup. Di atas sana, semuanya ketutup batu longgar.

Meskipun deretan rumah penduduknya hanya beberapa meter dari gerbang, dan di kiri-kanan jalan terhampar hijau yang sangat menyegarkan mata, saya tidak terpikir untuk menikmatinya lama-lama, apalagi sengaja berhenti untuk selfie. Entah berapa kali motor mati dan saya harus menurunkan kaki agar motor bergerak naik.

Jalurnya rusak parah bukan karena berlubang atau berlumpur, tapi tanjakan berbelok yang berlapis batu. Cocok untuk motor trail. Untunglah tidak hujan meskipun langit mendung.

Bisa. Saya pasti bisa!

Bukan main senang dan puasnya saya saat ban motor menyentuh bentangan paving block. Begitu terparkir sempurna, dalam-dalam saya hirup udara bersih di sekeliling sambil melemaskan otot. Badan saya berkeringat di tengah udara yang semriwing. Tak bisa dielak, kepala saya langsung mikir, gimana nanti turunnya

Tidak mau pusing memikirkan jalan pulang yang lain, saya langsung menuju tangga ke tempat pengamatan. Tak sabar melihat Kawah Candradimuka.

Kawahnya kecil saja, menyerupai lembah  di tebing yang ditumbuhi tanaman sayur. Suasananya adem, cocok untuk melepas penat dari rutinitas kerja.

Asap yang keluar dari kawah sangat tebal dan suara letupan air mendidih jelas terdengar. Tutupan asap ini membuatnya terkesan misterius. Ada jalan kecil berupa anak tangga semen jika ingin mendekat, asalkan tahan bau belerangnya.

Memberanikan diri sambil menutup hidung, saya turun ke areal kawah. Ingin tahu ada apa saja di sana.

Ada semacam aliran air panas di sisi kanan yang berupa jurang, lalu di sisi kirinya ada kolam yang ditengahnya keluar gelembung-gelembung air mendidih. Melihat kecilnya kawah, saya langsung membayangkan Tetuka yang dilempar ke sini. Apa iya ini tempat Gatotkaca ‘dibentuk’? Mendapatkan otot kawat dan tulang besinya?

Ada yang tidak biasa, memang, di bagian ujung. Terdapat semacam sumur kecil yang diberi pancuran kecil. Namanya Adem Semar. Airnya dingin. Sumur ini ditutupi terpal plastik merah dan ada tulisan yang mengatakan airnya berkhasiat untuk penyakit dalam. Iseng-iseng, saya tangkupkan tangan ke pancuran. Entah khasiatnya benar atau tidak, yang pasti terasa segar di kerongkongan.

Ah, rasa penasaran telah membawa saya ke salah satu legenda pewayangan yang sangat terkenal di tanah Jawa. Tidak hanya Gatotkaca yang menjadi sakti setelah keluar dari kawah ini, saya pun menjadi percaya diri mengemudikan motor matic sepulang dari lokasi ini. Bolak-balik melewati jalanan terjal berbatu besar dan tajam saja saya mampu, apalagi melewati hatimu jalan beraspal mulus.

Sekarang, kalau ada yang ngomong tentang Kawah Candradimuka, saya tidak bertanya-tanya lagi, emang seseram apa, sih, Kawah Candradimuka?

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Legenda pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.

9 comments Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *