Bekerja Bersama #UbahJakarta Menjadi Sahabat Para Pengguna Transportasi Publik

“Gampang, tinggal naik DAMRI.”

“Jurusan apa?”

“Tinggal nanya nanti sama petugasnya…”

“Ya udah. Hati-hati.”

Begitulah kira-kira percakapan yang dulu sering terjadi antara saya dan ibu setiap saya mengutarakan niat akan ke ibukota.

Gambaran Jakarta sebagai kota ‘super besar’ di Indonesia yang rentan kejahatan begitu melekat di kepala kami, orang daerah. Kekhawatiran dijambret, dicopet, bahkan diculik, menjadikan kami harus ekstra waspada setiap berada di Jakarta.

Bukannya kota-kota lain lebih aman, hanya saja hal-hal negatif tentang sebuah kota, seolah semua ada di Jakarta. Mau jenis kejahatan seperti apa? Ada di sana. Salah satu tempat yang dianggap paling rawan itu adalah di kendaraan umum.

Sekitar belasan tahun lalu, bukan hal aneh kalau mendengar ada yang kecopetan di bus atau kereta di Jakarta. Semakin diperparah dengan ulah para pemeras berkedok pengamen bersuara buruk. Daripada bernyanyi, mereka lebih banyak bergumam tidak jelas, lalu memaksa minta uang kepada penumpang. Kalau tidak diberi, malah nyolot dengan kata-kata asal tuduh.

Saya sendiri, yang pada awal 2000an masih kuliah di Bandung, dan beberapa kali ke Jakarta, selalu pasang sikap setiap naik bus. Tas dipeluk erat, uang kecil disiapkan di kantong celana agar tidak buka-buka dompet, dan selalu duduk di pinggir jendela supaya pandangan teralih saat ada pengamen atau pedagang di dalam bus mendekat.

Kekhawatiran ini berangsur mereda semenjak ada TransJakarta, bus yang memiliki jalur khusus, dan melewati daerah-daerah penting di dalam kota. Setiap akan ke Jakarta, saya selalu mencari tahu apakah tujuan saya bisa dijangkau dengan busway, sebutan lazin untuk TransJakarta.

Semua juga tahu, beroperasinya TransJakarta pada tahun 2004 adalah salah satu upaya untuk mengurai kemacetan ibukota yang dianggap sudah sangat parah. Tapi itu belum cukup. Hingga detik ini pemerintah masih gencar mencari solusi untuk permasalahan ini.

Transjakarta belum mampu memenuhi ekspektasi para pengguna transportasi umum. Pelayanan dan fasilitasnya juga harus mengakomodasi berbagai kebutuhan penumpang. Lajur yang sering diserobot kendaraan lain, armada yang kurang hingga sering datang terlambat, terjebak macet, minim fasilitas bagi penyandang cacat, hingga berbagai kejahatan, seperti copet, lalu diperparah dengan pelecehan seksual, makin menyurutkan minat warga untuk beralih dari kendaraan pribadinya.

Namun, terlepas dari tujuannya untuk mengurangi kemacetan di jalan-jalan utama ibukota, TransJakarta lumayan mengakomodasi kebutuhan para pelancong. Hanya satu kali bayar, Rp3500, saya bisa ‘jalan-jalan’ melihat Jakarta selama tetap berada di dalam haltenya. Busnya nyaman karena berpendingin dan bersih, serta ada petugas ramah yang siap menjawab pertanyaan tentang di halte mana saya harus turun kalau mau ke tempat yang saya tuju.

Sayangnya Jakarta bukan hanya tentang saya. Jakarta adalah milik Indonesia, kiblat kemajuan sebuah daerah. Meskipun terkenal macet, Jakarta selalu menjadi destinasi favorit. Belum lengkap rasanya jadi orang Indonesia kalau belum ke Jakarta.

Untuk itulah pemerintahnya selalu berusaha memuaskan semua yang ada di ibukota. Di antara banyak isu tentang Jakarta, kemacetan adalah primadona yang selalu butuh perhatian. Silih berganti pimpinan, isu kemacetan adalah top priority mereka. Masyarakat pun selalu menuntut pemecahan dari masalah ini.

Tak putus-putus pemerintah menyerukan agar warga Jakarta menggunakan transportasi publik, tapi bebal. Masyarakat terlanjur berkaca kepada negara maju bahwa kendaraan umum harus memiliki tampilan fisik yang mulus dan terawat, bagian dalam yang sejuk dan akomodatif, serta datang sesuai jadwal. Itu sebabnya, pemerintah meminta dukungan pemilik kendaraan umum agar melakukan peremajaan armadanya secara berkala. Aturan terkait kenyamanan di dalam kendaraan juga dikeluarkan, misalnya melarang pengamen dan pedagang masuk ke dalam kendaraan umum yang sedang mengangkut penumpang, serta melarang penumpang makan dan minum di dalam kendaraan umum.

Selain itu, pastinya, Jakarta butuh moda transportasi massal lain yang mampu menampung penumpang dalam jumlah banyak. Jadi jangan heran kalau ada berbagai program di Jakarta terkait transportasi dan ruas jalan, seperti Transjakarta, Three in One, Jalan Layang Non Tol (JLNT), Pembatasan Lalu Lintas Ganjil Genap, Simpang Susun Semanggi, dan yang sedang dikerjakan saat ini, Light Rail Transit (LRT) dan Mass Rapid Transit (MRT).

Semua kebijakan tersebut adalah upaya Pemda DKI untuk mengurai kemacetan di kotanya. Apakah pemerintah bisa bekeja sendiri? Tentu tidak.

Pemerintah butuh peran aktif warganya. Masyarakat harus mau pelan-pelan mengubah gaya hidupnya, dari pengguna kendaraan pribadi, menjadi pengguna transportasi publik. Ini berlaku untuk kalangan manapun.

Kalau keamanan dan kenyamanan adalah yang dirisaukan banyak pengguna kendaraan umum, mungkin MRT Jakarta akan mampu merespon kegelisahan itu. Lihat saja desain salah satu stasiunnya. Kebayang, kan, bagaimana fasilitas di dalamnya. Belum lagi melihat keseriusan pemerintah daerah DKI dan pusat dalam menyelesaikan mega proyek ini.

Desain Stasiun MRT Lebak Bulus (Foto: jakartamrt.co.id)

Saat ini pengerjaan MRT Jakarta sedang terfokus pada Fase I yang target operasinya adalah tahun 2019. Peletakan batu pertama telah dilakukan pada 10 Oktober 2013 oleh Presiden Jokowi. Pada koridor ini, telah dibangun jalur kereta sepanjang 16 kilometer, meliputi 10 kilometer jalur layang dan enam kilometer jalur bawah tanah. Ada tujuh stasiun laying, yaitu Lebak Bulus (lokasi depo), Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Sedangkan di bawah tanah ada 6 stasiun, dimulai dari Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia.

(Foto: jakartamrt.co.id)

Makin keren, nih, Jakarta. Sebagai orang daerah yang sesekali mengunjungi ibukota, saya menantikan betul armada modern ini beroperasi. Siapa tahu, kalau semua orang di Jakarta terbiasa naik kendaraan umum, pas naik MRT bisa berpapasan dengan artis idola, tokoh nasional, pejabat negara, atau orang terkenal lainnya.

Mari kita bekerja bersama #UbahJakarta menjadi sahabat para pengguna transportasi publik!

Referensi:

  • http://ubahjakarta.com/
  • https://kominfo.go.id/content/detail/5197/membangun-transportasi-umum-mengurangi-kemacetan/0/infografis 
  • https://twitter.com/DKIJakarta/status/813573334688333825
  • http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160915085639-23-158404/angkutan-massal-pengurai-macet/

 

6 comments Add yours
  1. wahh,, ditunggu-tunggu banget transportasi ini.. Semoga dengan membaik ny transportasi umum, bisa membuat masyarakat berpindah haluan menggunakan nya dan bsa mengurangi macet..

  2. Menggunakan transportasi umum sebenarnya adalah pilihan baik untuk warga jakarta dan pelancong. Sayang sepertinya masih belum jadi favorit ya. Semoga MRT nanti bisa mempengaruhi warga untuk menggunakan transportasi umum

  3. Saya yang paling mendukung deh, kalo sistem transport di negara kita ini direncanakan sebaik mungkin. Apalagi Jakarta, udah terlalu ruwet! Katanya, pertumbuhan kendaraan pribadi bisa sampe 6000 unit per hari loh, hiks! Kalo transport bagus, kan bisa megurangi banget polusi….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *