September Ceria dengan Bermandikan Matahari

Hai perempuan,

1. Banyak membaca!
2. Hotel yang aman!
3. Bagikan jadwal berliburmu ke keluarga!
4. Foto dokumen pentingmu!
5. Bawa barang yang diperlukan saja!
6. Pisahkan uang kamu!
7. Jangan memakai perhiasan!
8. Jangan lupa bawa tongsis!
9. Tanya dengan pihak hotel!
10. Jangan buka ponsel di jalan!

Itulah tips aman untuk kamu yang hobi melancong seorang diri. Kenapa, karena saya seperti kamu, perempuan yang hobinya solo traveling. Sesama gender harus saling bantu menyebarkan informasi terkait kegemaran yang satu ini. Demi keselamatan kita juga, yang dianggap lebih rentan dibandingkan pejalan pria. Padahal, hari gini, mau cewek atau cowok, kalau sudah di jalan, risikonya sama saja. Tinggal bagaimana cara masing-masing mengantisipasinya.

Wejangan di atas saya dapatkan dari blognya RedDoorz yang banyak menyajikan artikel terkait perjalanan, seperti tips dan trik serta rekomendasi tempat makan, tempat menginap, dan tempat-tempat wisata, dalam dan luar negeri.

(Foto: blog.reddoorz.com)

Cocok, saat sedang merencanakan solo backpacking ke Flores September nanti, saya menemukan tips-tips di atas. Membuat saya semakin mantap menjalankan misi mulia ini.

Kenapa Flores? Karena saya belum pernah ke sana tapi merasa jatuh cinta berkali-kali dengan daerah itu hanya lewat gambar, video, dan tulisan.

Kenapa September? Karena itu bulan ulang tahun saya yang kebetulan masih beraroma summer, jadi cuacanya masih bagus. Saya ingin menghadiahi diri sendiri sebuah aktifitas favorit, yaitu hiking. Tapi di tempat yang katanya diciptakan Tuhan dalam keadaan tersenyum.

Kenapa sendiri? Karena itu ‘me time‘ saya. Terserah, mau ke kemana sampai jam berapa. Tenang, mau seharian duduk-duduk di taman atau belusukan ke sudut kota. Santai, mau jalan kaki atau naik kendaraan umum. Cuek, mau makan di pinggir jalan atau di restoran. Semuanya dilakukan atas keputusan sendiri, tanpa boros waktu untuk berkompromi dengan teman jalan.

Nggak takut? Dikit, tapi saya bisa belajar dari tips dan pengalaman orang-orang. Semoga giliran saya juga aman-aman saja.

Bukan berarti saya anti liburan beramai-ramai. Frekuensinya saja yang jarang. Pernah, kok, saya liburan dengan teman, dan saya happy. Apalagi bisa punya banyak foto diri yang lumayan bagus karena difotoin, nggak melulu selfie mengandalkan tongsis dan timer. Hemat juga, karena biayanya bisa sharing.

Tapi, sekali lagi, kepuasannya berbeda.

Ada tiga tempat wajib yang harus saya kunjungi nanti: Taman Nasional Komodo, Desa Waerebo, dan Danau Tiga Warna Kelimutu. Mainstream, tapi memang ketiganya sangat memanjakan mata, meskipun punya rute yang cukup menantang. Harus berlayar melewati malam dan dilanjut trekking untuk menemui komodo dan menikmati keindahan di Pulau Padar, serta butuh kaki yang kuat untuk mendaki ke Waerebo dan Kelimutu.

Tapi, dalam pelayaran ke Pulau Komodo, penumpang dikasih kesempatan mampir di pantai-pantai yang kaya dengan biota laut berwarna-warni. Lengkap banget liburannya, dataran rendah dan dataran tinggi, serta snorkeling dan hiking.

See, ketiga tempat itu nggak semuanya bisa dicapai sendirian. Ke Pulau Komodo, misalnya, mesti gabung dengan orang lain karena harus pakai kapal yang super mahal kalau disewa privat. Sisanya, bisalah jalan sendiri.

(Pulau Padar, Desa Waerebo (ketahui.com), dan Danau Kelimutu)

Liburan, kok, menguras fisik? Soalnya Saya nggak betah diam, apalagi di tempat yang terpapar oksigen bersih dan cahaya alami. Maunya aktif dan keringatan, bukan goleran di kasur atau selonjoran di depan tv seharian. Dengan bergerak, tubuh akan menghasilkan enzim endorfin yang membuat badan rileks.

Saya rela gosong kalau liburan ke tiga destinasi di atas, sebab memang ketiganya sangat pas disambangi pada musim yang banyak mataharinya. Medannya pun akan lebih bersahabat, dan pemandangannya akan mendekati ekspektasi, seperti di foto-foto. Laut dan langit biru, hijau hutan, dan coklat tanah, akan tampak mengagumkan saat dipandang dan dipotret di bawah sinar mentari. Pun sang surya sendiri, akan begitu syahdu saat timbul dan tenggelam di langit jingga.

Bayangkan kalau hujan dan jalurnya basah. Liburannya jadi agak nggak mulus karena harus melewati jalanan becek, mengenakan ponco, atau pegang payung seharian. Foto-foto pun akan didominasi warna kelabu dan rambut lepek. Mana seru.

Pelesiran buat saya itu haruslah hari cerah dan lengang. Makanya, musim panas adalah waktu yang paling tepat. Kisarannya sekitar Agustus – September, karena sudah masuk masa sekolah, tempat-tempat wisata tidak terlalu ramai dengan anak-anak dan remaja yang melancong bersama keluarga dan gerombolannya.

Nah, karena seringnya bertualang sendiri dengan satu ransel, saya harus tahu triknya. Salah satu sumbernya, ya blog.reddoorz.com yang punya banyak referensi mengenai persiapan sebelum dan selama perjalanan. Rekomendasi tentang berwisata ditulis singkat dalam kalimat-kalimat yang mudah dipahami. Jangan sampai acara jalan-jalan kacau hanya karena kurang informasi.

(Foto: blog.reddoorz.com)

Selain itu, RedDoorz juga punya jaringan hotel murah di kota-kota yang terkenal dengan destinasi wisatanya, jadi bisa sekalian pesan hotel. Ada aplikasinya, kalau mau lebih gampang.

(Foto: reddoorz.com)

Sekali lagi, agar rencana birthday trip ini matang, saya akan kembali mengintip artikel di RedDoorz sebelum berangkat. I am excited to see September and get new birthday experience!

7 Replies to “September Ceria dengan Bermandikan Matahari”

  1. Belum kesampean solo traveling dan akhirnya sekarang udah punya anak.
    Tipsnya yang di awal itu memang betul banget terutama tongsis hahaha.
    Aku kalo traveling misal berdua temen, kameranya tukeran. Dia pegang kameraku dan tugasnya moto-motoin aku. Begitu pula sebaliknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *