REVIEW FILM PARASITE: RUMAHMU, AROMAMU

Pernahkah berpikir, bahwa di rumah kita ada ruang rahasia yang kita sendiri tidak mengetahuinya?

Inilah pertanyaan yang terbersit di kepala setelah saya menonton Parasite, sebuah film Korea Selatan garapan sutradara brilian, Bong Joon Ho. Film bergenre drama ini berhasil memborong piala dari berbagai festival film internasional.

Puncaknya, film yang bahasa Koreanya Gisaengchung ini menciptakan sejarah perfilman Asia, dengan memboyong Piala Oscar 2020. Bukan satu, tapi empat penghargaan untuk kategori idaman semua sineas: Best Picture (film terbaik), Best Director (Sutradara Terbaik), Best Original Screenplay (Naskah Asli Terbaik) dan Best International Feature Film (Film Berbahasa Asing Terbaik).

Aktor Parasite

Sebelum mengulas lebih lanjut, saya ingin memperkenalkan para pemain Parasite terlebih dahulu. Bagi penikmat film dan drama Korea, wajah-wajah mereka tidaklah asing.

Saya kelompokkan mereka menjadi dua kelas keluarga agar mudah diingat:

Keluarga miskin

Song Kang Ho: Ki Taek/ Kim (ayah)
Chang HyaeJin: Chung Sook (ibu)
Choi Woo Shik: Ki Woo/ Kevin (anak lelaki)
Park So Dam: Ki Jung/ Jessica (anak perempuan)

Keluarga kaya

Lee Sun Kyun: Park Dong Ik (ayah)
Jo Yeo Jeong: Yeon Kyo (ibu)
Jung Ji So: Park Da Hye (anak Perempuan)
Hyun Jun Jung: Park Da Song (anak lelaki)
Lee Jeung Eun: Moon-Gwang (ART)
Park Myung Hoon: Geun-Se (suami ART)

Cameo

Park Soe Joon: Min (teman Ki Woo)

Sebelum menjadi korban K-drama, saya hanya mengenal satu wajah (yang pasti bukan PSJ). Begitu keterusan nonton drakor, baru sadar, semua pemain Parasite adalah aktor terkemuka yang kerap wara-wiri di film dan serial tv.

Sinopsis

Cerita diawali di sebuah rumah milik keluarga kelas bawah Korsel. Rumah tersebut terbilang sempit untuk ditempati empat orang dewasa. Posisinya lebih rendah dari jalan, bahkan badan jalan menempel persis pada jendela rumah.

Keluarga ini bekerja serabutan untuk memenuhi kehidupan. Kemewahan bagi mereka adalah jaringan Internet yang tembus ke dalam rumah. Betapa kesal mereka ketika sinyal Wi-Fi hilang. Lalu kembali riang setelah menemukan sinyal di toilet.

Kalau kalian pernah melihat desain kamar mandi unik, di rumah ini termasuk yang aneh menurut saya. Penempatan toiletnya lebih dekat ke langit-langit, bahkan sejajar jendela kamar mandi. Kebayang, kalau lagi buang air.

Keluarga ini memiliki sepasang anak yang cerdas dan cerdik. Sayang, mereka tidak memiliki biaya untuk melanjutkan kuliah.

Anak lelakinya, Ki Woo, memiliki sahabat bernama Min. Suatu hari, dia bertandang membawa sebongkah batu titipan kakeknya untuk Ki Woo. Konon, batu yang merupakan salah satu koleksi kakeknya itu dipercaya bisa membawa kekayaan. Ketika semua berterima kasih, cuma si ibu yang lebih senang, seandainya Min membawa makanan.

Tidak hanya itu, Min juga meminta Ki-Woo menggantikannya sebagai guru privat Bahasa Inggris untuk seorang anak dari keluarga kaya, karena dia akan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Min hanya percaya kepada Ki-Woo karena sebetulnya dia memiliki maksud lain.

Ki Woo ragu, karena dia bukanlah mahasiswa.

Palsukan saja! kata Min.

Dari sinilah cerita berawal…

Bukan hanya ijazah yang Ki Woo palsukan atas bantuan saudara perempuannya yang jago photoshop, tapi juga namanya menjadi Kevin. Dia mengaku lulusan Oxford, universitas impiannya.

Hari pertama mengajar di rumah keluarga Park, dia disambut asisten rumah tangga yang berpenampilan rapi, lengkap dengan sasakan. Kesan pertama cukup mengejutkan siswa dan ibunya. Kevin pun santai saja menanggapi kejutan dari Da Song, putra bungsu pemilik rumah.

Da Song merupakan anak pramuka dan penggemar Suku Indian dari Amerika Serikat. Berlarian dan melesatkan anak panah ke segala penjuru, adalah kelakuan yang sering membuat ibunya menghela napas.

Da Song memiliki bakat seni. Ibunya, Yeon Kyo, telah mendatangkan banyak guru seni, tetapi tidak ada yang bertahan sampai sebulan.

Timbul ide di kepala Kevin. Dia merekomendasikan Jessica, teman sepupunya yang pernah belajar seni di luar negeri.

Lagi-lagi, Jessica yang merupakan Ki Jung, saudara kandung Ki Woo, sangat meyakinkan sebagai guru seni yang juga belajar psikologi. Dia, bahkan, dengan percaya dirinya, meminta tambahan bayaran.

Persis Ki Woo, ketika Park Dong Ik pulang kerja bersama supirnya, otak Jessica bekerja. Saat diantar pulang oleh supir, dia meletakkan sesuatu di dalam mobil yang berpotensi supir tersebut dipecat.

Rencananya berhasil. Dalam sebuah kesempatan, istri Tuan Park menyetujui usul Jessica untuk mempekerjakan supir yang lebih tua, karena dianggap berprilaku lebih baik. Jessica merekomendasikan mantan supir pamannya, Pak Kim, yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.

Tinggal satu lagi, nih, anggota keluarga Ki Taek yang menganggur. Memanfaatkan kenaifan dan kebaikan hati nyonya rumah, mereka memainkan berbagai cara untuk menyingkirkan satu-satunya penghuni yang bukan anggota keluarga Park. Kalian bisa tebak, kan, dia siapa.

Foto ini pasti diambil saat mereka break shooting. Beda banget roman mukanya pas berakting.

Namun, rencana sempurna itu sempat terendus oleh Da Song. Dia menganggap bahwa supir dan asisten rumah tangga mereka yang baru memiliki aroma yang sama dengan Jessica. Tapi, orang tuanya hanya menganggap angin lalu.

Suatu hari, seluruh anggota Park pergi camping untuk merayakan ulang tahun Da Song. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh keluarga Ki Taek untuk mengungsi dari rumah semi-bawah tanah mereka.

Dengan santainya, Ki Woo CS berlagak seperti pemilik rumah yang diarsiteki arsitek terkemuka itu. Bahkan dia membayangkan di masa depan nanti, rumah besar itu akan menjadi miliknya.

Saat sedang asyik mengkhayal babu menikmati fasilitas rumah mewah, bel berbunyi. Di tengah hujan deras pada malam hari, tamu yang merupakan ART lama, kembali, karena mengaku meninggalkan sesuatu di dapur.

Penasaran, Chung-Sook, ART baru, menyusul ke dapur. Betapa kagetnya dia melihat apa yang tersembunyi di sana. Inilah rahasia yang membuat Tuan Park menganggap pembantu lamanya itu sangat doyan makan.

Tanpa sengaja, rahasia kedua ART ini terkuak. Sama-sama kaget, keduanya bergelut.  Satu pihak berupaya menutupi, yang satu berusaha memberi tahu empunya rumah.

Saat sedang baku hantam, telepon rumah berdering. Nyonya Park mengabarkan bahwa mereka akan tiba di rumah dalam waktu delapan menit. Secepat kilat Ki Taek CS menyingkirkan jejak-jejak kekacauan yang mereka ciptakan.

Nahas, ketika Ki Taek dan kedua anaknya kembali ke rumah mereka, banjir ternyata sedang merendam kediaman mereka. Terpaksa, tiga beranak itu mengungsi. Tak lupa, Ki Woo membawa bongkahan batu pemberian kakek Min.

Ironis, batu yang dipercaya membawa kekayaan itu, berujung petaka bagi seluruh keluarga. Semua tergambar di penghujung film. Jangan sampai mengedipkan mata, karena apa yang dimaksud oleh judul di atas, terungkap di sini.

Akting Pemain

Ekspresi adalah kekuatan film Parasite. Dialog antar tokoh relatif singkat-singkat, namun bermakna. Penonton diajak menebak setiap situasi melalui mimik wajah para pemain yang kerap ditangkap dekat oleh kamera.

Parasite mendapuk Choi Woo Shik sebagai toko sentral. Dalam sebuah wawancara, dia mengatakan bahwa hanya diminta tetap kurus oleh Sutradara Bong, untuk memainkan karakternya.

Kemudian, Song Kang Ho, aktor veteran yang berperan sebagai Ki Taek/ Kim. Raut wajahnya begitu menjiwai peran kepala keluarga yang pengangguran, tapi menyayangi seluruh anggota keluarganya.

Lakon istri dan anak perempuannya diperankan oleh Jang Hye Jin dan Park So Dam. Akting natural sebagai ART dan guru seni cukup terkesan natural dibawakan oleh keduanya.

Peran Tuan Park dimainkan oleh Lee Sun Kyun. Dalam sebuah program acara, dia mengaku sangat antusias ketika dipertemukan dengan Sutradara Bong. Bahkan, dia sedikit agak ‘memaksa’ ketika sempat diragukan, apakah dia cocok berperan sebagai ayah yang memiliki anak remaja.

Peran istrinya yang lugu dimainkan apik oleh artis cantik, Jo Yeo Jeong. Sementara peran ART lama yang diperankan oleh Lee Jeung Eun, sungguh mampu menimbulkan pertanyaan penonton mengenai sosoknya.

Pun dengan karakter anak-anak di film ini. Porsinya kecil, namun menjadi elemen penting yang menjembatani cerita.

Film berdurasi dua jam lebih beberapa menit ini benar-benar tontonan menghibur sekaligus menambah wawasan mengenai strata sosial di Korea Selatan. Setiap adegan mampu menimbulkan pertanyaan. Secara keseluruhan, Parasite memang pantas menuai banyak pujian internasional.

Bagaimana? Tertarik untuk menonton film ini? Atau sudah pernah nonton, bahkan beberapa kali? Sharing, yuk, pendapat kalian tentang film Parasite ini!

Btw, untuk mencari tahu mengenai review film-film lainnya, teman-teman bisa membacanya di laman situs Bacaterus. Bukan hanya ulasan film, di sini juga banyak tulisan mengenai kisah-kisah menarik dunia perfilman, bahkan anime.

 

Referensi:

  • https://twitter.com/ParasiteMovie/media
  • https://twitter.com/ParasiteMovie/media
  • https://www.oscars.org/search/site/parasite

22 Replies to “REVIEW FILM PARASITE: RUMAHMU, AROMAMU”

  1. film ini legend sebelum corona hadir
    pesannya dapet banget dan out of the box
    betapa kesenjangan sosial sangat menganga bahkan di negara kaya

  2. Ulasan reviewnya lengkap nih. Memang agak aneh ya, masa letak toilet sejajar jendela kan agak konyol hehe. Kalo di Indonesia udah viral tuh.

    Btw, film parasite ini sebenarnya lebih memunculkan peran2 orangnya di berbagai sudut pandang passion berbeda. Ada yang passion seni seperti Da Song.

    1. Film parasite ini, merupakan salah satu film kesukaan. Banyak makna tersirat dari filmnya, mengangkat kesenjangan sosial. Setiap rewatch selalu mikir, ah iya bener ya ternyata kayak gini maksudnya.

      Beneran deh keren banget menurutku.

  3. Enggak heran kalau Parasite dianugerahi Piala Oscar, keren memang filmnya. Sebuah kenyataan jika kesenjangan sosial nyata dan bisa bikin segala konflik yang apik jika dikemas secara menarik..
    Suka baca review ini, bisa mengulas filmnya dari berbagai sisi

  4. udah lama penasaran sama film ini tapi belum sempat nonton juga, penasaran sih soalnya katanya bagus. apalagi sempat dapet penghargaan

  5. Saking sukanya, saya sampai 3 kali nonton film ini. Confirm kalau film Korea ini layak mewakili produksi sinema Asia dan menang banyak di Oscar. Yang paling mengesankan adalah melihat proses penipuan yang dilakukan oleh keluarga miskin dan shoot akhir, penutup dari semua rangkaian peristiwa. Dan itu epic banget menurut saya.

  6. Aku udah dua kali nonton Parasite ini di tv 🙂 Menggemaskan dan kesal sekali sama toko2 keluarga si miskin ini. Dasar ga tau diri, makin lama makin jadi parasit bagi keluarga di nyonya dan tuannya. Apalagi yang bohong purag2 jadi guru privat eh malah disukai sama si gadis anak majikan. Hihihihi sebel pokoknya. Tapi hebat juga film ini ya nilai lebihnya dapet.

  7. Belum daku agendakan nih buat nonton ini. Mau ah meluangkan waktu, apalagi dapat penghargaan yang keren filmnya.

  8. Saya juga sudah nonton film ini tahun lalu, seru pake banget, pemenang piala Oscar ya, keren… pesan moralnya jangan sembarangan menerima rekom pekerja di rumah kita deh eh gak taunya mereka sekeluarga yg mau jadi parasit di rumah kita ya

  9. Wah keren ya, film asia yang bisa memenangkan penghargaan internasional sekelas Oscar.

    Hihi Choi Woo Shik sebagai toko sentral hanya diminta tetap kurus oleh Sutradara Bong, untuk memainkan karakternya. Eh apa ya resepnya untuk tetap kurus gitu?

  10. Sudah nonton dan memang oke banget film iini. Pantes menyabet 4 penghargaan sekelas Oscar, ya.
    Ide ceritany sederhana, namun akting pemainnya membuat film ini benar-benar nyata.

  11. Film ini pantes bangeeeet menang banyak penghargaan, Krn memang sebagus itu. Akupun pas nonton, emosi kebawa banget :D. Ibaratnya ini kluarga kok ga tau terimakasih banget yaaa :D.

    Tapi sempet ga ngenalin Lee sunkyun, padahal aku suka banget Ama dia waktu di Drakor Pasta. Tapi pasta kan diputar 2010, JD wajar wajahnya udh agak berubah :D.

  12. Sejujurnya saya ga terlalu tertarik nonton Film atau Drama Korea, takut kecanduan dan keterusan nonton yang lainnya. Tapi baca review Parasite ini kok malah jadi pengen nonton ya, kupenasaran hahahhaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *