Solo Traveling ke Laos, Sempat Kepikiran Diculik

solo-traveling-laos

Sebenarnya saya berencana solo traveling ke Laos itu pada tahun 2020. Ndilala, sudah beli tiket, tapi semua border negara ditutup lantaran pandemi. Untung bisa refund, sehingga perjalanan bisa terwujud di akhir 2023.

Hikmahnya, Laos sedang gencar membangun infrastrukturnya. Perjalanan lintas kota yang dulunya harus ditempuh berjam-jam, sekarang tersedia banyak pilihan yang lebih cepat dan nyaman.

Panduan Solo Traveling ke Laos

Cerita berawal dari Vientiane, dan berakhir di Luang Prabang, selama 7 hari 6 malam. Pengalamannya sungguh menyenangkan, sehingga sayang untuk disimpan sendiri.

Transportasi

Selama di Laos, saya hanya mengunjungi tiga kota, yaitu Vientiane, Vang Vieng, dan Luang Prabang. Semua perjalanan lintas kota itu dilakukan dengan transportasi umum.

Sedangkan untuk transportasi dalam kota, saya mengandalkan bus, tuk-tuk, serta sewa motor. Ojek dan taksi online juga ada, tapi harus menggunakan nomor lokal.

Vientiane

Dari Wattay International Airport ada bus kota menuju Vientiane Bus Station (Central Bus Station) di pusat kota. Tarifnya 40.000 kip, beroperasi dari jam 07.30 – 23.30, tapi jadwal berangkatnya antara 1 – 2 jam sekali.

Konter tiketnya ada di sebelah kiri, dekat pintu keluar. Sementara haltenya ada di bagian kanan gedung terminal.

Bus akan melewati beberapa halte bus. Sembari membeli tiket, saya bertanya kepada stafnya, apa nama halte terdekat dari hostel saya. Untunglah dia tahu, jadi saya tinggal bilang ke supir busnya.

Namun, bagi teman-teman yang dikejar waktu, di bandara tersedia taksi dan minivan juga. Entah karena kendala bahasa atau memang begitu sifat masyarakatnya, tidak ada suara-suara yang menawarkan jasa angkutan.

Vientiane – Vang Vieng

Dari Vientiane saya naik minivan menuju Vang Vieng. Harga tiketnya 150.000 kip, pesannya di hostel tempat saya menginap.

Berangkatnya jam 14.00, tapi disuruh stand by jam 13.00-an. Penumpang dijemput dari tempatnya masing-masing. Waktu tempuh diperkirakan 2 jam, tapi sekitar 1,5 jam sudah tiba. Jalannya mulus dengan pemandangan jajaran bukit.

Semua penumpang diturunkan di jalan utama di pusat kota. Setelah itu saya jalan kaki, mengikuti Google Map, mencari penginapan yang telah dipesan.

Vang Vieng adalah kota kecil yang adem dan dikelilingi tebing menjulang, sehingga mudah untuk dijelajahi dengan berjalan kaki.

Selama di sana, saya menyewa motor sehari untuk mengunjungi spot wisata incaran yang berada di pinggiran kota. Kalau traveling ke Laos bareng teman atau dapat kenalan turis lain, bisa patungan sewa tuk-tuk atau boogie.

Vang Vieng – Luang Prabang

Ketika sewa motor di Vang Vieng, saya sempatkan ke stasiun kereta untuk membeli tiket kereta cepat (Laos – China Railway/ LCR) ke Luang Prabang. Saya takut kehabisan tiket untuk jam yang saya mau kalau beli pas di hari keberangkatan.

Bisa juga beli di agen travel yang tersebar di VV, tapi pasti lebih mahal, meskipun sudah termasuk jemputan tuk-tuk ke stasiun. Bahkan tiketnya juga bisa dibeli online, asalkan memiliki nomor lokal.

Pas check out, ada beberapa orang di hostel yang tujuannya sama. Kami patungan sewa tuk-tuk, 30.000 kip/ orang ke stasiun.

transportasi umum saat solo traveling ke Laos
Beberapa pilihan moda transportasi dalam kota dan antar kota yang digunakan selama solo traveling ke Laos

Alternatif lain ke Luang Prabang adalah naik bus. Ongkosnya pasti lebih murah, tapi waktu tempuhnya bisa 6 – 8 jam, bahkan lebih, karena selain jauh, kondisi jalannya belum beraspal mulus semua. Sedangkan naik kereta, cuma 56 menitan. Saya pilih Kelas 2 yang paling murah, tapi super nyaman.

Begitu keluar gedung stasiun, langsung saja jalan ke bawah. Di sana ada loket resmi minivan menuju tengah kota Luang Prabang. Tarifnya 40.000 Kip/ orang. Perjalananya sekitar 30 menitan.

Kalau supir tahu tujuan kita, mungkin bakal diantar, tapi kalau dia tidak tahu alamat pasti tujuan kita, bakal diturunkan di sekitar Kuil Wat Ahamouthamathany, seperti saya dan dua orang kenalan asal Israel.

Untunglah penginapan saya lokasinya dekat kuil itu, sehingga tidak butuh waktu lama menemukannya. Seandainya belum pesan akomodasi, tinggal kelilingi saja sekitaran kuil, banyak penginapan murah berjejer.

Hari terakhir paling epic. Masih punya banyak waktu, tapi bingung mau ngapain lagi. Pikir-pikir, jarak bandara cuma 5 km, kenapa tidak jalan kaki saja?

Sebenarnya bisa naik tuk-tuk, tapi karena saya sendirian yang check out dari hotel, sementara sisa kip cuma 100 kip lebih dikit. Saya sudah malas nego-nego.

Akomodasi

Selama solo traveling ke Laos, saya menginap di hostel dan hotel. Tentunya dipilih yang sesuai anggaran, tanpa mengabaikan kenyamanan.

Vientiene

Cuma semalam di Vientiane, saya menginap di Nana Backpacker Hostel. Tarifnya $5, pesan lewat booking.com. Bayarnya di tempat, dikasih harga 110.000 kip.

Lokasinya hanya beberapa langkah ke areal sungai dan kawasan night market. Hostel ini ada restorannya, dan menyediakan berbagai paket tur, serta menjual tiket bus dan kereta, baik yang keluar kota maupun keluar Laos.

Vang Vieng

Saya menghabiskan waktu 3 hari 2 malam di Vang Vieng dengan menginap di Mad Monkey Hostel yang baru beroperasi di sana. Hostel ini memiliki jaringan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Saya pesan lewat aplikasinya untuk dua malam, dan dapat diskon, sehingga cuma bayar Rp123.741-an. Lokasinya di luar jalan besar, tapi ke areal night market cuma jalan kaki santai sekitar 10 menitan.

Luang Prabang

Saya menginap tiga malam di Luang Prabang. Dua malam pertama di Lucky Hostel. Saya pesan lewat booking.com seharga $4 per malam.

Lokasinya di jalan utama, tapi layanannya cuma kamar, tidak ada paket tur apapun. Fasilitas favorit saya adalah mesin cuci yang bisa digunakan secara gratis.

Malam terakhir, saya merasa butuh waktu untuk sendiri setelah seminggu berkelana. Saya pun pindah ke Sadaya Hotel dengan memanfaatkan voucher OTA yang dimiliki. Lumayan, dapat kamar deluxe double room yang luas dengan harga Rp260.000-an, tapi saya cuma bayar Rp18.000-an.

Kedua penginapan itu lokasinya berdekatan. Bisa jalan kaki santai sekitar 5 menitan ke Phousi Hill, dan 10 menitan ke areal night market.

Konsumsi

Setiap traveling, konsumsi adalah bagian yang bisa dihemat karena jajannya hanya di saat lapar. No problem kalau penginapan tidak menyediakan sarapan, karena jadi punya alasan untuk mencicipi kuliner lokal.

Hanya pas di hotel saya mendapatkan sarapan. Sisanya saya menghabiskan bekal biskuit dan buah, jajan street food yang menggugah selera, lalu malam mengisi perut di night market.

Khusus untuk makanan halal, ada restoran India berlogo halal di Vientiane. Lokasinya di sekitar kawasan night market. Di Vang Vieng, tidak melihat warung makan halal satu pun. Sedangkan di Luang Prabang, ada beberapa.

Kebanyakan resto halal itu, merupakan restoran India dengan menu roti dan nasi beras basmatinya. Lantaran cuma sendiri dan menduga porsinya bakal besar, saya lebih memilih kedai lokal yang menawarkan menu vegetarian.

Selama di Laos saya mencoba tiga jenis nasi berbeda. Pertama, waktu di Vientiane, tekstur nasinya lengket seperti ketan. Kedua, pas ikut tur di VV, nasinya pulen. Terakhir, di Luang Prabang nyobain nasi goreng yang teksturnya pera, seperti nasi goreng pada umumnya di Indonesia.

Cita rasa masakan Laos mirip-mirip masakan Thailand yang asam gurih, sehingga cocok dengan lidah Indonesia saya. Bahkan, kalau di Thailand ada pad thai, di sini ada pad lao.

Harganya juga relatif murah, kisaran 15.000 – 50.000 kip. Lebih mahal dari itu juga banyak, apalagi kalau pakai acara nongkrong di cafe/ restoran.

Destinasi Wisata

Tidak banyak tempat wisata yang saya kunjungi, hanya ke beberapa tempat ikonik saja. Saya yakin, semua yang traveling ke laos, pasti mampir ke tempat-tempat ini.

Vientiane

Meskipun sebenarnya masih lelah karena baru tiba, menjelang magrib saya sempatkan ke landmark kota, Monumen Patuxai yang mirip Arc de Triomphe di Paris, Prancis. Sampai sana sudah malam, jadi tidak bisa naik ke puncak monumennya, tapi bisa menyaksikan permainan air mancur warna-warninya.

Setelah itu langsung cari makan di night market yang dekat dari hostel. Pasarnya seperti pasar malam Indonesia yang didominasi oleh penjual pakaian dan perintilan hidup. Kulinernya berupa seafood bakar, mie, dan jus buah. Tidak banyak pilihan, menurut saya.

Besok paginya, saya sempat-sempatkan ke Buddha Park yang lokasinya rada jauh dari pusat kota. Kalau mau ikut tur dari hostel, mesti tiga orang. Namun kalau mau pergi sendiri dan sewa tuk-tuk, bisa ratusan ribu kip.

Pagi-pagi saya ke Vientiane Bus Station. Sebenarnya, jalan kaki sekitar 20 menitan sudah sampai, tapi karena melewati Istana Presiden (Palais Presidetiel) dan kawasan kedutaan negara asing, saya berhenti sebentar untuk foto-foto.

Lokasi terminalnya dekat Monumen Patuxai. Belum ada bangunan permanen, tapi ada dalam satu areal bertembok yang lumayan besar. Suasananya lengang dan tertib. Bus berbaris sesuai trayeknya.

Bus jurusan Buddha Park bernomor 14. Ada tulisan “BUDDHA PARK” juga di kaca depan bus yang mangkal di bagian tengah terminal. Tarifnya 12.000 kip, dan bus berhenti persis di depan gerbang Buddha Park.

Perjalanannya sekitar 45 menitan, dengan singgah sebentar di semacam terminal bagi yang ingin melintasi Lao – Thai Friendship Bridge. Begitu pun nanti pulangnya.

Pulangnya, naik bus yang sama ke arah sebaliknya. Fyi, kendaraan di Laos melaju di lajur kanan.

Vang Vieng

Pengeluaran terbesar saya ada di Vang Vieng yang menawarkan banyak wisata alam, baik yang santai, maupun yang ekstrim. Saya memang niat, kalau traveling ke Laos, harus naik balon udaranya, karena tarifnya, konon, merupakan yang termurah di dunia.

Maunya di Cappadocia, Turki, tapi entah kapan ke sananya. Lagian, saya cuma pingin tahu rasanya, terserah pemandangannya apa.

Setelah survey harga, dapatlah di satu tempat. Hot balloon yang kisaran harganya $100 – $135, saya dikasih $95. Paramotor yang biasanya $95 – $100, saya dapat $85.

Saya sewa motor juga di sini, dikasih harga $5/ hari. Biasanya harus meninggalkan jaminan paspor, tapi kemarin dia lupa minta. Padahal pas booking kemarin sudah dibilangin. 

Sewa motor saya butuhkan untuk ke Nam Xai View Point dan blue lagoon. Sementara untuk balon udara dan paramotor, ada fasilitas jemput – antar.

Di Nam Xai View Point cuma harus bayar parkir 20.000 kip. Setelah itu mendaki sendiri dan bisa sepuasnya di atas. Jalurnya terbilang pendek, tapi curam dengan medan tanah dan batu-batu besar.

Setelah itu saya ke blue lagoon. Gara-gara pas di parkiran ada warga yang bilang, saat itu air di blue lagoon 2 yang paling jernih, saya langsung saja ke sana. Bayar tiketnya 20.000, sudah termasuk parkir dan tiket masuk.

Ada banyak blue lagoon, sebenarnya, tapi yang paling populer memang blue lagoon 1, 2 dan 3. Entah di tempat lain seperti apa, yang pasti air di blue lagoon 2 memang bersih dan suasananya adem, ditambah pengunjungnya tidak terlalu ramai.

Rute jalan ke tempat-tempat wisata di VV bagus tapi berdebu, karena belum semuanya beraspal. Sama satu lagi, sepi sesepi sepinya. Hanya sebentar saja melewati perkampungan warga, lebih banyak melewati hamparan berlatar jajaran tebing.

Jujur, sempat kepikiran diculik, karena pernah membaca tentang maraknya isu perdagangan manusia di Laos. Ditambah fakta bahwa sebenarnya di Laos itu masih banyak tersebar ranjau yang belum dijinakkan, sisa perang Vietnam. Konon, kawasannya bukan di permukiman. Pasrah, sepanjang jalan saya terus berdoa dan berpikir positif.

Luang Prabang

Tujuan utama saya ke Luang Prabang cuma mau ke Kuang Si Waterfall dan santai-santai menikmati kota yang pada tahun 1995 ditetapkan sebagai situs warisan dunia itu. Tadinya mau sewa motor atau sepeda, tapi setelah dipikir-pikir, mending gabung tur kalau ke tempat yang jauh-jauh.

Ada juga Phousi Hill, kuil di atas bukit yang lokasinya di tengah kota. Untuk mencapai puncaknya, kita harus melangkahi banyak anak tangga. Tiket masuknya dipatok 20.000 kip/ orang.

Lantaran tidak tahu tentang jalan masuknya, saya sampai dua kali ke sana. Pertama, sore di hari pertama tiba, lalu ketika jogging pagi di hari terakhir.

Jadi tahu, kalau sore ke sana, pengunjungnya super ramai. Mereka ingin menikmati sunset, sampai harus antre berfoto di batu besar yang ada di tengah demi dapat latar sunset dan pemandangannya.

Sedangkan kalau pagi, tidak ada orang sama sekali, jadi bisa puas fotot-foto. Untunglah ada yang datang, jadi saya bisa minta tolong difotoin sendiri di atas batu itu.

Satu lagi yang ingin saya lihat di LP adalah alms giving ceremony atau morning alms, yaitu pemberian makan kepada para biksu. Aktivitasnya dimulai pada pukul 05.30 sampai sekitar jam 07.00 setiap hari.

Saya beruntung dapat penginapan dekat kuil, jadi tinggal tunggu di teras. Wisatawan bisa ikut juga dengan membeli makanan berupa nasi ketan. Bersama warga, mereka duduk berjejer di trotoar, menanti barisan biksu datang.

Tanpa rencana, pas jalan-jalan di areal old town, saya melihat ada paket setengah hari ke elephant village seharga $49. Saya tertarik ikut, karena turnya tanpa acara menunggangi gajah (non-riding elephant), jadi cuma ngasih makan dan main-main sama gajah. Itu sudah termasuk transportasi, main ke air terjun Tad Sae, dan makan siang. Sungguh saya tidak menyesal menambah pengeluaran lagi.

air terjun di Laos
Pesona air terjun di Luang Prabang

Mata Uang

Begitu sampai bandara saya mengambil uang di ATM sebagai modal. Mata uang Laos adalah kip atau LAK. Lantaran nilainya sangat rendah, kita tidak bisa mendapatkannya di luar Laos, bahkan sulit menukarkannya kembali ke mata uang asing.

Sebagai negara yang diapit negara Indochina lainnya, transaksi di Laos menerima pembayaran dengan mata uang dolar Amerika, dong (Vietnam), bath (Thailand), dan yuan (Cina).

Nilai $1 setara dengan 20.000 – 21.000 kip. Pengalaman saya, di beberapa tempat, mending bayar pakai dolar. Terkadang, merchant suka semaunya ngasih kurs kalau kita nggak punya kip.

Saya cuma ada beberapa dolar waktu itu. Saya hitung-hitung, kalau memang irit, 2.000.000 kip bisalah untuk traveling ke Laos. Sisanya saya bayar pakai dolar dan kartu debit.

Pengeluaran pertama adalah tiket bus kota dan simcard. Setelah pilih-pilih, saya memutuskan membeli paket data dari Lao Telecom seharga 35.000 kip untuk 7 hari.

Hari terakhir, saya berharap bisa menukarkan sisa kip ke dolar atau bath di Bandara Luang Prabang. Apa kata, keduanya tidak tersedia. Yang ada cuma dong.

Jujur, sebagai perempuan yang solo traveling ke Laos, trip saya aman-aman saja. It’s definitely recommended!

Btw, cerita detail pengalaman traveling ke Laos ini juga tayang di Youtube dan akun media sosial saya. Check them out!

5 Replies to “Solo Traveling ke Laos, Sempat Kepikiran Diculik”

  1. Laos ini aku sukaaaaa bangettttt. Kotanya menarik. Tapi dulu aku cuma ke Vientiane dan vang vieng mba. Tujuan utama udh pasti Vang vieng. Naik balon udara, trus sewa open trio ngerasain zipline, Kano dan beberapa wisata alamnya.

    Vientiane juga menarik tp dia mah lebih kota sih ya. Cuma lagi2 aku suka makanan di sana.

    Cocok memang buat lidah kita.

    Di Vang vieng ada yg halal mba. Tapi memang india, cuma 1 dia doang yg pake logo halal. Resto india lain aku ga liat pake logo. Tp selama di sana aku cobain juga resto2 lain, tp cari menu seafood biasanya

    Mau banget sih kalo bisa kesana lagi. Sekalian mau luang Prabang

  2. Yes Laos ini salah satu negara impian aku dari dulu, pokoknya pengen ikutan morning alms
    ehh tau-tau pandemi, padahal udah direncanakan. Dan entah kapan ini mau berangkat kesana, yang penting diplanning dulu
    Temen aku agak kaget waktu nanya aku pengen kemana dan aku jawab Laos, katanya ngapain ke Laos. Lahh belum tau dia kalau pesona Laos juga menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *