Jalan-Jalan Sesaat di Kota Padang

Padang, begitu biasanya orang menyebut Kota Padang, adalah kota yang menarik. Jalan dalam kotanya lebar-lebar; bangunannya sangat khas, beratap lebar, tinggi, melengkung, dan runcing seperti tanduk di kedua ujungnya, bahkan ada lelucon yang mengatakan bahwa di Padang tidak ada orang terjun payung; sudut kotanya selalu ramai dengan muda-mudi, hingga malam hari; dan sering terdengar musik yang disetel keras dari kendaraan yang lewat, khususnya angkot.

Dalam beberapa kesempatan ke Sumatera Barat, Kota Padang selalu menjadi tujuan utama. Beruntung, dalam beberapa kali ke sana, saya sempat mengunjungi satu dua tempat yang belum pernah saya pijak pada kunjungan sebelumnya.

Pantai Padang (Taplau)

Belum lengkap ke Padang kalau belum nongkrong di Pantai Padang atau biasa orang menyebutnya Taplau, yang konon kependekan dari tapi lauik (tepi laut). Pantai ini sangat dekat ke jalan raya. Mungkin kalau sedang pasang besar, airnya bisa meluap hingga ke jalan.

Momen yang paling saya ingat setiap bercerita tentang pantai ini adalah suasana senjanya. Sore-sore, duduk di kursi plastik yang disediakan pemilik warung kecil di tepi jalan. Selain menjual makanan dan minuman ringan, biasanya ada juga kelapa muda dan telur penyu.

Saya, seumur-umur, baru kali itu, tahun 2008, melihat dan menyentuh telur penyu: putih, bulat, lembut, dan kempot. Disusun sedemikan rupa oleh pedagangnya hingga terlihat seperti menara. Ada yang bilang aromanya amis, oleh karenanya harus dinikmati dengan cara diaduk dalam minuman berenergi. Seperti itulah yang saya coba, jadi ala-ala bandrek pakai telur, gitu. Kurang tahu apakah telur ini juga dikonsumsi dalam keadaan matang.

Bertahun-tahun kemudian, baru pada kunjungan tahun 2016 saya kembali ke Taplau. Terlihat sedang ada penataan sehingga ada beberapa sudut yang tampak menarik, salah satunya tulisan P A D A N G dan taman kecil di depannya. Minggu pagi saat ke sana, saya harus sabar mengantre bila ingin berfoto di depan tulisan tersebut.

Tepat di belakang areal ini, terbentanglah pantainya yang unik karena areal pasirnya sangat sempit. Dari tepi jalan kita sudah bisa melihat ombak yang saling berkejar-kejaran. Bagi yang tidak ingin basah, bisa melangkah di atas batu-batu besar yang tersusun menjorok ke laut. Cocok, nih, kalau mau pose-pose yoga (seperti saya).

Jembatan Siti Nurbaya

Tidak jauh dari Pantai Padang, tinggal berkendara sebentar, ada jembatan aspal bernama Jembatan Siti Nurbaya. Nama ini diambil dari tokoh Minang yang melegenda lewat karya sastra berjudul Siti Nurbaya. Jembatan ini membentang di atas Muara Batang Arau, dan menjadi penghubung antara kawasan Kota Tua Padang di Jalan Nipah dan kawasan Gunung Padang.

Gunung Padang di ujung Jembatan Siti Nurbaya

Jika Jl. Nipah merupakan tempat membeli oleh-oleh khas Padang, Gunung Padang konon merupakan tempat Siti Nurbaya dan kekasihya, Syamsul Bahri, bertemu pertama kali, sekaligus lokasi makamnya Siti Nurbaya. Gunung Padang yang adalah sebuah bukit ini terlihat jelas saat saya melihat jembatan dari Jl. Nipah. Sayang, saya belum sempat ke mendaki ke sana.

Sekilas, tidak ada yang istimewa dari Jembatan Siti Nurbaya, menurut saya, walaupun berjejer lampu hias di kedua sisinya. Saat siang, jembatan ini hanya jalan biasa yang kosong dan terkadang dilalui kendaraan. Keramaian baru terasa selepas magrib, saat para pedagang memenuhi trotoar dengan dagangannya: minuman dan makanan ringan, seperti pisang bakar, roti bakar, dan jagung bakar, serta para anak nongkrong yang memarkirkan kendaraannya di atas jembatan. Keindahan justru terletak di bawahnya, yaitu pemandangan kapal-kapal nelayan yang bersandar kosong, tapi menyisakan sinar redup lampu kecilnya. Tidak heran, mereka yang duduk-duduk, kebanyakan membelakangi jalan.

Pemandangan dari satu sisi Jembatan Siti Nurbaya

Pantai Air Manis (Pantai Malin Kundang)

Agak jauh dari pusat kota, sedikit melewati perbukitan, saya dan dua orang teman pernah menyempatkan diri ke pantai yang terkenal dengan legenda Malin Kundang-nya. Namanya Pantai Air Manis, tapi lantaran ada susunan batu yang menyerupai orang bersujud, batu inipun digambarkan sebagai Malin Kundang yang sedang memohon ampun, tapi terlanjur dikutuk menjadi batu oleh ibunya. Inilah alasan tempat ini dikenal sebagai Pantai Malin Kundang.

Entah memang begitu, atau hanya anggapan saya saja, batu yang menyerupai orang bersujud ini tampak seperti adukan semen yang dibentuk sedemikian rupa. Atau dulunya memang batu, tapi karena hancur dimakan cuaca, maka ditambal sana-sini. Entahlah.

Berjalan ke sisi lain pantai, kami melihat ada pulau kecil yang jaraknya lumayan dekat dari batas ombak membasahi pasir. Kami penasaran itu apa, dan dijawab Pulau Pisang oleh ibu penjual minuman yang lapaknya kami singgahi. Andaikan datang pagi, kami bisa menyeberang ke sana hanya dengan berjalan kaki, karena jaraknya lumayan dekat dari bibir pantai. Tapi kalau penasaran, ada banyak perahu yang bisa disewa untuk mengantarkan ke sana, seperti sepasang muda-mudi yang kami lihat sore itu.

Monumen Korban Gempa

Saat kembali ke Padang tahun 2011, saya sempat mampir ke Monumen Korban Gempa yang berada di dalam kota. Monumen ini dibangun sebagai pengingat gempa besar pada 30 September 2009. Ada nama-nama korban tertulis di sana, dan di bagian belakangnya ada puisi yang ditulis mantan presiden SBY.

Masjid Raya Sumatera Barat

“Gedung apa, tuh?” celetuk teman saat kami melewati jalan protokol di Kota Padang.

“Masjid Raya.” ucap teman yang pernah tinggal di Padang. “Besok aja kita ke sana. Sekarang istirahat dulu.” tambahnya yang dari sore hingga malam telah mengemudi.

Keesokan hari kami singgah sebentar di halaman masjid yang sangat besar itu, sekadar foto-foto di depan tulisan MASJID RAYA SUMATERA BARAT. Tak lepas mata saya menatap atapnya yang super lebar dan eye-catching dengan warna merah dan lukisan ukiran khas Minangkabau. Sayang, karena keterbatasan waktu, kami tidak menyempatkan diri mengagumi interiornya, yang saya yakin pasti sangat menawan dengan mengkombinasikan sentuhan khas Minang dan islami. Oleh karena itu, jika kembali ke Padang, harus saya ulangi datang ke masjid ini, untuk salat dan melihat bagian dalamnya.

Kuliner

Saat di Kota Padang, terakhir saya mencoba nasi goreng patai (pete) dan teh talua (teh telur). Itupun hampir tengah malam. Sebelumnya, karena saat itu saya road trip dari Bengkulu, dalam perjalanan sempat mampir ke warung makan dan memesan martabak kubang.

Nasi goreng patai dan teh talua

Nasi Padang? Ada, dong, pasti, tapi, ya, nggak ada tulisan Masakan Padangnya, langsung aja nama restorannya, seperti Bundo Kandung, Sederhana, Selero Minang, dll. Rasanya sama aja buat saya, hehehe… Yang pasti beda, sih, tekstur nasinya yang kering, tercerai berai.

Mau, ah, balik lagi ke Padang.

31 comments Add yours
  1. Masya Allah, itu batu Malin Kundang bisa mirip gitu ya. Legenda dengan nilai moral story yang melekat banget dari zaman SD. Masih ada nggak ya cerita-cerita legenda di buku pelajaran sekarang. Eaaa malah lempar pertanyaan hehehe πŸ™‚

  2. Saya pernah di Padang 2 kali, tapi tak bisa ke lokasi-lokasi yang ada di sini, hanya lewat saja sambil menatap dengan sesal. Saya paling penasaran dengan batu2 yang tampak seperti si Malin Kundang. Dan sekarang, tambah penasaran dengan pantai kecil yang bisa dikunjungi dengan jalan kaki di pagi hari.
    TFS ya Mbak.
    Padang, ’till we meet again…

  3. Aku juga mau diajak ke Padang. Btw kalo di Padang ada Warung Makan Padang nggak ya? Terus di sana sebutannya apa ya?

    *alasan pengen ke Padang gara gara ini doang.

  4. Belum pernah ke padang hehe. Kuliner padang aku taunya ya cuma nasi padang aja karena dimana-mana ada ya. Penasaran dengan teh talua nya itu rasanya seperti apa? πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *