Seikat Hasil Hutan Indonesia dalam Sepiring Lontong Sayur

Makanan dari hutan Indonesia

Di kantor

“Sarapan yuk, Cuy!” Saya mengajak Resty, teman sekantor.

“Makan apo?”

“Biasooo. Lontong limo ribuan.”

“Yuk!”

Bermotor kami melaju ke warung lontong yang berada tidak jauh dari kantor. Saya sengaja mengajaknya persis setelah apel pagi karena kalau sudah siang, makanannya ludes semua.

“Eeeteeek…” saya menyapa. “Gulai paku masih ado?” tanya saya sambil melirik ke balik kaca gerobaknya.

“Masih…” balasnya santai.

“Lontong pakis duo, Tek?”

Lontong pakis langganan dekat kantor

Di rumah

Setelah sedikit pemanasan, saya berlari pelan menyusuri jalan-jalan utama di dekat rumah. Kalau lama absen yoga, memang saya usahakan jogging sebagai pengganti olahraga. Paling tidak seminggu, atau sebulan sekali.

Sekuat jangkauan napas, saya mencoba berlari diselingi jalan cepat. Pokoknya bergerak dan menghasilkan keringat. Begitu mendekati tujuan, jalan kakinya mulai santai.

Ini cuma cara saya supaya perut nggak kaget. Jujur, setiap niat lari pagi, salah satu penyemangatnya adalah mampir ke tempat sarapan langganan.

“Lontong pakis ado, Tek?” Seolah menjadi kata kunci setiap saya melangkah ke sini.

“Ado…” kata si Etek sambil tersenyum.

“Makan sini satu, Tek.”

Lontong pakis langganan dekat rumah

Saking sukanya lontong gulai pakis atau gulai paku, ini selalu menjadi pilihan saya setiap pingin makan lontong. Sayurnya selalu minta dibanyakin.

Cita rasa gulai pakis berbeda dibandingkan kuah lontong santan lainnya. Gulai pakis kuahnya cenderung encer. Rasanya pedas-asam dan gurih. Cocok di lidah saya.

Gulai pakis atau gulai paku merupakan santapan tradisional yang bisa disajikan kapan saja. Masakan gulai paku atau gulai pakis banyak dikonsumsi oleh kami-kami di tanah Sumatera. Seperti contohnya lontong pakis ini, lazim dimasak oleh warga Minang. Kalau lagi pingin gulainya saja, saya masih bisa membelinya di warung makan.

Harganya juga super terjangkau. Saya pernah tanya di pasar, satu ikatnya cuma 2000 rupiah.

Ternyata…

Pakis atau biasa juga disebut daun paku, adalah salah satu sumber makanan dari hutan yang bisa diolah menjadi penganan sedap. Tanaman unik yang tumbuh di tempat minim cahaya matahari ini merupakan kekayaan hayati Indonesia yang patut dilestarikan.

Pakis menyimpan banyak kebaikan. Menurut laman situs Healthy Focus, pakis yang bernama latin Cycas atau kikas ini mengandung beberapa nutrisi yang dibutuhkan tubuh, di antaranya:

  • vitamin A yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh;
  • vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan dan perlindungan dari infeksi;
  • potasium yang bagus untuk kesehatan jantung;
  • zat besi yang bermanfaat untuk meningkatkan energi serta memastikan tubuh teroksigenasi;
  • mangan, mineral yang membantu pembentukan enzim untuk pertumbuhan dan pencegahan osteoporosis;
  • tembaga, mineral yang baik untuk meredakan rasa sakit dan penting untuk jaringan tubuh;
  • omega-3 yang akan melindungi tubuh dari kanker dan Alzheimer.

Dari semua kandungan yang ada itu, dapat disimpulkan bahwa pakis memiliki benefit untuk:

  1. mempertahankan kekebalan tubuh;
  2. menjaga kesehatan radiovaskuler;
  3. meningkatkan sel darah merah;
  4. menjaga kesehatan mata;
  5. menjaga kadar gula.

Nggak salah memang kenapa saya suka banget lontong pakis. Selain lezat, dan harganya murah, khasiatnya sungguh luar biasa. Kalian juga harus coba.

Pengolahannya bukan digulai santan saja. Bisa juga ditumis, dioseng-oseng, dipecel, atau bikin inovasi sendiri seperti yang dilakukan oleh Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) “Maju Bersama” Desa Pal III yang memanfaatkan kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Mereka membuat pakis rendang. Caranya dijemur terlebih dahulu untuk menghilangkan lendir sehingga pakis menjadi lebih keras saat dimasak.

Dalam sebuah media online, ketua KPPL “Maju Bersama”, Rita Wati, bercerita bahwa pakis dimanfaatkan sebagai jaring pengaman pangan keluarga. “Kalau tidak punya uang, biasanya saya mengambil pakis di hutan untuk dimasak.” Dia juga menambahkan bahwa pakis yang rajin dipanen, akan tumbuh semakin subur.

Lebih jauh lagi, KPPL asal Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu itu berhasil mengolah pakis menjadi produk bernilai ekonomi. Mereka membuat stik (stick) daun pakis. Jika mereka terus didukung, entah kreasi apa lagi yang bisa dikreasikan dari tanaman pakis ini.

Pakis atau daun paku, makanan dari hutan yang bisa ditemui di pasar-pasar

Dipikir-pikir, keberadaan hutan saat ini bukan hanya sebagai sumber oksigen. Konsep bahwa hutan adalah ladangnya makanan alami dan sehat, mesti tertanam di benak masyarakat.

Kalau anak pecinta alam, atau mereka yang profesinya sering masuk hutan, mungkin mengenal tumbuhan hutan yang bisa dan yang tidak bisa dimakan. Entah dalam keadaan mentah, atau diproses terlebih dahulu. Pengetahuan tentang ini merupakan bagian dari survival skill.

Ingat film Into the Wild jadinya. Petualangan tokohnya berakhir tragis karena salah makan. Tanpa sengaja, dia menelan tanaman beracun.

Bayangkan zaman dulu, ketika bumi masih hutan belantara. Belum ada warung nasi padang di setiap pengkolan, atau pasar di setiap kampung? Sumber makanan pasti dari sekitaran. Tidak perlu beli, tinggal petik. Entah ilmu apa yang mereka miliki sampai tahu memilah makanan mana yang layak dan tidak layak makan.

Kelompok masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan atau yang di dekat hutan, apalagi. Konsumsi utamanya pasti dari hutan di sekelilingnya, entah itu tanaman liar, atau berburu hewan. Kini hutan banyak dirambah menjadi perkampungan atau keperluan industri. Otomatis, ketersediaan pangan dari hutan ikut berkurang.

Wajar kalau penghuni hutan berhamburan keluar dari habitatnya.

Oleh sebab itu…

Sudah sepatutnya hutan yang masih ada saat ini kita jaga kelestariannya. Selain sebagai sumber pangan, hutan juga rumah bagi makhluk hidup, habitat bagi hewan dan tanaman tertentu.

Saya jadi ingat pengalaman ke Taman Nasional Tanjung Puting demi melihat orangutan. Kami melewati hutan lembab dan melihat banyak tanaman unik yang jarang dijumpai di kehidupan sehari-hari, misalnya kantung semar dan aneka jamur. Lalu beberapa monyet dan bekantan yang bergelantungan. Coba kalau nggak masuk hutan, entah di mana bisa menyaksikan keragaman hayati itu?

Jangan bilang di kebun binatang atau botanical garden, ya.

Jadi, kalau ada berita tentang hewan liar yang lazimnya tinggal di hutan, terus masuk ke kampung-kampung warga, saya curiga itu karena tempat tinggal mereka diusik, bahkan musnah sama sekali. Saya percaya, tidak ada maksud mereka menyerang manusia. Mereka hanya mencari tempat berteduh dan sumber makanan. Manusianya aja yang nggak peka.

Kalau mau diulik, ada sumber ilmu pengetahuan di dalam hutan. Entah obat apa yang bisa ditemukan dari tanaman hutan. Entah inovasi apa yang bisa tercipta dari ekosistem hutan.

Wajar kalau WALHIย  (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) gencar menyuarakan isu lingkungan, khususnya hutan. Itu semua bukan aktivitas melestarikan alam hijau semata. Itu demi keberlangsungan hidup manusia sendiri.

https://www.instagram.com/p/B54wj7-APdf/

Sebagai organisasi gerakan lingkungan hidup terbesar di Indonesia, WALHI aktif mendorong upaya-upaya penyelamatan dan pemulihan lingkungan hidup di tanah air. Visinya adalah mewujudkan suatu tatanan sosial, ekonomi dan politik yang adil dan demokratis yang dapat menjamin hak-hak rakyat atas sumber-sumber kehidupan dan lingkungan hidup yang sehat dan berkelanjutan. Sementara salah satu misi WALHI adalah mendesak kebijakan pengelolaan sumber-sumber kehidupan rakyat yang adil dan berkelanjutan.

Salah satu sumber kehidupan rakyat adalah pangan. Ini kebutuhan primer. Itu sebabnya keberadaan hutan sebagai ekosistem tanaman pangan harus dikelola dan dilestarikan secara permanen dan bijaksana. Hutan sumber pangan merupakan bagian dari konsep ketahanan pangan Indonesia.

So…

Jenis makanan dari hutan apa yang pernah kalian cicip?

Pernah nyobain lontong pakis?

Referensi

  • https://healthyfocus.org/health-benefits-of-fiddlehead-ferns/
  • https://id.theasianparent.com/manfaat-sayur-pakis
  • https://rumus.co.id/pakis-haji-habitat-nama-latin-reproduksi-dan-morfologi/
  • https://forestsnews.cifor.org/50557/hutan-sebagai-sumber-pangan?fnl=id
  • https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-1918579/pakis-yang-aman-dan-yang-memicu-kanker
  • http://liveindonesia.id/pakis-di-tnks-salah-satu-jaring-pengaman-perempuan-desa/
  • https://pedomanbengkulu.com/2019/03/sejarah-baru-buat-kelompok-perempuan-lebih-maju/

16 Replies to “Seikat Hasil Hutan Indonesia dalam Sepiring Lontong Sayur”

  1. Wah…sayur pakis. Enak banget kelihatannya. Jarang-jarang aku makan lontong sayur pakis gitu. Jangan-jangan belum pernahโ€ฆ
    Di Bandung kayaknya jarang ada di pasar. Atau aku yang engga ngeh ya. Semoga hutan kita tetap terjaga kelestariannya ya…

  2. Sering banget nyoba lontong pakis, apalagi kalo yang masak gulainya pinter masak. matep banget tuh. Tapi favoritku masih lontong tunjang kak hehehe. Sarapan udah numpuk kolesterol, sebenarnya ga sehat sih aku huhu.

  3. Ya Allah, belum sarapan dan liat lontong sayur. Jadi ngiler bin laper wkwkwk. Baru tahu loh saya ternyata sayur pakis tuh dijadiin untuk sayur di lontong yak. biasanya kalo di daerah saya mah pake sayur nangka hehe. tapi keknya enak nih lontong sayur pakis. duh, mauu lah ~

  4. Waah gulai pakis harganya terjangkau sekali ya, auto membayangkan ini kemudian aku lapar. Banyak banget ternyata hasil hutan yang bisa diolah menjadi makanan lezat. Seneng sekarang ada WALHI yang mendorong pelestarian hutan ๐Ÿ™‚

  5. Dulu pas di Makassar, sering makan sayur pakis santan, Mbak. Tapi pas di Kebumen jarang dapat. Apa saya yang kurang giat mencari hehehe.
    Jadi pengin coba lontong sayur daun pakis, Mbak. Biasanya kan, lontong sayur pakainya nangka atau labu siam.

  6. lontong pakis, sepertinya enak nih ya kak. aku biasa makan yang ditumis saja dan itu sudah enak sekali. kalau hasil hutan yang pernah dimakan banyak juga kaya singkong, kelapa, serta tumbuhan hijau lain. betul-betul kudu dirawat ya ๐Ÿ™‚

  7. Seumur-umur perjalanan saya mencicipi makanan, saya masih penasaran sama rasa Pakis ini. saya belum pernah menikmati Pakis seperti Mba. Di Bogor sini jarang sekali, termasuk agak susah dicari.

  8. saya juga suka pakis Kak, tapi ditumis aja siih so far makannya, blm pernah cobain lontong pakis.
    wooow, pakis dibuat stick gitu ya? biasanya kan bayam ya dikenalnya ya.. kreatif, kreatif, salut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *