Pertanyaan yang Menyadarkan tentang Menjadi Seorang Pejalan

“Kenapa Indonesia bisa jadi negara muslim terbesar di dunia?”

“Ngmmm… !@#$%”

“Sepertinya ini pertanyaan sulit buat kamu…”

(Nyengir)

Pertanyaan itu terlontar dari Niall, seorang traveler asal Irlandia yang sedang menjalankan misi keliling dunia tanpa pesawat terbang. Saat itu dia sedang main ke Kyoto karena menunggu kapal kargo yang akan ditumpanginya berangkat ke Peru dari Yokohama, Jepang.

Saya, Niall, dan Mag, asal Polandia yang sedang pelesiran di Jepang, diundang Eri, seorang wanita asal Kyoto, untuk makan malam di rumahnya. Selain kami berempat, Mag datang bersama teman Jepangnya, ada satu teman perempuan Eri, dan dua orang anak laki-laki Eri. Itu adalah untuk pertama kalinya kami berjumpa dan berkenalan.

Sebagai orang Jepang yang terkenal agak menutup diri, Eri terbilang berani. Ia mengundang orang asing masuk ke rumahnya hanya dari melihat profil dan thread kami di laman situs couchsurfing, website yang mempertemukan para pejalan dan warga lokal di seluruh dunia. Ternyata, itu adalah kali kesekian dia mengundang couchsurfer (sebutan untuk anggota couchsurfing) ke kediamannya, tapi terkadang mereka bertemu di restoran bersama suami dan anak-anaknya.

Makan malam di rumah Eri. (Foto: yamaserieko.cookpad-blog.jp/articles/114404)

“Sebagai ibu rumah tangga yang sesekali membantu suami di perusahannya, saya tidak punya banyak waktu jalan-jalan seperti kalian. Ini cara saya keliling dunia. Saya bisa bertanya kepada tamu saya tentang apa saja yang ada di negaranya.” Jawab Eri, merespon rasa ingin tahu kami tentang alasan dia mengajak couchsurfer ke rumahnya. Tentunya mereka yang sedang berada di daerah Kyoto.

Jawabannya membuat kami mengangguk-angguk kagum.

Hari itu kami menghabiskan sore dan malam dengan saling berbagi cerita dan menikmati hidangan khas Jepang, seperti sushi, okonomiyaki, tomat cherry, dan kue-kuean yang saya tidak ingat namanya. Tapi, mereka semua tidak tahu bahwa saya melewati obrolan itu dengan mengutuk diri sendiri karena tidak bisa menjawab pertanyaan di atas, bahkan sampai saya pulang ke apato.

Kemana semua hapalan saya tentang sejarah kerajaan islam di Indonesia, tentang Sultan Iskandar Muda di Aceh, tentang para gujarat yang berdagang sambil menyebarkan agama, tentang wali songo di tanah Jawa, dan semua hal yang ada hubungannya dengan perkembangan agama islam di tanah air. Saya cuma bisa cengengesan yang dibalas senyum dan tatapan maklum oleh kelima orang dewasa itu.

Saya minder, merasa tidak bisa memenuhi ekspektasi sang tuan rumah. Memang, dibandingkan tamu lain, pengalaman traveling saya paling minim, lebih-lebih wawasan saya. Si Polandia pernah ke Indonesia dan mengunjungi daerah-daerah yang belum pernah saya datangi. Si Irlandia jelas-jelas sedang keliling dunia, dan telah ke beberapa negara di Asia Tenggara. Eri malah pernah tinggal di Surabaya, mengikuti ayahnya bertugas. Waktu itu dia masih kecil, jadi sudah banyak lupa tentang Indonesia.

Saya, kala itu hanya pernah ke Malaysia dan Singapura. Itu pun sekali. Begitu keluar negeri lagi, karena mendapatkan beasiswa kuliah setahun di Jepang. Keliling Indonesia, boro-boro, baru segelintir kota di Indonesia yang saya injak.

Iya, ya. Kenapa saya nggak kepikiran islam bisa begitu menyebar luas di Indonesia? Pertanyaan tersebut terus mengusik saya sepanjang sisa malam itu. Tapi saya coba enyahkan dengan fokus pada obrolan kami, khususnya pada pada kisah Niall dan caranya memperoleh uang secara online. Akibatnya, saya merasa tersengat travel bug.

Terngiang rencana sebelum berangkat ke Jepang dulu. Saya mau keliling Jepang! Waktu itu Februari, masih ada sekitar tujuh bulan lagi untuk saya mewujudkan impian itu.

Pertemuan itu seolah membangkitkan apa yang sudah lama terpendam di diri, yang selama ini saya tahan-tahan. Apalagi sekarang, saya jauh dari orang tua, khususnya ibu, yang selalu cemberut setiap saya mengutarakan niat keluar kota yang bukan urusan kantor.

Tapi, kalau nanti jalan, mungkin saja saya akan bertemu Niall lain yang memiliki pertanyaan sama. Tahu apa saya tentang negara saya, bahkan tentang agama saya. Diperparah ketika si Irlandia itu kembali bertanya tentang kampung halaman, saya menjawabnnya dengan terbata-bata. Pertanyaannya cetek banget, padahal. Berapa jumlah penduduk di kota tempat saya tinggal?

Saya minim pengetahuan tentang daerah saya, apalagi Indonesia. Ternyata, saat keluar dari kampung halaman, kita adalah duta daerah kita. Lebih tepatnya, kita harus bisa jadi promotor dari daerah kita. Itu sebabnya kita harus punya pengetahuan tentang dari mana kita berasal. Inilah mungkin maksudnya bahwa saat  traveling, kita menjadi lebih mengenal daerah atau negara kita.

(Sumber: en.wikipedia.org)

Malam itu, kosa kata Bahasa Inggris saya seolah pupus setiap obrolan menyerempet NKRI. Untunglah ada banyak makanan di meja yang bisa dijadikan alasan untuk mengalihkan pembicaraan. Saya lebih banyak menjadi pendengar, dan hanya sesekali menimpali.

Bukan kali itu saya terdiam sesaat ketika ada pertanyaan tentang Indonesia dari teman asing. Saat ke Thailand, sepulang dari Jepang, teman Thailand tiba-tiba bertanya tentang pandangan saya mengenai kebijakan presiden yang saat itu masih SBY, dibandingkan dengan presiden terdahulu. Mampus, jangankan soal kebijakan pemerintah, nama-nama menteri dan pejabat daerah saja saya tidak hapal. Lagi-lagi saya berdalih bahwa saya tidak begitu menaruh perhatian pada urusan politik dan pemerintahan.

Percuma rasanya mengaku sebagai orang Indonesia yang negerinya kaya akan kemajemukan budaya, agama, dan bahasa, tapi tidak bisa bercerita banyak tentang itu semua.

Sepulang dari rumah Eri, saya langsung googling tentang apa saja yang tadi kami perbincangkan. Nggak boleh terjadi lagi. Saya harus tahu tentang Indonesia dan Bengkulu, tempat saya tinggal.

Malam itu juga, saya melihat kalender dan menyusun rute perjalanan untuk liburan semester nanti.

Alhasil, kota-kota di Jepang saja tidak cukup. Saya mau menambah cap di paspor. Saya terpikir ingin ke Tiongkok, mewujudkan impian saya ke the Great Wall, salah satu keajaiban dunia.

Tiba-tiba, mumpung ke Tiongkok, kenapa tidak sekalian ke Korea Utara, karena jalur masuknya memang dari sana, tapi harus menggunakan jasa agen travel.

Bagai pintu air, begitu katupnya terbuka, mimpi-mimpi masa kecil tentang solo backpacking keliling dunia berseliweran di kepala. Andaikan saya tidak terikat pekerjaan di tanah air.

Mulailah, di sela-sela penyelesaian tesis yang banyak menyita waktu, saya sempatkan mengintip harga tiket ke Beijing. Tidak lupa, saya juga menyisihkan waktu untuk melipir ke beberapa daerah di negeri matahari terbit yang memiliki daya tarik khas, seperti sand bathing di Beppu, snow monkey di Nagano, Alpine Route di Toyama, dan banyak tempat lain yang menurut saya pantas dilihat. Jika tempatnya bisa dijangkau lewat darat, saya akan pergi naik bus atau kereta, tapi kalau lumayan jauh, saya tidak keberatan menggunakan pesawat terbang.

Khusus rencana ke Tiongkok, saya sempat ragu karena harga tiketnya lumayan mahal, ditambah biaya ke Korea Utara. Saya juga tidak tahu maskapai apa saja yang terbang ke sana dari Bandara Internasional Osaka (KIX), bandara terdekat dari Kyoto.

Baca-baca pengalaman orang di beberapa media sosialnya komunitas traveling, banyak yang merekomendasikan Skyscanner sebagai tempat mengecek harga tiket pesawat.  Ini adalah situs yang berfungsi sebagai mesin pencari tiket pesawat, hotel, dan rental mobil, di seluruh dunia. Banyak backpacker asal Indonesia yang mengakses situs ini dengan alasan mereka bisa melihat perbandingan harga, termasuk bisa tahu kapan ada tiket pesawat dengan harga terendah tanpa harus menunggu tiket pesawat promo, seperti contoh di bawah ini:

Bulan depan saya berencana ke Singapura. Saya coba pilih tanggal yang saya mau, tapi karena waktunya fleksibel, saya coba lihat harga tiket sepanjang bulang Oktober nanti, siapa tahu jadwalnya ada yang cocok.

Searah jarum jam: (1) masuk ke situs skyscanner, dan pilih kota asal, kota tujuan, dan tanggal keberangkatan. (2) pilih harga tiket yang sesuai. (3) bisa juga melihat daftar harga yang bisa dipilih selama bulan keberangkatan. (4) pilih website travel agen yang diinginkan.

Di samping bisa diakses secara gratis, waktu menjadi lebih efektif dengan Skyscanner, sebab kita tidak perlu mencari-cari maskapai apa saja yang terbang ke destinasi yang dituju. Tinggal ketik kota berangkat dan kota tujuan, nanti akan itu muncul pilihan nama pesawatnya. Skyscanner tidak menjual tiket pesawat, ya, tapi meneruskan pilihan kita ke situs travel yang telah terpercaya di seluruh dunia. Calon penumpang tidak perlu khawatir untuk melanjutkan transaksi pemesanan.

Jujur, baru pas di Jepang saya tahu tentang Skyscanner dan cara kerjanya. Sejak itu, sampai sekarang, setiap akan keluar kota atau keluar negeri, pasti saya buka situs ini dulu agar tahu kisaran harga dan pilihan pesawatnya. Benar-benar sangat membantu.

Jangan lupa, pesan saya pada diri sendiri, sebelum berangkat, baca-baca lagi tentang kota asal atau tentang Indonesia, seperti jumlah penduduk, musim, agama, makanan, budaya, dan lain sebagainya yang kira-kira membuat orang penasaran!

28 comments Add yours
  1. Iyah betul kak.. menurut saya juga penting banget mengenal negeri sendiri dulu sebelum ke luar negeri.. Pasti akan banyak pertanyaan tentang negara kita dari orang berkebangsaan lain, dan mereka pasti mikir kita tau banyak tentang negara kita.

  2. Pesan di akhir tulisanmu itu makjleb banget Inda. Aku pun pernah alami. Ditanya hal yg gak terpikirkan seperti jumlah penduduk saja nggak bisa jawab. Rasanya malu ya. Hanya bisa cetita ttg tempat2 wisata saja. Tulisanmu ini bikin aku juga jadi pingin gugling ttg Banten, provinsi tempatku tinggal saat ini.

  3. Terkadang aku lebih kepo dengan kebudayaan daerah lain, tp pas di tnya kebudayaan sendiri malah ga bisa jawab. Padahal kepo dengan kebudayaan daerah sendiri lebih penting. Berasa minim bgt ilmu nya..

  4. Mbak dirimu itu jalan sendiri ke Jepangnya? Atau emang udah janjian sama Niall dan Mag itu?
    Wah seru ya kalau jalan2nya berlanjut samnbil backpackeran, entah kapan aku bisanya, nunggu anak2 gedhean kali ya 😀
    Pengen ke Great Wall di Cina jg 😀

  5. Nah, ini aku juga denger cerita dari Bang indra, blogger Lampung yg ikutan Kerala blog express kemarin, obrolan blogger2 around the world itu pas ngumpul, suka nanyain kebijakan pemerintah, sejarah, dsb di negara masing2. Ternyata mereka memang beda ya taraf ngobrolnya, almost, haha. Noted bgt ini 🙂

  6. Saya langsung baca-baca soal NTT mbak setelah baca tulisanmu. Pengetahuan saya juga kerdil soal Indonesia terlebih lagi kampung halaman saya di NTT sana.
    Mungkin saya akan kikuk juga kalau ditanya soal Indonesia

  7. Aku ikutan ngerasa disentil baca ini. Rasanya kalo pertanyaan td ditanya ke akupun, bakal tergagap2 jg mba jawabnya -_-. Selama ini aku bertekad utk traveling sebanyak2nya di negara yg blm pernah aku datangin, menambah koleksi chop pasport, tp ga pernah peduli utk nambah pengtahuan ttg negara sendiri :(. reminder banget lah utk aku

    Kalo skyscanner memang udh jd langgananku mba cari tiket murah. Kmrn ini ak u baru dpy tiket SQ rute jakarta honhkong, PP, utk 2 orang hanya total 5 jt nett. Omg kayak ga percaya hahahaha.. Lgs booking lah. Kapan lagi bisa traveling naik SQ 😀

  8. Saya jadi ngebayangin bagaimana rasanya jika di posisi mba, mungkin juga sama banyakan diamnya. Jadi pembelajaran dan pengingat saya buat mengenal lebih dekat daerah dan negara sendiri. Thank you for sharing mba.

  9. Emang penting banget untuk mengetahui negara kita sendiri supaya pas ditanya sama warga asing nggak canggung atau terbata – bata. Dan aku biasanya yg aku cari tahu itu negara lain daripada negara kita sendiri

  10. Landasan inilah yang menyebabkan saya akhirnya harus menghabiskan Aceh sebelum jalan2 di.provinsi lain di indonesia.
    Habis indonesia, keliling asia..

    Karena sempat nyesek pas ditanyain, where is Aceh? Near bali??

  11. Itu betul sekali, sejak SMA aku berkelilng ke pelbagai belahan dunia, begitu banyak orang luar bertanya mengenai Indonesia, dan tempat lainnya. Untungnya aku suka membaca, jadi nggak malu-maluin. Belum kalau berdebat mengenai agama, kebiasaan dan budaya yang berbeda. Dan biasanya mereka respect kalau kita juga bisa melayani pertanyaan mereka. Tunjukkan bahwa orang Indonesia berisi, bukan hanya sekedar jalan keluar kosong tak berisi.

    Banyak yang jalan-jalan malah buta mengenai negara dan sejarah negerinya sendiri. Yang begitu mah nggak keren lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *