Travel Blogging makin Tenang dan Nyaman bersama Gawai Idaman

Beberapa bulan lalu…

Langkah santai ini tiba-tiba melambat. Tangan gelisah meraba dalaman tas dan seluruh saku yang ada di sana. Tak lupa semua kantong pada pakaian yang dikenakan.

Mencoba tenang dan berpikir positif sebab kejadian seperti ini bukan yang pertama. Tapi sesak di dada terasa berbeda kali ini. Segera, begitu melihat meja kosong, saya mengeluarkan semua isi ransel, termasuk wadah-wadah beritsleting tempat berbagai barang yang disimpan sesuai fungsinya.

Confirmed, yang dicari tidak menyelip di manapun. Jatuh di mana? Perasaan, nggak dengar bunyi apa-apa. Pas turun, masih dipegang. Malah sempat bikin video, saya mencoba mengingat sembari melawan kecemasan yang semakin melanda kuat.

Saya menoleh ke arah lorong di belakang badan. Terbayang jarak ke sana, dan harus berhadapan dengan peraturan yang melarang siapapun masuk, kecuali petugas. Tapi, saya harus mencoba mencari tahu. Saya harus mendapatkannya, karena benda itu adalah salah satu partner andalan dalam bekerja.

Lemas, saya kemasi barang-barang, lalu melangkah cepat ke arah saya datang tadi. Sempat berpapasan dengan karyawan berkemeja putih, tapi dia mempersilahkan saya lewat setelah mendengarkan alasannya. Dalam keadaan tergesa-gesa tanpa ingat harus kemana, saya ditegur petugas wanita berseragam yang tidak saya lihat keberadaannya.

Dengan agak terbata saya mengutarakan maksud hati. Setelah menyebutkan nama maskapai yang tadi ditumpangi, dia menyuruh saya mengikutinya. Langkah pelan saya membuatanya berseru agar bergegas lantaran pesawat terbang yang tadi saya naiki sedang boarding.

Kami melewati pintu kaca yang ada mesin pemeriksaan barang penumpang. Ada beberapa petugas berseragam. Petugas yang bersama saya mengucapkan sesuatu, lalu berjalan ke arah tangga. Salah satu petugas wanita menyuruh saya menunjukkan paspor dan potongan boarding pass. Setelah berkata agar tas ditinggalkan, dia mempersilahkan saya menyusul rekannya yang sudah menuruni tangga. Segera saya ikuti, dan sampailah kami di areal landasan.

Petugas wanita yang bersama saya sedang berbicara pada petugas lain. Tak lama, muncul bapak-bapak berkumis sambil mengusap wajahnya dengan handuk kecil. Dia mendengarkan perkataan petugas wanita yang datang bersama saya, kemudian mengalihkan matanya ke arah saya sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.

Seketika badan saya lemas dan terasa ringan. “Thank you.” ucap saya saat mengambil benda berwarna hitam itu dari tangannya. Segera saya nyalakan untuk memastikan wallpaper-nya, dan mengacuhkan kondisi layarnya yang retak.

“Lain kali !@#$%^…” Tidak jelas apa yang bapak itu katakan. Saya langsung menggenggam ponsel kesayangan itu dengan erat, dan berusaha tersenyum, lalu segera meninggalkan mereka.

Saya lempar cengiran sembari menunjukkan apa yang tadi dicari kepada petugas yang menunggui barang saya. Dia balas tersenyum, dan bertanya maksud kedatangan saya. Saya sebutkan nama festival musik yang hari ini baru dimulai gelarannya, dan saya merupakan salah satu media yang diundang. Ibu itu mengangguk mengiyakan. Tanpa lupa sekali lagi mengucapkan terima kasih, saya beranjak keluar.

Jangan lagi kejadian, bisik saya. Untung bandara di Sarawak, Malaysia, ini kecil…

(dijepret oleh rekan travel blogger, Evi Indrawanto)

Sekarang…

Bukan sombong, saya memiliki dua ponsel. Keduanya keluaran lama, dan memiliki kegunaan berbeda.

Ponsel yang diceritakan di atas, saya dapatkan saat kuliah di Jepang. Sengaja tidak dioprek, atau istilahnya jailbreak, karena sayang. Ini handphone idaman dari masa remaja, dan ingin saya pelihara keasliannya. Sekarang, fungsi utamanya hanya sebagai kamera, dan sesekali untuk mengakses media sosial.

Satu lagi, android. Sebenarnya itu punya mama, hadiah dari adik. Tapi, karena mama ‘malas’ belajar ulang cara mengoperasikannya, dia mempercayakan smartphone itu kepada saya. Fungsinya sebagai alat komunikasi utama, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Kualitas kameranya lumayan, tapi ada momen-momen tertentu yang hasilnya kurang memuaskan, khususnya pada kondisi minim cahaya.

Saat traveling, dua-duanya selalu dibawa untuk mendukung profesi yang sedang saya seriusi, yaitu travel blogger. Fyi, persaingan blogger zaman sekarang, tidak cuma soal konten informatif, tapi juga visual. Karena sejatinya, blogger masa kini agak sulit dipisahkan dari para influencer atau buzzer yang sering mengampanyekan produk atau event via medsos dengan cara posting foto pribadi.

Kalau dulu tulisan cukup dihiasi dengan foto, sekarang ada tuntutan untuk menambahkan video. Nah, dengan skill fotografi seadanya ini, mutlak, diperlukan gawai yang bisa membantu menutupi kekurangan saya. Apalagi sebagai penulis bertemakan wisata, saya harus mampu menyajikan foto-foto suatu tempat dengan angle menarik yang menggoda para pembaca, bukan hanya selfie selebar layar dengan ekspresi pura-pura bahagia.

Saya punya mirrorless, tapi agak ribet kalau hasilnya langsung dipajang di media sosial. Jujur, saat traveling atau sedang liputan, saya lebih nyaman mendokumentasikan momen dengan kamera ponsel daripada kamera sungguhan. Lebih praktis.

Selain itu, saya ingin meninggalkan kebiasaan membawa dua ponsel, demi ketenangan batin di perjalanan. Jujur, ada yang kurang jika bepergian tanpa membawa salah satunya. Namun, perasaan cemas yang selalu timbul saat salah satu tidak dalam jangkauan, pelan-pelan bisa melemahkan jantung saya. Kantong celana saya anggap bukan tempat yang aman untuk menyimpan handphone, karena kerap terjatuh saat duduk, atau was-was dicuri tanpa saya sadari ketika di keramaian.

Sering, saya berharap bisa memiliki ponsel yang dapat meringankan beban saya itu. Seandainya bisa meminta di bulan kelahiran, September ini, saya ingin dihadiahi satu handphone oke yang tipis, hasil fotonya tajam, dan kapasitas memori besar.

Andaikan ada perangkat seperti itu, akan saya nobatkan sebagai smartphone idaman 2018 versi saya. Kepingin banget pergi-pergi dengan hanya mengandalkan satu gawai multifungsi, sehingga  pikiran tetap santai kalau salah satunya tidak ada. Selain itu efektif juga, karena hanya perlu ngecas satu alat seandainya berada di tempat yang susah listrik atau minim colokan.

Eh, ternyata ada. Hidup gua emang serba ngepas. Pas ngebayangin punya hp idaman, pas Huawei ngeluarin produk anyarnya. Namanya Huawei Nova 3i. Sekilas, tampilan luarnya tipis seperti yang saya impikan. Corak indah di kaca belakang, dan bingkai metal pada bagian tengahnya memberi kesan fisik yang elegan.

Sekarang kita gali keunggulan lainnya.

1. Sebenarnya ada tiga pilihan warna, black, camaro, dan irish purple. Saya kepincut dengan paduan warna irish purple. Unik.

Desain irish purple yang eye catching memberi gradasi warna menarik yang membuatnya gampang terlihat di keramaian. Jadi, seandainya ada banyak smartphone tergelatak meja, pemiliknya akan mudah mengenali ponselnya.

2. Punya ponsel berkamera depan dan belakang saja sudah sangat girang, ini malah punya empat kamera alias dual camera. Belum kebayang asyik dan puas menggunakannya.

Nggak main-main, semua kameranya berkekuatan AI (Artificial Intelligence) dengan 24 MP dan 2 MP untuk kamera depan, serta 16 MP dan 2 MP untuk kamera belakang. Bakalan sering selfie kalau begini, padahal saya termasuk yang ogah banget berswafoto kalau tidak terpaksa.

Bagi saya yang punya kebiasaan solo traveling, handphone seperti ini sangatlah berfaedah sebab bisa mengurangi ketergantungan pada orang lain buat motoin. Saya bisa foto sendiri pakai tongsis atau tripod, tinggal atur posisi dan timer. Ditambah layarnya yang lebar, 6,3 inci, mau selfie jarak dekat atau jarak jauh, bukan masalah lagi.

Dengan kamera secanggih itu, lalu ditambah fitur HDR pro, hasilnya bisa setara dengan kamera profesional. Jernihnya dapat, dan bisa melahirkan efek bokeh yang alami. Pun untuk video, produksi gambarnya tidak kalah tajam, bahkan saat di bawah matahari.

Begitupun untuk foto pemandangan, dengan aperture f/2.2, efek bokeh yang tercipta bisa terlihat sangat profesional, sehingga menambah kepercayaan diri untuk ikutan lomba foto. Pokoknya, untuk foto dan video, telepon pintar satu ini sangat praktis dan efektif. Momen-momen yang ditangkap, bisa terkesan hidup dan indah.

(sumber: https://consumer.huawei.com/id/phones/nova3i/)

Dengan teknologi AI, organisasi foto dan video juga jadi lebih mudah, karena bisa diatur sesuai tanggal, tempat, dan objek foto. Dengan begini, pencarian akan lebih gampang saat diperlukan untuk dikirim atau posting.

3. Satu alasan kenapa saya memerlukan banyat gadget untuk memotret adalah demi penghematan. Kapasitas penyimpanan kedua ponsel yang saya miliki sangat terbatas. Setiap pulang liburan atau liputan, pasti foto-foto dan videonya langsung ditransfer ke laptop. Ada kalanya lupa dan malas, berakibat saya gagal menangkap momen karena sibuk menghapus galeri atau aplikasi yang memberatkan ruang penyimpanan.

Sekarang ada solusinya. #HuaweiNova3i_ID ini memiliki kapasitas 128 GB, termasuk yang paling besar di kelas smartphone mid-end saat ini. Butuh banget saya, supaya nggak melulu kehilangan momen akibat hp ngadat karena memori penuh.

4. Buat yang hobi nge-game, ponsel ini juga diperkuat dengan GBU Turbo untuk kemampuan gaming. Ditambah chipset Kirin 710 berteknologi 12nm, hasil gambarnya sangat responsif dan halus. Saking mulus dan hidupnya gambar, bisa-bisa membuat lupa waktu dan umur saking serunya main.

Selain itu, teknologi AI yang ada, membuat performa SoC-nya maksimal. Itu artinya, berbagai notifikasi, termasuk panggilan telepon yang dianggap kurang penting, bisa dihalau sejenak agar tidak mengganggu permainan.

Seandainya sungguhan ketempoan memiliki Huawei Nova 3i ini, pasti mempengaruhi aktivitas harian saya. Dengan layarnya yang lebar, jangankan nge-game, untuk nonton dan edit video juga akan lebih nyaman. Pun, ngeblog atau bikin caption juga lebih menyenangkan kalau ngetiknya di layar lebar.

Demi ketenangan dan kenyamanan traveling and blogging, let’s #ChooseTheBest smartphone!

Huawei Nova 3i Blog Competition by Koh Huang.

9 comments Add yours
  1. Kamera 24 mp nya kalo di pake buat motret objek saat travelling pasti hasilnya akan sangat bagus, pake fitur AI gitu, sip banget pokonya Huawei Nova 3i ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *