Tiga Hari di Ho Chi Minh City, Vietnam

Sesuai rencana, saya menghabiskan tiga hari di Ho Chi Minh City, Vietnam. Dua hari pertama, sengaja mengunjungi tempat-tempat yang jauh, yaitu, Cu Chi Tunnels dan Delta Sungai Mekong, karena butuh waktu seharian. Hari terakhir, baru eksplor dalam kota.

Hari 1

Setelah mendarat mulus dan lancar melewati pemeriksaan paspor di Bandara Tan So Nhat, saya langsung membuka catatan sambil menuju pangkalan bus dalam kota. Sudah kebiasaan, setiap bepergian ke tempat baru, pasti membuat catatan kecil berisi nomor bus ke lokasi tujuan, alamat penginapan, nama-nama tempat wisata, bahkan pengucapan beberapa bahasa lokal. Ini penting karena saya bukan tipe orang yang akan membeli simcard lokal hanya untuk bisa terhubung dengan internet di tempat yang hanya sebentar saya kunjungi. Setiap hari hanya mengandalkan free wi-fi. Kalau salah jalan, ya dinikmati saja. Apes-apesnya keluar biaya tambahan yang bakal jadi bumbu penyedap perjalanan.

Lantaran baru nanti malam bisa bertemu host dari couchsurfing, dari bandara saya langsung tancap gas ke Cu Chi Tunnels. Berdasar catatan, dari bandara saya naik bus #152 menuju terminal Ben Thanh, lalu jalan kaki ke arah De Tham, areal backpacker di Pham Ngu Lao untuk naik bus #13 sampai ke terminal akhir. Dari sini naik lagi bus #79 menuju Cu Chi Tunnels.

Saya menghabiskan waktu beberapa jam di Cu Chi Tunnels yang saya gambarkan seperti taman hutan raya di Indonesia, banyak tanaman dan pohon-pohon besar. Semua orang bebas masuk, kecuali mereka yang ingin melihat lorong bawah tanah, atau mencoba menembak dengan senjata mematikan, macam AK-47.

Jarak tempuh dari pusat kota sekitar 1,5 jam, melewati areal perumahan warga. Bagaimana saya di Cu Chi Tunnels, ceritanya ada di sini.

Mendekati sore, saya segera kembali ke pusat kota dengan rute yang sama, tinggal tunggu bus #79 lewat, lalu naik bus #13. Saya sengaja turun di depan Jl. De Tham karena ingin melihat-lihat daerah backpacker Pham Ngu Lao, sambil mencari tur ke Delta Sungai Mekong keesokan harinya.

Belum puas sebenarnya saya menyusuri daerah ini, tapi karena menurut host saya rumahnya berjarak sekitar 45 menit dari terminal Ben Thanh, belum mengantisipasi ketersesatan, saya segera meluncur ke tempat kami akan bertemu.

Yuhuu, host saya gadis Vietnam yang sangat cantik. Dia menjemput saya dengan motor. Yes! Akhirnya kesampaian juga naik motor di Vietnam walaupun sebentar. Saya perhatikan motornya, jenis motor bebek bergigi dan sederhana sekali, tidak seperti motor-motor yang biasa dilihat di Indonesia, terawat dan gaya.

Rumah host saya ada di dalam gang kecil. Memasuki gang, saya lihat ada bendera kecil Vietnam di tiap rumah. Rumahnya berlantai dua, tidak terlalu besar, dan mirip rumah-rumah di Indonesia. Kamar mandinya terpisah dari kamar tidur, dan yang penting buat saya, toiletnya lengkap dengan flush. Yang istimewa adalah tempat tidurnya. Host saya tidur bersama adiknya di dipan beralas bambu. Saya, tidur di lantai beralas sleeping bag. Ternyata mereka juga punya bantal guling, loh.

Sebelum tidur kami sengaja ngobrol. Dia bekerja di agen travel yang biasa menjual tiket pesawat, dan sedang berencana ke Bali, Indonesia. Saya juga minta dituliskan kalimat dalam Bahasa Vietnam yang artinya “Apakah makanan ini ada babinya?”. Buat jaga-jaga, meskipun akhirnya tidak pernah dipraktikkan.

Hari 2

Sekitar jam 7 pagi, bareng host saya ke kantor, kami keluar rumah. Dia menurunkan saya di tempat semalam saya turun bus. Dari situ saya naik bus ke terminal Ben Thanh, lalu jalan kaki ke agen tempat saya memesan tur ke Delta Sungai Mekong. Tadi saya sempat bingung dengan posisi saya menunggu bus yang ada di seberang jalan, karena di sini lalu lintasnya berlawanan arah dengan Indonesia.

Setelah menunggu sebentar di kantor agen, ada seorang perempuan yang menjemput saya dengan berjalan kaki. Rupanya hanya saya sendiri yang dijemput, lalu bergabung dengan calon peserta tur dari agen lain. Jadi, di manapun kita memesan tur, nanti akan digabung dengan peserta dari agen lain.

Saya sengaja hanya mengambil paket 1-day tour seharga $8, karena sekadar penasaran dengan Sungai Mekong. Sebelum sampai ke sungai, rombongan akan dibawa ke tempat pengrajin batok kelapa dan mampir di sebuah Kuil Buddha yang terdapat Buddha Tidur dan Buddha Berdiri dalam ukuran besar. Cerita lengkapnya ada di sini.

Selesai tur, sekitar jam 15.00, kami kembali ke daerah De Tham. Karena masih terang, dan sudah tahu jalan pulang, saya kembali menyusuri daerah yang banyak turis asing asing ini sambil mencari bus malam ke Phnom Penh, Kamboja, besok. Ternyata, tidak banyak agen yang menyediakan bus malam, jadi saya putuskan kembali mencarinya besok pagi.

Sambil menunggu night market di sekitar Ben Thanh, saya beristirahat di taman kota yang ada.  Selain dipenuhi pohon dan tanaman, di sini juga terpasang fasilitas kebugaran. Selain warga setempat, banyak traveler yang memanfaatkan fasilitas di sini. Orang yang hanya duduk-duduk di bangku taman, mereka yang memanfaatkan fasilitas kebugaran, mereka yang sedang berlatih menari, anak-anak yang asyik bermain, atau sekelompok orang yang sedang senam, adalah pemandangan biasa di kawasan taman ini. Suasana seperti inilah yang bisa membuat saya betah berlama-lama di suatu tempat.

Menjelang gelap, saya melipir ke Pasar Ben Thanh (Cho Ben Thanh). Sayang, pedagang yang di dalam gedung sudah banyak yang tutup, saya hanya masuk sebentar dan memandang sekilas kios-kios yang sedang membereskan barang-barangnya. Namun di luar, masih banyak toko yang buka, termasuk para pemilik lapak yang sedang bersiap menjajakan dagangannya. Dari pakaian, buah-buahan, kopi, makanan, dan asesoris, semua ada di sini. Tinggal dinego aja harganya. Sebagian pedagangnya ada yang paham, lho, Bahasa Indonesia.

Bolak-balik di sekitar keramaian ini, membawa saya ke Jl. Nguyen An Nihn. Telinga saya menangkap suara-suara ber-Bahasa Melayu di sini. Rupanya, inilah kawasan yang banyak pedagang muslimnya, sehingga tersedia banyak pilihan makanan halal. Selain restoran, ada juga toko-toko yang menjual perlengkapan muslim.

Di mulut jalan ini ada juga money changer kalau ingin menukar dollar ke dong. Malam itu, saya tergoda membeli kaos, tas selempang, dan kopi Vietnam sachet.

Tidak ingin pulang larut, saya pulang sekitar jam 20.00. Teringat alat mandi yang tertinggal di KLIA, saya mampir dulu ke supermarket untuk belanja, dan ke warung kecil di dekatnya untuk membeli sampo sachet, karena di supermarket tadi nggak ada. Tapi pagi, saya pakai punya host saya. Pamit dulu, tapi, heheh… Fyi, di sini peralatan mandinya mirip, kok, dengan di Indonesia. Ada sampo sachet, odol mini, dan detergen mini.

Dan karena rasanya tidak terlalu jauh, saya memilih berjalan kaki menuju rumah host saya, sambil ingin menikmati suasana. Atmosfernya mirip-mirip sama daerah perumahan di Indonesia, ada banyak warung kecil dan beberapa orang yang duduk-duduk di teras rumah. Dan, karena lupa arah, saya hampir keserempet motor. Ceritanya, saat menyeberang di persimpangan saya dikejutkan oleh motor yang belok kanan. Untung selamat walaupun saya dan pengendaranya sama-sama berseru kaget. Tadinya mau kesal, tapi jadi lucu sendiri karena dipikir-pikir, saya, kok, salah.

Oiya, kebiasaan warung pinggir jalan di sini, bangku pelanggannya adalah bangku plastik kecil. Semi jongkok gitu, jadinya. Ini banyak saya lihat selama saya kurilingan di HCMC.

Hari 3

Sama seperti kemarin, saya keluar bareng host saya kerja. Tapi kali ini langsung berpamitan karena akan berpindah kota dan negara. Saya naik bus kota ke Ben Thanh, lalu bergegas sarapan pho halal di daerah Jl. Nguyen An Nihn. Harganya 60Dong, di warung orang Malaysia.

Setelah itu, saya kembali hilir mudik mencari bus malam murah ke Phnom Penh. Saya ketemu yang harga tiketnya $12 di Thanh Cong Tourism. Nama busnya Kampuchea Angkor Express. Ltd. Berangkatnya sekitar jam 12 malam, dan saya akan dijemput di loket sekitar jam 23.00. Setelah dibayar lunas, kepada petugasnya saya menitipkan ransel karena ingin berkeliling kota. Nanti, sebelum loket tutup, saya kembali.

Jalan kaki di HCMC sangat menyenangkan. Trotoarnya luas, jalan-jalannya rimbun dan tedu. Walaupun banyak pedagang dan tukang becak (ala Vietnam) yang menawarkan dagangan dan jasa, saya sama sekali tidak terganggu selama mereka tidak memaksa.

Jujur, saya tidak tahu mesti jalan ke mana, yang penting keliling sambil menunggu malam. Walaupun berbekal selembar kecil peta kota, saya tetap bertanya pada orang di jalan dengan menunjukkan gambar di peta. Daripada kelihatan linglung.

Jalan tak menentu, akhirnya saya bertemu History Museum (Bao Tang Thanh Pho Ho Cihi Minh). Karena bayar, cukuplah saya memoto gedungnya saja. Lalu, saya menemukan City Hall yang megah. Sayang, taman di depannya sedang direnovasi, sehingga tidak bisa melihat patung Ho Chi Minh. Jalan sedikit, sampailah saya di depan gereja Notre Dam Cathedral yang berseberangan dengan Post Office (Buu Dien Trung Tam) yang berwarna kuning cerah. Uniknya, walaupun dipenuhi para wisatawan, kantor pos tersebut tetap beroperasi, bahkan ada penjual suvenir di dalamnya.

Dari sini, saya melanjutkan berjalan kaki, dan melihat bangunan berpagar tinggi. Inilah Reunification Palace. Karena masih tutup, jam istirahat, saya memilih memotret gedungnya saja. Setelah duduk sebentar di bangku taman di seberang gedung, saya beranjak lagi.

Saya tidak terlalu memperhatikan peta, hanya mengikuti keramaian saja, dan akhirnya tiba di War Remnants Museum yang halaman depannya penuh dengan kendaraan perang. Karena masih istirahat, saya memilih menunggu dengan melihat-lihat sekitar, lalu membeli kopi sambil duduk di bangku pendek, di trotoar.

Saya ngotot masuk ke museum ini karena ada hubungannya dengan cerita di Cu Chi Tunnel dan Perang Vietnam. Wow, kebanyakan pengunjungnya adalah turis asing. Kebayang berapa banyak wisatawan yang datang ke kota ini. Sebenarnya saya bukan penikmat museum dan benda sejarah. Masuk ke tempat seperti ini hanya sekadar untuk menambah pengetahuan saja.

Dari museum, niatnya mencari sebuah kuil yang ada pagodanya, yang kata peta ada di dekat sini. Pelan-pelan saya susuri jalan, dan melihat ada kuil berpagoda. Tapi karena sepi, saya yakin ini hanya tempat ibadah biasa.

Tidak lama di sana, saya memutuskan kembali ke pusat kota. Sekadar untuk meyakinkan arah, saya bertanya arah kepada seorang warga. Supaya gampang, yang saya tanyakan adalah arah ke Ben Thanh, dan yeay! Saya berada di jalan yang benar.

Senang sudah memutuskan berjalan kaki, karena saya bisa menikmati sisi lain kota, yang menurut saya tidak ada tanda-tanda komunis. Masyarakatnya santai dan bebas berkegiatan. Jauh berbeda dari suasana di Pyongyang, Korut, yang pernah saya datangi.

Supaya afdol ke Vietnam, saya mampir ke kedai kopi terkenal se-Vietnam, Trung Nguyen. Pesan kopi standar, Vietnam Coffee, internetan, dan mengistirahatkan betis.

Meskipun kaki masih cenat-cenut, eksplorasi harus lanjut. Rencananya mau ke gedung super tinggi, Bitexco Financial Tower, yang kelihatan terus sepanjang saya di HCMC. Keliling-keliling sampai dua kali melewati jalan yang sama, gedung tersebut belum juga terlihat pintu masuknya. Akhirnya, karena hari makin gelap dan saya penasaran ingin ke masjid, akhirnya saya putuskan ke masjid saja.

Lagi-lagi saya kular-kilir, bahkan bertanya kepada perempuan yang mengenakan jilbab, masjidnya belum juga terlihat. Akhirnya, dengan mengandalkan peta dan catatan tentang lokasi masjid, pelan-pelan saya kembali menyusuri jalan di sana, dan tampaklah menara masjid berwarna putih kehijauan. Hikmah yang saya dapat hari ini adalah susuri jalan sesuai peta.

Kabarnya, di sini adalah perkampungan muslim. Tidak heran, di seberang masjid ada beberapa restoran halal yang kesannya lebih mewah daripada yang di dekat Ben Thanh. Masjidnya, Jamiul Muslimin, yang berdiri dari tahun 1935 ini adalah yang terbesar di HCMC. Bagi yang penasaran, masjid ini ada di Jl. 66 Dong du, Ben Nghe.

Saya datang sebelum waktu salat magrib, jadi saya melihat-lihat dulu ke sekeliling. Lalu saya disapa oleh penjaganya yang ternyata orang Indonesia yang sudah lama menetap di HCMC. Ketika di dalam saya bertemu dengan jamaah perempuan yang semuanya ibu-ibu dan nenek-nenek. Konon, mereka ini kebanyakan adalah orang Melayu yang sudah menetap lama di sana, sehingga bicaranya sudah ber-Bahasa Vietnam. Dan mumpung di masjid, saya langsung menjamak sholat magrib dan isya.

Mungkin, karena melihat saya agak sempoyongan di trotoar, saya ditegur oleh pria bertampang entah India entah Arab, yang tadi saya lihat di masjid. Mereka berboncengan naik motor, dan salah satunya menanyakan saya mau ke mana. Saya jawab saja ke Ben Thanh, dan diberitahunya arah ke sana. Itulah bentuk dari membantu sesama muslim, kali ya. 😉

Jalan yang saya lalui sepertinya berbeda dari jalan yang saya susuri tadi sore. Di jalan yang ini saya melihat banyak gedung tinggi modern serta pekerjaan konstruksi. Tidak lama, tampaklah gedung Pasar Ben Thanh. Sebelum ke sana, saya mengambil tas dulu di loket karena kalau saya tingalkan makan dan keasyikan jalan malam, khawatir kantornya keburu tutup.

Malam itu saya kembali ke jalan tempat saya sarapan. Setelah melihat-lihat jenis makanan yang sesuai dengan dana yang tersisa, saya memilih Banh Mi seharga 20Dong sebagai menu makan malam. Penjualnya gadis Vietnam berkerudung yang bisa berbicara Melayu sedikit-sedikit. Saya beli dua. Satu makan di sana, satunya sebagai bekal perjalanan.

Tiba-tiba, saya ingat harus mengisi amunisi, alias baterai handphone, powerbank, dan kamera. Segera saya kembali ke loket. Dasar rezeki cewek soleha, penjaganya rela saya ngecas di sana sampai loket mereka tutup. Cerita lengkap perjalanan saya dengan bus malam ke Phnom Penh, ada di sini.

32 comments Add yours
  1. itu dapet host nya mesti terhubung ma dia dulu di jaringan backpacker apa gmn mbak? Lalu ikut one day tournya juga udah daftar dari Indonesia kah? Hehe, seru nih nyimak solo traveler 🙂

  2. Wuaaaa keren banget Mba bisa traveling sendirian. Keren juga pengalamannya. Kalo aku, masih belum berani jalan sendiri walaupun di Indonesia. Jadi prefer cari teman jalan dulu.

  3. Melihat foto yang pasar malamnya, selalu membuat saya terkecoh dengan kondisi dan keadaan di Indonesia ya Mba. Persis sama banget. Bahkan kalau nonton film luar negeri yang ada orang vietnamnya, suka saya pikir orang indonesia. Betapa kebudayaan dan kondisi fisik kita tak jauh berebeda ya, cuma beda bahasa aja yang bikin saya puyeng sama bahasa vietnam 😀

  4. Bookmarrk…bw malem ngantuk jadi melek…bisa liat vietnam dri blog..keren banget dirimu mba..membantu banget buat yang munjin pengin traveling tapi belum bisa..klo senggang mau baca baca lagi perjalanan yg lain

  5. Huaaa…salam kenal Mbaa..
    Keren bangeg bisa jadi solo traveller. Bakalan sering mampir ke blognya nih, biar ketularan semangat jalan2. Hahaha. Btw aku baca kopi vietnam jadi inget kasus yang ramai beberapa bulan yang lalu. Yang sianida itu lho 😀

  6. Wow, Rinda keren banget, traveling sendirian. Saya belum pernah sampai ke Vietnam, baru ke Malaysia, Thailand dan Singapore doank yang jalan sendirian. Ke negara lainnya belum nyoba. Btw, Vietnam kayaknya menarik banget nih, masukin ke daftar destinasi berikutnya, ah!

    1. Gak mbak… cuma aku suka ngebawain sesuatu aja. Itu pun kalo ada. Bayar sama waktu dan kebersamaan juga oke kok, kalo emang gak bisa trakhir. Hehehe…

  7. Wow mba solo ya ke sana? Kereeen. Hebat!
    Dapet hostnya dari mana mba?
    Seru bgt yaa..
    Nanti mau ajak ahza travelling juga ah kalau udah gedean 🙂
    Makasih sharenya ya mba 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *