3 Destinasi Wisata Kintamani Anti-mainstream

3 destinasi wisata Kintamani yang sudah ama diincar

Mungkin, karena di Bengkulu hampir setiap hari melewati pantai, destinasi ini bukanlah favorit saya ketika tempo hari ke Bali. Saya lebih memilih spot hijau-hijau yang adem meskipun butuh tenaga dan biaya untuk mencapainya.

Lantaran itu bukanlah kunjungan pertama ke Bali, saya sengaja menghindari pantai, tebing, pura, sawah, dan pasar. Kebetulan, semua destinasi incaran saya berada di satu tempat, yaitu di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Wisata Kintamani dari kejauhan
Menatap wisata Kintamani dari ketinggian

Dari tempat penyewaan motor di daerah Kuta, saya langsung melaju ke arah Kintamani. Meskipun pemilik rental menyarankan untuk menggunakan Google Map, saya lebih nyaman mengandalkan papan hijau petunjuk jalan dan sesekali bertanya pada warga.

3 Destinasi Wisata Kintamani

Inilah aktivitas yang saya lakukan selama berada di Kintamani:

Bermalam di Desa Penglipuran

Begitu memasuki daerah Kintamani, tujuan pertama saya siang itu adalah Desa Penglipuran. Saya penasaran melihat suasana desa yang dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih di dunia itu.

Saya tidak akan bercerita panjang tentang desa wisata satu ini, karena ceritanya ada di mana-mana. Sebagai gantinya, saya akan berbagi pengalaman menginap di salah satu rumah warganya.

Sebenarnya saya tidak berencana menginap di desa ini, meskipun pernah baca bahwa di sini ada homestay. Malah saya niatnya pingin tidur di daerah Ubud, tapi belum pesan penginapan di manapun.

Ketika hendak keluar dari Desa Penglipuran, saya melihat tulisan GUESTHOUSE. Penasaran, saya bertanya ke Bagian Informasi.

Ternyata, guesthouse diperuntukkan bagi rombongan, sedangkan kalau sendirian, mending homestay di rumah warga. Tarifnya berkisar dari Rp275.000 hingga Rp350.000.

Sejujurnya, saya ada incaran penginapan di jalur ke Gunung Batur, karena memang mau mendaki. Sayangnya, pas dicek, kamarnya penuh. Saya coba kontak, siapa tahu masih ada kamar kosong, slow response. Daripada tanpa kepastian, sementara hari sudah sore dan hujan, mending di sini saja.

Lagian, kalau saya di Ubud, terus mau ke Gunung Batur, berangkatnya harus jam 01.00 wib. Saya, kan, belum tahu jalannya. Selain itu, hari gelap, dan saya adalah tipe pengendaraa lelet. Sudahlah.

Saya kebagian homestay tipe B seharga Rp300.000. Agak di luar budget, sebenarnya, tapi, kan, saya nggak harus berangkat dini hari ke Baturnya.

Selain itu, pengalamannya pasti berbeda. Memang banyak pengunjung di Desa Penglipuran, tapi belum tentu mereka pernah merasakan suasana malamnya.

Tidak berapa lama, pemilik homestay bernama Made Yudha menjemput saya dengan sepeda motornya. Saya mengikutinya keluar dari areal desa, lalu masuk ke sebuah pagar rumah bertuliskan KAYARA.

Terlihat halaman luas dengan sebuah bangunan dua pintu di ujungnya. Salah satunya kamar saya. Di sampingnya ada garasi mobil dan motor. Saya tinggal jalan sebentar ke belakang, sudah langsung berada di salah satu rumah di Desa Penglipuran yang tadi saya kunjungi.

Saya jadi mikir, harusnya tadi saya tidak perlu membeli tiket masuk desa seharga Rp25.000 untuk WNI dewasa. Tamu yang menginap di homestay sudah pasti punya akses bebas, bak warga lokal.

Sejujurnya, saya mikir bakal menginap di rumah warga dalam arti yang sesungguhnya. Makan dan tidur di bawah atap yang sama.

Ternyata, rumah-rumah di Desa Penglipuran itu sudah ada aturannya. Setiap pekarangan rumah harus memiliki tempat ibadah, balai-balai mini untuk acara pernikahan, dapur, dan rumah tinggal yang disesuaikan dengan jumlah Kepala Keluarga. Mereka yang menetap di sana haruslah warga asli Penglipuran.

Rata-rata rumah di sana tidak terlalu besar dan hanya satu lantai. Areal itu terhitung sebagai tanah adat yang luas dan peruntukannya tidak boleh diubah-ubah.

Masing-masing rumah biasanya memiliki lahan lebih di bagian belakang yang bukan dianggap sebagai tanah adat. Bagian itulah yang bebas mau dijadikan apa, termasuk homestay.

Selayaknya penginapan, di kamarnya tersedia tempat tidur, lemari, dan kamar mandi. Listrik dan airnya juga ada. Sayang saja, homestay saya belum terpasang internet, kecuali di bagian rumah pemiliknya.

Tamu memiliki privasinya sendiri. Kita juga bebas berinteraksi dengan pemilik, kalau ingin mencari tahu tentang kehidupan di sana.

Rumah-rumah di Desa Penglipuran itu bukan sekadar hunian tradisonal. Mereka juga membuka usaha, seperti berjualan pernak-pernik khas Bali, penyewaan pakaian adat, dan rumah makan.

Tamu yang berkunjung, bukan hanya mondar-mandir melihat lingkungan desa yang bersih, tapi juga bisa berkontribusi pada kehidupan masyarakat dengan membelanjakan uangnya. Kita juga bisa belajar tentang bagaimana patuhnya masyarakat pada adatnya.

Buat teman-teman yang berminat bermalam di Kayara Homestay milik Made Yudha, bisa datang langsung saja ke Desa Penglipuran, lalu cari rumah nomor 9. Posisinya di dekat pintu masuk utara.

Mendaki Gunung Batur

Saya memang berencana solo hiking ke Gunung Batur. Tadinya mau ikut open trip, tapi baru Sabtu malam dia memastikan keikutsertaan saya, padahal sudah saya tunggu dari kemarin. Terpaksa saya batalkan.

Nekad, sebenarnya mau sendirian ke Gunung Batur, tapi tidak ada pilihan, ya, mau gimana. Ternyata, alam tidak tega. Dia mengirimkan seseorang untuk menemani saya mendaki.

Ceritanya, saat sedang menunggu kepastian soal homestay di Pusat Informasi Desa Penglipuran, saya ngobrol dengan pekerja di sana. Tanya-tanya soal tempat wisata Kintamani terdekat dari sana. Mereka sempat kaget pas saya bilang mau ke Gunung Batur sendiri.

“Besok saya libur.” kata salah seorang di antara mereka berdua.

Spontan saya sambar. “Temanin saya aja, yuk, ke Gunung Batur?”

Saya pikir, daripada saya sendirian, mendingan ngajak teman. Siapa tahu bisa naik gratis sebagai warga lokal, tanpa harus menyewa pemandu.

Dia, yang akhirnya saya tahu bernama Yuni, sempat mikir, lalu berjanji akan memberi kepastian nanti. Apapun keputusannya, tidak masalah buat saya.

Saat sedang ngobrol santai dengan pemilik homestay, Yuni datang, memastikan kesediaannya ikut ke Gunung Batur. Dia malah sudah tanya-tanya sama temannya yang biasa jadi guide ke sana.

Temannya itu ikut juga. Saya makin senang. The more the merrier.

Ternyata… temannya itu tetap mematok harga. Sebenarnya, saya rada ragu, mau pergi bertiga, tapi saya juga nggak mau Yuni batal ikut. Solusinya, saya minta setengah harga.

Saya bersyukur banget akhirnya gagal sendirian ke Gunung Batur. Sebagai warga lokal, Yuni sudah tahu jalan ke Gunung Batur, dan saya biarkan dia yang mengendarai motor.

Temannya juga menyenangkan. Namanya Komang. Ini nomor kontaknya, jika teman-teman membutuhkan: 0878 – 9790 – 5693. Dia bisa membantu jika ingin berkunjunh ke wisata Kintamani lainnya.

Ketinggian Gunung Batur hanya 1.717 mdpl. Ada beberapa jalur, dan kami melalui Toya Bungkah. Pendakian hanya sekitar 1,5 – 2 jam. Meskipun tidak terlalu tinggi, rutenya berpasir yang cukup bikin langkah berat dan napas ngos-ngosan.

Tidak terlalu ramai orang ketika kami memulai pendakian. Namun begitu di pertengahan jalan, kami bertemu banyak orang, baik yang telah mendahuli kami, ataupun yang menyusul.

Dari jalur Toya Bungkah ini kita tidak perlu mencapai puncak untuk menikmati detik-detik matahari terbit. Hilang semua kelelahan di awal-awal pendakian tadi. Apalagi ditambah udara dan cuaca yang bersahabat.

Begitu tiba di puncak, ternyata sudah banyak orang, terutama bule. Entah karena Hari Minggu, atau memang begitu setiap harinya, Gunung Batur, sepertinya, menjadi salah satu spot wisata Kintamani favorit banyak turis asing.

Bagi teman-teman yang berminat mendaki juga, tersedia banyak paket trip ke Gunung Batur. Bisa dicek sendiri lewat media sosial, atau dari agen travel di Bali, atau di penginapan teman-teman. Harga yang ditawarkan biasanya sudah termasuk jemput-antar.

Melihat Mayat di Kuburan Terunyan

Beranjak dari Gunung Batur, saya berencana ke Kuburan Terunyan. Saya tahu tentang tempat ini dari buku IPS zaman sekolah dasar. Ini merupakan pemakaman yang mayatnya hanya diletakkan di tanah, tapi tidak bau.

Lagi-lagi, saya mau sedirian ke sana. Saya khawatir Yuni tidak mau ikut. Biarlah saya kembali sendiri nanti siang atau besok pagi, pikir saya.

Tapi, daripada sendirian lagi, iseng, saya utarakan niat itu kepada Komang. Pucuk dicinta, dia menawarkan diri mencari tahu info ke sana lewat temannya. Yuni pun tidak keberatan ikut.

Normalnya, pengunjung yang ingin ke Kuburan Terunyan harus sewa perahu dari Dermaga Kedisan di Desa Kedisan. Letaknya masih satu wilayah dengan Gunung Batur. Pas subuh tadi datang, saya sempat baca petunjuk arah menuju Desa Kedisan.

Cari-cari informasi soal ongkos perahu menyeberangi Danau Batur menuju Kuburan Terunyan, banyak yang bilang sekitar Rp600.000-an/perahu, berlaku bolak-balik. Mahal, memang, makanya disarankan untuk pergi berombongan, tapi, kan, belum tentu ada rombongannya.

Alhamdulillah, berkat jalur teman, saya dikasih harga Rp400.000. Kami berlayar bukan dari Desa Kedisan, tapi naik perahu dari Ulun Danu. Ini lebih dekat dari Toya Bungkah, pos awal kami mendaki Gunung Batur.

Kuburan Terunyan hanyalah areal kecil. Begitu masuk gerbangnya, langsung tampak sebuah pohon besar yang akarnya menjalar ke seluruh permukaan tanah.

Itulah pohon taru menyan, yang konon menjadi penyebab kawasan itu tidak berbau apa-apa. Akarnya dipercaya mampu menyerap aroma tak sedap dari makhluk mati di sekitarnya.

Hanya beberap langkah, terlihat deretan 11 mayat yang ditutupi semacam kurung bambu dengan kain putih di atasnya. Iya, cuma ada 11 mayat yang berbaring. Kalau ada mayat baru, maka mayat yang paling lama di sana akan dipindahkan ke tumpukan khusus.

Hanya beberapa langkah dari barisan mayat itu terdapat gunungan tengkorak dan tulang-belulang manusia. Secara pribadi, saya tidak merasakan aura mistis apapun.

Di sekitar kurungan bambu, terdapat beberapa foto almarhum dan almarhumah beserta barang-barangnya, bahkan ada juga uang. Semua itu dipercaya menjadi bekal mereka di “alam sana”. Oleh sebab itu, jangan pernah mengambil apapun dari sana.

Sebenarnya, teman saya yang asli orang Bali, tidak terlalu merekomendasikan wisata Kintamani satu ini. Selain ongkosnya mahal, tempatnya kecil, katanya. Nggak ada yang bisa dilihat.

Setelah saya lihat sendiri, iya, juga, sih. Tapi karena penasaran, tetap saja maunya ke sana. Paling tidak, pemandangan bisa menikmati keindahan jajaran bukit dan gunung yang terefleksi pada permukaan air Danau Batur.

Saat itu dermaganya sedang dipercantik, tapi areal kuburannya dibiarkan apa adanya. Mayat-mayatnya pun terkesan sudah lama. Semua sudah berbentuk tulang yang menghitam, bahkan ada yang tidak terlihat lagi rangkanya. Sempat heran, apakah belum ada orang meninggal dalam waktu cukup lama di Desa Terunyan?

Dari sana, saya dan Yuni kembali ke Desa Penglipuran. Dalam perjalanan kami nyasar. Jalannya berbeda dari jalan kami datang subuh tadi. Ada hikmahnya, tapi…

Kami bertemu hamparan lava hitam yang sepertinya instagrammable. Maka berhentilah kami, untuk sekadar foto-foto manja.

Sesampainya di penginapan, saya langsung bersiap-siap check-out. Tidak beberapa lama, makan siang, pengganti sarapan yang terlewat, diantar oleh istri Made Yudha.

Itulah tiga wisata Kintamani pilihan saya. Semuanya bisa dikunjungi dalam waktu kurang dari 24 jam.

Jujur, saya masih mau balik lagi, karena pingin menikmati pemandangan Gunung Batur dan Danau Batur dari cafe-cafe ciamik yang menjamur di sepanjang jalan.

Jadi pingin tahu, nih, kemana tempat liburan favorit teman-teman di Bali?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *