5 ALASAN SOLO TRAVELING

Teman-teman yang sudah mengikuti blog ini, atau yang kenal saya di dunia nyata, mungkin paham kalau saya kerap melakukan solo traveling, entah itu keluar negeri, atau hanya di kota-kota di Indonesia. Bukannya nggak punya teman, tapi itu bisa terwujud karena saya malas ribet dan ribut menyesuaikan jadwal dengan orang lain.

Ini 5 alasan solo traveling ala saya
Apa alasan solo traveling ala kamu?

Ini me time ala saya. Jadi saya pingin senang-senang dan bebas melakukan apa yang saya mau. Ini juga sebagai bentuk hadiah kepada diri sendiri.

Alasan solo traveling ala saya ini juga bisa dilakukan oleh mereka yang berkeluarga. Saya yakin, ada kalanya teman-teman merasa ingin menikmati kesendirian tanpa diselingi urusan rumah tangga. Durasinya, silahkan dipertimbangkan sendiri.

Ini 5 Alasan Solo Traveling ala Saya

1. KEBEBASAN

Kebebasan adalah alasan solo traveling yang paling utama. Saya bebas melakukan apapun yang saya mau tanpa harus penuh pertimbangan dan toleransi dengan teman jalan yang kadang tak sejalan.

Terserah saya mau lama-lama atau hanya sebentar di suatu tempat. Semua keputusan ada di tangan saya.

2. EFISIENSI WAKTU

Solo traveling terkadang memaksa saya bertindak dan membuat keputusan dalam waktu cepat. Tidak ada waktu untuk diskusi, kompromi, dan toleransi berkepanjangan, agar semua senang. Apalagi kalau harus saling tunggu.

Saya harus memaksimalkan waktu untuk menikmati perjalanan, tanpa beban perasaan terhadap orang lain. Apalagi kalau tempat itu belum pernah saya kunjungi, atau destinasi yang sudah lama ingin saya sambangi. Meminimalisir hambatan selama perjalanan, adalah alasan solo traveling lainnya.

3. HEMAT

Memang, beberapa hal terasa lebih irit kalau bisa sharing cost dengan teman. Tapi alasan solo traveling satu ini membuat saya merasa lebih perhitungan.

Ada banyak cara menyiasatinya. Urusan akomodasi, bisa dengan menginap di hostel dengan memilih kamar dorm yang dihuni bersama orang lain. Sekarang ada banyak hostel yang fasilitas dan kenyamanannya setara hotel. Tersedia sarapan meskipun simple. Misalnya cuma ada roti. Ini, kan, bisa dibekal untuk makan siang.

Jika teman-teman berjiwa petualang dan membawa tenda, bisa tidur di mana saja, kan, selama nggak diusir petugas. Malah kalau beruntung, teman-teman juga bisa menumpang nginap di rumah warga. Kalau sendirian, kan, tidak akan terlalu merepotkan.

Sedangkan untuk transportasi, saya selalu menggunaan kendaaran umum massal. Jarang banget naik taksi atau sewa kendaraan pribadi, kalau nggak terpaksa. Bisa juga dengan berjalan kaki kalau memang memungkinkan. Selain hemat, cara ini juga sehat.

Cara lain, bisa dengan mencari tebengan (hitchhiking). Kalau cuma sendiri, kan, bebas saja melakukan hal-hal ekstrim, selama sanggup.

4. SOSIALISASI

Ini adalah alasan solo traveling favorit saya. Saya dipaksa untuk berani dan percaya diri berinteraksi dengan orang asing yang sama sekali belum pernah dijumpai. Ketika pergi bersama teman, pasti waktu akan banyak dihabiskan bersama. Hanya seperlunya saja ngobrol dengan orang lain. Sementara saya, senangnya berbaur dengan warga lokal.

Kalau untuk urusan foto-foto, bisa memanfaatkan timer atau tripod. Bisa juga minta bantuan orang lain. Tapi kalau ada budget lebih, bisa dengan menyewa jasa fotografer atau videografer lokal. Lumayan, bisa sekalian jadi teman dan guide lokal.

5. MENGENAL POTENSI DIRI

Melakukan keempat hal di atas membuat saya terlatih melakukan hal yang sebelumnya jarang saya lakukan. Misalnya bernegosiasi dan tawar-menawar belanjaan. Ternyata, saya cukup sabar dan tenang berhadapan dengan situasi yang agak melenceng dari perkiraan, dan cukup tega menolak membeli suvenir yang tidak saya butuhkan.

Saya juga jadi bisa menggunakan motor matik lantaran di banyak tempat penyewaan motor, adanya motor matik. Padahal di kota sendiri saya terbiasa menggunakan motor manual. Ini penting banget untuk bisa berkeliling, sekaligus menghemat biaya.

Satau hal lagi yang menurut saya penting, sebagai pejalan perempuan, solo traveling mengasah insting saya untuk merasakan hal baik dan buruk. Sebelumnya saya merasa tidak ada orang berniat jahat kepada saya. Tapi pernah salam suatu pertemuan di kereta, perasaan saya tidak nyaman berbincang dengan pria  di hadapan saya. Segera saya menghindar.

Gara-gara solo traveling, sering kali saya berbisik pelan kepada diri sendiri sambil menghela napas, “Mhm… ternyata saya bisa.”

Punya Alasan Berbeda Tentang Solo Traveling?

Jujur, saya tidak tahu apakah pengalaman saya sama dengan teman-teman, khususnya yang lebih suka melancong bersama kawan dan kerabat. Tapi dengan bepergian seorang diri, khususnya ke tempat-tempat baru, lalu bertemu dengan berbagai karakter manusia dan budaya, memberi saya banyak pembelajaran.

Saya pikir, alasan solo traveling saya di atas bisa berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Apakah teman-teman memiliki alasan berbeda, atau kisah unik tentang solo traveling? Yuk, saling berbagi di kolom komentar!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *