Panduan Solo Traveling ke Myanmar: 8 Hal yang harus Diketahui

Myanmar itu seru, aman, dan ngangenin.

Selama seminggu di sana, saya memaksakan diri berkunjung ke empat kota: Yangon, Bagan, Mandalay, dan Taunggyi (Inle Lake). Semuanya memiliki daya tarik wisata paling kuat bagi siapapun yang berencana ke Myanmar. Alhamdulillah, keempatnya tercapai dengan aman, seru dan menyenangkan, serta yang paling penting, budget yang dibawa sesuai perkiraan. Pingin balik lagi, rasanya.

Berkaca dari pengalaman pribadi itulah, saya merasa cukup percaya diri untuk berbagi kisah tentang traveling hemat di Myanmar selama seminggu.

1. Visa

Bebas visa selama 15 hari ke Myanmar bagi pemegang paspor Indonesia.

Waktu di ruang tunggu KLIA 2, saya sempat dipanggil petugas Air Asia. Mereka menanyakan visa atau dokumen terkait perjalanan saya ke Myanmar. Saya jawab tidak ada, hanya tiket pulang. Si mbaknya mengetik sesuatu di komputer, terus saya dipersilahkan duduk kembali.

Tidak lama, ada petugas pria berseragam mendekat. Dia meminta saya untuk menunjukkan paspor. Saya serahkan tanpa suara. Dia periksa di depan saya, lalu dikembalikan tanpa banyak komentar.

Sampai kini, masih jadi misteri kenapa saya diperlakukan seperti itu.

2. Akomodasi

Saya hanya menginap semalam di penginapan saat di Bagan dan di Yangon. Sisanya di bus malam pada perjalanan antar kota.

Di Bagan, saya menginap di Lux Pillow City Center. Sementara di Yangon, saya tidur di Backpacker Hostel. Keduanya saya datangi tanpa booking terlebih dahulu, harganya murah, kamarnya nyaman, dapat sarapan, dan gampang kemana-mana.

Ada satu malam di Mandalay saya menghabiskan tengah malam di terminal bus, di kantor bus JJ Express. Saat itu, saya tiba di Mandalay sekitar jam 1 dini hari. Tanggung, subuh sudah mulai jalan-jalan, dan malamnya harus pindah kota lagi.

3. Transportasi

Transfer antar kota saya lakukan semuanya dengan bus. Ambil jadwal paling malam, dan tiketnya beli di tempat, kecuali dari Bagan ke Mandalay, pesan tiketnya di penginapan.

Untuk berkeliling, selama di Yangon saya lebih banyak jalan kaki dan naik bus kota. Di Bagan, saya sewa E-bike. Di Mandalay, saya sewa motor taxi yang pemiliknya saya kenal lewat Facebook. Sementara di Taunggyi, saya dan travelmate menyewa perahu dan tuk-tuk.

Bus kota dan loket bus JJ Expres di Yangon

Bandara – Yangon (city center)

Jalan kaki keluar bandara sekitar 20 menit ke halte bus yang berdekatan dengan pasar. Begitu keluar, jalan ke arah kanan, searah kendaraan, tidak perlu menyeberang. Nanti ada pertigaan yang ada taman di tengahnya dengan tulisan Welcome to Yangon. Sebelum taman ini ada tulisan yang sama di pinggir jalan, lewati saja sampai ketemu taman segitiga itu. Ikuti trotoar sampai ketemu halte. Tunggu bus kuning #37. Ingat, kendaraan di Myanmar berada di sebelah kanan.

Kalau tujuannya ke Sule Pagoda, nanti turunnya di halte tidak jauh dari pagoda, paling sekitar 5 menit jalan kaki. Perjalanan ke kota sendiri sekitar 1 jam. Bus kota di Yangon nyaman banget. Ber-AC, model Transjakarta, tapi ada juga yang model Kopaja. Ongkosnya cuma 200kyat jauh-dekat.

Ada yang menarik dari bus kota di Yangon ini. Setiap naik, penumpang harus membayar ongkosnya di kotak yang ada di dekat supir. Sebaiknya uang pas, kalau lebih, kamu harus berdiri dekat mesin untuk mengambil kembalian dari penumpang lain. Pengalaman ini terjadi sama saya, atas bantuan supir yang ngomong ke penumpang yang baru naik.

UPDATE: kabarnya sudah ada bus dari bandara ke Sule Pagoda dengan ongkos 500kyat.

Yangon  – Bagan

Dari Yangon ke Bagan saya naik JJ Express. Loketnya ada di Terminal Aung Mingalar, tepatnya di Jalan Mawlamyaing. Terminal di sini luas banget. Dari pusat kota, naik bus #36 sekitar 1 jam perjalanan.

Dari Yangon ke Bagan, waktu tempuhnya sekitar 9 jam. Begitu sampai Shwe Pyi Highway Bus Terminal, Bagan, banyak pria yang menawarkan jasa taxi, atau dokar, atau becak sepeda ke penginapan. Terserah, mau sendiri atau bareng traveler lain. Kalau saya, karena cuma sendiri yang pingin nginap di daerah Nyaung U, saya pilih naik becak sepeda. Ini nggak langsung dapat, ngotot-ngototan harga dulu.

Btw, kalau kalian ingin menginap di Nyaung U, meskipun katanya dekat dari terminal dibandingkan Old Bagan atau New Bagan, sebenarnya lumayan jauh. Mending sewa kendaraan. Saya awalnya mau jalan kaki, tapi karena masih gelap dan nggak yakin sama jaraknya, akhirnya pilih becak, dan nggak nyesal.

Bagan – Mandalay

Saya pesan tiket ke Mandalay dari penginapan, karena lebih praktis, daripada ke terminal. Di Bagan tidak ada kendaraan umum massal.

Busnya tidak senyaman JJ Express, tapi cukuplah untuk 5 jam perjalanan. Penumpang dijemput di hotel masing-masing, lalu diantar alamat. Begitu sampai di Terminal Chan Mya Shwe Pyi (Kywe Se Kan), Mandalay, untuk menurunkan penumpang lokal, kondektur akan bertanya di mana hotel kalian, jadi tidak perlu turun dari bus.

Kondektur sempat bingung karena saya mau turun di terminal. Entah khawatir atau heran, dia tidak langsung menyuruh saya keluar. Langsung saya bilang, mau ke JJ Express. Biar saya menunggu di sana, sekalian mau beli tiket buat malamnya. Untung, loketnya terang, dan ada penjaga yang tidur di bangku luar, jadi saya tidak sendiri-sendiri banget. Saya coba tidur, nggak bisa. Tapi cukup senang karena diperbolehkan ngecas kamera dan ponsel di dalam kantor. Itu yang penting.

Mandalay – Taunggyi (Inle Lake)

Kembali, saya naik JJ Expres untuk 8 jam perjalanan. Begitu turun di Nyaung Shwe, bersama tiga orang pejalan asal Vietnam yang saya kenal di Bagan, kami langsung menyewa perahu untuk keliling danau (Inle Lake) setengah hari. Siangnya kami menyewa tuk-tuk ke tempat lain yang tidak ada di sekitar danau. Sorenya, kami kembali ke loket bus.

Btw, Nyaung Shwe adalah nama daerah seperti kawasan biasa. Bukan terminal yang luas meskipun banyak berjejer loket bus. Ada jalan-jalan kecil yang dipenuhi kios makanan, penginapan, dan agen travel. Kalau sampainya masih gelap, memang bingung mau ke mana, apalagi pas dikerubuti abang-abang yang menawarkan jasa perahu dan tuk-tuk. Kalau terang, baru kelihatan ramainya. Saya agak nyesal cuma sehari di sini, nggak sempat eksplor sudut kotanya.

Taunggyi  (Inle  Lake) – Yangon

Lama perjalanan ke Yangon sekitar 10 jam dari Taunggyi. Di dalam bus, penumpang akan ditanya mau turun di mana, terminal atau pusat kota. Nanti, saat memasuki Yangon, penumpang yang menuju pusat kota akan ditransfer ke bus lain. Kalau lihat di aplikasinya, bisa diantar juga ke airport bagi yang mengejar pesawat pagi. Tapi, lebih baik dipastikan lagi.

P.S.

  • Saya cinta mati sama JJ Express. Andaikan ada jalur internasionalnya, saya mau naik bus ini lagi. Fasilitas dan servisnya yahud. Selain ada pelayannya, penumpang juga dikasih selimut, snack, minuman ringan, air meneral, tisu basah buat ke toilet, serta ada layar tv mini kalau mau nonton film atau mendengarkan musik.
  • Dalam perjalanan ke Yangon, penumpang dikasih makan malam tanpa snack. Menunya bisa dipilih: nasi ayam, mi goreng, atau bihun goreng. Makannya di resto langganan mereka.

4. Budget

Pengeluaran terbesar ada di transportasi, karena saya mengunjungi empat kota. Sisanya untuk penginapan, uang masuk Bagan ($20 atau 25.000kyat) dan Inle Lake ($10 atau 13.500kyat) khusus untuk orang asing, serta makan.

Urusan makan, sebenarnya tergantung pribadi masing-masing. Selama di sana, harga makanan paling mahal yang saya bayar adalah 3000kyat. Itupun hasil patungan sama travelmate. Kalau saya sendiri, yang paling mahal cuma 2000kyat.

Di Mandalay, saya sewa motor taxi 25.000 kyat untuk mengantar keliling seharian. Menurut saya ini worth it karena lokasi tempat wisatanya jauh-jauh, apalagi kalau sampai mau ke daerah Sagaing dan Ampawa. Tadinya saya tawar 20.000, dia tidak mau. Jadi, karena menurut saya itu lumayan mahal, kami sepakat tidak akan traktir dia makan siang. Tidak masalah.

Penginapan, saya dapat yang harganya 11.000kyat ($9) di Bagan, dan 12.000kyat ($10) di Yangon.

Total, saya menukarkan $200 ke kyat. Pulang-pulang ada sisa kyat 20.000-an kyat. Saya tukar di bandara, dapatnya cuma $17. Biarin, daripada disimpan.

P.S.

Kalau sekali lagi ke sana, saya tidak akan menukar semua dolar. Alasannya, tarif untuk turis biasanya dipatok dalam dolar. Kalau mau bayar dalam kyat, nilai tukarnya lebih besar dari nilai tukar resmi. Misalnya di bandara, nilai tukar $1 = 1300kyat, tapi oleh penjual tiket/ resepsionis hotel, atau apapun di sana, bisa jadi $1 = 1500kyat. Sebal, kan.

5. Makanan

Porsi makan di Myanmar itu jumbo. Dua kali makan, dua kali saya tidak sanggup menghabisinya. Cita rasanya cukup bersahabat di lidah Indonesia meskipun cenderung asin dan berminyak untuk mi goreng dan bihun goreng yang saya beli.

Di pinggir jalan, yang paling sering ketemu itu adalah pedagang mie yang bentuknya macam-macam, lalu makannya dicampur-campur sesuai selera. Bisa berkuah atau dibumbu saja. Yang paling saya ingat adalah mohinga.

Minum, gampang banget. Kalau ke pagoda atau temple, mata harus jeli menangkap kendi atau galon air. Tinggal isi deh, itu botol minum. FYI, tidak disediakan gelas sekali pakai, jadi gelasnya harus sharing sama pengunjung lain.

6. Orang Myanmar

Baik-baik, termasuk mereka yang menawarkan jasa di tempat-tempat wisata, misalnya menawarkan ke pagoda yang bisa dinaiki untuk melihat matahari tenggelam dan terbenam.

Pengalaman nggak enak saya cuma sama pedagang di Bagan yang awalnya ramah, janji nggak minta uang, lalu saya dipakaikan thanaka, dan menjaga sepatu saya saat saya keliling temple. Ujung-ujungnya dia agak maksa saya beli dagangannya. Untung saya tega menolak rayuannya.

Dalam keseharian, para laki-lakinya pakai sarung (longyi). Perempuannya juga pakai kain, tapi kebanyakan sudah di modifikasi menjadi rok. Yang menarik, kebanyakan perempuan di sana, kecil, besar, mukanya dipoles thanaka. Selain bisa membuat kulit muka tetap halus dan berwarna cerah, pupur ini juga dipercaya bisa melindungi kulit dari gigitan nyamuk. Masuk akal, tapi dalam hati, saya cuma bisa bilang, cuma di Myanmar cewek cantik nggak malu mukanya cemong.

7. Bahasa

Mereka yang bekerja di sektor pariwisata atau yang usahanya berurusan dengan wisatawan, pada lancar berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Kalau masyarakat biasa yang sempat saya temui, cuma senyum atau geleng-geleng kepala setiap saya bertanya sesuatu.

Tapi, kalau soal petunjuk jalan, semuanya jelas, apalagi di Yangon.

8. Perlengkapan pribadi

  • Pelindung matahari. Cuaca di Myanmar terik banget. Jadi jangan lupa bawa pelindung kulit, seperti topi, sunglasses, dan tabir surya. Juga air minum biar nggak dehidrasi.
  • Di Bagan, selain panas, juga berdebu, khususnya kalau kamu seharian mengelilingi pagoda. Jadi, bawa masker kalau kamu alergian.
  • Karena tempat wisata utama di sana itu tempat yang dianggap suci, semua pengunjung harus berpakaian sopan saat masuk temple dan pagoda. Paha dan ketiak nggal boleh kelihatan, tapi telapak kaki boleh. Maksudnya, harus lepas alas kaki, termasuk kaos kaki. Jadi, karena sering lepas alas kaki, mending pakai sandal. Saya tempo hari cuma bawa sepatu. Repot banget tiap masuk dan keluar tempat-tempat tersebut.
  • Bawa colokan kaki tiga.
  • Jikalau butuh simcard local, ada pas pintu keluar bandara. Tempo hari saya coba Telenor 2GB seharga 4500kyat.
  • Sunrise di Bagan, sekitar jam 06.30, jadi kalau ngeset alarm, nggak usah subuh-subuh banget. Pagodanya masih gelap dan nyamukan. Hehehe

Persiapan di atas adalah berdasarkan pengalaman pribadi. Sebelum berangkat saya banyak baca tentang Myanmar, dan tanya-tanya mereka yang baru pulang dari sana. Jadi, kalau masih ada yang kurang, mari kita bahas di kolom komentar!

27 comments Add yours
  1. Itu diambil petugas kayaknya mbak gak pake visa, dan pas liat passport nya ternyata indonesia yang gak usah pake passport. Kalo masalah petunjuk jalan bener lengkap banget ? Pengen solo travel kesana nih.. hehe..

    1. Ganti baju, sih, sebutuhnya aja, kapan. Iyalah, cari tempat toilet, macam di mal atau bandara.

  2. Waahh terima kasih tipsnya! Sebagai cewek, sebenernya masih takut-takut kalau solo traveling, apalagi menyangkut soal keamanan. Tapi salut sama keberanianmu, Mbak. Salam kenal, ya 😀

  3. Myanmar ini salah satu dream list aku, belum sempat2 juga ke sana sampai sekarang. Thanks for sharing ya, Inda. Bermanfaat banget. Pengen punya kain Myanmar juga euy. Cantik-cantik kainnya.

  4. Belum kepikiran ke Myanmar. Mungkin karena beritanya didominasi dengah hal-hal kurang baik. Baca postingan ini malah kasih insight yang lain. Good one.

  5. Yes! Seminggu cukup buat explore Myanmar.
    Kemaren aku main beli tiket aja tapi nggak research dulu. Keburu tiket promonya habis.
    Kok pas nih ada artikel Myanmar.
    Tips nya tentang tukar uang bakalan membantu banget nih. Makasih.

  6. Hai mbak, tenkies banget buat postingannya. Banyak membantu buat yg mau kesana apalagi cewek haha. Bolehkah share itinnya mbak? Kebetulan tahun depan aku mau kesana, mau mengunjungi 4 kota jg selama seminggu. Makasih banyak mbak 🙂

  7. Tanggal 7 Dec 2018 mau ke Myanmar (Yangoon), solo & blind travelling via KL.
    Tanggal 8 Dec 2018 pagi sampai, siangnya ketemu/jemput rombongan (4 orang) Indo yg dari Bangkok.
    Tanggal 9 Dec 2018 harus balik Jakarta karena Senin udah kerja lagi.
    Wish me luck

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *