Tegang tapi Santai di Perbatasan Korea Utara dan Cina

Melintasi perbatasan sebuah negara adalah kesenangan buat saya. Salah satu yang paling memorable adalah melewati perbatasan Korea Utara dan Cina.

Setelah masuknya menggunakan Koryo Air, saya memilih jalur darat, alias naik sleeper train meninggalkan Pyongyang. Beruntung kita yang bukan berpaspor Amerika Serikat. Mereka hanya diperbolehkan datang dan pergi melalui udara.

Selesai sarapan, saya dan beberapa teman, serta pemandu sari Beijing, yang memilih pulang menggunakan kereta, diantar menuju Pyongyang Railway Station. Tidak ada pemeriksaan apapun dari petugas ketika kami masuk stasiun. Tiket sudah diurus guide. Kami tinggal masuk gerbong dengan bawaan masing-masing. Sayang, karena karcisnya hanya lembaran kecil, saya lupa itu terselip di mana.

Sleeper yang akan melintasi perbatasan Korea Utara dan Cina, jurusan Pyongyang – Beijing

Peron stasiunnya luas, bersih, dan berkesan tempo dulu. Setelah meletakkan tas di kabin, kami semua kembali keluar untuk berpamitan dengan pemandu lokal selama di Pyongyang. Entah memang begitu atau karena kami turis, dia bisa mengantar hingga ke depan kereta.

Gerbong kereta kami terdiri dari kabin-kabin. Setiap kabin berisi empat sleeper. Cukup bersih, khususnya toilet, lengkap dengan keran air. Di luarnya ada wastafel untuk cuci muka atau gosok gigi. Koridornya beralas karpet dan ada jok lipat di dekat jendela.

Kabinnya berpintu geser dan bisa dikunci, sleeper-nya busa empuk dan berseprai, serta ada pendingin ruangan. Di atas pintu ada rak untuk meletakkan barang, tapi karena ransel saya kecil, saya geletakkan saja di kasur. Di antara sleeper bawah terdapat meja kecil khas kereta dan colokan listrik.

Dengan jumlah rombongan yang ada, kami menempati empat kabin yang saling bersebelahan, tapi yang satu harus bergabung dengan tiga penumpang lain. Saya bersama teman asal Jepang dan dua beranak asal Inggris. Mungkin di tiketnya sudah tertera nomor sleeper dan kabin, tapi karena kami satu rombongan, bebas pilih yang mana.

Dengan alasan akan salat, saya sengaja memilih sleeper atas. Lagian, lebih aman dan nyaman karena tidak akan langsung terlihat kalau ada yang lalu-lalang.

Kami berangkat sekitar jam 10:40 waktu Pyongyang, dan tiba keesokan paginya di Beijing Railway Station. Selama perjalanan, kereta melewati beberapa stasiun sebelum akhirnya tiba di perbatasan Korea Utara – Cina.

Pemandangan di pinggiran Korut berupa persawahan dengan latar belakang bangunan dan tiang-tiang listrik. Sambil berdiri atau sesekali duduk di jok lipat, saya menatap keluar jendela. Tampak warga sedang bekerja atau sekadar duduk-duduk. Mereka sama seperti orang kebanyakan.

Kalau bosan, bisa jalan-jalan keliling gerbong. Teman Australia saya bolak-balik ke pintu antar gerbong untuk merokok sambil ngobrol dengan penumpang lain.

Suasana di dalam di luar kereta menuju Beijing dari Pyongyang

Saya sempat bermain kartu di kabin setelah. Setelah itu kami beranjak ke gerbong makan.

Melewati gerbong lain, saya melihat bahwa gerbong kami adalah kelas terbaik. Saya lupa ada berapa gerbong untuk kelas ini. Kabin di gerbong lain berisi empat dan enam sleeper tanpa pintu, hanya ada kipas angin. Persis seperti sleeper train yang saya bayangkan sebelumnya.

Sorenya kami sampai di Stasiun Sinuiju, kota di perbatasan Korea Utara dan Cina. Seorang teman asal Perancis turun di sini karena masih penasaran dengan sisi lain Korea Utara.

Secara kota perbatasan, tentu saja banyak petugas mondar-mandir. Ada penumpang juga yang baru naik. Di sinilah proses pemeriksaan paspor yang menyebabkan kereta berhenti sangat lama, sekitar tiga jam.

Petugas mendatangi penumpang untuk mengambil paspor. Selama ini berlangsung, semua orang dilarang kemana-mana, bahkan kamar mandi dijaga.

Tenang saja kalau tidak merasa bersalah. Kepada saya, petugasnya tersenyum saat saya menyerahkan paspor dan berkata dari Indonesia.

Paspor dibawa oleh mereka, sekaligus kartu turis yang berfungsi sebagai visa. Selama menunggu inilah ada petugas iseng yang menghampiri penumpang. Kalau lagi apes, bisa jadi kena random check, semua gadget dan tas diperiksa.

Pengalaman diperiksa ini terjadi pada teman di kabin sebelah. Petugas meminta mereka membuka tas, dan melihat isi kamera. Untunglah, teman perempuan asal Malaysia cukup cerdik. Kebetulan dia bisa Bahasa Mandarin. Dengan santainya dia mengalihkan perhatian petugas dengan cara bercerita tentang foto-foto yang dilihat petugas di kamera ponselnya.

Entah bagaimana awalnya, foto-foto yang dilihat adalah koleksi lama. Ketika ada foto tentang Korut, segera jarinya lancang menggeser. Lumayan lama ini berlangsung, dari yang awalnya tegang, berubah jadi tawa, hingga petugas tidak sempat memeriksa kamera teman-teman yang lain.

Saya yang bosan menunggu di kabin sendiri, keluar melihat kabin sebelah dengan seorang kawan. Santai tuh, petugasnya tidak mengusir kami.

Melihat pengalaman itu, teman Inggris saya sudah menurunkan kopernya. Ternyata, boro-boro ngecek kamera, tas kami pun tidak ada yang disentuh. Petugas hanya menanyakan isi tas kecil berisi bacaan yang dibelinya di Pyongyang. Saya hanya ditanya soal merk handphone yang saya pegang. Sudah, segitu doang.

Tiga jam berlalu, petugas kembali ke kabin untuk mengembalikan paspor kami. Kartu yang katanya visa tidak dikembalikan, jadi tidak ada bekas apapun di paspor yang menandakan saya pernah menginjak negaranya Kim Jong-Eun.

Makanya, kalau sempat, foto-fotoin itu semua dokumen untuk kenang-kenangan. Bukti kita pernah ke negara komunis paling populer di dunia ini.

Perjalanan pun dilanjut menuju Beijing.ย Kereta melintasi Sungai Yanu melalui Jembatan Persahabatan antara Korut dan Cina.

Kesan tegangnya seketika lenyap ketika memasuki Tiongkok. Teman Inggris yang muda bahkan nyeletuk bahwa kami kembali ke peradaban. Iya, sinyal 3G mulai nongol di layar ponsel, dan warna-warni papan reklame sudah menghiasi pemandangan di luar jendela.

Sekali lagi, kereta berhenti di stasiun Kota Dandong, perbatasan Cina dan Korea Utara. Pemeriksaan paspor relatid santai. Prosesnya sama, penumpang tidak diizinkan keluar. Petugas akan mengambil paspor ke setiap kabin, lalu dibawa untuk dicap, kemudian dikembalikan.

Kereta kembali ramai oleh penumpang lain. Ada yang berdiri dan duduk-duduk di depan kabin kami.

Menjelang gelap saya dan beberapa kawan menuju gerbong makan. Suasananya berbeda dari tadi siang. Kali ini berisik, khas Cina. Hahaha

Kami memesan nasi dan tiga macam lauk. Satu meja berisi empat orang, dan dikenakan 80 Yuan setiap orangnya.

Tidak ada yang bisa dilihat di luar dalam perjalanan malam ini. Setelah makan, kami kembali ke sleeper masing-masing. Syukurlah lampu kabinnya bisa dimatikan, jadi tidurnya enak. Bangun-bangun, hari sudah terang.

P.S.

Walaupun alas tidurnya nyaman, jangan lupa dikibas-kibas dulu, karena di kabin sebelah, teman-teman saya menemukan banyak kecoa. Teman perempuan asal Malaysia bahkan tidak bisa tidur saking ketakutannya.

Asyik, ternyata, melintasi perbatasan Korea Utara dan Cina dengan kereta. Pengalaman traveling saya makin kaya dan berwarna.

17 Replies to “Tegang tapi Santai di Perbatasan Korea Utara dan Cina”

  1. Tanya donk,

    Ke North Koreanya, masuk dari China bagian mana ya? Caranya gimana? Selama di Korea utara, pakai tour ya? Bayar berapa ya?

    Berapa hari disana?

    Terima kasih

    1. Masuknya pake pesawat aku sih. Bisa juga pake kereta. Ke kota perbatasannya aja, Dandong. Aku udah cerita banyak soal DPRK, klik kategori North Korea.

  2. Seru banget sih.. Aku pernah nonton variety show orang2 Korsel ke China pake kereta api mirip dirimu, sepertinya emang seru seru menegangkan gitu ya. Ih keren, pengalamannya banyak.

    1. Berasa naik haji saking mahalnya. Hehehe. Negaranya tenang dan klasik. Kota besarnya modern, tapi pinggirannya banyak pertanian. Aku udah banyak cerita, kok, ttg pengalaman di sana. Klik aja Category North Korea.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *